Sebuah tangan dengan empat jari, yang melambangkan
perjuangan Rakyat Mesir di Medan Rab’ah itu
memiliki dua warna dasar; Kuning dan hitam. Setiap warna itu memiliki makna
tersendiri, sebagaimana telah dijelaskan oleh kedua Perancang lambang R4BIA,
Shalihah Irene dan Cihad Dulles.
“Warna kuning menunjuk kepada kota Al-Quds di Palestina,
sedangkan warna hitam menunjuk kepada Ka’bah di Mekah-Saudi Arabia.” Tutur mereka berdua. Cihad menjelaskan lebih
dalam bahwa warna hitam menyatukan antara Ka’bah dengan kesedihan. Dan tentang
warna kuning, Irene mengatakan bahwa warna itu sudah dilihatnya selama
bertahun-tahun. Saat itu matahari sangat terik berada di atas masjid Kubah
Shahrah di Al-Quds. Setiap kali umat Islam melakukan perlawanan terhadap
kekejaman, aku selalu teringat dengan kuatnya warna kuning di masjid Kubah itu.AnnidaOnline
“Mengagumkan” batinku, ditengah penindasan yang dilakukan
junta militer, dan persengkongkolan Raja-raja Saudi terhadap mereka, namun
pandangan mereka masih tegak ke arahMasjid Al-Aqsha, juga ke Baitullah. Mimpi mereka
masih tinggi, menjulang melewati tembok-tembok pembatas Yahudi yang ada di
Rafah, lebih kuat dari tank-tank yang haus darah, juga tak kalah tajam dari
peluru yang mengincar orang-orang yang tak bersalah.
Siapakah ‘mereka-mereka’ itu?, mereka adalah orang-orang
yang bertahan di Medan Rab’ah dan Bundaran Nahdah, bahkan sebelum Kudeta itu
dilakukan, dilanjutkan dalam rentang waktu dua bulan setelah Mursi dijatuhkan.
Mereka melakukan Shalat disana, tidur, Qiyamullail, bahkan Shoum di Bulan
Ramadhan. “Kami adalah orang-orang yang siap mati mempertahankan Legimitasi
Pemilu yang sah.” Begitulah Mimpi-mimpi itu terucap dari mulut-mulut mereka. Kebenaran
yang mereka pertahankan, adalah kebebasan yang mereka yakini sejak tumbangnya
Rezim Diktator 25 Januari Silam.
Image; Google.
‘Mimpi Langit’, jika boleh kunamakan demikian, mimpi yang
melampaui kenyataan yang sedang terlentang didepan mata. sebagaimana mimpi yang
dirasakan para Sahabat Nabi terkait terbukanya Bumi Syam, Persia dan Yaman dalam
lingkup da’wah umat islam, padahal ketika itu mereka dihadapi dengan
Pertempuran Khandak, sebuah pertempuran yang menentukan, karena jika mereka
gagal, otomatis Kota Madinah-basis dan pusat perjuangan mereka akan dibumi
ratakan.
Juga karena mimpi-mimpi ini datangnya dari langit, maka ‘tidak
akan pernah’, ya tidak akan pernah orang yang meyakini hal ini disebut
bodoh dan tak berakal, kecuali mereka-mereka sendirilah yang terlalu dungu dan
sombong untuk tidak mengakui bahwa janji Allah itu adalah benar!.
Bukan, bukan karena aku merasa pintar, jenius dan
sebagainya, namun ini hanyalah pelajaran yang bisa kita ambil tentang ‘Mimpi-mimpi
Langit’ yang telah lalu. Sebagaimana Allah Swt telah memberikan kita nikmat berupa
akal, maka menggunakannya dengan sebaik mungkin adalah bentuk syukur atasnya.
Diakui atau tidak, wawasan serta kadar ilmu seseorang
mempengaruhi pandangan orang tersebut dalam menilai sesuatu.
Saya, anda, teman-teman terdekat kita bahkan seorang professor
sekalipun seringkali melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan
kesalahan itu adalah yang bertaubat. Maka untuk mengakhiri kalimat ini, saya
memohon maaf jika ada kesalahan kata, data, serta kelancangan dalam berucap.
(berusaha jadi orang baik itu; ‘baik’)
Dan untuk kalian para pemimpi dimanapun kalian berada, saya
memiliki kalimat nasihat yang disampaikan oleh guru saya beberapa hari lalu;
“Hendaknya antum selalu berorientasi pada akhirat, karena
akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
Dan karena mimpi adalah sebuah ‘Orientasi’. sebuah
pandangan, peninjauan, perhatian dan dasar pemikiran untuk menentukan
langkah-langkah kedepan. Maka mari kita berharap bahwa nasihat itu bisa bernas
dalam diri kita. Allahumma Amin.
Dipenghujung belaian udara shubuh.
Musallas, 21 September 2013.
.jpg)


