My Movements Trip.

Selasa, 22 Desember 2015

Sayur Kuah Kuning

“Umi, abang pingin makan sayur.” Pintaku penuh manja kepadanya di setiap liburan musim panas saat SMA dulu.

Pagi, siang, malam. Setiap aku teringat kalimat sayur hijau, Aku akan memintanya segera. Biasanya wanita yang kusayangi  itu hanya menjawab dengan senyuman, lalu aku akan pergi bermain meninggalkannya yang sibuk mengerjakan beberapa urusan.

Sepulang dari main, biasanya aku akan menemukan semangkuk sayur hijau terhidang di atas meja makan, lengkap dengan sambal dan lauk-pauk. Meski badan kotor dan bau keringat, aku langsung menyosor meja makan. Meski tak jarang ibu mengingatkanku untuk cuci tangan.

Namun terkadang, saat pulang tak kudapati sayur di atas meja,

“Umi.. kok sayurnya belum jadi?” tanyaku sedih.

“Nanti umi buatin.”

“buatin ya, Mi??”

“Iya, nanti dibuatin.”

“hehe, makasih umi.”

Sambil nyengir kuda, aku langsung lari ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Atau kalau malas, langsung tidur-tiduran di atas kasur. Dan wanita yang selalu kusapa dengan panggilan Umi akan mengingatkanku dari ruang tempatnya bekerja,

“Abang kalau naik kasur, cuci kaki dulu.”


******

Umi, aku tak pernah lupa kata-katamu bahwa sayur tidak bagus kalau sudah lewat sehari. Mungkin karena itu aku selalu memintamu memasakkannya untukku setiap waktu.

Artinya, pada hari itu engkau ada di sisiku dan aku memakan sayur buatanmu. Tak ada jarak yang memisahkan kita yang perlu ditempuh berhari-hari. Di samping itu, aku juga bisa menikmati makan sepiring berdua dengan Abi. Biasanya ia akan mencampur kuah sayur dengan sambal buatanmu. Sayur bayam, sayur kangkung. Dan yang paling favorit adalah sayur kuah kuning dengan ikan teri.

Umi, hari ini adalah hari ibu.. dan abang kangen masakanmu. :’)


Selasa, 22 Desember 2015, di Kairo yang terlalu jauh untuk bisa kau kirim sayur hangat itu.

Jumat, 11 Desember 2015

Long time no see


Setahun lebih sudah aktivitas mingguan baca Manga Naruto berhenti. It’s been a long time without to not to see you, Naruto-Kun. Kadang ketika mengingat masa remaja dulu, Cuma bisa senyum-senyum. Kadang senyumnya manis, kadang kecut.

Okey. Yang manis adalah ketika inget waktu kongkow bareng sama anak-anak seni, pecinta manga, dan gamer waktu di pondok pesantren dulu. Dunia gw waktu itu gak jauh dari ketiga hal tadi. Suram? Nanti dulu, sekarang kita pingin cerita yang manis-manis aja.

Setiap hari jum’at, waktu lari pagi biasanya sempet nyelinep ke warnet, baca manga terupdate. Kadang kalau saya yang paling pertama baca, bakal langsung pamer ke kawan-kawan yang belum. Ngeliat muka mereka berubah penasaran menjadi kebanggan tersendiri ketika itu.

Ah, cerita di atas adalah ketika SMA dan sudah kenal dengan dunia internet. Kalau SMP, paling cepet sebulan sekali, bahkan satpam penjaga gerbang pun nggak pernah tau kalau saya pulang dari toko buku membawa setumpuk komik. Sesampai di kamar, hal paling menyenangkan nggak pernah berubah, pamer ke anak-anak.

Bisa dibilang, manga-manga Jepang semacam Naruto, One Piece, dan Rave adalah inspirasi gw waktu remaja dulu. Hampir tiap waktu dihabiskan buat ng’gambar, bikin komik, ngayal alur cerita dan berbagai macam hal yang berkaitan dengan kertas, pena, dan pensil warna.

Dalam beberapa kesempatan, hobi tersebut memberi kebanggan. Puncaknya adalah tawaran masuk salah satu fakultas di IPB tanpa test. Well, meski saya juga lupa sebab jasad ini akhirnya terdampar di salah satu fakultas Islam tertua di Kairo.

Kembali ke senyum-senyum saat inget masa remaja. Kecutnya adalah…

Setiap waktu sore main basket dan futsal di lapangan, sesekali saya melihat beberapa kawan menghabiskan waktu kosong mereka dengan menghafal qur’an di pojok-pojok masjid.

Beberapa kali latihan TaeKwonDo dilaksanakan di masjid Pondok. Latihan yang tak jarang berakhir ketika azan berkumandang membuatku sering melirik para santri yang sudah sibuk dengan buku dan dzikir petang mereka.

Waktu bidang kesenian ngerjain background acara, waktu cabut dari pondok buat ng’game sehari-semalam, waktu di mana malam-malam yang seharusnya digunakan untuk qiyam dan bermunajat selalu terlewat dengan hal yang tak bermanfaat.

Dan ketika pagi hari terlambat masuk kelas, dari pada ketawan guru pembina, kamipun sering berputar-putar mencari tempat persembunyian. Masjid paling favorit, namun di sana tempat anak-anak tahfidz. dari sanalah rasa penyesalan yang ada saat ini hadir.

Penyesalan selalu datang belakangan, dan kali ini berbuah senyum kecut.
Kecut? yah, tetap berusaha positif, bahagia dan terus evualuasi. Apalagi setelah ketemu orang-orang keren dengan situasi yang nggak kalah keren. jadi termotivasi euy.


Senin, 30 November 2015

The Good Day Never be Tomorrow, but Today

Entah kenapa setiap saya mendengar kalimat motivasi "Hari esok akan lebih baik," belakangan ini menjadi racun bagi saya. Yup, di tengah aktivitas yang serba dadakan, hari esok menjadi suatu hal yang tak pasti. rencana yang sudah tersusun, sering kali tertunda.

Seharusnya saya lebih berani berkata 'tidak', namun beberapa pertimbangan membuat mulut ini seringkali membisu. kadang pertimbangan itu lebih bersifat rasional, walau tak jarang yang irasional.

Kawan, kadang saya sudah terlalu lelah untuk memikirkanmu, memikirkan semua hal yang belum tentu terjadi. Hingga suatu hari, bang Fakhri berkata kepadaku,

"Jangan pikirkan!" tak cukup sekali ia meyakinkanku.

