My Movements Trip.

Jumat, 20 September 2013

'Mimpi Langit' pada Hitam-Kuning R4BIA.



Sebuah tangan dengan empat jari, yang melambangkan perjuangan Rakyat  Mesir di Medan Rab’ah itu memiliki dua warna dasar; Kuning dan hitam. Setiap warna itu memiliki makna tersendiri, sebagaimana telah dijelaskan oleh kedua Perancang lambang R4BIA, Shalihah Irene dan Cihad Dulles.

“Warna kuning menunjuk kepada kota Al-Quds di Palestina, sedangkan warna hitam menunjuk kepada Ka’bah di Mekah-Saudi Arabia.”  Tutur mereka berdua. Cihad menjelaskan lebih dalam bahwa warna hitam menyatukan antara Ka’bah dengan kesedihan. Dan tentang warna kuning, Irene mengatakan bahwa warna itu sudah dilihatnya selama bertahun-tahun. Saat itu matahari sangat terik berada di atas masjid Kubah Shahrah di Al-Quds. Setiap kali umat Islam melakukan perlawanan terhadap kekejaman, aku selalu teringat dengan kuatnya warna kuning di masjid Kubah itu.AnnidaOnline

--------------------------------

“Mengagumkan” batinku, ditengah penindasan yang dilakukan junta militer, dan persengkongkolan Raja-raja Saudi terhadap mereka, namun pandangan mereka masih tegak ke arahMasjid Al-Aqsha, juga ke Baitullah. Mimpi mereka masih tinggi, menjulang melewati tembok-tembok pembatas Yahudi yang ada di Rafah, lebih kuat dari tank-tank yang haus darah, juga tak kalah tajam dari peluru yang mengincar orang-orang yang tak bersalah.

Siapakah ‘mereka-mereka’ itu?, mereka adalah orang-orang yang bertahan di Medan Rab’ah dan Bundaran Nahdah, bahkan sebelum Kudeta itu dilakukan, dilanjutkan dalam rentang waktu dua bulan setelah Mursi dijatuhkan. Mereka melakukan Shalat disana, tidur, Qiyamullail, bahkan Shoum di Bulan Ramadhan. “Kami adalah orang-orang yang siap mati mempertahankan Legimitasi Pemilu yang sah.” Begitulah Mimpi-mimpi itu terucap dari mulut-mulut mereka. Kebenaran yang mereka pertahankan, adalah kebebasan yang mereka yakini sejak tumbangnya Rezim Diktator 25 Januari Silam.

 
Image; Google.


‘Mimpi Langit’, jika boleh kunamakan demikian, mimpi yang melampaui kenyataan yang sedang terlentang didepan mata. sebagaimana mimpi yang dirasakan para Sahabat Nabi terkait terbukanya Bumi Syam, Persia dan Yaman dalam lingkup da’wah umat islam, padahal ketika itu mereka dihadapi dengan Pertempuran Khandak, sebuah pertempuran yang menentukan, karena jika mereka gagal, otomatis Kota Madinah-basis dan pusat perjuangan mereka akan dibumi ratakan.

Juga karena mimpi-mimpi ini datangnya dari langit, maka ‘tidak akan pernah’, ya tidak akan pernah orang yang meyakini hal ini disebut bodoh dan tak berakal, kecuali mereka-mereka sendirilah yang terlalu dungu dan sombong untuk tidak mengakui bahwa janji Allah itu adalah benar!.

Bukan, bukan karena aku merasa pintar, jenius dan sebagainya, namun ini hanyalah pelajaran yang bisa kita ambil tentang ‘Mimpi-mimpi Langit’ yang telah lalu. Sebagaimana Allah Swt telah memberikan kita nikmat berupa akal, maka menggunakannya dengan sebaik mungkin adalah bentuk syukur atasnya.

Diakui atau tidak, wawasan serta kadar ilmu seseorang mempengaruhi pandangan orang tersebut dalam menilai sesuatu.

Saya, anda, teman-teman terdekat kita bahkan seorang professor sekalipun seringkali melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan itu adalah yang bertaubat. Maka untuk mengakhiri kalimat ini, saya memohon maaf jika ada kesalahan kata, data, serta kelancangan dalam berucap. (berusaha jadi orang baik itu; ‘baik’)

Dan untuk kalian para pemimpi dimanapun kalian berada, saya memiliki kalimat nasihat yang disampaikan oleh guru saya beberapa hari lalu;

“Hendaknya antum selalu berorientasi pada akhirat, karena akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”


Dan karena mimpi adalah sebuah ‘Orientasi’. sebuah pandangan, peninjauan, perhatian dan dasar pemikiran untuk menentukan langkah-langkah kedepan. Maka mari kita berharap bahwa nasihat itu bisa bernas dalam diri kita. Allahumma Amin.


Dipenghujung belaian udara shubuh.
Musallas, 21 September 2013.

Jumat, 13 September 2013

Gerah.

aku sedang gerah. ya gerah,, ketika guru-guruku terciprat kalimat-kalimat yang tak pantas mengenai diri mereka.

apapun kondisinya, aku adalah seorang murid. maka guruku berhak mendapat tutur kata dan prilaku yang baik pula dariku, sejauh apapun perbedaan pendapat yang kami pegang, karena posisi diantara kami adalah antara guru dan murid, antara sesama muslim, dan antara manusia yang sama-sama memiliki hati.

aku tak ingin para musuh-musuh itu tertawa melihat olokan-olokan kami terhadap ulama-ulama kami. jika ada yang salah, cukup katakan itu salah.

ya Allah tunujukkanlah yang benar itu benar dan bantulah kami untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah yang salah itu salah dan bantulah kami untuk menjauhinya. amin.

