Dalam rekam jejakku, ada sebuah cerita tentang kegagalan yang hanya bisa ku tatap dengan mata disipitkan, mulut terbungkam, dan napas yang kuhembuskan pelan-pelan. Mencoba memahami rumitnya persoalan hidup sering membuatku frustasi, hingga tak jarang kata-kata kasar termuntahkan dari mulutku, dan tak sedikit keputusan penting kupilih secara terburu-buru hingga berujung pada petaka yang membuatku terduduk lesu.
Sering kutampakkan pada orang disekitarku satu sosok diriku yang sering mengangkat dagu, berjalan petantang-petenteng sambil memegangi tas bahu tanpa mau melirik orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarku. Tatapanku sengaja kutajamkan lurus ke depan, menolak segala jenis sapaan, menolak segala jenis senyuman, menolak segala jenis kebaikan.
Aku & Kesendirian
Di balik sosok angkuh tersebut ternyata diri ini hanyalah hamparan sawah kering yang tak pernah dihujani bertahun-tahun, sosok ini telah kehilangan kegunaanya, sosok ini telah kehilangan keindahnnya, karena tiada lagi tanaman yang bisa dipanen, dan tiada lagi hamparan hijau untuk dikagumi keagungannya.
Kekasihku adalah air mata langit,
ia turun menghidupkan bumi yang telah lama mati,
ia turun menggerakkan roda kehidupan dari ketiadaan,
ia turun mewarnai jiwa-jiwa hampa yang ditinggal pergi.
Maka langit, menangislah...
karena aku (hanya bisa) hidup dari tiap detik penderitaanmu.
****
Istana Peradaban, 11 Oktober 2014.
"Jika air mata langit adalah kesuksesan yang kumaksud, maka tugasku adalah mencari siapa langit yang ingin kupinta darinya untuk menanggung segala macam derita."
"Langit itu adalah sosok diriku yang lain."
Sering kutampakkan pada orang disekitarku satu sosok diriku yang sering mengangkat dagu, berjalan petantang-petenteng sambil memegangi tas bahu tanpa mau melirik orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarku. Tatapanku sengaja kutajamkan lurus ke depan, menolak segala jenis sapaan, menolak segala jenis senyuman, menolak segala jenis kebaikan.
Aku & Kesendirian
Di balik sosok angkuh tersebut ternyata diri ini hanyalah hamparan sawah kering yang tak pernah dihujani bertahun-tahun, sosok ini telah kehilangan kegunaanya, sosok ini telah kehilangan keindahnnya, karena tiada lagi tanaman yang bisa dipanen, dan tiada lagi hamparan hijau untuk dikagumi keagungannya.
Kekasihku adalah air mata langit,
ia turun menghidupkan bumi yang telah lama mati,
ia turun menggerakkan roda kehidupan dari ketiadaan,
ia turun mewarnai jiwa-jiwa hampa yang ditinggal pergi.
Maka langit, menangislah...
karena aku (hanya bisa) hidup dari tiap detik penderitaanmu.
****
Istana Peradaban, 11 Oktober 2014.
"Jika air mata langit adalah kesuksesan yang kumaksud, maka tugasku adalah mencari siapa langit yang ingin kupinta darinya untuk menanggung segala macam derita."
"Langit itu adalah sosok diriku yang lain."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar