My Movements Trip.

Jumat, 17 Oktober 2014

Lam Akun Syai'an Madzkuron

Aku berhenti, 
dalam sunyi aku berhenti.
Kata-kataku mati,
tanganku mati.

Duduk diam tak ada kata,
duduk diam tangan seperti tak ada.

Di depan tuts keyboard hampir tak ada yang bisa kukatakan, mulai dari rasa sebal yang entah sejak kapan mulai menggerogoti kesabaran yang sempat dibangun di setiap petak hatiku, hingga rasa hampa karena tak bisa merespon segala bentuk pelecehan yang kuterima belakangan ini.

Kekesalan ini berulang, dan tumbuhlah benih angkara di kedua belah tanganku yang mulai jauh dari aksi-aksi kebaikan. Kaki yang mulai tenggelam di kubangan lumpur dendam, kini tak lagi bisa dilangkahkan ke rumah-rumah yang membutuhkan aksi kepahlawanan.

Di satu tempat aku meminta, "Hai kawan, buatlah karyamu."
"Maaf, tidak bisa untuk besok."

Di lain tempat kembali kupinta, "Bagaimana kawan? esok telah bergantung pada karyamu."
"Maaf, tidak bisa untuk besok."


Ah, tai lah?! dulu kita sama-sama berikrar untuk jatuh bangun membela kebenaran. Bukan, bukan karena aku merasa enek ditinggal sendirian. Tapi memang kesendirian itulah yang memperkosa segala harapan yang dulu sempat kita tanam bersama.

Aku cukup terhenyak dengan segala kesibukan kalian, tingginya jabatan kalian, dan kagumnya para akhwat dengan aktivitas kalian. Duh, apalah saya ini dihadapan kalian, setitik noktah yang bisa dicuci dengan ditergen seharga satu potong bakwan.

Angkatlah dagu kalian selama mungkin, selama jabatan kalian masih tinggi di hadapan para manusia, selama kesibukan kalian terus dikagumi oleh para akhwat se-jagad. Selama, selama Lam Akun Syai'an Madzkuron.


***
17 Oktober 2014

Kamis, 16 Oktober 2014

Menunggu dalam Dingin, Gelap dan Sunyi

Di pojok tersembunyi sebuah rumah kos-an, aku mendengar sayup-sayup seorang kawanku berbisik kepada handphone yang sibuk ia genggam setengah jam lamanya, "Mau bagaimana lagi, aku memang mencintaimu."

Deg, aku tak sengaja mendengar kata-kata itu, tak berniat menguping karena kebetulan ia berada di balkon rumah sedangkan aku berada di ruangan sebelahnya. Kata-kata kawanku barusan membuat aku merenung sebentar, sebuah renungan tentang arti menunggu, karena sejatinya kawanku yang sibuk dengan kekasihnya yang ada di handphone itu sedang menunggu dan ditunggu.

Menunggu dan ditunggu, mungkin aku juga sedang seperti itu.


***
"Tapi, benarkah aku sedang menunggu?" batinku bertanya-tanya,


Dalam lautan permasalahan yang sering menenggelamkan pikiranku, arus yang paling kuat menyeretku ke dasar jurang paling dalam adalah cinta. Jika kita berbicara tentang cinta yang yang tak terlihat ujungnya, maka ia memiliki sifat yang dingin, gelap, dan sunyi.

Dalam karakteristik kehidupan, cinta itu seperti bunga, namun karena bunga cinta ini tak akan bisa dicabut dalam waktu dekat, maka biarlah ia melayu untuk beberapa saat, tak perlu lagi aku siram ia dengan harapan dan kupupuki ia dengan janji-janji manis pasangan yang sok romantis.

Cinta, aku memang takut tidak bisa memilikimu, melihatmu di setiap pagi cerahku, mencium harum segar dari kelopak indah bungamu.


***
Ah, akhirnya aku sadar betapa egoisnya diriku, ternyata aku lebih mementingkan cita-citaku dari pada bersegera memperjuangkanmu dan menjaga keagunganmu.

Ternyata dan dari sekian banyak kenyataan buruk milikku, aku tak tau, aku tak tau apa mungkin kau akan tahan dengan sikapku ini. Mungkin kau akan muak dan ingin mencari kebun yang akan merawat keindahan dari setiap helai kelopak cintamu, tidak menungguku dalam rentang waktu yang tak juga menentu. Mungkin juga kau akan menunggu dengan rasa was-was dan ragu.

