My Movements Trip.

Senin, 26 Oktober 2015

Alasan Klasik

Sedang mencari alasan untuk ngobrol dengan kamu, tapi tak juga ketemu. Ah, biarlah kita sibuk dengan aktivitas masing-masing. Toh, suatu saat kita akan bertemu. Entah itu pertemuan yang menyakitkan, atau menyenangkan. Ataupun pertemuan tanpa makna.

Yah, mungkin ini nasib laki-laki yang tidak bisa memperjuangkan kamu dengan segera. Gara-gara studi?
Klasik kan alasannya? Mohon dimaklumi, ya. :))

Lantai Lima Belas

Di lantai lima belas kalian berdiri berjajar.
Mencoret papan tulis, berbicara pada khalayak ramai.
Retorika indah berisi cita-cita.
Payah, aku hanya bisa memperhatikan kalian dari balik anak tangga.
Kubuka sedikit catatan yang baru kubeli,
Kaget aku, terlalau banyak kalimat cemburu di situ!

Para pimpinan berdiri di lantai lima belas.
Bersikap tenang, seperti tak ada beban,
Tersenyum sumringah menghadapi masalah.
Namun tiba-tiba mereka saling bertanya,
“kemana anak baru itu?”
Tak akan ketemu, karena aku bersembunyi di balik meja kerjaku.

Di lantai lima belas Mereka kerja siang dan malam,
Mengejar promosi ke lantai enam belas.
“Aku takut ketinggian!” batinku berteriak
Sepatu dan kemeja sudah kukenakan,
Ruang kerja juga telah dirapikan,
Terakhir, sepucuk surat untuk para pimpinan.

“Ah, mungkin kuserahkan beberapa bulan lagi.
Magang dengan mereka asik.”


Para pimpinan masih sibuk di lantai lima belas,
Akupun ikut sibuk.
Menata meja
Menata surat acara
Menata rasa cemburu yang disebabkan oleh mereka.

Jumat, 23 Oktober 2015

Now I'm Suffer

Aku memikirkannya hampir setiap waktu; bangun tidur, pagi, siang, malam, dan sebelum mata terpejam. Belum selesai masalah umat ini, tiba-tiba ia hadir tepat di depanku. Membawa parang lalu memukuli setiap inci ego yang tumbuh subur di kepala. Sakit. Mengingat namanya begitu sakit.

Mungkin agenda bulananku akan terus terisi namanya. Daftar belanja, menu minggu ini, ataupun judul-judul makalah yang entah kenapa ada saja kata yang mewakili kehadiran si dia. Ah, mungkin aku terlalu berlebihan dalam merasa.

Setidaknya kata bunda Asma Nadia, “Jangan habiskan waktu memikirkan orang-orang, yang tidak menaruh namamu di hatinya.”

Sepintas, kita akan mengamini kata-kata manis itu. Begitu pula saya. Tapi yang namanya rasa, siapa yang bisa mengendalikan? Kita memang memiliki tuhan yang bisa membolak-balik hati, namun di lain sisi, Allah Swt juga memerintahkan kita menjaganya sebaik mungkin.

Menjaga lebih keurusan fisik, ia bercengkrama dengan tindakan-tindakan nyata; Menundukkan pandangan, tegas dalam ucapan, dan menghindari komunikasi yang tak lagi diperlukan.

Bukankah menjaga lebih baik daripada mengobati?

Atau hatiku telah mati? Sekedar menjalankan perintah tuhan saja sudah tak kuhiraukan. Berdo’a siang-malam meminta tentang jodoh dan keturunan, tapi sekedar untuk menjaga belum juga dikerjakan.

Sedikit mengubah kata-kata pak Taufiq Ismail, “Malu (Aku) Jadi Pelajar Azhar,” akan menggambarkan mentalku yang labil dan kekanak-kanakan. Jika dalam puisi aslinya sang penulis malu disebabkan oleh orang lain, berbeda denganku yang malu karena mencoreng lembaga tempatku belajar dulu.

I can’t survive yet, now I’m suffer.

