Banyak orang yang meyadari bahwa, "kesuksesan itu butuh sebuah pengorbanan."
Tapi sayangnya, hanya sedikit orang yang bisa menyadari bentuk pengorbanan itu, dan mereka yang belum menyadari terus bertanya; "ngapain sih lo cape-cape demo, berlelah-lelah lari kesana-kemari, panas-panasan dijalan? sampe pasrah banget tubuhmu jadi sarang muntahan peluru-peluru yang bisu itu, dari kepalamu mengalir cairan kental, mulutmu mengering, tatapanmu merabun, wajahmu.. oh iya wajahmu.. sudah tak bisa kukenali lagi, menghitam karena asap-asap yang terus kau lawan ditengah pembakaran mayat-mayat para demonstran."
Padahal saat kesuksesan itu datang, dengan wajah penuh ceria ia menggandeng istri dan buah hatinya, menikmati suasana damai ditengah alun-alun kota sambil berkata "oh, ini toh yang namanya perjuangan."
Ya, sering kali kita hidup diatas pengorbanan orang lain, sedangkan orang-orang yang berkorban itu hidup diatas cita-cita mereka. sungguh mulia.. ya sungguh mulia, dan itulah kenapa pahlawan itu akan selalu ada, selalu eksis mengisi lorong-lorong kehidupan yang terus membentang hingga masa tua anak-cucu kita, hingga kubur kita tertutup oleh tumpukan mayat mereka, hingga mayat-mayat itu menuntut balas atas jasa-jasa mereka.
Dan sedikit fakta yang menarik, "kesuksesan yang menentramkan jiwa" adalah hasil dari perjuangan kita melawan antek-antek kebathilan, dimana kebathilan-kebathilan itu bisa berbentuk; kemalasan saat belajar, ketakutan dikala mengatakan kebenaran, kemunafikan ditengah-tengah dua pertarungan, kedengkian ketika teman lebih baik dari dirinya saat berjuang, dan kediktatoran (tirani) dimana semua orang ingin menghirup udara kebebasan.
Man Haraki
Mutsalats, 8 Juali 2013.
