My Movements Trip.

Selasa, 25 Agustus 2015

Langkah Baru: "Catatan Baru"

Hari ini ujian tulis Al-Qur'an. Ngga' tau pingin bilang apa, karena keluar ruang ujian pikiran langsung blank.. Terlalu banyak yang harus dijawab namun waktu yang diberi sangat singkat, bahkan aku tak ingat apa yang kutulis di ruangan tadi.

Jika mengingat waktu ujian Qur'an saat tingkat empat beberapa bulan lalu, aku menggunakan metode: "Catat semua awal ayat yang ada di soal sebelum memulai jawaban." Tapi hari ini tidak bisa begitu, dan aku beruntung membawa jam tangan ke dalam ruang ujian.

Hanya di soal pertama aku menggunakan metode Mencatat di Awal. Saat aku sadar hal itu menghabiskan waktu setengah jam lebih, akhirnya aku meninggalkan metode itu dan memilih resiko dengan kemungkinana 'ada ayat yang akan terlewat.' Karena jika tidak aku tinggalkan (metode tersebut), aku hanya akan mengerjakan empat soal saja, dengan kalkulasi:

Ada lima soal, dan waktu ujian dua jam. Jika satu soal yang kujawab dengan metode Mencatat di Awal menghabiskan waktu setengah jam; maka hanya empat soal yang terjawab.

Benar saja, setelah meninggalkan metode yang biasa kugunakan, ada satu ayat yang terlewat, namun beruntung masih ada waktu untuk memperbaikinya.

Namun yang lebih menyakitkan adalah; fokus kita saat di ruang ujian menyebabkan beberapa hal kecil kadangkala terlewatkan. Mungkin disebabkan terlalu tegang, juga persiapan yang belum matang.

___

Ada beberapa catatan yang bisa kusimpulkan.

1. Jangan menyepelekan perbuatan maksiat, sekecil apapun itu. Karena itulah yang menyebabkan hilangnya hafalan.

2. Pelajari Khot Rit'ah, yang mana dengan gaya penulisan ini akan membantu memaksimalkan waktu saat menjawab lembaran-lembaran soal.

3. Saat muroja'ah, fokus ke Al-Qur'an (begitulah disiplin ilmu yang lain). jangan sedikit-dikit mikirin jodoh yang belum berani dijemput. Hha..



***

"Langkah Awal di Jenjang Baru"
Semoga Allah Swt memberkahi setiap amal kita.

25 Agustus 2015. Madinta Zahro

Jumat, 21 Agustus 2015

Catatanku Untuk Para Wanita

Aku terkadang terlalu serius memikirkan beberapa hal, terutama kalau menyangkut wanita. Bahkan masalah yang sepele bisa menjadi besar, lebih-lebih jika itu berkaitan dengan kebangganku sebagai kaum adam.

Contoh kecilnya ketika aku duduk di dalam Bus, lalu ada wanita berdiri tepat di samping. Normalnya akau akan langsung memberikan bangku tersebut, tapi berhubung cuaca panas dan jarak yang ditempuh sangat jauh; hanya ibu-ibu sampai wanita baya saja yang kuberikan, sedang para remaja dan gadis hanya kuberi Ghodul Bashor aja.. hahaha, maaf kita nggak jodoh.

Dan entah kenapa, laki-laki terlalu sering mencari alasan untuk memulai obrolan dengan wanita. Meski saya tak pernah melakukan survey, tapi selaku makhluk normal saya mengkategorikan pengalaman yang saya dapat ini umum dilakukan oleh makhluk yang bernama laki-laki. Meski nama saya Abdurrahman.

Hal yang belakangan ini saya alami namun tidak terlalu penting untuk dipermasalahkan adalah; Jabatan baru saya sebagai badan perwakilan anggota di sebuah organisasi.

Bisa saja saya memilih pasif dan tidak merespon setiap pertanyaan maupun permintaan, dan setelah melewati beberapa masa merekapun nantinya akan terbiasa dengan ketidakhadiran saya. Hal ini saya pelajari dari beberapa kawan yang sudah berpengalaman.

Tambahan aja, hal lain yang saya pelajari dari mereka adalah; Jangan beralasan ketika tidak bisa melakukan sesuatu. Cukup berkata ia atau tidak ketika diminta, bahkan ketika terlambat.

“Maaf, saya terlambat.” Cukup, jangan ditambahkan kalau ban mobil kamu di jalan bocor. Karena apapun alasan yang kamu berikan, mereka hanya mencatat kamu sebagai orang yang terlambat hadir.

Namun anehnya, alasan-alasan seperti inilah yang sering saya gunakan untuk memulai obrolan dengan wanita. So girls, silahkan cuekin saya setelah kamu baca tulisan ini. Meski saya menangis di hadapanmu sampai satu bak air mandi terisi dengan air mata, jangan percaya! Kan kalian tahu kalau laki-laki itu; Buaya Darat. :P

Kamis, 20 Agustus 2015

Warna Hitam-Putih yang Sedang Kuukir

Warna hitam-putih kanvas kehidupanku mulai diukir seiring hilangnya ratusan warna yang pernah tergores di atasnya. Seperti debu yang mengotori bebatuan licin di pinggir jalan, tak berbekas ketika rinai hujan jatuh perlahan. Begitulah aku menggambarkan ratusan warna yang kini mulai pudar dan sedang kugantikan itu.

Jarum jam di atas meja belajarku terus bergerak, berdetak. Sesekali deringan telpon kawanku memecah kesunyian yang beberapa hari ini kukondisikan untuk ujian. Tak ada catatan di tangan, hanya ayat-ayat suci Al-Qur’an yang kadang kulantunkan dan kadang kugumamkan perlahan. Meski ruangan berganti, namun semua harus jauh dari keramaian.

lima hari proses pengasingan ini hampir berjalan. Jauh dari dunia luar, tanpa film, game, and still single. Berharap datangnya keajaiban, yang hadir adalah angan-angan.

“Menghafal tidak ada jalan pintas, Bro!” begitu aku memotovasi diri dalam pengasingan ini.

Belakangan aku merasa buruk. Ingin rasanya menyalahkan seseorang atas kelalaian ini, namun yang kudapati tidak lain adalah diriku sendiri. Terlalu banyak main, dan bersenda-gurau. Malu rasanya menyadari bahwa tahun ini adalah tahun kelulusanku. Memakai jubah dan imamah Azhar saat wisuda nanti mungkin akan menjadi bahan lelucon bagi anak-cucuku.

Hafalan tersendat dan teori keilmuan masih tertumpuk di lembaran tebal diktat kuliyah. Aku semakin bertanya-tanya, “Mahasiswa macam apa aku ini?”

Segala hal tampak makin mengherankan tatkala aku memberanikan diri ikut berbaris di deretan mahasiswa program pasca sarjana Al-Azhar. Sebagian dari diriku tertawa atas lelucon ini, ia menganggap aku tak layak.

Aku yang (memang) terbiasa dengan berbagai macam warna kehidupan masa muda, kini harus (memaksakan diri) terbiasa dengan hitam-putih catatan kuliyah, diktat, dan lembar makalah serta soal ujian yang harus kuserahkan kepada para guru-guru besar di universitas seribu tahun ini.

“Tuhan.. berkahilah pilihan kami.” Gumamku ditengah lantunan ayat yang kuulang untuk ujian masuk nanti.

Rabu, 19 Agustus 2015

Aku Benci Menjadi Dewasa

Aku tidak suka menjadi dewasa, terlalu banyak beban dan terlalu banyak hal yang harus dipikirkan. Dan entah mengapa semua beban dan pikiran itu hadir bersamaan saat hafalan muraja’ah mulai kulantunkan. Ia hadir dengan mesra, membawa seikat bunga dan rayuan masa muda. Terkadang ia datang dengan ancaman, menggenggam palu dan parang yang diarahkan tepat ke mukaku.

“Ah, aku rindu suatu masa ketika hal yang paling menakutkan hanyalah PR Matematika,” ejaku pada sebuah poster yang bertebaran di social media.

“Itu adalah dunia masa kecil,” batinku.

Selain PR Matematika, hal yang tidak kusukai adalah orang yang memiliki sifat dewasa. Yah, bukan sekedar sifatnya yang kubenci; orang yang bersifat dewasa pun aku tidak suka.

“Ah, aku benci menjadi dewasa,” aku terus mengeluh.

Kenapa aku harus mengorbankan waktu luang untuk belajar dan bekerja? Kenapa memendam cinta begitu menyakitkan?

Dulu ketika suka dengan sebuah mainan aku akan berkata kepada ibuku,

“Ibu, belikan aku satu.” Atau kepada ayahku “Yah, pagi ini abang akan bermain bola dengan kawan. Bersihin motornya lain waktu aja ya.”

Namun sekarang, banyak yang harus dipendam. Maka dari itu, aku benci menjadi dewasa dan aku benci diriku yang bersikap dewasa.

