My Movements Trip.

Sabtu, 29 Juni 2013

Esok; 'Seruan 30 Juni'.


Kharisma Seorang Pemimpin

Fakta pemerintahan Mubarak yang berlangsung selama Tiga Puluh tahun, Soeharto Tiga Puluh Dua tahun dan Kadafi Empat Puluh tahun tidak bisa kita pungkiri. Ketangguhan mereka dalam mengelola sebuah system kekuasaan mampu menundukkan sebuah Negara, terlepas dari cara mereka yang terkesan memuakkan untuk diingat mereka tetaplah kepala dari sebuah misi yang mereka usung, rekrutmen anggota, penyebaran intel, dan pembangungan jaringan dilakukan secara rapi dan terorganisir.

Mereka bukanlah para pemimpin gadungan yang hanya berorientasi seputar harta, tahta dan wanita. Mimpi mereka tinggi, amibisi mereka besar, kemauan mereka sekeras sifat mereka dalam mengusung tujuan mereka. Langkah mereka sangat terorganisir hingga media masa mereka kuasai, mereka memberikan rakyat begitu banyak harapan, meski  nantinya darah rakyat yang akan mereka korbankan. Kesombongan mereka hanya muncul setelah usaha keras mereka atau para cecenguk yang ada dibawah kendali mereka.


Jenghis Khan bisa kau masukkan dalam daftar tadi, Hitler, Stalin, Musollini, dan juga dalam daftar tersebut bisa kau temukan dampak yang mereka timbulkan bagi dunia, bagi pasukannya, rakyatnya, musuh-musuhnya. Mereka tidak memulai langkah-langkah besar itu dari posisi seorang Jendral Besar, Komandan dari Pasukan Khusus, apalagi terlahir sebagai seorang Raja.

Mereka semua sama, memulai dengan merangkak, langkah-langkah kecil mereka yang berkesinambungan membuat kuat kaki mereka, mereka jauh meninggalkan yang lain, disaat mata mereka terbuka lebar penuh bahagia melihat garis Finish, yang lain hanya bisa melihat punggung-punggung para pemenang sambil terus berlari di belakangnya, seolah tampak sedang mengikuti, muka-muka mereka tertunduk lesu, pilu.

Di tribun penonton terjadi kerusuhan, ada yang tidak menerima hasil pertandingan lalu mereka berkata kasar, ada yang bertengkar dengan sahabatnya karena ia meimilih pelari yang berbeda dengannya, ada juga yang bergembira, ada juga yang duduk diam tak percaya, semua berkomentar, semua memberikan analisanya. Namun satu hal yang sama, tentang karcis masuk yang mereka bayar untuk melihat hasil pertandingan; tetap tidak bisa dikembalikan.

Jalur Ikhtiyar

Dalam obrolan jum’at pagi bersama temanku, kami membahas tentang kontrol hasil ujian di Al-Azhar, diluar pembahasan boleh atau tidak dan kapan waktu dilakukannya kontrol hasil ujian, kami berbeda pendapat tentang “apakah ia termasuk Ikhtiyar atau menafikkan Tawakkal kita kepada Tuhan.” Dalam hal ini aku memilih hal yang pertama, kawanku yang memilih hal kedua lebih menekankan bahwasannya jika Allah sudah berkehendak, maka jadilah dan Allah SWT tak akan pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya.

Aku tak bisa memperdebatkan panjang lebar kekuatan Tawakkal yang ia jelaskan kepadaku, akupun meyakini hal itu. Dalam ‘suatu’ kondisi, kau akan menemukan segolongan orang yang begitu kuat Tawakkalnya kepada Allah SWT, meskipun ia sedang dalam suatu keadaan yang begitu mencekam, banyaknya konspirasi yang bermain di balik layar, dan hanya dengan melakukan hal-hal yang ia ketahui secara dzohir, orang-orang tersebut benar-benar bisa melewati suasana genting tersebut. Begitulah cara mereka bertawakkal terhadap segala ketentuan Tuhan, meskipun keberhasilan ataupu kegagalan menimpa mereka, mereka sudah siap menerimanya.

Dan untuk hal yang pertama, aku lebih memilih bahwasannya kontrol hasil ujian masih termasuk dalam jalur ikhtiyar, bukanya aku ingin mengatakan bahwa ada kecurangan dalam pemberian nilai ujian, bukan. Lebih sekedar ingin meyakini bahwasannya tidak semua manusia terlepas dari kesalahan ataupun lupa. Sehingga aku menganggap kontrol tersebut merupakan langkah terakhir untuk memastikan bahwasannya nilai ujian benar-benar diberikan ‘pada tempatnya’.

