My Movements Trip.

Sabtu, 31 Desember 2016

Mengawal Tahun "Baru"

Tahun baru ini diawali oleh "Satu Januari"

Bismillah. Lillah.

Ciamis, 31 Desember 2016

Selasa, 13 Desember 2016

Mimpi Seorang Muslim

"Ini mimpi," pikirku masih tak percaya.

Mulai dari bandara,
Bertemu kerabat-kerabatnya,
dan nasihat tegas Abi,
Hingga pertanyaan-pertanyaan kita
terkait ini dan itu.

Maka tak salah jika aku berprinsip bahwa,
"Hidup itu adalah yang dijalani," membuatku yakin bahwa semua itu berawal dari Mimpi..

..dari Do'a.

***

Maka dari sini aku terus berdo'a..
Terus bermimpi,
Agar ikatan ini bermula atas ketakwaan kepada-Mu ya Allah,
Bertujuan untuk menegakkan agama-Mu,
dan berakhir dalam keridhoan-Mu.

Maka Ya Allah,
Saksikanlah bahwa kami termasuk golongan muslimin..
Yaitu orang-orang yang berserah diri kepada-Mu.

***

Mengenang,
Minggu-Senin, 11-12 Desember 2016

Minggu, 04 Desember 2016

Momen Besar Setelah Aksi Bela Islam III

Menghafal surat Al-Anfal.

Senin, 5 Desember 2016

***

Jadi teringat saat hari Jum'at di jalan,
setiap peserta aksi saling memberi motivasi,

"Udah lelah? masa kalah sama yang jalan dari Ciamis.."

Senin, 21 November 2016

Abi, malam ini kita jalan berdua saja.

"Abi kosong kan malam ini?" tanyaku saat beliau baru sampai di tangerang selatan.

"Iya"

"Yaudah, ikut abang aja yuk bi ke Mal Gandaria City. Nemenin abang nonton film Fantastic Beast."

"Boleh."

"Naik motor aja ya. Minjem motor nenek." ajakku.

"Naik go-jek aja. Emang abang tau jalannya?" 

"Pakai Gps." jawabku sambil nyengir.

Akhirnya, selesai sholat isya, kami berdua jalan ke Jakarta Selatan. Muter-muter cari parkiran Mal. Beli tiket film kualitas 3D I Max. Masuk bioskop. Film dimulai, dan Abi tertidur karena kelelahan karena perjalanan Surabaya-Tangerang Selatan tadi siang.

Maaf ya abi. Dan terima kasih udah mau bareng menyelesaikan target nonton film sebelum persiapan ujian pascasarjana dimulai.

***

Sepanjang film berlangsung, sesekali aku melirik abi yang tertidur pulas disampingku.

Jumat malam, 18 November 2016.






Rabu, 16 November 2016

Yang Tersisa

Kata-kataku mungkin sudah mengering,
Tapi harapanku tidak.

"Tuhan, sampaikanlah cinta ini dalam keridhoan-Mu."

Rabu, 09 November 2016

Dongeng yang Ditunggu

tak bisa kupingkiri, bahwa sedikit cerita dan satu jepretan kamera; selalu membuatku menunggu kisah dan dokumentasi berikutnya.

oh ayo, jangan membuat kami menunggu.
"teruslah bercerita, kawan!"


Senin, 31 Oktober 2016

Sesuatu yang Menjadi Kenangan

Mendengar kabar baik, kabar sedih, bahkan pada momen yang sama mengalami kebaikan dan kehilangan; memberi kita kesempatan untuk belajar bersikap. Belajar memahami hidup yang sedang dijalani.

Pada saat yang sama, ketika semua itu terjadi
waktu tidak berhenti.

Semua yang terlewat menjadi kenangan.
"Aku bahkan belum menghafal merk hape samsung-ku."

Pada momen berikutnya, 
kabar kedatangan membuatku senang.

Berikutnya, seorang putra
dipanggil oleh Penciptanya.

Lalu, aku harus bersiap ke perpustakaan.
Belajar. Mengerjakan tugas.

Setelah selesai, tugas-tugas itu menjadi kenangan.
Sama seperti momen kebaikan, kehilangan dan kabar lainnya.

Semua menjadi kenangan,
pijakan untuk melangkah.
sebagai motivasi.

Lalu sikap kita terhadap kenangan-kenangan ini
kelak dipertanggugjawabkan pada Tuhan.

"Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu
yang bersabar dan penuh syukur."

Selasa, 25 Oktober 2016

Jadi Anak Jakarta "Galeri"

Kemarin sepulang kuliah malam, pingin banget share foto, kirim email, tidur
cepet, dan paginya berangkat ke perpustakaan sambil bawa laptop. Tapi kunci kamar hilang. Akhirnya agenda batal semua.

tapi Alhamdulillah, sore tadi pintu berhasil dibuka dan kunci terpaksa diganti. khair InsyaAllah.

berikut fotonya:
Dari makan-makan sebelum pulang, Car Free Day di bundaran HI, sampai jalan keliling jakarta sekekdar nanya, "Bapak/ibu milih siapa?"


























Kamis, 20 Oktober 2016

Senin, 17 Oktober 2016

Gara-gara kamu

Senang bisa menjalankan aktivitas seperti biasanya.
Kadang senyam-senyum sendiri, bingung tapi gregetan.

Nyiapin makalah, nyambil ikut main bareng abang.
Aish, ga ketinggalan ikut ngerjain survey bareng uni.
kangen sama dunia jurnalistik.

di rumah alhamdulillah, kakak umi saya suka banget masak.
Persis kayak umi, kami biasa memanggilnya "mamah"
dan sebagai laki-laki yang baik, aku harus makan dengan lahap masakan mamah donk.

Pipi udah mulai tembem.
masih tidak teratur olahraganya.


***

udah pertengahan Oktober.
belum dapet kerjaan yang bisa mengisi waktu kosong.
nah, baru sadar selama ini manja banget.

wajar sih, tidur tiga jam masih belum cukup.
kebanyakan main. waduh!
belajar masih susah. --_--

tapi berhenti?
ga ga ga.
dicoba dulu. diteruskan!
meski tambah sering senyam-senyum sendiri,
bingung tapi gregetan.


***

Hai, Kubah Kuning Al-Quds tercinta,
apa kabarmu?
maaf kan aku, udah keseringan absen mikirin kamu.

Rabu, 05 Oktober 2016

Peran Sang Ayah?

Dikisahkan bahwa, sejak Muhammad Al-Fatih lahir, Sang Ibu membawanya pergi ke luar istana dan berdiri di sebuah tebing yang menghadap ke arah konstantinopel. Sambil berkata,

"Wahai anakku, di sana terdapat Kota Konstantinopel. Dan Rasulullah Saw bersabda, Konstantinopel itu akan ditawan oleh tentara Islam. Raja yang menaklukkannya adalah sebaik-baik raja, dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara. Ketahuilah anakku, engkaulah orangnya."

Mulai dari gendongan hingga bisa berjalan, sang ibu terus membawa Muahmmad Al Fatih ke tebing itu dan membacakan hadits Nabi tadi.

Tidak lah wanita itu tahu, bahwa Hadits itu Allah Swt Siapkan untuk anaknya. Namun harapan dan do'a yang terus ia bisikkan kepada Al Fatih, atas izin-Nya menjadi sebuah jalan bagi Sang Penakluk Konstatinopel untuk membuka tabir dari Takdir yang akan ia lalui.

Tapi di mana peran sang Ayah?

Salah satunya, sejak ia memilih ibu yang baik untuk anaknya.

Kamis, 6 Oktober 2016.

Selasa, 27 September 2016

Aku Baik.

dan apa kabarmu?

***

Sebuah pertanyaan sering menggelayut seiring berjalannya waktu. Kadang mencoba tidak peduli.Ah, kenapa aku begitu menyebalkan belakangan ini?

Abduh, ayo berusaha lebih baik!

Selasa, 20 September 2016

::Sekarang Kita Bisa Memilih, Tapi Nanti "Tidak"::

Ternyata secara natural, setiap orang menjalani kehidupannya secara berulang-ulang.

Ada yang merasa hal itu menjadi rutinitas yang membosankan. Akhirnya memilih kabur. Menyerah. Namun tanpa sadar ia kembali mengulang proses yang sama. Lalu kembali kabur, menyerah, dan mengulang lagi. Dan lagi.

Ada juga yang sadar dan cerdik mewarnai proses itu. setiap tantangan ia coba hadapi. Gagal, sukses, dan menunggu. Beragam hal mulai ia pahami. Mengambil peran ganda. Bertukar peran. proses berulang itu ia kerjakan dengan cara yang bervariasi.

Dan ada yang seperti ini, dan ada yang seperti itu.

Inilah hidup. Ujungnya adalah kematian.
Kadang di bawah, kadang di atas.

Perannya banyak. Sebagai anak, ayah, ibu,  kawan, sahabat, petualang, penjajah, yang membantu dan dibantu. Yang mengajari dan diajari.

Sekali lagi, inilah hidup. Ujungnya adalah kematian.
Kadang di bawah, kadang di atas.

Maka pilihlah peran kita. Pilih cara kita melalui proses hidup yang terus berulang ini. Membosankan? Menyenangkan?

Tapi sekali lagi jangan lupa.
Ujung dari proses ini adalah kematian.

LALU,
Sebuah kehidupan abadi menunggu kita.
Pada tahap itu kita tidak bisa memilih. Surga atau Neraka adalah keputusan Allah Swt.

Surga atau Neraka?
Kita tidak bisa memilih.

****

18 September 2016<
Rumah Sakit UIN Syarif Hidayatullah.
*lagi tes kesehatan untuk daftar ulang


Rabu, 31 Agustus 2016

Silaturrahmi ke Rumah Bapak dan Mamah

Bareng Umi, Umi Ihsan, dan Umi Nadia.

Hari ini kami makan sayur bayam buatan mamah.
Artinya, hari ini saya ketemu mamah.

"Senangnya!"

Di Haka, sepulang dari rumah Mamah.
Rabu, 31 Agustus 2016.

***

Kebahagiaan itu cukup dengan
sebuah pertemuan denganmu, Mah.

Minggu, 28 Agustus 2016

Endonesiah

Hai, aku sudah di Jakarta. ibu kota negaraku, Indonesia.
ups, bukan bukan. tepatnya di tangerang selatan, ciputat.
di samping UIN Syarifhidayatullah. Rumah Mamah Onen,
Kakak Umi ku.

Hampir tiap hari mendapat telpon dari Abi,
"Apa kabar, bang? sehat?"

Ia sangat senang tatkala tahu aku ikut test masuk UIN,
Fakultas Dirasat Islamiyah.

Rabu sampai, Kamis mampir ke UIN,
lalu ibu Yuli, Sekretaris Dekan, berkata kepadaku,

"Senin ujian ya. Siapkan Proposal Skirpsi."

Keterlaluan!
yah, pastinya itu lebih baik daripada tidak mencoba.

Kembali bertemu buku.
Kembali menyusun ide dan gagasan.
Satu, dua, tiga.
Aku bangga jadi orang Endonesiah!


***
Jl. Pesanggrahan,
Ahad, 28 Agustus 2016

hmm, apa kabar dia yang di Kairo?
semoga baik-baik saja.
Segera. Segera aku ingin menghubungi Ayahnya.

Kamis, 18 Agustus 2016

Ingin Mencicipi Masakannya

Saat rabu malam (17 Agustus), seorang kawan bilang kalau ia sedang sibuk orderan katering.

Dalam hati, saya sangat berharap bisa mencicipi masakannya, walaupun tidak bertanya dia sedang masak apa.

Hanya ingin. Apapun masakannya saat itu.

Alhamdulillah, esoknya pada kamis malam, masakan tersebut lengkap tersaji di meja belajarku, yang akhirnya langsung disantap sepulang dari urusan di luar.

****

Semoga para koki nya medapat limpahan rezeki dan berkah dari Allah Swt.
Amiin

Belakangan saya jadi tau, kembalinya ia dari tahfidz dan belanja oleh-oleh, kawanku ini belum sempat pulang ke rumahnya dan langsung ikut bantu masak.










Kairo,
Jum'at, 19 Agustus 2016.

Alhamdulillah. 

Rabu, 17 Agustus 2016

Susun Ulang Strategi

Kamis siang, 17 Agustus. Ngobrol tentang masa depan. Namun entah kenapa, pembahasan mengarah ke gagalnya proses yang sedang dijalani.

Saya kalut.

Kuputuskan untuk diam.
Dan mulai menyusun ulang Strategi. 

Senin, 15 Agustus 2016

Jawaban yang Selalu Sama

Kawan, kemarin aku bertanya padanya, dan lagi-lagi ia menjawab dengan cara yang selalu sama sejak pertama kali bertemu.

"Adakah yang mereka suka? Inikah? Itukah?"

"Ada. Yang ga ngerepotin yang ga nyusahin." Jawabnya singkat.

Seketika aku terdiam. Lama tak kutimpali. Kenangan singkat menyesaki kepala, dia tidak seperti kawan-kawan seusianya. Akan sangat wajar jika ia akan berkata hal-hal aneh. Namun tidak, ia tetap menjadi seseorang yang kukenal selama ini.

Namun entah kenapa, sikap santainya itu
membuatku sebal.

Dalam artian, rasa sebal itu menjadi alasan
aku ingin menjadi temannya.


***

teman yang pengertian itu harus dijaga,
Bukan begitu?


Kairo,
Senin, 15 Agustus 2016.

Minggu, 14 Agustus 2016

Usaha Adalah yang Utama

Kakak pembimbingku pagi ini mengirim pesan. Rentetan kalimat tanggapan dari seorang ibu wanita yang sedang kuperjuangkan.

Saat kubaca, bulu kudukku serentak berdiri.
Jantung berdegup kencang.
Nafas tertahan.
Rasa takut, pesimis, & cemas menyesaki dada.

Namun bibirku merekah, tersenyum.
dan berkata,

"Setidaknya, aku mulai menikmati hidup ini."


***

Kairo,
Minggu, 14 Agustus 2016.

"Selama kita berusaha,
Apapun hasilnya,  pasti itu yang terbaik."

~sekaligus mengenang,
Tiga tahun pembantaian Rab'ah~

Jumat, 12 Agustus 2016

Jakarta dan Desember

Sejak jum'at pagi ini, kedua kata darinya terus berputar-putar di kepalaku. Jakarta dan Desember. Jakarta dan Desember. Jakarta dan Desember.

Ah, pulang.
Aku harus segera terbang ke Indonesia.

Belajar menghadapi Ibu Kota, dan
berusaha membunuh waktu yg tak sebentar itu.

***

Kairo
Jum'at, 12 Agustus 2016


Selasa, 09 Agustus 2016

Jawaban Hidup

Kawan, malam ini aku mendapatkan jawaban darinya.

***

Tadi bertemu dengan seorang kakak pembimbing. Rencana awal ingin menitipkan piagam dan sebuah pesan. Berubah menjadi obrolan panjang. Dan pada waktu yang sama digunakan untuk menentukan waktu dan tempat sebuah pertemuan.

Seketika hati berdebar, mata terbelalak. deg. Sedikit grogi, deg, aku bertanya meyakinkan, "Artinya.. sudah.. hampir.. diterima.. ?" Bibirku bergetar.

kuulangi pertanyaan yang sama.
Sudah hampir diterima?

kulihat raut wajah kakak ku tersebut. Santai. Meyakinkan.

"Alhamdulillah." Ucapku cepat dan diiringi dengan senyum kuda.

***

Awalnya kupikir akan menunggu jawaban ini berbulan-bulan lama. Namun Tuhan begitu berbaik hati pada hambanya.

Alhamdulillah, tsumma Alhamdulillah. 

***

Langsung berjuang untuk proses selanjutnya.
Semangat, Abduh!



Kairo,
Selasa, 9 Agustus 2016









Sabtu, 06 Agustus 2016

Betah, dan Tidak Mau Pulang.

Waktu itu sempat mau ikut rihlah ke "Hurgada" bareng Syathibi.