Brontosaurus Menulis



Menulis

Musim panas, dan sekelumit waktu-waktu yang terbuang dengan percuma. ya percuma, jika tolak ukurnya adalah kerja, kerja dan kerja. Atau belajar, belajar, dan belajar. Tapi entah kenapa kebiasaan lama menjalar begitu saja, menjadi nonton, nonton, dan nonton Sehingga tidak ada tempat untuk kata 'kerja' dan 'belajar' disana.

Dalam tulisan ini penulis sangat menyesalkan atas kemandekan yang terjadi terhadap blog ini, tentu banyak teori dan alasan yang bisa penulis paparkan kepada pembaca terkait hal tersebut, namun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membela diri.

Bagaimana kalau kita langsung meloncat ke ucapan Lebaran yang sangat kadaluarsa untuk disampaikan, atau rasa prihatin terhadap rentetan tragedy berdarah yang terjadi di negeri para nabi. Memang,  kerinduan akan kampung halaman yang bertumpuk tiga tahun disertai kebencian atas segala kedzoliman membuat lidah ini kelu, betapa tidak, karena untuk menghapus kedua perasaan itu kita membutuhkan satu rasa yang lain, rasa sabar. Dan saya lihat orang-orang sabar itu sering membisu, mukanya kaku dan matanya, oh matanya, indah bagi mereka yang memiliki mata yang indah, kalau jelek sih jelek aja, ngga ada yang berubah.. :P

Lalu bagaimana aku bisa kembali menulis? Simpel, aku hanya perlu menaruh jari-jariku yang kasar diatas tuts keyboard sambil membuka program MS Word. hal yang tak pernah kembali kulakukan sejak kebisuan melanda mulut, jiwa, dan pikiran-ku. Jadi, untuk beberapa hari kedepan kita bisa mencoba mengganti salah satu kata dari kebiasaan lama itu dengan menulis, mungkin bisa diucapkan seperti ini; nonton, nonton, dan menulis!

Oke, Mohon maaf lahir dan batin, semoga amalan ibadah puasa kita diterima Oleh-Nya dan juga untuk kebaikan Mesir; semoga Allah Swt memberikan kemenangan kepada orang-orang yang berjihad untuk kebaikan agamnya serta melaknat orang-orang dzolim.

Lionel Messi

Oh ayolah, mungkin bukan dalam tulisan ini saya akan bercerita. Kagum? Tentu, sama hal-nya ketika aku memandang foto Presiden Moursi yang dipegang para demonstran, hanya saja kekaguman ini dalam aspek berbeda dan memberikan pelajaran dari sudut yang berbeda pula. Yah, mungkin lain kali. Karena diperlukan beberapa kejutan lagi dari atas lapangan hijau untuk terus mengagumi keteguhan dan keseriusan dari laki-laki mungil tersebut, dimana kata ‘sihir’ sering di komparasikan dengan tindak-tanduknya ketika menggiring si kulit bundar.

Cinta Brontosaurus
  
Tentu bagi yang mengenal Raditya Dika, kata tersebut tidak asing, selain telah diterbitkan dalam bentuk buku, kini judul tersebut sudah tayang dalam dunia perfilman Indonesia. Selain masih muda, ia punya sentuhan yang berbeda dibanding penulis-penulis muda yang lain. Bahkan sentuhan tersebut mampu ia tampilkan dalam film yang ia garap. Muda dan berbakat, begitulah orang-orang seperti dia dipuji.

Dan jika seseorang menonton film dari pagi sampai pagi lagi bisa disebut gila, maka sebutlah kebiasaan saya ini dengan sebuah ‘kegilaan’. memang bukan terus-terusan tanpa diselingi dengan hal yang lainnya, namun setelah seharian menonton film, lalu dilanjutkan dengan penantian livestream sepak bola hingga shubuh, maka hal itu sudah saya sebut dengan menonton ‘dari pagi sampai pagi’.

Katakanlah ‘Tidak Produktif’ kalau memang perlu, toh akhirnya film ‘Cinta Brontosaurus’-lah yang kembali menyadarkanku. Dan hal-hal seperti inilah yang terkadang membuatku tersenyum-bingung, bagaimana tidak, untuk kembali menulis saja harus ‘menonton’ film seperti ini. Maka dimana ‘Lionel Messi’ dan ‘Pak Moursi’?

Diakui atau tidak, gairah perjuangan yang dilakukan Kelompok Islamis di Mesir mampu menimbulkan begitu banyak ide inspiratif untuk ditulis, begitu pula kesenanganku dalam melihat aksi-aksi para olahragawan di atas rumput hijau. Namun munculnya ide dengan menyegerakan untuk menulis itu adalah suatu hal yang berbeda. Dan setiap saya memikirkan tentang perbedaan ini, saya selalu ingat dengan nasihat Ka’ Rois; “segera Tulis!.” Perintah dia, namun sekali lagi; itu tetaplah hal yang berbeda, dan bagaimanapun hal itu, aku tidak bisa menjelaskannya disini.

Thanks Radit, entah kenapa gw lebih suka ngeliat karya lo dibanding muka lo, ups.



 Qosr El-Suq, 13 September 2013.