Di lantai lima belas kalian berdiri berjajar.
Mencoret papan tulis, berbicara pada khalayak ramai.
Retorika indah berisi cita-cita.
Payah, aku hanya bisa memperhatikan kalian dari balik anak
tangga.
Kubuka sedikit catatan yang baru kubeli,
Kaget aku, terlalau banyak kalimat cemburu di situ!
Para pimpinan berdiri di lantai lima belas.
Bersikap tenang, seperti tak ada beban,
Tersenyum sumringah menghadapi masalah.
Namun tiba-tiba mereka saling bertanya,
“kemana anak baru itu?”
Tak akan ketemu, karena aku bersembunyi di balik meja
kerjaku.
Di lantai lima belas Mereka kerja siang dan malam,
Mengejar promosi ke lantai enam belas.
“Aku takut ketinggian!” batinku berteriak
Sepatu dan kemeja sudah kukenakan,
Ruang kerja juga telah dirapikan,
Terakhir, sepucuk surat untuk para pimpinan.
“Ah, mungkin kuserahkan beberapa bulan lagi.
Magang dengan mereka asik.”
Para pimpinan masih sibuk di lantai lima belas,
Akupun ikut sibuk.
Menata meja
Menata surat acara
Menata rasa cemburu yang disebabkan oleh mereka.