Tapi karena suatu alasan, akhirnya ga ikut.

Tebak, siapa yang nyesel ga jadi berangkat?
Hhaha

Jum'at, 5 Agustus 2016

***

Btw, sabtu pagi ini, 6 Agustus, saya ng'baca tulisan adik kelas yang ikut rihlah. Dan, oh, kata-katanya cukup menyebalkan.

Dia bilang betah lama-lama tinggal di hotel, dan ga' mau pulang. 

Sambil tersenyum kecut, aku teringat rihlah ke Hurgada bareng Almamater Islah satu tahun lalu. Aku sangat setuju dengan kata-kata adik ku tersebut. Dan karena hal yang sama aku jadi jengkel.

Apalagi kalau bukan tentang langit dan lautan biru. Sengatan mentari yang menyengat di musim panas, diikuti dengan hembusan angin segar. Tak ketinggalan, suara desingan ombak dan udara segar pantai.

Dan jika kau lelah, kasur empuk dan Air Conditioner yang dingin menusuk sudah menunggu di kamar Hotel. Lalu tidur sambil selimutan.


Ayolah, kamu setuju kan kalau adik kelas ku itu benar-benar menyebalkan?







Kamis, 04 Agustus 2016

P U L A N G

Enam Kardus Buku



Kardus buku yang akan dikirim ke Indonesia berjumlah Enam kotak. Harga pengiriman Kargo Al Kiram untuk pulau Jawa sebanyak 28 US Dolar setiap satuannya. Ke Sumatra, 55  US Dolar.

Lalu saya bingung. Lebih baik dikirim ke Lampung atau rumah kawan yang ada di Jakarta?

Namun dalam beberapa waktu ini saya masih menunggu. Entah kenapa saya harus menunggu untuk memastikan kardus-kardus buku itu akan dikirim ke mana. Ya, saya menunggu sebuah pertemuan. Hanya Feeling.

Tapi toh, tak ada salahnya menunggu sebentar.
Lalu setelah semua urusan dokumen selesai.
Kardus buku kita kirimkan.
Barulah beli tiket pulang.

Kawan-kawan sering menyebut dengan kata,

"'Ala thuul"

Lurus terus kedepan,
dan tidak berputar ke belakang.

Pergi dan tak kembali lagi.

***

hei, aku masih menunggu sebuah jawaban.
Tapi tak apa. Jika tidak di Mesir,
mungkin di Indonesia.
Atau di tempat lain yang aku pun tak tau di mana.

"Berbulan-bulan pun akan kutunggu."

Tapi setidaknya, jasad ini akan berpindah ke Indonesia.
InsyaAllah. Segera.



Minggu, 31 Juli 2016

Cerita Sebuah Keegoisan

Sudah satu minggu berlalu ya. Dalam waktu yang sama buku kuliyah yang seharusnya kubaca, kini bertumpuk tak beraturan di pojok kamar. Berdebu.

Saat ini aku makin tidak peduli. Mimpi-mimpi pada akhir kuliyah s1 dulu mulai tak berarti. Makna yang pernah kususun dalam ruang pojok hatiku, sekarang berantakan dan enggan untuk kurapikan.

Perasaan yang dulu tak pernah kuperhatikan, pada momen ini menjadi sahabat yang tak tergantikan. Siang,malam, pagi dan petang. Ia hadir minta ditemani, seperti pangeran kecil yang akan marah jika kau tiba-tiba pergi dari sisinya.

ini salahku. Ketidakpedulian di masa lalu, menjadikanku orang tak berbekal pada masa-masa sulit ini. Yah, informasi adalah modal utama untuk memulai petualangan panjang bukan?!

Kawan, kadang aku ingin segera meminta maaf kepadanya sudah bertindak begitu egois. Rencanaku untuk memintanya ikut berperan dalam "Tawaran Kekanak-kanakan" ini, sangat mungkin akan menyusahkannya, bahkan keluarganya.

Mungkin benar, egois.
Dan kurasa, aku tak perlu meminta maaf dan mundur.

Biarlah ini menjadi cerita.



Kairo,
Minggu, 31 Juli 2016

Jumat, 29 Juli 2016

Membaca Tulisanmu

Senang bisa membaca tulisanmu, mengetahui yang kau fikirkan, yang kau resahkan. Ingin ku bertanya, apa ada namaku dalam kata-katamu?

***

Tapi sebaiknya aku diam, menikmati kisahmu.
Merasakan cinta di setiap kalimatnya.

Tapi jika aku boleh bertanya,
"Apa ada namaku dalam kata-katamu?"
Lagi-lagi aku memilih diam, menikmati kisahmu.
Merasakan cinta di setiap sudut kalimatnya.




Rabu, 27 Juli 2016

"Bridge of Spies" dan Prinsip

Udah nonton film dengan judul “Bridge of Spies?”

Baru tadi pagi saya tonton. Ceritanya tentang pengacara Amerika, Mr. Donovan yang diperankan oleh Tom Hanks, menjadi sukarelawan untuk melindungi hak warga asing. Berbicara tentang konstitusi Amerika-Rusia, politic of interest, dan Prinsip.

Cerita yang dikemas dalam bentuk penangkapan agen rahasia antar dua Negara ini, semakin berkesan tatkala mata-mata Rusia, Rudolf Abel, teguh mempertahankan rahasia negaranya; dan di sisi lain Amerika sebagai Negara Konstitusional, tanpa diskriminasi menjalankan undang-undang.

Keyakinan Pengacara Donovan dengan asas keadilan yang ada di dalam konstitusi, mengingatkan warga Amerika dan para pengambil kebijakan agar tidak menyimpang dari prinsip Negara.

“Tidak seharusnya kah kita,..” tanya Donovan di depan para hakim Amerika, “dengan memberinya keuntungan penuh dari hak yang ditetapkan oleh pemerintahan kita,..”

“Menunjukkan pada orang ini jati diri kita?”

“Jati diri kita?” ulangnya menekankan.

Bukankah itu senjata terbaik yang kita miliki di perang dingin ini?

Apa kita mau kalah dalam mempertahankan prinsip..

Dibanding dirinya?

***

Akhir cerita, (tanpa banyak membocorkan cerita), Mr. Donovan tertolong dengan prinsip yang ia perjuangkan. Bahkan lebih. Terkhusus untuk dirinya, karir, lembaga-lembaga terkait, dan Negara.

***

Aku teringat bagaimana Presiden Turki, Pak Erdogan, mengutuk dengan keras Kudeta Mesir serta sikap munafik Amerika terhadap Demokrasi di wilayah Arab. Orang awam sepertiku hanya bisa nyengir kuda dan  berkomentar,

“Jangan keras-keras Pak Erdogan, nanti bisa kayak Khadafi di Libya.”

Hampir Tiga tahun beliau terus melakukan kritikan keras itu, dan pada rentang waktu yang sama aku menjadi pengecut, bersembunyi di balik semua omong-kosong tak berdasar itu.

Ya, ini Prinsip. Dan Prinsip yang kuat tersebut mengalir ke jiwa dan sanubari Rakyatnya.

Terjbukti saat kudeta di Turki terjadi.

Dengan satu pangilan via SKYPE oleh Erdogan, seluruh rakyat tumpah ke jalan, bandara, stasiun televisi, dan fasilitas lain yang digunakan para militer dalam melancarkan aksi kudeta mereka. Ingat, satu panggilan lewat media murah-SKYPE. Lalu, kudeta gagal!

Tak berbeda dengan Mr. Erdogan dan Donovan, seorang rekanku juga teguh mempertahankan prinsip keadilan saat kami dihadapkan dengan sidang terkait dua kelompok yang berseteru. salah satunya saat ia menolak mentah-mentah penambahan jumlah panitia yang kuusulkan.

“Dia asalnya dari kelompok A, kan?"

“Mm, ia sih.” Jawabku.

“Ga boleh. Titik.” Balasnya enteng.

Saat sidang selesai, pihak yang kalah mengajukan gugatan dengan alasan bahwa kami tidak adil dan professional dalam memimpin persidangan. Bersyukur dengan sikap rekanku tersebut. Kami dengan percaya diri menolak tuduhan itu.

Ya, ini tentang prinsip. Dan prinsip yang kuat tersebut kelak akan membantu kita, karena itulah yang diajarkan oleh Islam.


“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(Q.S. Al-Maidah: ayat 8)


***

Oiya, Taqwa sendiri dalam maknanya memiliki arti, terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Terjaga.

Kalau yang menjagamu adalah Dzat yang menciptakan seluruh alam ini,
Maka apalagi yang perlu ditakuti?

Kairo,
Rabu 27 Juli 2016.

Selasa, 26 Juli 2016

Posisi

Apa makna posisi bagimu?

Kamu yang sibuk dengan dunia organisasi, sepak bola, atau bela diri? Ya, setiap bidang memiliki arenanya masing-masing. Di dalam struktur kepengurusan kah? Lapangan? Matras tempat bertanding?
Sepertinya keilmuan juga kan? Hha, untuk yang ini aku masih banyak belum paham.

Intinya, kemana kita akan bergerak. Harus bekerja dalam posisinya sebaik mungkin. Mengunakan tiap sudut arena yang ada, memberikan ruang dan peluang kepada kawan jika bekerja dalam tim. Dan tak malas segera melakukan rotasi jika diperlukan.
Penyerang mundur membantu pertahanan, yang di belakang maju membantu menekan.

Dan tak lupa, siapkan nafas yang panjang.

***

BeTeWe nih, Gan. Hari ini ane main futsal. Udah lama ga main. Nafas pendek. Langsung berat untuk ngejer bola yang ga berhenti keliling lapangan.

Terpaksa deh mainnya jalan. Maju tanggung, mundur tanggung. Gimana ga tanggung. Baru sampai di depan, bolanya udah muter ke belakang. Wkkwk

Yup, Posisi!

Bermain tidak terlalu maju, bertahan di tengah menutup aliran bola.
Yah, tetap kalah sih. But it's Worthy!


Kairo-NadiSalab.
Selasa, 26 Juli 2016.
*Kawan-kawan Masisir yang lain lagi asik jadi Delegasi PPMI untuk Simposium International. Dan saya cuma bisa denger kabar dari Facebook.  Haduuuh. 

Oke, ini tentang "Posisi"
Meski masih berusaha mencari "posisi"  tersebut sih. Hhe



















Minggu, 24 Juli 2016

Menunggu?

Beberapa waktu lalu aku menunggu tulisan di sebuah media komunikasi sosial.

Hari ini, 24 Juli setelah ujian Daur Awwal usai. Aku temukan ia kembali menulis.

Tentang Teori Menghafal Al Qur'an dan "Menunggu"

***

Aku jadi teringat pernah berkata kepada seorang kawan,

"Berbulan-bulan pun akan kutunggu."

Ujian & Memulai Komunikasi

Siang ini selesai ujian akhir di Daur Awwal Al Azhar, menemani kawan duduk mendengarkan seminar Simposium. Yah, kebetulan lokasi gedung acara berseberangan.

Kenapa harus ditemani?
Pertama, dia punya catatan ringkas materi ujian, harus mampir ke rumah beliau untuk foto kopi. Persiapan Ujian Daur Tsani.

Kedua, mungkin aku kangen sama senyum kamu kawan.
Tapi sayang ya. Setelah lama tengok kanan-kiri, cuma bisa manyun.

ga ketemu 

***

Oh, hei. Ujian Daur Tsani masih satu atau dua bulan lagi.
Sepertinya asik kalau ngobrolin masa depan dengan orang tua.

Sambil menyelam minum air,
Materi ujian sesuai dengan yg ingin diobrolkan.

Saya punya rencana dan proposal.
Dengan bermodal muka tebal dan tak tau rasa malu,
abduh harus segera melakukan penawaran.

"Intinya harus dikomunikasikan, bukan?"

Selasa, 12 Juli 2016

Inget Umi

Waktu itu, ada berapa jeda antara pesawatmu dan pesawatku hanya untuk sekedar bertemu dan mengucapkan kata perpisahan?

Hiburan di tengah ujian adalah mengingatmu.

Untuk ujian kali ini, aku ingin meminta maaf padamu sejak awal.

11 Juli 2016


Rabu, 06 Juli 2016

Tapi Dunia Menolak Permintaanku

"Beri aku Dua tahun, bang. Fokus di tamhidi dulu." Pintaku ke Bang Ari dalam sebuah perkumpulan.

"Oke." Beliau jawab singkat.

Kami pun bergerak sesuai kesepakatan. Namun yang terjadi di lapangan tak sesuai apa yang diperkirakan.


***

Realita dari jaman Sd. :p

Menjadi Penonton

Kamis, 7 Juli 2016. Pagi Kairo.

Saya lihat di Fb, Bg Ariel sedang sibuk di organisasinya, Bpa.







Selasa, 05 Juli 2016

Hari Raya Iedul Fitri 1437 H / 2016 M

Biarkan senyumku yang bercerita.
*aih








Umi Minta Foto

Ia ingin tahu kalau anaknya baik-baik aja di Mesir.

Waduh!



Jangan percaya, ini editan.
soalnya beliau suka protes kalau saya banyak jerawat.
*nyengir kuda

Senin, 04 Juli 2016

Kau ingat "Janji" itu kawan?

"Lembaga ini bubar?" Tanyaku bernada mengejek.

Sedikit geram, aku berkata di depan muka bang Aril, "Saya janji bakal lanjut S2 di sini. Dan saya yang bertanggungjawab agar Lembaga ini tetap aktif."

Pak Direktur, bersama Muhajir ketika itu kau menyaksikan kata-kataku bukan? Yap, di tengah tensi diskusi yang tak menemukan jalan temu, janji itu pun terucap.

Dipikirkan? Sepertinya.
Pembahasan itu sudah berlarut, dan mengerucut pada satu titik, "Siapa yang siap melanjutkan estafet nanti?"

Saat itu akhir bulan November, tahun 2014.
kita semua sedang mempersiapkan ujian.
Informasi yang kita terima valid.
tapi entah kenapa, menjadi Dua konklusi yang berbeda.

menetap, atau pergi.

Perintah saat itu pergi.Penilaianku sama, sekarang atau nanti, kita pasti akan pergi. Maka aku memilih bersegera, langsung setelah perintah itu datang. Terutama waktu itu kita sudah mendekati fase ujian. Tidak mungkin kita harus merugi dalam dua hal sekaligus bukan?

Menetap adalah pilihan idealis. Pemberani.
Tapi berani dalam posisi yang salah, aku artikan sebagai kebodohan.
Maaf, kata-kataku terlalu kasar.

Setelah janji itu, tak ada diskusi lagi.
Kita artikan sebagai peraetujuan.

dan momen paling romantis di mulai sejak itu.

Tiga hari kita menyusun buku yang ada di ruang tamu sekertariat. Awalnya aku tidak peduli buku-buku itu dimasukkan kardus sembarangan. Tapi akhirnya aku setuju dengan usulmu. toh, kamu satu-satunya kawan yang ikut. Lalu semua buku dikategorikan menurut pemilik, arsip dan file lembaga, pembahasan Palestina, serta judul umum lainnya.

Berdebu! Yup, ini adalah buku warisan, bahkan sebelum kang Habiburrohman el-Shirazy ikut nyempil di markaz kita. Hhe

Tiga hari kita mengkategorikan, menyusun, membersihkan, dan memasukkan satu-persatu buku itu ke dalam kardus. Lalu kita beri nama; punya ustadz ini, punya abang ini, Palestina, Kajian, dsb. sehabis pulang kuliah sampai malam. Namun sekali saya bolos karena udah deadline ketika itu.

Hanya berdua.

Dua Puluh Lima kardus. Kita saling pandang dan senyum. Bagaimana caranya kita menyelamatkan buku-buku ini? Mengangkat dari lantai 6? Ditaruh rumah siapa?

Lalu Satu tahun lebih berlalu.
Kau dengan terpaksa menjadi Direktur, berkorban untuk kebaikanku.
Saya yang berjanji, saya pula yang mengingkari.