"Jangan pikirkan." begitu ia mengulang, menekankan hal itu padaku.

Tak terbayang olehku bagaimana menjalani hari tanpa memikirkanmu, memikirkan target-target yang tak terlihat ujungnya, dan tak lagi mengulang mimpi beberapa bulan ini yang terus menggelayut dalam tidur lelapku.

"Jangan pikirkan."

Akan kucoba, bang. Mungkin memang sudah waktunya bagiku menerima kenyataan atas keterlambatanku. Kenyataan bahwa langkah kura-kura ini tak bisa begitu saja menjadi langkah kelinci.

Setidaknya aku akan terus berusaha bergerak maju. Menikmati daratan terjal menuju lautan luas.Yup, lautan. karena ada kemungkinan aku bisa bergerak lebih cepat dibanding daratan.

Tapi siapa yang tau jika aku bisa sampai sana? so, langkah kura-kura di darat, masih lebih baik dari langkahku saat di lautan nanti. Because The Good Day Never be Tomorrow, but Today!

Setidaknya hari ini aku masih bisa melakukan kemajuan!

Alhamdulillah.

Minggu, 29 November 2015

Bulan Depan Kuliah. (Besok donk?)

Bahkan akupun tak menyangka beberapa hal berubah begitu cepat. Ketidakteraturan sistem membuat berbagai planning berantakan. Jika masalah tiap harinya bertambah, maka pertanyaannya adalah; kenapa aku terus malas-malasan?

setiap orang memiliki hal yang ia takuti, dan hal yang paling kutakuti adalah ketidakpastian. Dari sana saya mulai mempersiapkan diri. Berangkat kuliyah pagi-pagi dan tak lupa sarapan sebelum pergi. Tapi sampai saat ini, saya hanyalah seorang anak laki-laki normal. Berpikir pendek dan hanya mementingkan diri sendiri.

Berbeda jika seseorang hidup untuk dirinya sendiri namun berpikiran panjang, tentu pandangannya akan jauh lebih ke depan. Tapi seandainya kegoisan itu terikat hanya untuk berpikir tentang hari ini, belum tentu dia mampu menyendok sesuap nasi pada esok hari yang tak pasti.

Kenapa di tengah ketidakpastian tentang masa depan, aku terus malas-malasan? Mungkin ini jawabannya.

Aku hanyalah anak laki-laki pada umumnya yang mengira bahwa dunia akan berbuat baik kepadaku. Padahal Tuhan sudah sering mengingatkan dengan berbagai macam cara di dalam Al Qur’an,


"لتبلونّ في أموالكم و أنفسكم"
(Ali Imron: 186)

****
Maha benar Allah Swt atas segala ketidakpastian ini.



"Bahkan untuk membebaskanmu, wahai Al Aqsha, belum tentu kehormatan itu diberikan pada generasiku. Hanya saja ingin kupastikan, jarak futuhat itu semakin dekat, sedekat liang kubur yang telah tergali di sekelilingmu untuk jasad-jasad kami.. yang berjuang membebaskanmu."

Kamis, 26 November 2015

Curhat ke Jaiz

“Let’s give me more reason.” Ucapku kepada seorang kawan.

Kuperhatikan wajahnya yang sudah menemaniku lebih dari delapan tahun. Rileks dan penuh senyuman. Ah, mungkin itu yang kubutuhkan setelah bertemu dengan wajah-wajah kasar dan penuh kerutan beberapa hari ini.

Kadang tawa renyahnya mengingatkan masa-masa mondok dulu. Menghabiskan waktu bersama di lapangan futsal, makan, nongkrong, atau sekedar mendengar ocehan tentang harga makanan pokok dan biaya hidup di Mesir yang ternyata jauh lebih murah dari Indonesia.

Dia kadang dengan sabar dan tersenyum penuh arti menghayati curhatan ngalor-ngidul yang keluar dari mulut lebarku.

“Gw pingin pulang nih!” dan dia hanya senyam-senyum. Sial.

Seenggaknya segala keluh-kesah udah tumpah. dan baeknya, dia cuma senyam-senyum sambil ketawa ngedenger segala penderitaan gw belakangan ini.

Siang tadi jadwal kuliyah untuk bulan Desember udah turun, dan kata maafku kepadanya hanya ditimpali dengan senyuman. Lagi-lagi senyuman. Ketawa renyahnya bikin hati gw adem.

Saat ini gw masih janji buat belajar bareng dia ngabisin muqoror. Oke bro, semangat dah. insyaAllah agenda-agenda ini kudu selesai. Selanjutnya focus muqoror! Hha

Rabu, 11 November 2015

Karakter

Minggu ini saya benar-benar dibuat menunggu. Sesuatu yang belum pasti, sama seperti waktu remaja dulu.

Menunggu.

Mungkin yang sangat kusesali adalah karakter yang belum juga terbentuk. Masih suka melamun dan mengerjakan hal gak penting. Penting? Bahkan aku tak tau apa itu standar penting atau tidaknya sesuatu.

Ada yang bilang, bermain bisa membantu kita menemukan ide. Bersih-bersih rumah menghilangkan stress. Makan dapat mengenyangkan perut yang kelaparan. Hello?? Gw mulai ngerasa abnormal dengan aktivitas belakangan ini.

1. Hampir satu bulan lebih nggak menyentuh bola futsal.

2. Masak? Mungkin menahan lapar lebih mudah dari pada mengaduk wajan di dapur. Yah, boleh dibilang gw lagi males dengan aktivias satu itu.

3. anggep aja gw emang lagi males.

Akhirnya berkat sifat yang seharusnya dijauhi oleh para pelajar itulah, gw sukses meninggalkan SEMUA target bulan ini. Bahkan di beberapa acara, saya lebih banyak menyiapkan materi tiga atau dua jam sebelum di mulai. Itu kalau masih inget.

Kalau masih inget.
Dan yang paling nggak asik, gw ngerasa waktu tinggal di Kairo udah mau berakhir.

Okey, Gw rasa ini masalah karakter. Karakter yang belum juga berubah sejak remaja dulu. Dan seandainya gw bisa lebih santai ngadepin kondisi-kondisi macam ini, itu akan lebih baik.