Moursi menghadapi “Seruan 30 Juni”

Kepemimpinan Presiden Mesir saat ini, Dr Mohammad Moursi, kembali  dihadapi sebuah seruan untuk menjatuhkan dirinya, memang bukan seruan baru yang disertai provokasi media-media agar timbul chaos yang berkepanjangan di Mesir. Namun seruan kali ini mampu membuat kerugian besar sekitar 50 Milyar Pound Mesir di pasar saham bagi Negara, juga rasa was-was yang dialami warga asing jika saja pada tanggal tersebut terjadi kekerasan yang meluas diseluruh negeri.


Mursi dalam pidatonya juga menyebutkan otak dibalik kerusakan-kerusakan yang sering timbul di mesir adalah para Koruptor dari Rezim yang telah tumbang, yaitu antek-antek Mubarak, Presiden Mesir sebelumnya yang berhasil dijatuhkan oleh Rakyat pada momen ’25 Januari’.

Mengkontrol Kebijakan - Dalam sebuah pertarungan, menghormati dan mengenali seluk-beluk seorang lawan adalah hal yang lazim dilakukan seseorang untuk mengukur kesempatannya menguasai sebuah pertempuran. Kerja keras sesuai rencana yang telah disepakati tidak meghentikannya untuk terus menganalisa perkembangan yang terjadi di lapangan, jika pertempuran terjadi antara beberapa kelompok, sering terjadi beberapa isu spontan yang bisa digunakan lawan untuk menjatuhkan saingannya.

Pengambilan kebijakan di saat-saat seperti itu harus cepat dilakukan, seperti halnya ancaman kepada para Distributor Bensin yang sengaja memperlambat pelayanan kepada masyarakat, atas tindakan mereka; Negara akan mencabut hak izin usaha yang mereka miliki.

Penutup

Langkah pemerintah untuk mengontrol seluruh program yang mereka jalankan, menerima aspirasi masyarakat, membuka jalur musyawarah, dan tanggap dalam menyelesaikan isu-isu yang tak terduga merupakan ikhtiyar terbaik mereka dalam menghentikan kekerasan yang sangat kencang beredar dalam Demonstrasi Besar ‘30 Juni’ esok.

Kerasnya sifat pemimpin mereka dahulu mencerminkan keambisiusan para Oposisi saat ini untuk mengembalikan kejayaan yang sempat mereka anyam. Tentu mereka terdidik, terorganisir rapih, memiliki titik-tikik komando dan dana melimpah dari saku-saku mereka, yanga dalam pidato presiden disebut ‘Uang Hasil Penderitaan Rakyat’.

Sudah sejak lama kita menyadari bahwasannya Kejahatan yang terorganisir mampu membungkam kebenaran yang berserakan, namun sering kita kebingungan bagaimana cara menyatukan kebenaran yang terlihat bertebaran di mata kita toh masalah qunut saja masih diperdebatkan. Namun kini kita telah melihat wajah Dunia Islam yang jauh lebih baik dibanding masa-masa kediktatoran, langkah-langkah itu sudah terdengar seirama, hingga tak salah jika Moursi mengatakan dalam pidatonya pada tangal 27 Juni bahwa langkah para pendengki tersebut MUSTAHIL BERHASIL dan Mesir akan tetap aman.

Untuk hari esok saya ingin bertawakkal sepenuhnya kepada Allah sebagaimana teman saya telah lakukan. Tiada ikhtiyar yang bisa kupersembahkan melainkan lantunan do’a untuk kebaikan Mesir dan Dunia Islam seutuhnya, Indonesia, Palestina, Suria, Turki, Sudan, Tunis, dan yang lain. Kebaikan, ya kebaikan yang kita inginkan ketika di Dunia dan Akhirat, Allahumma Amin.


Selasa, 25 Juni 2013

Opini dan Isu Publik


Membedakan Opini dan Berita.

Study Informasi Alam Islami yang biasa disingkat SINAI adalah  sebuah lembaga kajian yang membahas permasalahan-permasalahan yang terjadi di Dunia Islam secara khusus, mulai dari sejarah berdirinya suatu Negara, percaturan perpolitikan, hingga isu-isu agama yang sering dimunculkan oleh beberapa media basis kiri entah itu bertaraf internasional ataupun nasional.