Dengan alasan yang sama kuusampaikan kepada adikku, Yusuf.
"Kakak akan lanjut S2, kamu aja yang jadi ketua. InsyaAllah bakal saya support antum dari belakang. "

Lalu ingkar lagi.
Saya benar-benar pasif kontribusi pada kalian.

Kawan, kini aku makin merasa bersalah karena tidak bisa belajar dengan baik. Pesimis, tak ada semangat untuk sukses. Apa mungkin aku akan berkata hal yang sama tahun depan? Kembali ingkar janji?

Di Bpa Ppmi aku juga merasakan hal yang sama. Bahkan lebih buruk.

Saya sungguh meminta maaf.
Semoga pada kesempatan lain, pada kesempatan aku bekerja bersama kalian lagi, aku bisa lebih banyak membantu. Semoga.

Wallahu musta'an. Semoga Allah Swt selalu membantu usaha kita.

***

Hhe. Senyum dulu ah,
*nyengir kuda

Senin, 4 Juli 2016.
Kairo.

Minggu, 03 Juli 2016

Senja

Kenapa Senja?
Dalam salah satu maknanya adalah "Akhir."

"Laki-laki itu sudah di senja umurnya." Berusia tua.
atau, "Hari sudah senja, saatnya kita berpisah."




@Kairo, siluet Masjid Al Azhar



29 Ramadhan

Sabtu, 02 Juli 2016

Alasan untuk Positif

Meninggalkan amanah, tidak peduli, pelit.
terlalu banyak hal negatif untuk ambisi kecil tahun ini, ya.

beberapa hari lagi ujian,
Bagaiamana persiapannya, Abduh?

Ah?!

***

Sore ini ada undangan sarasehan aktivis.
Seperti undangan lainnya, sudah kutolak.
Dan bertambahlah satu poin negatif.

Meski sudah diizinkan tidak ikut kegiatan apapun oleh Mr,
rasa bersalah itu tetap ada. Menjadi beban.

Wajar sih. Sudah masuk terlalu dalam.
Ini amanah, kawan.
A M A N A H

***

Ibu Pimpinan pasti sibuk banget sekarang.
Dari Empat rekan yang menemani, Tiga pergi.
Pada akhir masa jabatan, tugas menumpuk.

Dan aku adalah orang paling pertama yang meninggalkannya.
Bisa kau bayangkan,
"Laki-laki meninggalkan seorang wanita untuk mengerjakan tugasnya."

How shame I am?!

***

Lalu aku berharap menikahi seorang wanita salehah?
Yang anggun dengan jilbab kuning,
dan manis dengan sweeter merahnya.

Ya.

Meski saat ini ia sedang kesal setengah mati dan mengutuk namaku.
aku lebih senang ia begitu.

Bukankah diingat selalu lebih baik daripada dilupakan?

***

Lalu bagaimana dengan si Kecil Palestina?
Bukankah kuning keemasan kubah Al Aqsha adalah alasan utamamu memilih wanita salehah itu? Berjanji dengan para aktivis yang akan buka bersama sore ini?

***

Alhamdulillah, pada akhir tulisan saya menemukan kembali alasan-alasan penolakan tersebut. Meski publik tidak bisa menerima, setidaknya ini adalah keyakinan yang saya miliki.

Tentunya dalam zona "Diizinkan" oleh pihak terkait.

Memang sangat disayangkan, saya sangat buruk dalam belajar.
Semoga tahun depan bisa lebih baik, dan pundak sedikit lebih kuat.

Bertahap, kita akan memperjuangkan si Kecil.

***

Senang, keluarga di rumah mendukungku.
Energi positif mereka sangat kubuthkan.
Mr, teman satu lingkaran, kawan seperjuangan di kuliyah.

apa kamu mau menjadi bagian dari energi positif itu?

Ah, tak perlu.
dengan sikap kesalmu, jengkel sambil manyun sebel..
Bukankah itu selalu lebih baik daripada dilupakan?

***


Kairo,
Sabtu, 2 Juli 2016.
*Maaf, persiapan ujian saat ini benar2 kacau. aiihh hhe






Jumat, 01 Juli 2016

Prasangka

Terkadang, aku menyangka orang lain suka memberikan pesan melalui status yang mereka buat, foto profil yang digunakan, senyum ketika bertemu, atau bahkan diam.

Hanya berani menyangka, tak lebih. Aku suka bertanya secara langsung, selain itu yang diajarkan oleh Islam, memang sudah menjadi tabiat umum bahwa prasangka selalu berbeda tergantung kondisi pelaku.

tiap orang memiliki informasi berbeda di kepala mereka. Baik itu sekedar wawasan, ilmu terapan, ataupun kebohongan yang ia anggap nyata.

Suka, bukan berarti aku akan bertanya terus kenapa kamu begini? Kenapa ia begitu? Karena tak semua hal mesti kita ketahui kebenarannya. Lebih tepatnya kita tak memiliki banyak waktu untuk itu.

Karena itulah, hukum ditegakkan berdasarkan apa yang nampak saja. Sedangkan hati, biarkan ia dan Tuhannya yang tau.

Saat ini saya merasa ditinggalkan. Kesempatan yang telah diharapkan dari dulu seolah hilang dari genggaman.

"Itu hanya prasangka." Begitu sisi lain dari hati ini terus meyakinkan.

ya, rasa dan sangkaan negatif itu selalu saja bermunculan. Takut yang berkepanjangan, sedih, marah, dan kecewa. Semua hal itu selalu meminta untuk ditabayun.

Kadang malu masih bersifat kekanak-kanakan seperti ini.

kadang? Ya, di sisi lain menjadi bodoh itu terasa ringan, tak ada beban.

***

Belajar dari senior, kawan-kawan, bahkan adik yang lebih muda dari ku.

"Baiklah. Itu semua hanya prasangka. Masa depan akan kutentukan oleh tanganku sendiri." Tekadku sambil menatap langit. Di sana ada Tuhan yang maha kuasa.

Diterima atau ditolak proposalnya, itu urusan setelah lamaran diajukan. Yah, saat ini beberapa kriteria harus segera dipenuhi bukan? 

Kamis, 30 Juni 2016

Fokus fokus fokus!

Hari pertama muraja'ah Al Qur'an.
30 Juni 2016

*hei, Abduh.. fokus dong.
manyunnya tetep cantik ko'

Selasa, 21 Juni 2016

No Pain, No Gain

15 Ramadhan dipaksa istirahat panjang. Well, intinya jangan terlalu berambisi sampai lupa memberikan hak dan melaksanakan kewajiban. Semoga hari ini bisa jadi pelajaran.
meskipun, terkadang kita harus terluka. Tapi bukan dengan melukai diri sendiri.

selasa, 21 Juni 2016.
*buku pertama yg di muraja'ah masih meminta haknya. :)
Yah, hari ujian semakin kencang berlari ke arahku.

Sabtu, 28 Mei 2016

Masih di Sebuah Kafe

Alhamdulillah, masih dikasih kesempatan untuk nonton dua final klub-klub spanyol di masa ujian ini.
.
di antara Dua Puluh Tiga orang yang berlari-lari di tengah lapangan dan gemuruh suara suporter, aku bertanya,
.
"di mana diriku saat ini?"
.
dari layar lebar televisi terlihat jelas olehku mereka yang berpeluh keringat, menahan dan menarik nafas. menangis bahagia, sedih, namun ada juga yang tertawa.
.
aku sedang duduk di sebuah kafe bersama kolega.
.
.
"ah, iya. target baca muqoror masih sering molor." batinku menghibur setelah melihat Ronaldo selebrasi goal kemenangan.
.
aku pun pergi meninggaalkan Kafe .
.
28 Mei 2016

Rabu, 11 Mei 2016

Aku Melihatnya

"Hai, Abduh.. apa kau melihat senyumnya?"

"Ya," jawabku bahagia. "Man, apa ia selalu bercahaya (pen-bersemangat) seperti itu?"

"Kamu juga merasakannya, Du? Seperti itulah. Jika kamu berharap suatu saat bisa kembali bertemu dengannya..
Fokus ujian, ya." Bisik Maman di akhir kalimatnya.