Penantian yang tak menentu itu seperti arus yang menyeretmu ke kedalaman lautan yang dingin, gelap, dan sunyi. Apakah pantas aku ditunggu di tempat seperti itu?




Selasa, 14 Oktober 2014

"Barangsiapa yang Tidak Merasakan.."

Dalam sebuah kaidah bahasa Arab, ada yang namanya "Adawatu as-Syartiyyah," yaitu mengawali sebuah susunan kalimat dengan kata bersyarat.
Dan ada juga "Jawabus Syart." yaitu mengakhiri sebuah kalimat bersyarat dengan susunan kalimat baru yang merupakan jawaban dari syarat tersebut.

Contohnya: 
(Syarat) Barangsiapa, (Jawab) Maka. 
BARANGSIAPA bersungguh-sungguh dalam belajar, MAKA ia akan Sukses.

Atau, (Syarat) Dimanapun, (Jawab) Akan
DIMANAPUN pengangguran meluas, AKAN meningkatlah kejahatan disana.



***

Entahlah mungkin ini sebuah keajiaban. Jadi begini, ada sebuah sya'ir yang menggunakan kaidah Adawatu as-Syartiah ini yang akhirnya memberikan motivasi kepada saya.

و من لم يذق مرّ التعلّم ساعة
Barangsiapa yang tidak merasakan pahitnya menuntut ilmu walau hanya sebentar

تجرّع ذلّ الجهل طول حياته
Ia akan meminum hinanya kebodohan sepanjang hidupnya


(من): Barangsiapa,  yang merupakan Adawat Syartiyah, membutuhkan jawaban yang akhirnya dijawab oleh sang penyair dengan:

تجرّع ذلّ الجهل طول حياته
Ia akan meminum hinanya kebodohan sepanjang hidupnya

Karena jika tidak diiringi jawaban kalimat bersyarat itu akan 'sia-sia', maka menjawab kalimat bersyarat hukumnya wajib.


****
Nah, saat dimana saya memahami kaidah ini, kata-kata sang penyair tiba-tiba meresap ke dalam jiwa, dengan terus terngiang; Ia akan meminum hinanya kebodohan sepanjang hidupnya

Well, ini baru sekedar kaidah Nahwu yang akhirnya berhasil saya pahami, bagaimana dengan Balaghoh?! Yup, hari ini saya berhasil memasuki kelas Ilmu Bayan, sebuah kelas yang akan kembali mengorek keindahan-keindahan sastra Arab, termasuk keindahan segi bahasa Al-Qur'an yang menjadi mukjizat Sang Nabi akhir zaman.



 *****
Istana Peradaban, 14 oktober 2014.

Imam Syafi'i berkata,
 إصبر على مرّ الجفاء من معلّم    فإنّ رسوب العلم في نفراته
و من لم يذق مرّ التعلّم ساعة    تجرّع ذلّ الجهل طول حياته
 


Minggu, 12 Oktober 2014

Merapat ke Kuliyah di Sanah Rob'ah

New season is coming. Yah, Meski kemarin (11|10) adalah hari pertama mulai kuliah dan sifat males keluar lagi, seenggaknya hari ini gw udah kembali merasakan berbagai macam kenikmatan awal tahun ajaran di Al-Azhar.


Pertama, Mengantri.

Hal positif yang gw dapet karena dateng ke kuliyah hari kedua adalah antrian yang tidak begitu panjang. Seenggaknya itu adalah ucapan temen ketika gw mulai ngantri beli diktat ataupun ngambil tasdiq* kuliyah. Satu, karena gw dateng sedikit siang sehingga antrian anak-anak baru yang rajin dateng lebih awal sudah berkurang. Kedua, tidak semua mahasiswa lama dateng ke kuliyah pada hari kedua ini. So, hal ini malah bikin gw besar kepala dan ngucapin, "Hahaha anak-anak baru, gw udah pengalaman mencari jadwal ngantri paling efesien di jurusan Sayri'ah ini.. Hahahha."

Kedua, Jam dimajukan.

Tapi jujur gw shock, mulai dari schedule, jadwal, rencana, persiapan, dan segala tetek bengek yang berkaitan dengan kuliyah hancur gara-gara jam masuk dimajukan satu jam. Sedih gw, hati gw bener-bener miris setelah beberapa hari yang lalu gw dengan bangganya berkata, "Habis Shubuh gw masih bisa tidur bentar baru berangkat ke kuliyah."

