Horee Ramadhan! yang terbayang di benak saya adalah ayam, daging, nutrisari, dan sayur buata Umi. tapi memang nasib anak rantau, bisa makan sup daging buatan kawan aja sudah bersyukur. Yups, tidak semua nasib anak rantau memilukan. ada yang beruntung seperti saya, makan pempek dari kawan, dimasakin ayam kecap... oleh kawan, berbuka dengan semangka merah ranum.. bersama kawan.
Sahur tiga hari berturut-turut dengan mie goreng, bagi saya sebuah kenikmatan. Setelah mengesampingkan enak-tidaknya sebuah makanan, akhirnya dunia ini menjadi tenang. Hidup terlihat begitu normal tanpa ada desakan untuk mencari bungkusan nasi untuk berbuka, atau lauk untuk sahur.
Ibadah pun mulai menjadi kebutuhan setelah hidayah datang. Karena cinta yang Ia berikan, kita mulai memahami pentingnya menyiapkan bekal di akhirat, hal yang tak jauh berbeda saat menyiapkan hafalan ketika ujian universitas dilangsungkan.
Terkadang kita lalai memenuhi kebutuhan kita sendiri.
Seperti makan untuk kelangsungan hidup, begitu pula menjalankan kewajiban kita sebagai seorang hamba. Meski sudah menjadi kebutuhan, rasa lalai itu tetap ada. Maka yang kita butuhkan adalah motivasi, kita mengisi perut untuk apa? beribadah untuk apa?
Jangan sampai terbalik! misalnya, "Hidup untuk makan." tentu orientasi seperti ini akan cepat menimbulkan rasa bosan. karena hanya ada dua kata dalam rentetan aktivtas panjang kita;
"perut terisi.. perut terisi.. perut terisi.. perut terisi.." dan itu akan terus berlangsung selama kita hidup. bosen? saya pun lelah mengetiknya berulang-ulang.
Begitu pula ibadah, nggak cukup orientasinya Surga dan Neraka tok! apa perlu saya mengulang kata Surga dan Neraka dalam tulisan ini berkali-kali lagi? tidak.
Oleh karena itu, banyak kita temukan ayat Al Qur'an dan hadits Nabi yang menyebutkan tentang maqom-maqom para salihin, para muttaqin. Tak sedikit pula nas syar'i membuka peluang bagi kita untuk bersaing dengan berbagai aktivitas yang beragam pahalanya.
Ada sedekah yang dilipat-gandakan hingga 700 kali, juga sholat berjama'ah 24 kali lebih baik dari sendiri-sendiri, bahkan berbakti kepada kedua orang tua dianggap lebih utama dari berpeluh dan bercucuran darah di medan perang.
Lalu Allah memberi kita motivasi lebih, "Ramadhan." semua yang sudah berlipat-lipat kembali dilipat-gandakan lagi. ngiler ngga' lu? Para salafus solihin sejak zaman Nabi saja langsung bergerak cepat. Dua bulan, DUA BULAN sebelum Ramadhan datang mereka sudah melakukan pemanasan.
Dari sanalah, doa yang paling masyhur dan langsung dilantunkan dua bulan sebelum Ramadhan datang adalah,
Motivasi yang mereka pupuk tidak sekedar berorientasi pada surga dan menghindari api neraka. mereka ingin lebih, jika surga bertingkat-tingkat, mereka ingin yang di atap.
Jadi, motivasi apa yang menghindarkan kamu dari lalainya memenuhi kebutuhan hidup di dunia dan akhirat? Semoga kita bisa menemukan motivasi-motivasi itu dengan mengisi kursi-kursi kosong di pengajian ilmu, dan sesekali membaca artikelku. muhahahaha
Salam semangat memaksimalkan Ramadhan, Guys!
------
Madinat Zahro, 24 Juni 2015/ 7 Ramadhan
Sahur tiga hari berturut-turut dengan mie goreng, bagi saya sebuah kenikmatan. Setelah mengesampingkan enak-tidaknya sebuah makanan, akhirnya dunia ini menjadi tenang. Hidup terlihat begitu normal tanpa ada desakan untuk mencari bungkusan nasi untuk berbuka, atau lauk untuk sahur.
Ibadah pun mulai menjadi kebutuhan setelah hidayah datang. Karena cinta yang Ia berikan, kita mulai memahami pentingnya menyiapkan bekal di akhirat, hal yang tak jauh berbeda saat menyiapkan hafalan ketika ujian universitas dilangsungkan.
Terkadang kita lalai memenuhi kebutuhan kita sendiri.
Seperti makan untuk kelangsungan hidup, begitu pula menjalankan kewajiban kita sebagai seorang hamba. Meski sudah menjadi kebutuhan, rasa lalai itu tetap ada. Maka yang kita butuhkan adalah motivasi, kita mengisi perut untuk apa? beribadah untuk apa?
Jangan sampai terbalik! misalnya, "Hidup untuk makan." tentu orientasi seperti ini akan cepat menimbulkan rasa bosan. karena hanya ada dua kata dalam rentetan aktivtas panjang kita;
"perut terisi.. perut terisi.. perut terisi.. perut terisi.." dan itu akan terus berlangsung selama kita hidup. bosen? saya pun lelah mengetiknya berulang-ulang.
Begitu pula ibadah, nggak cukup orientasinya Surga dan Neraka tok! apa perlu saya mengulang kata Surga dan Neraka dalam tulisan ini berkali-kali lagi? tidak.
Oleh karena itu, banyak kita temukan ayat Al Qur'an dan hadits Nabi yang menyebutkan tentang maqom-maqom para salihin, para muttaqin. Tak sedikit pula nas syar'i membuka peluang bagi kita untuk bersaing dengan berbagai aktivitas yang beragam pahalanya.
Ada sedekah yang dilipat-gandakan hingga 700 kali, juga sholat berjama'ah 24 kali lebih baik dari sendiri-sendiri, bahkan berbakti kepada kedua orang tua dianggap lebih utama dari berpeluh dan bercucuran darah di medan perang.
Lalu Allah memberi kita motivasi lebih, "Ramadhan." semua yang sudah berlipat-lipat kembali dilipat-gandakan lagi. ngiler ngga' lu? Para salafus solihin sejak zaman Nabi saja langsung bergerak cepat. Dua bulan, DUA BULAN sebelum Ramadhan datang mereka sudah melakukan pemanasan.
Dari sanalah, doa yang paling masyhur dan langsung dilantunkan dua bulan sebelum Ramadhan datang adalah,
"اللهم بارك لنا في رجب و شعبان و بلغنا رمضان"
Artinya: Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.
Motivasi yang mereka pupuk tidak sekedar berorientasi pada surga dan menghindari api neraka. mereka ingin lebih, jika surga bertingkat-tingkat, mereka ingin yang di atap.
Jadi, motivasi apa yang menghindarkan kamu dari lalainya memenuhi kebutuhan hidup di dunia dan akhirat? Semoga kita bisa menemukan motivasi-motivasi itu dengan mengisi kursi-kursi kosong di pengajian ilmu, dan sesekali membaca artikelku. muhahahaha
Salam semangat memaksimalkan Ramadhan, Guys!
Ummu Agrha-@Hurghada
------
Madinat Zahro, 24 Juni 2015/ 7 Ramadhan