"Ya, semoga peluang itu sudi mampir ke tempatku" Jawabku kembali dengan bahagia dan penuh harap.

"Hei, bukankah kau yang mesti menghampirinya?"

Ah, iya. Itu maksudku. Namun, target-target lain harus segera kuselesaikan.
agar Allah ridho.


***
11.5.2016
Satu Bulan lagi ujian. Bismillah!






Jumat, 29 April 2016

Sampai Kapan?

"Sampai kapan, Man?" Abduh bertanya datar.

Namun sayang sekali, orang yang ditanya terlihat tak mau memberikan jawaban. Suasana kembali sunyi. Terdiam.

Kini tiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing.

***

Mohon maaf atas segala khilaf,
Saling mendo'akan.
Saya izin untuk persiapan ujian.

"Oiya, do'anya langsung saya kirim ke Tuhan ya." :senyum:

Rabu, 27 April 2016

Menghormatinya dan Bertanggung jawab Pada Diri Sendiri

“Abduh, udah donk main hape nya. Come here, gimme your hand please!”

Orang yang diminta tak menjawab. Bisu?

“Abduh.. ohh.. pantas.”

Maman yang dari tadi sibuk mencoret-coret kertas tugas, seketika muncul dari balik punggung Abduh. Orang yang dibuat kaget itu seketika mematikan layar hape dan menyembunyikannya dibalik bantal.

“Musim panas gini masih selimutan. Ng’galauin apaan sih? Masih dengan akhwat itu?”
Terus digoda, Si Abduh semakin membenamkan seluruh tubuhnya ke dalam selimut.

“Wanita itu ga cuma dia seorang.  Lagian ngapain kamu terus-terusan mantengin semua akun socmed dia? Watsap, tumblr, facebook, twitter, Line?! Ga disapa lagi. Hadeuh.. lah dikira dia makhluk halus, bisa ngerti tanpa komunikasi?!” Maman terus berceloteh menggurui.

“Hei, inget, masih banyak..”

Mendadak Abduh mengeluarkan segenggam tangan beserta jari tengah dari balik selimutnya. Bukan urusan lo!

“Ini yang disebut cinta buta, nak.” Pemuda yang mendadak jadi orang bijak mulai berfatwa tentang cinta.

Hening. Namun Abduh masih menunjukkan jari tengahnya kea rah Ustadz dadakan itu. Tetep bukan urusan lo!

“Oke. Tapi inget ya,” Maman mulai pasrah, “itu hape sengaja dikeluarin buat nyari referensi. Dan selesai tugas ini bakal kita kembali sembunyikan untuk waktu yang taaak ditentukan.”

Jari tengah berubah jadi Jempol. OKE!

***

Dalam hati Si Abduh,

“Setidaknya, aku hanya ingin memastikan senyumnya terus merekah sampai hape ini disita oleh Si Maman.”

***

Dalam hati Maman,

“Abduh, sebenernya gw juga punya perasaan yang sama kayak lo. Cuma fokus belajar  adalah satu-satunya kita menghormati wanita tersebut, dan bertanggung jawab pada diri sendiri.”

***

Abduh mulai mengeluarkan kepalanya dari balik selimut. Ia lihat Maman tersenyum simpul  di hadapan kertas-kertas tugasnya.

Pemuda galau itu pun ikut tersenyum.


Rabu Pagi Kairo, 27.4.2016

Selasa, 26 April 2016

Refleksi Gagal Deadline

Hari ini saya membaca tulisan seorang rekan yang rindu dengan kawan-kawan dirumahnya.
Belajar sampai pindah rumah. Mengagumkan cara belajarnya. Terlebih dia seorang wanita.


ohiya, aku juga sedang persiapan ujian.
Did i? 

***
mimpi itu kini mulai berkabut tebal.
Ghufronak Ya Allah.

Selasa.26.4.2016

Ashamed Abduh

قال الرسول:
 "و كيف أخالف كتاب الله و به هداني؟!"

Keluh kesah? manusia diciptakan dengan sifat alaminya yang suka berkeluh-kesah. Sebelum, saat, dan setelah melakukan segala sesuatu aku suka mengeluh. Korbannya adalah rekan-rekanku. Tak jarang aku menyalahkan mereka. ini dan itu.

"Abduh, cukup. ini sudah berlebihan." Si Rahman mengingatkan.

Aku meliriknya. menelanjangi setiap sudut dari kaki hingga kepala. tampilannya begitu mengenaskan. Aku tak habis pikir, bagaimana ia masih mau bersabar dengan kondisinya yang sekarang??

"Kau MALU dibilang 'pecundang' bukan?" Rahman menelontarkan pertanyaannya.

Bukan. Itu sindiran.

Aku masih membisu. Pura-pura sibuk dengan game yang ada di layar hape.

Tiba-tiba ia mendekat. duduk di samping dan langsung mengacak-ngacak rambutku.

"Hai, pecundang." ia berbisik di telingaku, "apa kamu masih punya IMAN?"


***
26.4.2016


Kamis, 14 April 2016

"Terkadang ada aja Momen ini."

Melakukan hal secara bersama-sama itu memang butuh kesabaran. Namun uniknya walau harus letih menunggu, saat bertemu dan kata pembuka acara diucapkan; semua berjalan begitu lancar, cepat, dan tepat sasaran.

saatnya memggunakan waktu menunggu sebaik mungkin.

#MalamBina_Iman #Nusantara #Rabu #Kamis #Jumat #Sabtu #JauhDariBuku hhe

Kairo
jum'at, 15 April 2016

Rabu, 13 April 2016

duh, bagaiamana ini?

Tuhan, hati hamba ini memang milikMu..
dan kini Kau biarkan ia terikat padanya,
si wanita surga berkulit gelap itu.

Bolehkah aku menamainya "Cinta"?
duh, bagaimana ini?

Rabu, 06 April 2016

Tempat di Mana Aku dan Kamu Bertemu

Hari ini aku tidak menyebut namamu.
tidak pula merengek,
meminta untuk segera bertemu
walau sebentar untuk melepas rindu.

Malam ini aku mendengarkan cerita baru.
kisah tentang cita-cita warisan
yang begitu saja menempel di dadaku.
tanpa tau resiko dan akibat yang menunggu.
namun disini lah..

..aku mengenalmu.

kukatakan,
"Masa laluku tak pantas untuk
menjadi pendampingmu.
bahkan untuk saat ini.

namun, masa depanku
begitu memimpikanmu."

Wahai calon bidadariku,
Perkenankanlah aku mengintip namamu
melalui tahapan perjuangan
dalam barisan-barisan..

..yang aku dan kamu bertemu disitu.



Kairo, 6 April 2016.
23.33 CLT

Senin, 04 April 2016

Tolong, bantu aku menghilangkan keraguan ini

Bukan karena proses ataupun sistem yang harus dilalui, kawan.

Ketidaknyamanan ini muncul karena salah paham.
aku kira kaki ini telah berjalan begtiu jauh,
dan bisa sampai di pos pertama ataupun kedua
sebelum badai datang.

namun sangat disayangkan, ternyata
beberapa bulan ini aku hanya berlari-
lari di komedi putar.

jauh panggang dari api,
tiket naik gunungnya
belum kubeli.

***
Kini badai datang.
Dari pintu masuk ke pos berikutnya;
bukan perjalanan pendek dan menyenangkan.

Aku hanya bisa memilih,

Menunggu badai selesai,
dengan resiko orang lain yg akan sampai
di tempatmu terlebih dahulu.

atau, memaksa masuk,
dengan mengambil banyak kemungkinan
yang dengan sedikit kesalahan,
salah satu kemungkinannya adalah;
aku tak akan pernah mencapai jari manismu.

Kedua pilihan ini membuatku berdebat dengan badai dan abang penjaga gerbang.
bahkan sampai saat ini aku belum tahu, 
apakah aku akan diterima oleh jalan setapak dan
pepohonan saat mendaki nanti?

aku benar-benar tidak nyaman dengan perdebatan
dan rasa ragu ini.



Di tengah terpaan Badai 'Ujian.'
Kairo, 4 April 2014.


