My Movements Trip.

Jumat, 09 Oktober 2015

Pengakuan

Mata polos mereka mengingatkanku kisah klasik beberapa tahun lalu. Sambil duduk bertutur kisah tentang janji manis sebelum pergi meninggalkan tanah kelahiran, mereka tersedu, protes, dan mempertanyakan tentang semangkuk kecil harapan yang setiap pagi mengisi perut mereka.

Kapan mulai masuk kuliah?

Di mana bisa membeli buku pelajaran?

Seperti apa studi di Al Azhar?

Sebagai pendengar, aku hanya bisa memberikan wajah prihatin. Berharap sedikit-banyak bisa membuat mereka merasa tidak sendiri. Karena seingatku, itulah yang kubutuhkan saat pertama kali datang di negeri ini.

Ah Mesir, untuk saat ini pesonamu hanya indah di buku-buku wisata. Ribuan menaramu lelucon. Suara-suara manusia terkumpul di tempat sampah, dan sampah terkumpul di gedung-gedung pemerintah. Kau biarkan para bajingan memenuhi karakterku, tuk dibawa pulang ke Negeri yang kutinggal lima tahun lalu.

Kesedihanku pun bertambah ketika bercermin, sesosok wajah sombong dengan isi kepala yang kosong. Aduhai lulusan Al-Azhar, banyak orang akan bertanya kepadamu,

“Apa solusi permasalahan ini?”
Sedang waktumu dulu dihabiskan dengan duduk asik di depan tv, tidur sepanjang tahun.

Kini wajah sombong itu memuram, bingung dan panik karena sudah tak ada yang bisa dibanggakan. Ia terlihat berpikir keras. Semua orang yang memperhatikan tahu bahwa ia hanya akan beralasan.

“Sudahlah,” ucapku pada sosok yang ada di cermin, “kita hanya perlu mengakui kelemahan kita. Saat ini tak banyak yang bisa kita perbuat.”

Ingin kuusap Kristal kecil yang mengalir di wajah muram itu. Kepongahannya sirna seiring realita yang ia hadapi. Tak banyak yang bisa ia lakukan untuk kebaikan bocah-bocah yang meminta bantuan kepadanya. Ia berbicara sedikit, malu jika kelemahan tersebut muncul di depan publik.

“Wah, ternyata kau masih punya malu juga, kawan.” Candaku garing seperti orang autis di depan cermin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar