Udah nonton film dengan judul “Bridge of Spies?”
Baru tadi pagi saya tonton. Ceritanya tentang pengacara Amerika,
Mr. Donovan yang diperankan oleh Tom Hanks, menjadi sukarelawan untuk
melindungi hak warga asing. Berbicara tentang konstitusi Amerika-Rusia, politic
of interest, dan Prinsip.
Cerita yang dikemas dalam bentuk penangkapan agen rahasia
antar dua Negara ini, semakin berkesan tatkala mata-mata Rusia, Rudolf Abel,
teguh mempertahankan rahasia negaranya; dan di sisi lain Amerika sebagai Negara
Konstitusional, tanpa diskriminasi menjalankan undang-undang.
Keyakinan Pengacara Donovan dengan asas keadilan yang ada di
dalam konstitusi, mengingatkan warga Amerika dan para pengambil kebijakan agar
tidak menyimpang dari prinsip Negara.
“Tidak seharusnya kah kita,..” tanya Donovan di depan para
hakim Amerika, “dengan memberinya keuntungan penuh dari hak yang ditetapkan
oleh pemerintahan kita,..”
“Menunjukkan pada orang ini jati diri kita?”
“Jati diri kita?” ulangnya menekankan.
Bukankah itu senjata terbaik yang kita miliki di perang
dingin ini?
Apa kita mau kalah dalam mempertahankan prinsip..
Dibanding dirinya?
***
Akhir cerita, (tanpa banyak membocorkan cerita), Mr. Donovan
tertolong dengan prinsip yang ia perjuangkan. Bahkan lebih. Terkhusus untuk
dirinya, karir, lembaga-lembaga terkait, dan Negara.
***
Aku teringat bagaimana Presiden Turki, Pak Erdogan, mengutuk
dengan keras Kudeta Mesir serta sikap munafik Amerika terhadap Demokrasi di
wilayah Arab. Orang awam sepertiku hanya bisa nyengir kuda dan berkomentar,
“Jangan keras-keras Pak Erdogan, nanti bisa kayak Khadafi
di Libya.”
Hampir Tiga tahun beliau terus melakukan kritikan
keras itu, dan pada rentang waktu yang sama aku menjadi pengecut, bersembunyi
di balik semua omong-kosong tak berdasar itu.
Ya, ini Prinsip. Dan Prinsip yang kuat
tersebut mengalir ke jiwa dan sanubari Rakyatnya.
Terjbukti saat kudeta di Turki terjadi.
Dengan satu pangilan via SKYPE oleh Erdogan, seluruh rakyat tumpah ke
jalan, bandara, stasiun televisi, dan fasilitas lain yang digunakan para
militer dalam melancarkan aksi kudeta mereka. Ingat, satu panggilan lewat media
murah-SKYPE. Lalu, kudeta gagal!
Tak berbeda dengan Mr. Erdogan dan Donovan, seorang rekanku
juga teguh mempertahankan prinsip keadilan saat kami dihadapkan dengan sidang
terkait dua kelompok yang berseteru. salah satunya saat ia menolak mentah-mentah penambahan jumlah panitia yang kuusulkan.
“Dia asalnya dari kelompok A, kan?"
“Mm, ia sih.” Jawabku.
“Ga boleh. Titik.” Balasnya enteng.
Saat sidang selesai, pihak yang kalah mengajukan gugatan
dengan alasan bahwa kami tidak adil dan professional dalam memimpin persidangan. Bersyukur
dengan sikap rekanku tersebut. Kami dengan percaya diri menolak tuduhan itu.
Ya, ini tentang prinsip. Dan prinsip yang kuat tersebut kelak
akan membantu kita, karena itulah yang diajarkan oleh Islam.
“Dan janganlah
sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku
tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(Q.S. Al-Maidah:
ayat 8)
***
Oiya, Taqwa sendiri dalam maknanya memiliki arti, terpeliharanya
diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Terjaga.
Kalau yang menjagamu adalah Dzat yang menciptakan seluruh alam
ini,
Maka apalagi yang perlu ditakuti?
Kairo,
Rabu 27 Juli 2016.