Jumat, 16 Oktober 2015

Di Ujung Kaki Langit

"Untuk segalanya dan apapun itu, terimakasih, Tuhan." lirihku sedu ke Langit. Kutatap hamparan biru yang masih sombong, acuh, dan tak mau tahu keadaanku.

"Biarlah. Toh, Tuhan yang menciptakanmu masih perhatian padaku."

Sebal. Aktivitas ini mulai membuatku kesal. Tak terhitung waktu yang ia rebut dariku, waktu untuk memikirkanmu atau sekedar melirik masa depan kita. Seolah-olah semua waktu itu miliknya yang bisa ia simpan di balik meja kerja.

"Kau tahu?" tanyaku membuka obrolan dengan si Biru, "Bapak tua itu membuatku putus asa."

kini Langit menjadi pendengar setia.

"Kaki ini murka, wajah ini membara, tetesan keringat tak lagi berharga. beberapa receh koin logam mungkin hanya robekan kecil dolar baginya." Ucapku bersemangat.

Dan Langit masih setia.

"Hey," aku mulai berubah pikiran, "Lagi-lagi kau mulai mengacuhkanku."

Sebenarnya, tak ada yang salah dari sikapnya. Aku yang berfikir kecil dengan otak kecil ini hanya bisa bertanya siapa? Siapa yang membuatku lelah? siapa yang membuatku gila? siapa yang membuatku jatuh merana karena cinta?

Yup, Langit tak pernah salah. karena di bawah ujung kakinya sana ada takdir tuhan yang entah bagaimana harus segera kutemui.

Namun untuk hari-hari ini, bapak tua di balik meja kerja itulah takdirku.

***

"'Amu Sayyid, kok lama banget sih ngurusin berkasnya?" Protesku lesu.

Jumat, 09 Oktober 2015

Pengakuan

Mata polos mereka mengingatkanku kisah klasik beberapa tahun lalu. Sambil duduk bertutur kisah tentang janji manis sebelum pergi meninggalkan tanah kelahiran, mereka tersedu, protes, dan mempertanyakan tentang semangkuk kecil harapan yang setiap pagi mengisi perut mereka.

Kapan mulai masuk kuliah?

Di mana bisa membeli buku pelajaran?

Seperti apa studi di Al Azhar?

Sebagai pendengar, aku hanya bisa memberikan wajah prihatin. Berharap sedikit-banyak bisa membuat mereka merasa tidak sendiri. Karena seingatku, itulah yang kubutuhkan saat pertama kali datang di negeri ini.

Ah Mesir, untuk saat ini pesonamu hanya indah di buku-buku wisata. Ribuan menaramu lelucon. Suara-suara manusia terkumpul di tempat sampah, dan sampah terkumpul di gedung-gedung pemerintah. Kau biarkan para bajingan memenuhi karakterku, tuk dibawa pulang ke Negeri yang kutinggal lima tahun lalu.

Kesedihanku pun bertambah ketika bercermin, sesosok wajah sombong dengan isi kepala yang kosong. Aduhai lulusan Al-Azhar, banyak orang akan bertanya kepadamu,

“Apa solusi permasalahan ini?”
Sedang waktumu dulu dihabiskan dengan duduk asik di depan tv, tidur sepanjang tahun.

Kini wajah sombong itu memuram, bingung dan panik karena sudah tak ada yang bisa dibanggakan. Ia terlihat berpikir keras. Semua orang yang memperhatikan tahu bahwa ia hanya akan beralasan.

“Sudahlah,” ucapku pada sosok yang ada di cermin, “kita hanya perlu mengakui kelemahan kita. Saat ini tak banyak yang bisa kita perbuat.”

Ingin kuusap Kristal kecil yang mengalir di wajah muram itu. Kepongahannya sirna seiring realita yang ia hadapi. Tak banyak yang bisa ia lakukan untuk kebaikan bocah-bocah yang meminta bantuan kepadanya. Ia berbicara sedikit, malu jika kelemahan tersebut muncul di depan publik.

“Wah, ternyata kau masih punya malu juga, kawan.” Candaku garing seperti orang autis di depan cermin.