Sedikit santai. Well, kita coba. Senang bisa bertemu orang hebat seperti kalian. Saya harus banyak belajar.

Kamis, 05 November 2015

و الحزن على شيء قد فات

Akhirnya aku berada dalam titik jenuh ini, memikirkan segala hal hampir bersamaan. Masa depan, kerinduan, serta kebutuhan ilmu dan wawasan. Peta yang kumiliki sudah expired, habis masih berlaku. Beberapa jalan pintas sudah tak bisa kulewati, sedang kaki ini mulai terasa berat. Pundak, dan bahkan kepala yang tak bisa lagi kutegapkan membuat rasa pesimis makin menjalar di dada. Sesak.

Kadang motivasi datang dari do’a kawan-kawan seperjuangan. Namun satu persatu dari mereka pergi di tiap persimpangan yang kami lewati. Kami berpisah, aku pun sendiri. Berjalan. Berjalan. Dengan lelehan air mata yang membasahi pipi. Mulut bergetar, dada berdebar. Samping kanan-kiri jalan sepi. Sunyi.

Aku bahkan sudah lupa apa isi tas yang menggelayut manis di pundakku. Sebelas-duabelas jika ada orang yang bertanya,

“Apa yang sedang kau fikirkan?”

Aku tak tau. Terlalu banyak yang kufikirkan dalam otak ini. Karena bukan ahli astronomi, kukatakan saja bahwa isinya bak jutaan bintang yang terhampar di langit malam. Ada cinta, masa depan, rindu, dan keinginan-keinginan kecil yang belum kuraih hingga saat ini. Tapi untuk yang sedang benar-benar kupikirkan.. aku tak tau.

Atau malu.

Ya, mungkin saja aku malu mengatakan bahwa ada seseorang yang sedang kupikirkan, yang ia menjadi perhatian utama di siang dan malam. Atau aku malu, malu menjadi seorang pengangguran padahal nilai akhir memuaskan. Malu tidak bisa berkontribusi. Malu bahwa diri ini hanya sebutir debu ditengah gurun pasir peradaban.

Sibuk dan lupa waktu.

Aku sibuk memikirkan hal yang tak pasti sampai satu minggu berlalu. Dan hari ini pun aku sedang menunggu satu minggu kembali berlalu. Di mana pada hari itu aku akan berkata,
“Ah, satu minggu sudah berlalu."

Hingga ia berbentuk, bulan, tahun, windu, dan satu proses kehidupanku yang nanti para malaikat kubur akan berkata,

“itu masa lalumu.”

Dan ketika Tuhan memenuhi janjinya kepada seluruh orang beriman atas tiap amalan dan usaha mereka tatkala di dunia, maka saat itulah aku akan menangis bersedih atas apa yang sudah terlewat karena berbagai alasan tadi.


"و الحزن على شيء قد فات"
Dan kesedihan itu ada pada sesuatu yang sudah terlewat.

Senin, 26 Oktober 2015

Alasan Klasik

Sedang mencari alasan untuk ngobrol dengan kamu, tapi tak juga ketemu. Ah, biarlah kita sibuk dengan aktivitas masing-masing. Toh, suatu saat kita akan bertemu. Entah itu pertemuan yang menyakitkan, atau menyenangkan. Ataupun pertemuan tanpa makna.

Yah, mungkin ini nasib laki-laki yang tidak bisa memperjuangkan kamu dengan segera. Gara-gara studi?
Klasik kan alasannya? Mohon dimaklumi, ya. :))

Lantai Lima Belas

Di lantai lima belas kalian berdiri berjajar.
Mencoret papan tulis, berbicara pada khalayak ramai.
Retorika indah berisi cita-cita.
Payah, aku hanya bisa memperhatikan kalian dari balik anak tangga.
Kubuka sedikit catatan yang baru kubeli,
Kaget aku, terlalau banyak kalimat cemburu di situ!

Para pimpinan berdiri di lantai lima belas.
Bersikap tenang, seperti tak ada beban,
Tersenyum sumringah menghadapi masalah.
Namun tiba-tiba mereka saling bertanya,
“kemana anak baru itu?”
Tak akan ketemu, karena aku bersembunyi di balik meja kerjaku.

Di lantai lima belas Mereka kerja siang dan malam,
Mengejar promosi ke lantai enam belas.
“Aku takut ketinggian!” batinku berteriak
Sepatu dan kemeja sudah kukenakan,
Ruang kerja juga telah dirapikan,
Terakhir, sepucuk surat untuk para pimpinan.

“Ah, mungkin kuserahkan beberapa bulan lagi.
Magang dengan mereka asik.”


Para pimpinan masih sibuk di lantai lima belas,
Akupun ikut sibuk.
Menata meja
Menata surat acara
Menata rasa cemburu yang disebabkan oleh mereka.

Jumat, 23 Oktober 2015

Now I'm Suffer

Aku memikirkannya hampir setiap waktu; bangun tidur, pagi, siang, malam, dan sebelum mata terpejam. Belum selesai masalah umat ini, tiba-tiba ia hadir tepat di depanku. Membawa parang lalu memukuli setiap inci ego yang tumbuh subur di kepala. Sakit. Mengingat namanya begitu sakit.

Mungkin agenda bulananku akan terus terisi namanya. Daftar belanja, menu minggu ini, ataupun judul-judul makalah yang entah kenapa ada saja kata yang mewakili kehadiran si dia. Ah, mungkin aku terlalu berlebihan dalam merasa.

Setidaknya kata bunda Asma Nadia, “Jangan habiskan waktu memikirkan orang-orang, yang tidak menaruh namamu di hatinya.”

Sepintas, kita akan mengamini kata-kata manis itu. Begitu pula saya. Tapi yang namanya rasa, siapa yang bisa mengendalikan? Kita memang memiliki tuhan yang bisa membolak-balik hati, namun di lain sisi, Allah Swt juga memerintahkan kita menjaganya sebaik mungkin.

Menjaga lebih keurusan fisik, ia bercengkrama dengan tindakan-tindakan nyata; Menundukkan pandangan, tegas dalam ucapan, dan menghindari komunikasi yang tak lagi diperlukan.

Bukankah menjaga lebih baik daripada mengobati?

Atau hatiku telah mati? Sekedar menjalankan perintah tuhan saja sudah tak kuhiraukan. Berdo’a siang-malam meminta tentang jodoh dan keturunan, tapi sekedar untuk menjaga belum juga dikerjakan.