Minggu, 16 Agustus 2015

MERDEKA! (aku ingin bebas dari rasa malas)

Waw.. besok sudah 17 Agustus-an aja, dan sudah berapa cerita yang belum kusampaikan padamu. Sempat kucuri malam di antara malam-malam Syawal untuk menapakkan kaki di tebing Bukit Sinai. Ataupun kembali menyelam di pinggir Pantai, diDahab aku memperhatikan ikan-ikan bersembunyi di balik terumbu karang. Hingga Rapat MPA-BPA PPMI yang benar-benar mengejutkanku.

Dua bulan ini aku juga menyibukkan diri pulang-pergi ke kantor administrasi kuliyah. Meminta dan mengajukan berkas di sana banyak menguras isi dompetku, bahkan di tengah bulan ini aku mulai dihantui dengan beberapa lembar uang yang mungkin akan habis dalam dua-tiga hari ke depan. Besarnya biaya pendidikan mulai mencekik daftar mewah makanan yang kubuat.

Ditambah cuaca panas yang selalu menyengat kulit coklatku, yang dulu berharap bisa seputih dan sekeren artis Korea, kini kulitku malah makin mirip pemain bola Afrika, Ahahahha. Keputusan untuk tidak keluar rumah pada saat-saat seperti ini harus aku klarifikasi, terlebih deadline pengurusan dokumen untuk melanjutkan jenjang akademis di Magister Al-Azhar sangat mepet. Alhasil.. tak ada waktu buat ngerawat kulit coklatku yang mulai kemerah-merahan.

MERDEKA!

Rasa malas belakangan ini benar-benar memenjarakan tubuhku dari segala aktivitas positif. Alih-alih menjadi insan yang produktif, akhirnya aku terkapar di lantai masjid mengais-ngais hembusan kipas angin. Hadeeeeh

MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA!

Saya benar-benar harus bebas dari segala macam rasa putus asa, menjauhi maksiat, dan sabar dalam menapaki tangga-tangga kesuksesan. Tak ada yang namanya jalan pintas, ladang yang lebat dengan sayur-mayur bermula dengan menanam benih. Satu persatu lahan digarap, melawan penat, memaksakan lelah, tanpa bosan menjaganya siang dan malam.

MERDEKA!

Aah, rasa kantuk ini harus terus kulawan. Sebentar lagi imtihan Qobul (Ujian Masuk) Al-Azhar, mohon do’anya kawan.



____
Madinat Zahro, 16 Agustus 2015

Kamis, 06 Agustus 2015

Agustus: Diawali dengan Hiburan.

Hai Agustus, berapa momen kehidupan lagi yang akan kau berikan kepadaku? Senang rasanya kau begitu baik mengajakku menapaki tangga-tangga batu di Bukit Sinai. Engkau juga begitu spesial, belum hilang dari ingatan kenangan manis ber-Snorkling ria di Hurghada, tiba-tiba kau sudah menyeretku di lautan terumbu karang pantai Dahab sana.

Rihlah kali ini begitu surprise, entah berapa kali aku melamun tentang perjalanan ke tempat wisata seorang diri. Mojok, bertafakur, menikmati musik, dan masa bodo dengan suasana sekitar; Tingkah-laku yang akan dianggap aneh jika berjalan dengan kawan yang kita kenal.

Dan kini, aku benar-benar pergi seorang diri. Maksudku, tak banyak kawan yang kukenal di rombongan perjalanan kali ini. Berangkat dengan Keluarga Mahasiswa Jambi (KMJ) di Kairo, orang yang ku kenal dan tau nama bisa dihitung dengan jari. Toh, akhirnya kesempatan untuk melakukan hal-hal aneh itu bisa dijalankan. Meski akhirnya kami semua saling memperkenalkan diri di akhir perjalanan, dan itu membuatku merasa sangat malu.

****

Bei De Wei, Agustus 2015 baru aja mulai. Tapi setelah liat-liat agenda yang dia (Agsutus) bawa, aku jadi gusar. Ck ck.. meski diawali dengan hiburan, sepertinya aku tak akan melewatinya dengan canda-tawa.

Well, saya nggak akan anggep remeh Imtihan Qobul Al-Azhar tahun ini. Mengingat lima tahun yang lalu (saat imtihan qobul S1 Al-Azhar), benar-benar menyayat hatiku. Semoga kegagalan Lima tahun lalu tidak terulang di tahun ini, karena aku ingin benar-benar lulus. Mohon do'a dari kawan semua.