Jumat, 01 April 2016

Lagi, kutulis surat untuk langit.

Karena hari ini aku ingin berdo'a untuk orang-orang yang kusayangi. dan mengucapkan,

"Terima kasih atas kerja keras kalian."

Maaf, tak banyak yang bisa kubantu. 

Selasa, 22 Maret 2016

Jangan ganggu mereka, Abduh!

Setelah berhasil menafsirkan arti kata 'Bahagia', kini sebuah pertanyaan dihadapkan ke depan mukaku,

"Hai Abduh, apa kau bisa membahagiakan orang di sekitarmu?
dengan menjadikan mereka pribadi yang lebih baik?"

Belum..

Setidaknya, jangan buat mereka terusik dengan kehadiranmu, Abduh.

Baik. Saya coba.

Terutama orang-orang yang kau harapkan cinta dari mereka.

...

*hatiku mendadak kelu

Bahagia itu..

Bertemu dengan seorang rekan yang bisa membawa perubahan untuk menjadi lebih baik.

Minggu, 13 Maret 2016

Alibi

Seorang rekan dengan halus menyindirku,
"Stay fokus dong." Sedikit ia memberi jeda dalam kalimatnya.

"kasian kan akhwat nya dijadiin alibi mulu."

Jleb

Benar. Ketakutanku telah menciderai orang lain.
Dan yang terburuk, seseorang itu adalah sosok
yang menjadi perhatianku selama ini.

Berlari. Hanya saja rasa takut ini membuatku
tak bisa berhenti berlari.

Berlari dari kenyataan.
Ah, kini kepalaku tertunduk menahan malu.



Kairo.13.3.2016



Sabtu, 12 Maret 2016

Jawabanku

Hari ini banjir ucapan selamat.
Setelah hari kemarin dan diikuti hari ini, kawan-kawan langsung memberikan kalimat sambutan. Ada yang mengucapkan,

"Mabruuk!"

"Ahlan!" bahkan,

"Syukur ya.."

"atau syukurin?!" balasku menggoda.
ya, kami sama-sama tahu tentang pilihan ini.

Sebelum acara pengayaan materi dimulai, datang Muhajir menghampiri dan duduk di sebelahku.

"Selamat ya. Bisa tidur nggak semalam?" tanyanya menggelitik.

"Nyenyak. Soalnya sore langsung main futsal." Jawabku enteng.

"haha.. soalnya galau banget kan habis momen kemarin!" Seperti menjewer kuping, mukaku memerah.

Kayaknya dia baca curcol saya kemarin. Huaa

"Alhamdulillah.." kuatur nafasku perlahan. Dan dengan nada sepelan mungkin kubisikkan ditelinganya,

"Karena ane udah nggak lagi sendiri. Ada kalian."

Kami pun tertawa ringan.

***

Kairo
Sabtu, 12 Maret 2016.

Jumat, 11 Maret 2016

"Ini ikatan cinta kita kan?"

Jum'at pagi ini kuberjanji.
Lalu senja mengantarkan malam,
"Cinta.. dan Cita." gumamku.

Ditemani sunyi, aku merenung
Tubuh lemah ini?
Namun mereka berbisik,

"Saudaraku, kamu tidak lagi sendiri."

Kairo
Jum'at, 11 Maret 2016

Selasa, 08 Maret 2016

Kagum dengan Para Penjaga Al Qur'an

Kalau sekarang Selasa malam, berarti dia sedang persiapan tahfidz untuk hari esok.
keren. Biasanya kalau udah fokus, rekan saya yang satu itu nggak bakal bisa diganggu. Itu mengagumkan.

Belakangan saya jadi terpesona dengan para penghafal Al Qur'an. Aktivitas mereka benar-benar teratur. Karakter. Kebiasaan itu sudah mereka usahakan sejak setoran surat Al Fatihah kepada para guru tahfidz.

Terima kasih Ya Rabb, karena Engkau telah memperkenalkan kepadaku satu bidadari yang telah menghafal ayat-ayatMu.

Setelah banyak belajar berbagai hal dari bidadari tersebut
Sedikitnya mau lagi belajar darinya bagaimana 'fokus,'
tidak keseringan buka hape, dan
tidak 'kepo' sama kabar seseorang??
seperti dia.. hee
*masang wajah mupeng

Aih.. aih.. udahan dulu deh.
makin banyak ngomong, nanti saya makin banyak salah.
nanti kalian yang ngebaca, makin tambah sebel seperti si do'i.


Kairo,  8 Maret 2016
batunya ditahan dulu,
Maaf kalau sikap dan tutur kata sayah membuat para pembaca gerah.

Senin, 07 Maret 2016

Catatan Maret. Mendekati Ujian.

Hari ini, 7 Maret.
lebih tiga-empat bulan perasaan saya
terombang-ambing.

Ah, ujian sudah dekat.
tapi di buku diktat, masih saja yg tertulis
adalah namanya.

***

Catatan ini untuk diriku
yang jika nanti gagal,
"فلا تلمن إلا نفسك"
Maka jangan menyalahkan selain
dirimu sendiri, wahai Abduh!

Padahal udah sadar..
Jika saat ini gagal, maka
keinginan-keinginan ke depan akan ikut gagal.

Kalau saya benar mencintai calon istri saya,
orang tua, dan cita-cita dakwah ini,
tentu saya harus bisa menyikapi rasa galau ini bukan?

'Galau?'

Karena bilang seperti itu, semalam seniorku bercanda

"Kamu tau kenapa diminta datang ke sini?"

Meski tau, aku tetap menggeleng.

"Ingin ditawarkan seorang akhwat." Ucapnya santai

aku melotot. Beliau tersenyum renyah, lalu terkekeh.
"ngga lucu" pikirku. Dan hanya bisa menyeringai kuda.

diskusi dilanjutkan, tapi santai.. tak ada nama satu orang wanita pun disebut.
Karena sudah kukantongi satu nama, dan kurasa
nama itu akan kuperjuangkan. Setidaknya jangan sampai gagal dulu untuk tahun ini.

lagi-lagi tentang fokus.
dan tentang menghilangkan namanya dari daftar kata yang ada di buku diktatku.

Sabtu, 05 Maret 2016

Pertanyaan yang Salah

Setelah melewati hari yg serba-salah ini,
ada satu hal yang ingin kutanyakan padanya,

"Masih adakah kesempatan itu?"

Namun kuurungkan niat tersebut.
Kelu di mulutku tertutupi oleh langkah kaki yg
tak pernah lelah.

Sepertinya aku tau jawabannya,
hanya saja terlalu sakit untukku dengar.



5 Maret 2016

Kamis, 03 Maret 2016

Terlambat. Maka usaha harus ditambah.

Momen ketika sadar
bahwa impian itu diperjuangkan,
nampaknya sedikit terlambat.

Ya, diperjuangkan. 
Bukan dengan ucapan, rayuan,
gombalan, dan mimpi
di malam panjang.

Kalau sedikit terlambat, artinya
harus ditambah dong usahanya?
Semoga usaha ini adalah usaha yang baik,
dilakukan dengan cara yang baik.

Ya Allah, jagalah hati kami agar selalu terpaut
dengan kebesaran nama-namaMu,
kemuliaan wajahMu,
dan keagungan Arsy-Mu.


Kairo, 4 Maret 2016.

Minggu, 28 Februari 2016

Do'a untuk Wanita Istimewa.

Pada akhir bulan Februari tahun 2016 ini, tak banyak kumengenal wanita. Namun ada satu di antara yg kutahu, dan ia begitu istimewa. Begitu peduli pada dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

Ingin sekali kupinta ia,
"Menikahlah denganku."

lalu kepada Baba nya,
"Restuilah kami berdua."

Namun, akhirnya hanya sisipan do'a yang bisa kupanjatkan,
"Ya Allah, berikan lah ia jodoh terbaik,
yang akan membimbingnya ke surga,
bahu-membahu memperjuangkan agamaMu,
Menegakkan kalimatMu,
membebaskan Palestina, dan
Negeri Islam lainnya."

Toh, aku ingin kebaikan bagi wanita itu.
Sosok yang sedikit banyak membantuku untuk jadi lebih baik.

Jadi lebih baik?
Ya, aku berharap bisa menjadi yang terbaik.
hingga aku meminta kepada Allah, Tuhanku;
Ya Allah, jadikanlah aku orang terbaik dari yang terbaik.

Yup, setidaknya dengan menghafal Al Qur'an, fokus menyelesaikan S2, dan menjadi seorang aktivis yang terus memberikan manfaat untuk lingkungan. Serta menanamkan nilai-nilai Islam.

itulah syarat yang harus kupenuhi untuk bisa melamar jodohku.
Semoga tujuan ini tetap lurus.



Kairo, 29 Februari 2016
di tengah-tengah luapan kata gombal yang tak banyak tersampaikan.


Rabu, 24 Februari 2016

Isyarat Langit

Dengan gombalnya, aku berkata kepada Ibu,

" Diam adalah bahasa cintaku. Percayalah! Sisi romantisnya adalah Tuhan sendiri yang menyampaikan isyarat itu langsung kepadamu, Ibu."

Entah bagaimana aku berani berkata bahwa 'diam' adalah suatu hal yg Romantis?!
Belakangan, aku ingat puisi saat kecil yang diajarkan dalam kelas bahasa Indonesia dulu;


 "aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada."

Sapardi Djoko Damono.

***

Mungkinkah hati ini bisa menyampaikan isyarat itu kepadamu?
Aku rasa kau memerlukan waktu, akupun begitu..
Cita-cita kita tinggi, melebihi ratusan bahkan ribuan generasi.
Ada kata 'saling' untuk menjaga. Mengikuti aturan yang ada.
Al Qur'an dan As Sunnah sebagai panutan utama.


Tuhan, melalui cintaMu kutitip isyarat itu.
Kepada jodohku, aku mencintainya karenaMu.


25 Februari 2016
Kairo

Selasa, 16 Februari 2016

"Hari ini, hari ulang tahunmu, Umi."

Selamat ulang tahun, Umi.
abang selalu mendo'akan yang terbaik untukmu, juga untuk  lelakimu, dan anak-anakmu.
Selalu kudo'akan. Kupinta kepada Tuhanmu agar Ia menyayangimu, sebagaimana engkau menyayangiku sejak kecil, dari waktu kelima jari mungilku belum mampu menggenggam jari telunjukmu.. bahkan dari waktu engkau melahirkan, atau lebih dari itu? Sejak engkau meminta jodohmu, kepada Tuhan tentang laki-laki sholeh yang kini menjadi ayah bagi anak-anakmu.

"Umi," begitulah sapaan yang lelakimu ajarkan padaku. Ah, dia terlalu romantis. Diamnya adalah cinta. Atau dia hanya terlalu pemalu? Yah, setidaknya suatu saat aku ingin mendengarkan langsung darimu.

Kalau begitu, diam adalah bahasa cintaku. Percayalah! Sisi romantisnya adalah Tuhan sendiri yang menyampaikan isyarat itu langsung kepadamu.

Abang sayang Umi.
*Ah, sudah Enam Februari kita tidak pernah bertemu.

17 Februari 2016.

Senin, 15 Februari 2016

Menikahi Pemilik Senyum Bidadari

Dulu, salah satu daftar keinginanku adalah,
"Menikah dengan Si Pemilik Senyum Bidadari."

Well, ternyata Senyum Bidadari itu telah dimiliki oleh Ibu dan Adik-adikku.
Kukatakan seperti Bidadari, karena senyum itu diukir oleh orang-orang yang kusayangi.

Artinya; Aku ingin menikah dengan seseorang yang kucintai, kusayangi.
Yang mana bagiku, hanya dialah yang mampu tersenyum layaknya bidadari.

Meski ada yang berkata,
"Cintailah wanita yang engkau nikahi,
Bukan menikahi gadis yang kau cintai."

Tapi apa Ananda (kamu wahai pembaca) tau kenapa dulu aku menulis keinginan itu?
Alasannya cukup 'klasik';

Aku ingin menjadi seorang laki-laki pada umumnya; memperjuangkan apa yang sedang ia cintai, ia sukai, dan minati. Dengan sungguh-sungguh.
Agar tak ada penyesalan ketika hasil nanti tak berpihak pada harapan panjang laki-laki tersebut.

****
Pada waktu Dhuha. 
Kairo, 16 Februari 2016.
"Dan masih banyak permainan yang belum kuselesaikan."

Selasa, 09 Februari 2016

Keluh Kesahku

Setiap kali meninggalkan acara Ppmi, hati saya selalu resah. Mengingat, itu kan amanah. Sampai-sampai, dua kali saya meninggalkan undangan untuk mengerjakan hal lain, ketika itu pula saya tidak mendapatkan apa-apa dari hal lain tersebut. Miris.

Mengeluh. Saya terlalu banyak mengeluh belakangan ini. Bukan. Ternyata seluruh hidup saya terisi dengan keluh-kesah. Padahal sering saya jumpai orang-orang sukses yang tak banyak mengeluh dalam hidup mereka. namun sayangnya, perjumpaan itu hanyalah pertemuan singkat tak berbekas. Lalu aku tertinggal.

Baru-baru ini saya dipertemukan oleh seorang wanita. Rekan. Jodoh? Itu terlalu jauh kawan, sejauh perjalanan Sun Gho Kong mencari Kitab Suci ke Barat.

Intinya aku ingin bercerita tentang wanita yang seolah-olah Allah Swt menegurku dengan kehadirannya. Sesosok yang disipilin, menyerupai seribu laki-laki. Begitu para penyair arab menggambarkan wanita yang berjuang di garis depan tanpa rasa takut. Dan sangat jelas, syair tersebut untuk menghinakan laki-laki pengecut macam aku. Ah.

Udah, segitu aja ceritanya. Intinya, wanita tersebut hampir tak kudengar keluh-kesah darinya.

Lalu pindah ke pertanyaan, “Bagaimana rasa keluh-kesah bisa mereka atasi?”
Ditengah kesibukan padat dan benturan emosional yang melibatkan orang lain dalam aktivitas mereka?

Ternyata, sifat keluh kesah itu adalah ciptaan Allah swt dan manusia hidup dengan karakter dasar yang suka mengeluh!

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” 
(Q.S. AL Ma’arij, 70:19)

Ketika mengetahui ayat ini, terjadilah euphoria bahagia dan peluk-pelukan di antara para pengecut.

“Selamat kawan, ternyata kamu ditakdirkan menjadi pengecut.”

“iya, kamu juga. Selamat!” tangis haru pecah dan tiap orang merangkul kawan yang ada di dekatnya satu persatu.

Namun tiba-tiba hening, pertanyaan di awal kembali mencuat di kepala mereka.

“Bagaimana rasa keluh-kesah bisa mereka (orang sukses) atasi?”

Ternyata penjelasan tentang keluh kesah tak berhenti pada ayat nomer Sembilan Belas, masih ada ayat berikutnya yang berisi ‘pengecualian’. Dan para pengecut pun bermanyun panjang.

kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat,” 
(Q.S. AL Ma’arij, 70:22)

Hingga ayat,

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” 
(Q.S. AL Ma’arij, 70:32)

seketika, dada yang sudah remuk oleh senyumanmu, kini hancur berkeping-keping. Malu.

****

Seperti Cut Pat Kai yang dihukum karena cinta, ia terus mengeluh selama perjalanan ke Barat. Mempermasalahkan penatnya perjalanan, tak bersemangat seperti yang lain, dan sering baper oleh wanita-wanita cantik yang tak menyukai wajah buruknya. Ya, dia sedang dihukum karena cinta.

Namun beruntungnya dia. Meski jauh, perjalanan ke Barat tetap berhasil ia selesaikan. Dan aku pun teringat pesan seorang rekan di awal perjuangan kami,

“If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together.”

Namun sangat disayangkan, waktu itu aku memilih cepat dibanding jauh. Dan akhirnya tersesat.
*Ngeluh lagi ah.


10 Februari 2016,
diantara keluh kesah umur Dua Puluh Tigaku.