Aku berhenti,
dalam sunyi aku berhenti.
Kata-kataku mati,
tanganku mati.
Duduk diam tak ada kata,
duduk diam tangan seperti tak ada.
Di depan tuts keyboard hampir tak ada yang bisa kukatakan, mulai dari rasa sebal yang entah sejak kapan mulai menggerogoti kesabaran yang sempat dibangun di setiap petak hatiku, hingga rasa hampa karena tak bisa merespon segala bentuk pelecehan yang kuterima belakangan ini.
Kekesalan ini berulang, dan tumbuhlah benih angkara di kedua belah tanganku yang mulai jauh dari aksi-aksi kebaikan. Kaki yang mulai tenggelam di kubangan lumpur dendam, kini tak lagi bisa dilangkahkan ke rumah-rumah yang membutuhkan aksi kepahlawanan.
Di satu tempat aku meminta, "Hai kawan, buatlah karyamu."
"Maaf, tidak bisa untuk besok."
Di lain tempat kembali kupinta, "Bagaimana kawan? esok telah bergantung pada karyamu."
"Maaf, tidak bisa untuk besok."
Ah, tai lah?! dulu kita sama-sama berikrar untuk jatuh bangun membela kebenaran. Bukan, bukan karena aku merasa enek ditinggal sendirian. Tapi memang kesendirian itulah yang memperkosa segala harapan yang dulu sempat kita tanam bersama.
Aku cukup terhenyak dengan segala kesibukan kalian, tingginya jabatan kalian, dan kagumnya para akhwat dengan aktivitas kalian. Duh, apalah saya ini dihadapan kalian, setitik noktah yang bisa dicuci dengan ditergen seharga satu potong bakwan.
Angkatlah dagu kalian selama mungkin, selama jabatan kalian masih tinggi di hadapan para manusia, selama kesibukan kalian terus dikagumi oleh para akhwat se-jagad. Selama, selama Lam Akun Syai'an Madzkuron.
***
17 Oktober 2014
dalam sunyi aku berhenti.
Kata-kataku mati,
tanganku mati.
Duduk diam tak ada kata,
duduk diam tangan seperti tak ada.
Di depan tuts keyboard hampir tak ada yang bisa kukatakan, mulai dari rasa sebal yang entah sejak kapan mulai menggerogoti kesabaran yang sempat dibangun di setiap petak hatiku, hingga rasa hampa karena tak bisa merespon segala bentuk pelecehan yang kuterima belakangan ini.
Kekesalan ini berulang, dan tumbuhlah benih angkara di kedua belah tanganku yang mulai jauh dari aksi-aksi kebaikan. Kaki yang mulai tenggelam di kubangan lumpur dendam, kini tak lagi bisa dilangkahkan ke rumah-rumah yang membutuhkan aksi kepahlawanan.
Di satu tempat aku meminta, "Hai kawan, buatlah karyamu."
"Maaf, tidak bisa untuk besok."
Di lain tempat kembali kupinta, "Bagaimana kawan? esok telah bergantung pada karyamu."
"Maaf, tidak bisa untuk besok."
Ah, tai lah?! dulu kita sama-sama berikrar untuk jatuh bangun membela kebenaran. Bukan, bukan karena aku merasa enek ditinggal sendirian. Tapi memang kesendirian itulah yang memperkosa segala harapan yang dulu sempat kita tanam bersama.
Aku cukup terhenyak dengan segala kesibukan kalian, tingginya jabatan kalian, dan kagumnya para akhwat dengan aktivitas kalian. Duh, apalah saya ini dihadapan kalian, setitik noktah yang bisa dicuci dengan ditergen seharga satu potong bakwan.
Angkatlah dagu kalian selama mungkin, selama jabatan kalian masih tinggi di hadapan para manusia, selama kesibukan kalian terus dikagumi oleh para akhwat se-jagad. Selama, selama Lam Akun Syai'an Madzkuron.
***
17 Oktober 2014