Sedikit mengubah kata-kata pak Taufiq Ismail, “Malu (Aku) Jadi Pelajar Azhar,” akan menggambarkan mentalku yang labil dan kekanak-kanakan. Jika dalam puisi aslinya sang penulis malu disebabkan oleh orang lain, berbeda denganku yang malu karena mencoreng lembaga tempatku belajar dulu.

I can’t survive yet, now I’m suffer.

Jumat, 16 Oktober 2015

Di Ujung Kaki Langit

"Untuk segalanya dan apapun itu, terimakasih, Tuhan." lirihku sedu ke Langit. Kutatap hamparan biru yang masih sombong, acuh, dan tak mau tahu keadaanku.

"Biarlah. Toh, Tuhan yang menciptakanmu masih perhatian padaku."

Sebal. Aktivitas ini mulai membuatku kesal. Tak terhitung waktu yang ia rebut dariku, waktu untuk memikirkanmu atau sekedar melirik masa depan kita. Seolah-olah semua waktu itu miliknya yang bisa ia simpan di balik meja kerja.

"Kau tahu?" tanyaku membuka obrolan dengan si Biru, "Bapak tua itu membuatku putus asa."

kini Langit menjadi pendengar setia.

"Kaki ini murka, wajah ini membara, tetesan keringat tak lagi berharga. beberapa receh koin logam mungkin hanya robekan kecil dolar baginya." Ucapku bersemangat.

Dan Langit masih setia.

"Hey," aku mulai berubah pikiran, "Lagi-lagi kau mulai mengacuhkanku."

Sebenarnya, tak ada yang salah dari sikapnya. Aku yang berfikir kecil dengan otak kecil ini hanya bisa bertanya siapa? Siapa yang membuatku lelah? siapa yang membuatku gila? siapa yang membuatku jatuh merana karena cinta?

Yup, Langit tak pernah salah. karena di bawah ujung kakinya sana ada takdir tuhan yang entah bagaimana harus segera kutemui.

Namun untuk hari-hari ini, bapak tua di balik meja kerja itulah takdirku.

***

"'Amu Sayyid, kok lama banget sih ngurusin berkasnya?" Protesku lesu.

Jumat, 09 Oktober 2015

Pengakuan

Mata polos mereka mengingatkanku kisah klasik beberapa tahun lalu. Sambil duduk bertutur kisah tentang janji manis sebelum pergi meninggalkan tanah kelahiran, mereka tersedu, protes, dan mempertanyakan tentang semangkuk kecil harapan yang setiap pagi mengisi perut mereka.

Kapan mulai masuk kuliah?

Di mana bisa membeli buku pelajaran?

Seperti apa studi di Al Azhar?

Sebagai pendengar, aku hanya bisa memberikan wajah prihatin. Berharap sedikit-banyak bisa membuat mereka merasa tidak sendiri. Karena seingatku, itulah yang kubutuhkan saat pertama kali datang di negeri ini.

Ah Mesir, untuk saat ini pesonamu hanya indah di buku-buku wisata. Ribuan menaramu lelucon. Suara-suara manusia terkumpul di tempat sampah, dan sampah terkumpul di gedung-gedung pemerintah. Kau biarkan para bajingan memenuhi karakterku, tuk dibawa pulang ke Negeri yang kutinggal lima tahun lalu.

Kesedihanku pun bertambah ketika bercermin, sesosok wajah sombong dengan isi kepala yang kosong. Aduhai lulusan Al-Azhar, banyak orang akan bertanya kepadamu,

“Apa solusi permasalahan ini?”
Sedang waktumu dulu dihabiskan dengan duduk asik di depan tv, tidur sepanjang tahun.

Kini wajah sombong itu memuram, bingung dan panik karena sudah tak ada yang bisa dibanggakan. Ia terlihat berpikir keras. Semua orang yang memperhatikan tahu bahwa ia hanya akan beralasan.

“Sudahlah,” ucapku pada sosok yang ada di cermin, “kita hanya perlu mengakui kelemahan kita. Saat ini tak banyak yang bisa kita perbuat.”

Ingin kuusap Kristal kecil yang mengalir di wajah muram itu. Kepongahannya sirna seiring realita yang ia hadapi. Tak banyak yang bisa ia lakukan untuk kebaikan bocah-bocah yang meminta bantuan kepadanya. Ia berbicara sedikit, malu jika kelemahan tersebut muncul di depan publik.

“Wah, ternyata kau masih punya malu juga, kawan.” Candaku garing seperti orang autis di depan cermin.

Selasa, 29 September 2015

Mengobral Rasa

Saya masih belum bisa mendefiniskan apa itu bahagia. Hari ini diajak untuk meramaikan acara komunitas tim bola favorit, saya merasa bahagia. Kemarin mendapat hadiah dari kawan, saya pun bahagia. Ah, tiga hari makan-makan, hanya senyuman kawan yang membuat hati ini senang, bukan gulai daging ataupun rendang.

Bahagia itu terkait perasaan. Saya pernah mencatat sebuah nasihat,


Tak seorang pun dapat menyakiti anda, tanpa persetujuan anda.

Nasihat tersebut jika menggunakan kaidah Mafhum Muwafaqoh akan berbunyi, “Kebahagiaan dan rasa sedih bisa anda ciptakan sebagaimana yang anda inginkan.” Hal ini terlalu Negeri Dongeng sekali menurutku, walau sebagian dari kita bisa melakukannya.

Dan seandainya berada di negeri dongeng, di mana perasaan bisa kuatur dengan sendirinya, maka aku akan memilih melupakanmu. Namun nyatanya hal itu tidak mungkin terjadi, hingga ada istilah “Menerima taqdir Tuhan.”

Mari kita perinci sedikit. Rasa suka itu di bagi dua, yang datang dengan sendirinya dan satu lagi datang karena usaha yang kita lakukan.

Maka tak salah jika sebuah majas mengatakan, “Cinta tulus itu, adalah cinta seorang ibu kepada buah hatinya.” Karena datang tanpa alasan. Bahkan setelah melalui proses yang menyakitkan, bukan benci kepada si bayi, tapi rasa suka dan keinginan untuk merawatlah yang muncul dari sang ibu. Hingga aku bertanya-tanya, Apa rasa suka yang kurasakan kepadamu seperti contoh yang pertama?