Hancur sehancur-hancurnya.

Ketiga, keempat dan seterusnya nyusuuul... bwahahahaha



*****
IstanaPeradaban, 12 Oktober 2014

"Aku dan Zona Nyaman, kini tinggal kenangan."

Sabtu, 11 Oktober 2014

Sukses Adalah Nafas Kehidupanku

Dalam rekam jejakku, ada sebuah cerita tentang kegagalan yang hanya bisa ku tatap dengan mata disipitkan, mulut terbungkam, dan napas yang kuhembuskan pelan-pelan. Mencoba memahami rumitnya persoalan hidup sering membuatku frustasi, hingga tak jarang kata-kata kasar termuntahkan dari mulutku, dan tak sedikit keputusan penting kupilih secara terburu-buru hingga berujung pada petaka yang membuatku terduduk lesu.

Sering kutampakkan pada orang disekitarku satu sosok diriku yang sering mengangkat dagu, berjalan petantang-petenteng sambil memegangi tas bahu tanpa mau melirik orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarku. Tatapanku sengaja kutajamkan lurus ke depan, menolak segala jenis sapaan, menolak segala jenis senyuman, menolak segala jenis kebaikan.

Aku & Kesendirian

Di balik sosok angkuh tersebut ternyata diri ini hanyalah hamparan sawah kering yang tak pernah dihujani bertahun-tahun, sosok ini telah kehilangan kegunaanya, sosok ini telah kehilangan keindahnnya, karena tiada lagi tanaman yang bisa dipanen, dan tiada lagi hamparan hijau untuk dikagumi keagungannya.


Kekasihku adalah air mata langit,
ia turun menghidupkan bumi yang telah lama mati,
ia turun menggerakkan roda kehidupan dari ketiadaan,
ia turun mewarnai jiwa-jiwa hampa yang ditinggal pergi.

Maka langit, menangislah...
karena aku (hanya bisa) hidup dari tiap detik penderitaanmu.

****
Istana Peradaban, 11 Oktober 2014.

"Jika air mata langit adalah kesuksesan yang kumaksud, maka tugasku adalah mencari siapa langit yang ingin kupinta darinya untuk menanggung segala macam derita."

"Langit itu adalah sosok diriku yang lain."

Rabu, 08 Oktober 2014

Menulis Rindu

ALhamdulillah, sore ini dauroh terjemah berita di Markas Sinai selesai, kaget juga udah sampai tanggal 8 Oktober, entah kapan saya terakhir nulis di sini. Mikirin malem yang begitu cepat berlalu dari samping tempat tidurku, ataupun siang yang tiba-tiba nyelonong kabur lewat jendela kamar, membuat ku terheran-heran sudah berapa lama aku melupakan kampung halamanku. Entah berapa lama lagi aku akan menghabiskan sisa-sisa umurku di negeri penuh pasir ini, sambil terus menyimpan rasa rindu yang mulai mengkristal seiring datangnya musim dingin, aku ingin menyumpal air mata ini yang mulai susah kering.

Ah, rinduku adalah rindu seorang anak, rindu seorang kakak, rindu seorang cucu, namun ini bukanlah rindu pungguk kepada bulan, dimana rindu yang tak berbalas karena perbedaan martabat. Namun rindu ini adalah rindu yang lebih agung dari penggalan pepatah itu, karena rindu ini tercipta berkat takdir yang maha kuasa, takdir yang memerintahkan kita untuk berpisah demi menegakkan sebuah kalimat "La Ilaha illallah."

Allahumma 'arinal haqqo haqqo, warzuqnattiba'a..



Alhamdulillah

 
Jayyid ^^


  Selfie bareng teman seperjuangan @Sinai saat Idul Fitri


 Bersama Murobbi saat idul fitri


 Makan bakso bersama kawan rumah dulu ketika masih jadi anak baru :D


 Bersama para relawan KNRP


 Dafik, Lc. mendahului kami.


 Bersama di tingkat akhir menyusul Dafik, Lc. 


 Melupakan momentum liburan pasca imtihan Al-Azhar!!


 Berdiri dengan orang yang berlibur di Markaz Nil


 Foto setelah imtihan akhir di Markaz.. :)



Thanks to Alfa 'Umar.^^