Sebagai kader muda yang baru menginjak tahun pertama; pembahasan utama kami adalah Permasalahan Palestina, mengingat Palestina merupakan pokok permasalahan umat islam yang masih belum terselesaikan sejak datangnya faham zionisme. Sempat kami rasakan begitu susahnya mencari sumber-sumber original selain dari diktat resmi yang telah kami pegang.

Disamping membahas latar belakang dan sejarah berdirinya sebuah Negara, isu yang kami mainkan dan sering menjadi topic hangat oleh para senior dalam lembaga kaijan ini adalah perubahan iklim-iklim pergerakan dan kemajuan yang telah dicapai umat islam belakangan ini.

Saya dan teman-teman sebagai kader muda sering “ditegaskan” untuk mengambil berita se-original mungkin, berita A1 atau yang bisa disebut berita yang diambil langsung  dari sumbernya adalah barang yang sangat mahal. Sehingga pembahasan obrolan kami benar-benar harus dibatasi dari berita-berita yang sudah terkontaminasi opini-opini Media Informasi yang lain.

Kami juga diharuskan untuk bisa membedakan antara Opini dan Berita, karena kedua hal tersebut benar-benar suatu hal yang berbeda namun memiliki karakteristik yang hampir sama, jika opini adalah salah satu angle atau sudut pandang dari sekian banyak sudut pandang yang seseorang simpulkan dari sebuah kejadian, Maka berita adalah bentuk kejadian tersebut yang dijelaskan secara gamblang dimana pembaca mau tidak mau harus menarik kesimpulan dari satu atau beberapa sudut pandang tertentu sesuai kadar wawasannya.

Pada dasar yang sangat fundamental, perbedaan kecerdasan setiap orang sangat berbeda-beda, dan hal itu akan berefek pada pengambilan sudut pandang dalam sebuah kejadian perkara, kita tak bisa menyalahkan begitu saja jika seseorang memilih wanita berhidung mancung dan memiliki kulit yang begitu putih dan berpakaian sangat minim disebut “pelacur” saat dia sedang duduk sendirian di tengah Kafe remang-remang, karena itu hanyalah sebuah Opini atau pemilihan sudut pandang pada sebuah kejadian.

Tapi yang bisa kita permasalahkan jika Opini tersebut sudah menjadi Berita dan Acuan dalam tuntutan sebuah perkara. Dan yang paling disayangkan bahwasannya “kerancuan” seperti ini sudah hampir mendarah daging dalam budaya penerimaan Informasi di kalangan masyarakat kita.


Peran Opini dalam Pembentukan Isu-isu Publik.

Tak bisa dipungkiri bahwa Opini kini telah menjadi alat yang begitu sentral dalam pembentukan isu public, ia bergerak melalui teriakan-teriakan, tulisan-tulisan, bahkan dalam diam. Isu-isu public itu diarahkan kepada tujuan tertentu, tidak ada dasar yang pasti dalam penggunaan opini-opini tersebut, kemanapun opini itu berjalan maka isu public akan bermain disekitarnya.

opini yang menggiring isu-isu public bisa jadi dilakukan secara spontan, ataupun terorganisir, contoh untuk hal yang kedua bisa kita lihat dalam penggiringan isu saat kemerdekaan NKRI pada tanggal 17 Agustus 1945; pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan yang belum ada persetujuan dari Belanda maupun Jepang telah menggiring Opini Publik Nasional bahwa Indonesia sudah merdeka.

Teriakan-teriakan merdeka yang terus berkumandang sesaentro Indonesia, juga pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan yang terus-menerus disiarkan di radio lokal maupun internasional akhirnya menarik simpati Dunia luar. Isu Publik telah dimainkan, dunia internasional mulai memberikan dukungan untuk kemerdekaan Indonesia, hingga terbentuklah Konfrensi Asia-Afrika, lalu Perjanjian Meja Bundar, dan sepakatlah Indonesia merdeka. Itulah Opini.

Jika Opini bisa menggerakkan mesin-mesin tua untuk mencapai kesepakatan “Kemerdekaan sebuah Bangsa”, tentu Opini yang terus-terusan disampaikan oleh begitu banyak Media Informasi di Headline-nya mampu menutup mata kita untuk menikmati hasil pertandingan Spanyol lawan Brazil di Kota Sepak Bola dari pentingnya “Mengirim sebotol Minyak Zaitun ke Palestina.”


Senin, 24 Juni 2013

Sketsa Musim Panasku.



Ses.. sess... SuuMmmeeErR!!!

akhirnya keinginan saya untuk mengucapkan kata-kata itu di blog ini tersampaikan juga. maaf kawan, tak banyak cerita dan ide yang bisa kusampaikan empat bulan belakangan ini, mungkin mulai dari "tidak ada sambungan Internet" hingga "sibuk dengan persiapan imtihan" menjadi alasan yang paling kuat kenapa aku ngga' bisa berbagi denganmu.

lebihh.. lebih dari sekedar ingin menyampaikan bahwasannya aku memiliki begitu banyak ujian dan keberuntungan saat memulai persiapan imtihan semester 4 hingga dimulainya musim panas tahun 2013-an ini. ide-ide begitu banyak bermunculan, wacana untuk mengembangkan diri "from zero to hero" sudah membara,  keterbatasanku dalam memulai sebuah cita-cita kini menjadi warna tersendiri di penghujung jadwal imtihan yang super padat dan begitu setelahnya; yaitu saat liburan ini sudah dimulai.

rasa rinduku kepada orang-orang yang kucintai di ujung dunia ini selalu membuat aliran air mata tak bisa dibendung, memanfaatkan momen-momen seperti itulah aku mengompori setiap inci bara yang ada di dalam hati ini, do'a selalu kuucap, impian selalu terbayang, hingga kaki tak sekedar menjadi alat penendang si kulit bundar, walau ia sudah mulai lelah berjalan, bayangan Zaid, Fatimah, Lulu, Hafsah, Umi dan Abi menjadi penyemangat, bahkan dalan titik terjenuh sekalipun... kalian adalah sumber Motivasiku!!

kawan, saking lelahnya kuberjalan, pernah kuberpikir untuk berhenti sebentar, ya berhenti. pikiran itu pernah mampir dibenakku setelah Ushul Fiqh terselesaikan. aku ucap KATA itu kepada teman seperjuangan, dan dia hanya menjawab dengan gelengan. namun bayangan kalian kembali menyentuh ujung qolbuku yang terdalam, Ust. Sahuri, Bang Iqbal, Ust Andi, Dafik, Ibad, Jaiz, Ucu, Ramdhani, Didy, Ogi.. rupanya kalian sudah mejadi bagian dari keluargaku,, kita sudah disini bersama selama Tiga Tahun kawan.. mungkin tidak, ya, saya ucapkan "tidak" untuk KATA itu, karena perjuangan masih panjang kawan...

kelemahanku dalam menggunakan Bahasa Arab kini mulai menarik ujung-ujung jemari kakiku, ia tak sekedar menjadi penghambat (jika aku harus menyebutnya demikian), bahkan tulang belulangku sering bergetar tak karuan jika harus berhadapan dengan jumlah halaman Muqoror (Diktat Kuliah) yang sampai tujuh ratus halaman, ditambah mufrodat-mufrodat baru yang sangat gharib bagiku.

akhirnya sejumlah uang yang sudah kukumpulkan dari beasiswa Baituz Zakat harus rela kukeluarkan, bukan untuk sepaket liburan yang tidak karuan. namun aku memilih untuk menyumbangkan sebagian besar jatah beasiswa tersebut ke Markaz Nil, dengan imbalan mereka akan memberikan saya kursus bahasa arab dari level beginner hingga Amateur.. dan itupun butuh waktu sekitar sepuluh bulan. gaaaaahhhhh.......

haaah,, namun saya merasa semua ini sangat berbahaya, ya saya katakan belajar terus-menerus bagi saya sangat berbahaya. lah?. ya jelaslah,, saya sadar kemampuan dan hobi saya bukan sebatas duduk di atas kursi kayu dan meja yang sama-sama diam membisu.

karena ini LIBURAN MUSIM PANAS, saya akan menghabiskan liburan ini dengan bermain bola,, ya bermain bola bersama orang yang memang punya niat main bola, dan jika ada kompetisi mereka benar-benar mempersiapkannya, dan jika mereka ingin menang mereka tidak sekedar umbar janji tanpa esensi. 

bermain bola beserta kompetisi yang ada tidak ada bedanya dengan menjawab selembar kertas yang duktur berikan saat musim ujian sedang berlangsung. untuk meraih kemenangan butuh proses, namun pecundang selalu memotong proses itu dengan mimpi di siang bolong.

ah... aku terlalu banyak omong.. bagaimana kalau kita memulai proses itu?