Atau yang kedua, seperti seorang pekerja yang membiasakan suatu aktivitas hingga menjadi nafas kehidupan. Tak bisa lagi ia berpisah, lalu menjadi sebuah karakter yang ia bahagia dengannya.


Bagaimanapun juga, definisi “Menerima Taqdir Tuhan” yang kubuat, hanyalah sebuah manifestasi dari rasa gugupku menerima kebahagiaan ini. Kebahagiaan? Ya, bukankah semua orang mengatakan bahwa rasa suka itu anugrah?

Lalu bagaimana dengan rasa sedih, terpuruk, dan berbagai perasaan negative lainnya. Lagi-lagi aku ingin kembali menukil nasihat yang kutulis di awal curhatan ini,

Tak seorang pun dapat menyakiti anda, tanpa persetujuan anda.

Kali ini aku setuju, karena teringat sebuah hadits Nabi..

لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا
“Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, dan saling marah…”

U know what I mean? Yup, perasaan itu masih bisa diatur, meski ia muncul tiba-tiba tanpa sepengetahuan kita. Namun dalam tulisan ini, aku hanya ingin mengeluh tentang sebuah rasa, yang mana tidur tak bisa dan lapar pun tak pernah tiba. Hingga aku mengira, apa ini termasuk rasa bahagia?

*Maksudnya nggak bisa makan dan nggak bisa tidur gara-gara banyak mikirin kamu.

#Curhat_pun_selesai



Sabtu, 26 September 2015

Penolakan

Nggak tau udah berapa penolakan yang gw lempar. Sedikit banyaknya mempengaruhi mental yang udah mulai ngawur memilih konsentrasi. Awalnya fokus gw jelas tahun ini: pendalaman materi kuliyah yang dulu sempat gw hafal tanpa memahami isinya.

Tapi entah kenapa, target itu makin lama perlahan memudar. Mata yang hanya lima watt di depan buku, seketika terbuka lebar saat ngobrolin film holywood. Badan yang remuk-redam saat jadwal tela’ah kitab, tiba-tiba bersemangat kalau ada rapat sama si doi. Ngetik obrolan di watsap nggak ada abisnya, tapi langsung abis saat azan Subuh berkumandang.

Keran keilmuan benar-benar mampet. Setiap gw ngelirik layar televisi di ruang belajar, siaran Al-Jazeera mengisi gendang telinga dengan berita Suria, Palestina, Iraq, dan permasalahn dunia Islam lainnya. Tapi otak kosong informasi, kenapa permasalahan ini belum juga ditemukan solusinya? Ah, aku coba kembali ke buku yang belum juga kubuka sejak masuk ruangan itu.

Gw mulai menolak, karena harus fokus.

Sebagaiman cahaya Allah tak akan diberikan kepada pelaku maksiat, begitu pula saya harus menerima sunnah Tuhan yang satu ini. Sangat wajar ketika kita menyukai seseorang, bayangan wajahnya akan terus muncul berulang-ulang. Alih-alih ingin melupakan dengan memejamkan mata, ia malah terpampang jelas. Bahkan senyumnya membuat dada sakit. Kenapa aku tidak bisa memilikinya? Dan itu menjadi pertanyaan yang harus kuhindari beberapa waktu ini.

Sakit. Dan ini benar-benar sakit. Termasuk saat kawan yang kita percaya, meninggalkan kita di depan mata. Meski benar-benar memukul, tapi kebencian bukan pilihan untuk saat ini. Setidaknya jangan biarkan syaitan tertawa puas dengan permusuhan yang coba ia tanam. Kecewa? Pasti. Tapi rasa kepercayaan harus tetap dijaga, toh kita masih dalam satu wadah yang sama. Kepentingan jama’ah lebih utama daripada perasaan pribadi.

Kedua perasaan yang berusaha kutolak ini, sedikit-banyaknya menjadi buah bibir pikiran setiap mulai merebahkan tubuh, ataupun membuka buku. Gw cuma tersenyum kecut jika si doi muncul di antara kalimat arab gundul, yang lagi-lagi berakhir dengan penolakan.

“Hush.. hush.. pergilah kamu.”

Namun saya sadar, penolakan akan menghasilkan efek negatif bagi mental. Akhirany, jika penolakan yang gw lakukan udah terlalu berlebihan. Gw coba cuek. Kalau masih belum bisa.. akhirnya gw terima pelan-pelan, sambil mengadu kepada Tuhan. Bukankah Ia sebaik-baik tempat mengadu?

Lalu bagaimana penolakan terkait aktivitas jasmani lainnya? Well, untuk yang satu ini, Alhamdulilah gw udah bikin agenda. Dan ternyata, kalau sekedar kumpul makan-makan masih banyak waktu luang.

Selamat hari raya Iedul Adha, kawan.
26092015

Selasa, 22 September 2015

“Jika bertemu Tuhan, ia bahagia dengan puasanya.”

Seorang anak kecil pulang dari sekolah membawa raport. Setelah membuka pintu dan menaruh sepatu di rak, bocah itu berlari menuju dapur mencari sesosok wanita yang terus dipikirkannya sejak bel tanda akhir sekolah berbunyi. Sambil mengelap peluh di dahi, ia melewati ruang makan dan mendapati seorang wanita paruh baya sibuk mengiris bawang.

“Ibu, adik juara satu di kelas.” Ucap si kecil membuat kaget sang ibu.

Anak kecil yang sedari tadi menyodorkan raport, mendapati ibunya menoleh sambil tersenyum bahagia. Dengan cekatan, wanita itu membuka kulkas dan menyiapkan segelas sirup warna orange.

“minumlah, nak. Kamu pasti haus. Nanti kita tagih janji ayah yang akan membelikanmu sepeda.” Bisik sang ibu meyakinkan.

Si kecil menyeringai puas. Ia begitu senang dengan hasil jerih-payah selama satu tahun lalu. Sambil membayangkan bersamaa sang ayah pergi ke toko sepeda, ia pergi ke kamar membersihkan diri dan mengganti baju. Senyuman tak pernah lepas dari wajahnya.

**

Semoga di akhirat ketika bertemu dengan Tuhan kelak, sambil bahagia kita akan berkata, “YA Allah, dulu kami berpuasa karena-Mu."


