“Abduh, udah donk main hape nya. Come here, gimme your hand
please!”
Orang yang diminta tak menjawab. Bisu?
“Abduh.. ohh.. pantas.”
Maman yang dari tadi sibuk mencoret-coret kertas tugas,
seketika muncul dari balik punggung Abduh. Orang yang dibuat kaget itu seketika
mematikan layar hape dan menyembunyikannya dibalik bantal.
“Musim panas gini masih selimutan. Ng’galauin apaan sih? Masih
dengan akhwat itu?”
Terus digoda, Si Abduh semakin membenamkan seluruh tubuhnya
ke dalam selimut.
“Wanita itu ga cuma dia seorang. Lagian ngapain kamu terus-terusan mantengin
semua akun socmed dia? Watsap, tumblr, facebook, twitter, Line?! Ga disapa
lagi. Hadeuh.. lah dikira dia makhluk halus, bisa ngerti tanpa komunikasi?!” Maman
terus berceloteh menggurui.
“Hei, inget, masih banyak..”
Mendadak Abduh mengeluarkan segenggam tangan beserta jari
tengah dari balik selimutnya. Bukan urusan lo!
“Ini yang disebut cinta buta, nak.” Pemuda yang mendadak
jadi orang bijak mulai berfatwa tentang cinta.
Hening. Namun Abduh masih menunjukkan jari tengahnya kea rah
Ustadz dadakan itu. Tetep bukan urusan lo!
“Oke. Tapi inget ya,” Maman mulai pasrah, “itu hape sengaja
dikeluarin buat nyari referensi. Dan selesai tugas ini bakal kita kembali sembunyikan
untuk waktu yang taaak ditentukan.”
Jari tengah berubah jadi Jempol. OKE!
***
Dalam hati Si Abduh,
“Setidaknya, aku hanya ingin memastikan senyumnya terus
merekah sampai hape ini disita oleh Si Maman.”
***
Dalam hati Maman,
“Abduh, sebenernya gw juga punya perasaan yang sama kayak lo. Cuma
fokus belajar adalah satu-satunya kita
menghormati wanita tersebut, dan bertanggung jawab pada diri sendiri.”
***
Abduh mulai mengeluarkan kepalanya dari balik selimut. Ia lihat
Maman tersenyum simpul di hadapan
kertas-kertas tugasnya.
Pemuda galau itu pun ikut tersenyum.
Rabu Pagi Kairo, 27.4.2016