"Menikah bagiku adalah sebuah keharusan."
Awalnya aku merasa 'harus' menikah dengan orang yang kucintai.
Namun Tuhan memberiku karunia; akal fikiran, di mana pada akhirnya aku lebih mengedepankan logika daripada perasaan. Pastinya diiringi nasihat para senior,
"Cinta itu dipupuk, bukan tumbuh dengan sendirinya."
Tentu aku ingin taman yang dihiasi oleh bunga yang indah, bukan rumput liar yang tiba-tiba muncul ditempat antah berantah.
Aku tak mengira ini membutuhkan waktu!
Siapa sangka, aku yang masih kekanak-kanakan ini, harus tau bagaimana mencangkul, mengalirkan air, memberi pupuk, dan menjaga agar hewan liar tidak mengganggu tamanku. Yah, aku perlu beberapa waktu agar terbiasa dengan rutinitas baru.
Betulan deh, siapa sangka anak kecil yang punya cita-cita membuka pintu gerbang Masjid Al-Quds ini harus berhenti sebentar hanya untuk menyelesaikan pendidikan Magister selama 4 tahun?!
Tapi karena menikah baginya adalah keharusan, dia tidak boleh terlalu lama berhenti di zona nyamannya..
"Udah donk jangan terlalu lama menatap bunga-bunga yang mulai indah bermekaran, toh di ujung perjuangan sana ada bunga-bunga indah lain yang telah Tuhan siapkan untukmu wahai pejuang. Hhe." Celetuk anak tersebut dalam hati.
***
Back to back persiapan Khutbah Idul Adha,
lagi dan lagi tentang perjalanan Nabi Ibrahim dari satu tempat ke tempat lainnya.
Beliau melakukan perjalan itu tidak sendiri, namun selalu bersama keluarganya.
Jadi kamu paham kenapa aku punya keyakinan seperti itu?
Menikah itu harus, kakak! meski bukan dengan orang yang kau cintai..
toh cinta itu dibina, bukan berdiri dengan sendirinya.