روى عن أبي هريرة, أنّ رسول الله صلى الله عليه و السلام قال:
"للصائم فرحتان يفرحهما إذا أفطر فرح بفطره و إذا ألقي ربه فرح بصومه"

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagian yang ia berbahagia dengan kedua hal itu. Ketika berbuka, ia bahagia karenanya. Dan Jika bertemu Tuhan, ia bahagia dengan puasanya.”

Wallahu'alam

Sabtu, 19 September 2015

Menyalahkan "Nonsense Activity"

Poster masjid yang tertempel di langit-langit kamar beberapa hari lalu, ikut mengisi adukan rasa galau dalam dada. Betapa tidak, aktivitas bulan ini membuat tanganku ingin memukul sesuatu. Ah, lupakan sedikit emosi, toh permasalahan ini bersifat pribadi.

“Tenang bagai lautan.” Batinku, sembari mengingat pantai sewaktu liburan dulu.

Namun payah, setiap terbayang denturan ombak, emosiku makin meluap-luap. Ingin rasanya kumenerjang sesuatu. Menghempaskannya. Lalu merangkulnya. Dan menghempaskannya lagi. Absurd, saya pun bertanya-tanya, dari mana amarah ini berasal?

Al-Aqsha. Sebuah poster masjid seukuran meja belajar terpasang tepat di atas ranjang tidur. Semakin diperhatikan, rasa keterasingan semakin menumpuk di kedua bola mata. Entah bagaimana cara menghilangkan gumpalan rasa kecewa, hina, dan malu yang kini berbentuk Kristal bening yang seketika membasahi wajah.

Kehinaan itu mulai mengotori mukaku yang sembab dengan isak tangis. Di atas kasur empuk dan hembusan kipas, tanpa hingar-bingar letusan peluru maupun ledakan granat, tubuhku tergolek dengan perut terisi penuh biskuit coklat.

Ah, Al-Aqsha. Lagi-lagi aku hany bisa menangisimu di malam hari. Yang pada esok aku akan sibuk mencari makan, dan melacurkan mulut ini bersama kawan-kawan. Kembali diingat, lalu dilupakan.

Kejam sekali diriku.
Dan nyatanya, sasaran kemarahan itu adalah aktivitas nonsense, tanpa pernah mempedulikanmu.

Tolong, 
maafkan aku yang hanya bisa menyalahkan ini dan itu, tanpa berusaha mencoba.

Selasa, 15 September 2015

"Aku Ingin Mengajakmu ke Tempat itu, Umi."

Ah, ini tentang pasir dan ombak. Biru dan putih langit yang dipantulkan oleh lautan. Aku benar-benar ingin mengajakmu ke tempat itu.


@Matruh_Marsa, 11-13 September 2015

تحت شعار
"كن إيجابيا"























Rabu, 09 September 2015

Hanya Sepersekian Detik

Satu tahun berlalu sejak aku tinggal di perkampungan yang jauh dari lokasi kampus. Suka dan dukanya kulalui, kadang dengan kepalan tangan ataupun segumpal senyuman. Yah, beginilah hidup,  Kita tidak bisa menghindari masalah sehari-hari dengan bertukar kawan ataupun tempat tinggal. Meski beragam, akar masalah biasanya berasal dari diri kita masing-masing.

Sebagai mahasiswa yang jauh dari kampus, aku terbiasa berurusan dengan Bus Kota. Dua musim berbeda, panas dan dingin, membuat kebiasaan berangkat kuliyah juga berbeda.

Setengah tahun pertama, aku masih bisa melakukan sarapan di rumah sebelum mengejar bus. Namun ketika musim berganti pada bagian kedua, aku mulai membiasakan diri dengan sarapan pagi khas warga pribumi. Ah, lupakan soal cita-rasa, yang terpenting saat itu adalah perut terisi.

Sepersekian Detik

Entah mengapa kata-kata itu menjadi motivasi bagiku setiap kali mengejar bus. Ada tiga bus yang melewati kampus di antara jam enam hingga tujuh pagi. Pastinya aku mengejar bus yang datang lebih awal, karena 45 menit perjalanan menuju kampus bisa kugunakan untuk merehatkan tubuh di kursi penumpang. Berbeda jika terlambat dan mendapatkan bus-bus sisa yang sudah penuh, yang akhirnya harus ikhlas berdiri berdesak-desakan.

Jarak rumah yang sedikit jauh dari jalan raya membuatku sering lari tergopoh-gopoh selesai dari sarapan. Setiap kali sampai di jalan raya dan melihat bus lewat di depan mata tanpa bisa lagi dikejar, maka spontan aku akan bergumam kecil,

“Ah, hanya sepersekian detik.”

Esoknya aku berusaha datang lebih awal sekitar sepuluh atau lima menit. Namun inilah mesir, tak ada jadwal pasti untuk bus-bus kapan berangkat dan berhenti. Akhirnya di tengah kepungan cuaca dingin aku menunggu lima belas sampai dua puluh menit, entah untuk bus pertama atau kedua. Namun  yang pasti, jam tujuh adalah jadwal bus ketiga.

Bus pun datang. Tak tanggung-tanggung, dua bus yang kutunggu itu datang bersamaan. Untuk saat itu aku hanya bisa tersenyum kecut, betapa ketidakteraturan ini harus dialami oleh banyak mahasiswa yang akhirnya menjadi malas untuk berangkat ke kuliyah.

Meski sudah di tahun terakhir kuliyah, saat itu adalah tahun pertamaku tinggal jauh dari kampus dan semangat mengejar bus masih seperti mahasiswa baru. Walau  sedikitnya tiga kali seminggu aku berucap “Hanya sepersekian detik” kepada bus-bus itu, bukan berarti itu adalah sebuah penyesalan dari pikiran negatif.

Tidak, itu tidak lain adalah tantangan yang kuungkapkan untuk memotovasi diri. Memotivasi jiwa yang harus sabar dengan segala kekacauan yang ada. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas mahasiswa kota yang kuliyah di universitas (yang katanya) tertua sedunia.

Toh, akhirnya aku sekarang lulus dengan nilai yang “Hanya sepersekian detik” dari pilihan nilai yang bisa kuraih. Yang sampai akhirnya aku mulai berpikir, “Kegagalan dan kesuksesan kita di masa depan hanyalah sepersekian detik dari waktu yang kita luangkan.”

Dan bodohnya aku baru mulai berfikir, “Apa yang sudah kupersiapkan untuk bus jemputan menuju akhirat sana?”

