Malam ini ingin kulepas penat setelah 3 jam lamanya aku
menjawab soal-soal ujian yang ternyata diluar perkiraanku, rasa sesak di kepala
setelah mencoba berputar-putar mencari jawaban tak lagi tertahankan.
Tugas masak kuselesaikan, salat Isya tak ketinggalan, maka segera
kutarik selimut mencoba untuk tidur-tiduran sebelum tidur beneran. Pikiranku
pun terbang, melayang, memikirkan apa saja yang telah kulakukan sejak pagi
menjelang. Kudapati sebuah kata dari seorang temanku sebelum masuk ruang ujian,
“Tadi di Madrasah ada demo, dan juga ada suara tembakan.” Begitulah yang
kuingat dari potongan-potongan memori obrolan tadi siang. Aku pun penasaran,
namun temanku yang lain berkata, “udah ngga’ perlu dibahas, bentar lagi ujian.”
Aku pun diam membenarkan.
Walau waktu masih terlalu siang untuk dikatakan tidur malam,
Kudapati diriku dibalik selimut ini masih mencoba memejamkan mata, berharap
rasa kantuk itu benar-benar nyata, namun tidak, kebiasaanku mampir ke warung
internet selepas ujian membawa pikiran ini melayang lebih jauh.
Demonstrasi-demonstarsi yang berlangsung selama 6 bulan ini
membuatku mulai terbiasa dengan kata-kata itu, aku bukan orang munafik yang
mengatakan bahwasannya aku tidak terganggu dengan kondisi ini, tentu sebagian
besar aktivitasku benar-benar terganggu akibat peristiwa-peristiwa yang terjadi
belakangan ini.
Empat bulan lamanya sejak akhir bulan juli aku terpaksa
harus bulak-balik daerah Darrasah-Sabi’ untuk mengikuti kelas bahasa di Markaz
Nil, dan lebih sering menggunakan tramco yang ongkosnya dua kali lipat dari
bus-bus merah milik pemerintah, bahkan untuk pulang aku harus mengeluarkan
ongkos empat kali lipat jika tidak ingin menunggu lebih lama.
Namun bukan pada masalah ongkos pikiranku pada malam ini
tertuju, kawan.
Ternyata ada satu hal yang tidak aku ketahui setelah dua
hari I Say No to Internet ini berlangsung, bahwasannya hari ini Sang
Presiden Pemberani di Negeri penuh Gonjang-ganjing akan segera di adili.
Sang Presiden Pemberani ini memiliki pengikut yang setia, siap mati dan siap
diBully, terbukti saat penculikannya dari Istana sejak 3 Juli lalu jalan-jalan
dipenuhi oleh para demonstran yang menuntut hak mereka untuk segera
dikembalikan.
Kau tau kawan, hak itu adalah hak memiliki seorang presiden
yang mereka pilih secara ‘Adil dan Bersih’.
Maka tak salah jika negeri ini dikatakan negeri yang
dipenuhi sampah, selain kau dapat menemukan sampah di setiap pojok-pojok jalan
atau rumah-rumah sewaan, kau juga akan menemukan bahwa suara dan hak pilih
mereka termarginalkan di kotak-kotak sampah dan pembuangan. Jika hak-hak sudah
terpinggirkan dan tak lagi diacuhkan, lalu apalagi gunanya pemilu-pemilu yang
akan datang jika kaum islamis kembali menang??? Ditendang?
Ternyata, rasa takut membuatku mataku menolak untuk
terpejam.
Ya, rasa takut itu timbul setelah aku menyadari bahwa
teman-teman mahasiswaku mulai mirip seperti sampah di banding batangan emas yang
masih bagus tersimpan.
Setelah kata kiyasan yang kusebutkan tadi, Jujur, sangat
lama aku memikirkan untuk meneruskan kata-kata ini atau tidak, hati ini serasa
tertusuk-tusuk, apakah masih pantas orang yang diam terhadap pembantaian di Mesir,
Suriah, dan Palestina dikiyaskan seperti tadi?, ketika musim dingin ini
berlangsung dan para pengungsi di perkemahan Yarmuk sana banyak yang mati. Oke,
belum.
Tapi jika orang-orang yang diam itu mengatakan, “para
demonstran (di Negeri Gonjang-ganjing) itu tembak mati aja siih.”* Aku kiyaskan
dengan kata-kata tadi?. Ya, sebuah kata yang menggambarkan kekerdilan dan
kehinaan yang menyandangnya. Aku rasa cukup untuk bisa dikatakan seperti itu.
Karena ketika kehormatan dan peran islam dicabik-cabik di
Dustur Para Perampok Negeri Gonjang-ganjing ini, mereka diam dan mundur tak
lagi mau memperhatikan, sama halnya ketika waktu-waktu pembantaian menjelang 17
Agustusan pada tahun silam (tepatnya 14 Agustus 2013, di Medan Rabi’ah
Al-Adaweyah).
Lagi-lagi sebelum malam menjadi kelam, aku memutuskan untuk
menyampaikan apa yang dari tadi aku risihkan. Karena dibalik selimutku yang
hangat, mengalir sedu-sedan wanita-wanita yang kedinginan, dan anak-anak yang
kelaparan di pojok kamp Yarmuk di negeri seberang.
Di samping rasa nyaman juga aku mendengar suara gemertak
gigi para pejuang Gaza, siang maupun malam mereka berjaga-jaga, ditengah
blockade dan tuduhan teroris se-dunia.
Akhirnya pada ketikan-ketikan tuts keyboard inilah
kusampaikan kepada kalian keprihatinanku akan permasalahan yang sedang terjadi
di dunia Islam, di dua negeri konflik Palestina & Suria yang sedang dilanda
musim dingin dan susahnya pasokan pangan, hingga ada diantara pengungsi yang
mati kelaparan, dan juga kejamnya pemerintahan Para Perampok Negeri
Gonjang-ganjing terhadap para demonstran.
Karena Islam begitu menghargai sebuah nyawa, tolong jangan
lagi mengatakan, “Bunuhi saja para demonstran.”
Meskipun anda tidak lagi peduli terhadap permasalahan umat
ini, meskipun anda langsung pulang ke Indonesia setelah meraih Lc., meskipun
anda tidak lagi mengimani bahwa ‘sesama muslim adalah saudara’ dan juga ‘sesungguhnya orang beriman itu sebagian mereka adalah penolong sebagian yang
lain’.
Setidaknya jangan remehkan sebuah nyawa.
----
“jika penuntut ilmu sudah tidak lagi menyukai sebuah kebenaran,
lalu buat apa ia susah-susah datang ke pengajian?.”
Husain, 8 Januari 201(Rob’ah)
Jangan bilang hanya agar dapet Lc., atau bergelar Azhari..