Hanya sepersekian detik dari ikrar syahadat yang kita ucap di akhir hayat kita, karena “ajal” tidak bisa ditangguhkan maupun dimajukan.

Semoga kite semua dikaruniai Husnul Khotimah, kelak. Amin.

Kamis, 03 September 2015

Karakterku yang Pencemberu(t)

Memikirkannya makin membuat hati ini berdebar-debar, aku terlalu cemburu  dengan progres yang mereka capai. Di antara mereka ada yang peduli dengan lingkungan sekitar, namun tahfidz tetap berjalan seolah rasa malas bukanlah penghalang. Terlebih kebiasaan qiyamullail yang membuatku sering bertanya-tanya, “bagaimana bisa ia tidur tepat waktu, dan bangun di malam sesuntuk itu? Sedang aku disibukkan dengan tuts-tuts gamepad-ku.”

Jangankan malam, pagi ketika matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya mereka sudah siap dengan ransel yang terpikul di atas punggung; Mengejar kelas-kelas ilmu di pojok kota Kairo, tatkala aku asik terkapar di bawah kipas langit kamar.

Hal-hal itu membuatku frustasi. Setiap detik berlalu, maka kemajuan mereka perlahan jauh meninggalkanku. Alih-alih ingin menjadi nomor satu, tak ketinggalan kereta saja mungkin sudah membuatku mabuk bahagia.

Karakter.
Aku bertanya di mana letak kesalahanku. Maka kujawab, “Karakter.”

Sudah satu tahun lamanya aku memikirkan jawaban ini, dan sungguh malang nasibku baru menyadari di penghujung umur yang ke Dua Puluh Dua. Namun setidaknya terjawablah pertanyaan-pertanyaan lain setelah satu jawaban ini diterima oleh akalku..

“Bagaimana generasi setelahku mampu melampauiku, bahkan generasi-generasi sebelumku?”

Disiplin, kerja keras, dan kerja efektif.

Kok bisa mereka bisa begitu cepat dewasa (dan menyebalkan)?”

Sabar, Ikhlas dan berjiwa besar.

“Mengapa mereka tidak peduli dengan game, film, dan segala hiburan yang biasa anak seumuranku nikmati?”

Berani mengambil tantangan dan bertanggung jawab.

Lalu ada yang bertanya, “Siapa John Wick?”

“Pria yang focus, berkomitmen, dan berkemauan keras. Di mana kamu hanya mengetahui sedikit hal dari sifat-sifat itu.” Jawab seorang pria berambut perak yang tiba-tiba saja muncul dilayar laptopku.

Oke, dua paragraf terakhir murni dialog dari sebuah film yang sedang kutonton saat menulis catatan ini.

******

Yah, karakter. Sudah dua puluh tahun lebih aku terbiasa dengan segala bentuk kesenangan. Menolak tantangan dan menghindari tanggung jawab. Menjadi pemberontak, egois, dan menuruti rasa penasaran yang tak beralasan. Kini semua itu membentuk sebuah karakter yang tak aku mengerti hingga saat ini? Lucu membicarakan masa depan secerah mentari pagi musim semi dengan karakter serampangan yang kumiliki.

Aku tinggal di sekitar orang-orang yang bangun menggenggam buku dan tidur memeluk buku. Namun aku hanya bisa cemberu(t), bercermin kepada diriku yang masih saja tidur di tengah jalur pacuan kuda.

Ah, masih saja wajah ini cemberut melihat aktivitasmu yang seolah-olah berkata, “Hai anak kecil, duduk yang tenang dan perhatikan pertunjukan ini. Karena akulah tokoh utamanya.”

Entah kau yang begitu sombong atau aku yang terlalu cemburu, sampai saat ini belum kuputuskan jawabannya.



Aku juga heran dengan kebiasaanku :D

Selasa, 25 Agustus 2015

Langkah Baru: "Catatan Baru"

Hari ini ujian tulis Al-Qur'an. Ngga' tau pingin bilang apa, karena keluar ruang ujian pikiran langsung blank.. Terlalu banyak yang harus dijawab namun waktu yang diberi sangat singkat, bahkan aku tak ingat apa yang kutulis di ruangan tadi.

Jika mengingat waktu ujian Qur'an saat tingkat empat beberapa bulan lalu, aku menggunakan metode: "Catat semua awal ayat yang ada di soal sebelum memulai jawaban." Tapi hari ini tidak bisa begitu, dan aku beruntung membawa jam tangan ke dalam ruang ujian.

Hanya di soal pertama aku menggunakan metode Mencatat di Awal. Saat aku sadar hal itu menghabiskan waktu setengah jam lebih, akhirnya aku meninggalkan metode itu dan memilih resiko dengan kemungkinana 'ada ayat yang akan terlewat.' Karena jika tidak aku tinggalkan (metode tersebut), aku hanya akan mengerjakan empat soal saja, dengan kalkulasi:

Ada lima soal, dan waktu ujian dua jam. Jika satu soal yang kujawab dengan metode Mencatat di Awal menghabiskan waktu setengah jam; maka hanya empat soal yang terjawab.

Benar saja, setelah meninggalkan metode yang biasa kugunakan, ada satu ayat yang terlewat, namun beruntung masih ada waktu untuk memperbaikinya.

Namun yang lebih menyakitkan adalah; fokus kita saat di ruang ujian menyebabkan beberapa hal kecil kadangkala terlewatkan. Mungkin disebabkan terlalu tegang, juga persiapan yang belum matang.

___

Ada beberapa catatan yang bisa kusimpulkan.

1. Jangan menyepelekan perbuatan maksiat, sekecil apapun itu. Karena itulah yang menyebabkan hilangnya hafalan.

2. Pelajari Khot Rit'ah, yang mana dengan gaya penulisan ini akan membantu memaksimalkan waktu saat menjawab lembaran-lembaran soal.

3. Saat muroja'ah, fokus ke Al-Qur'an (begitulah disiplin ilmu yang lain). jangan sedikit-dikit mikirin jodoh yang belum berani dijemput. Hha..



***

"Langkah Awal di Jenjang Baru"
Semoga Allah Swt memberkahi setiap amal kita.

25 Agustus 2015. Madinta Zahro

Jumat, 21 Agustus 2015

Catatanku Untuk Para Wanita

Aku terkadang terlalu serius memikirkan beberapa hal, terutama kalau menyangkut wanita. Bahkan masalah yang sepele bisa menjadi besar, lebih-lebih jika itu berkaitan dengan kebangganku sebagai kaum adam.

Contoh kecilnya ketika aku duduk di dalam Bus, lalu ada wanita berdiri tepat di samping. Normalnya akau akan langsung memberikan bangku tersebut, tapi berhubung cuaca panas dan jarak yang ditempuh sangat jauh; hanya ibu-ibu sampai wanita baya saja yang kuberikan, sedang para remaja dan gadis hanya kuberi Ghodul Bashor aja.. hahaha, maaf kita nggak jodoh.

Dan entah kenapa, laki-laki terlalu sering mencari alasan untuk memulai obrolan dengan wanita. Meski saya tak pernah melakukan survey, tapi selaku makhluk normal saya mengkategorikan pengalaman yang saya dapat ini umum dilakukan oleh makhluk yang bernama laki-laki. Meski nama saya Abdurrahman.

Hal yang belakangan ini saya alami namun tidak terlalu penting untuk dipermasalahkan adalah; Jabatan baru saya sebagai badan perwakilan anggota di sebuah organisasi.

Bisa saja saya memilih pasif dan tidak merespon setiap pertanyaan maupun permintaan, dan setelah melewati beberapa masa merekapun nantinya akan terbiasa dengan ketidakhadiran saya. Hal ini saya pelajari dari beberapa kawan yang sudah berpengalaman.

Tambahan aja, hal lain yang saya pelajari dari mereka adalah; Jangan beralasan ketika tidak bisa melakukan sesuatu. Cukup berkata ia atau tidak ketika diminta, bahkan ketika terlambat.

“Maaf, saya terlambat.” Cukup, jangan ditambahkan kalau ban mobil kamu di jalan bocor. Karena apapun alasan yang kamu berikan, mereka hanya mencatat kamu sebagai orang yang terlambat hadir.

Namun anehnya, alasan-alasan seperti inilah yang sering saya gunakan untuk memulai obrolan dengan wanita. So girls, silahkan cuekin saya setelah kamu baca tulisan ini. Meski saya menangis di hadapanmu sampai satu bak air mandi terisi dengan air mata, jangan percaya! Kan kalian tahu kalau laki-laki itu; Buaya Darat. :P

Kamis, 20 Agustus 2015

Warna Hitam-Putih yang Sedang Kuukir

Warna hitam-putih kanvas kehidupanku mulai diukir seiring hilangnya ratusan warna yang pernah tergores di atasnya. Seperti debu yang mengotori bebatuan licin di pinggir jalan, tak berbekas ketika rinai hujan jatuh perlahan. Begitulah aku menggambarkan ratusan warna yang kini mulai pudar dan sedang kugantikan itu.

Jarum jam di atas meja belajarku terus bergerak, berdetak. Sesekali deringan telpon kawanku memecah kesunyian yang beberapa hari ini kukondisikan untuk ujian. Tak ada catatan di tangan, hanya ayat-ayat suci Al-Qur’an yang kadang kulantunkan dan kadang kugumamkan perlahan. Meski ruangan berganti, namun semua harus jauh dari keramaian.

lima hari proses pengasingan ini hampir berjalan. Jauh dari dunia luar, tanpa film, game, and still single. Berharap datangnya keajaiban, yang hadir adalah angan-angan.

“Menghafal tidak ada jalan pintas, Bro!” begitu aku memotovasi diri dalam pengasingan ini.

Belakangan aku merasa buruk. Ingin rasanya menyalahkan seseorang atas kelalaian ini, namun yang kudapati tidak lain adalah diriku sendiri. Terlalu banyak main, dan bersenda-gurau. Malu rasanya menyadari bahwa tahun ini adalah tahun kelulusanku. Memakai jubah dan imamah Azhar saat wisuda nanti mungkin akan menjadi bahan lelucon bagi anak-cucuku.

Hafalan tersendat dan teori keilmuan masih tertumpuk di lembaran tebal diktat kuliyah. Aku semakin bertanya-tanya, “Mahasiswa macam apa aku ini?”

Segala hal tampak makin mengherankan tatkala aku memberanikan diri ikut berbaris di deretan mahasiswa program pasca sarjana Al-Azhar. Sebagian dari diriku tertawa atas lelucon ini, ia menganggap aku tak layak.

Aku yang (memang) terbiasa dengan berbagai macam warna kehidupan masa muda, kini harus (memaksakan diri) terbiasa dengan hitam-putih catatan kuliyah, diktat, dan lembar makalah serta soal ujian yang harus kuserahkan kepada para guru-guru besar di universitas seribu tahun ini.

“Tuhan.. berkahilah pilihan kami.” Gumamku ditengah lantunan ayat yang kuulang untuk ujian masuk nanti.

Rabu, 19 Agustus 2015

Aku Benci Menjadi Dewasa

Aku tidak suka menjadi dewasa, terlalu banyak beban dan terlalu banyak hal yang harus dipikirkan. Dan entah mengapa semua beban dan pikiran itu hadir bersamaan saat hafalan muraja’ah mulai kulantunkan. Ia hadir dengan mesra, membawa seikat bunga dan rayuan masa muda. Terkadang ia datang dengan ancaman, menggenggam palu dan parang yang diarahkan tepat ke mukaku.

“Ah, aku rindu suatu masa ketika hal yang paling menakutkan hanyalah PR Matematika,” ejaku pada sebuah poster yang bertebaran di social media.

“Itu adalah dunia masa kecil,” batinku.

Selain PR Matematika, hal yang tidak kusukai adalah orang yang memiliki sifat dewasa. Yah, bukan sekedar sifatnya yang kubenci; orang yang bersifat dewasa pun aku tidak suka.

“Ah, aku benci menjadi dewasa,” aku terus mengeluh.

Kenapa aku harus mengorbankan waktu luang untuk belajar dan bekerja? Kenapa memendam cinta begitu menyakitkan?

Dulu ketika suka dengan sebuah mainan aku akan berkata kepada ibuku,

“Ibu, belikan aku satu.” Atau kepada ayahku “Yah, pagi ini abang akan bermain bola dengan kawan. Bersihin motornya lain waktu aja ya.”

Namun sekarang, banyak yang harus dipendam. Maka dari itu, aku benci menjadi dewasa dan aku benci diriku yang bersikap dewasa.