Kharisma Seorang Pemimpin
Fakta pemerintahan Mubarak yang berlangsung selama Tiga
Puluh tahun, Soeharto Tiga Puluh Dua tahun dan Kadafi Empat Puluh tahun tidak
bisa kita pungkiri. Ketangguhan mereka dalam mengelola sebuah system kekuasaan
mampu menundukkan sebuah Negara, terlepas dari cara mereka yang terkesan memuakkan
untuk diingat mereka tetaplah kepala dari sebuah misi yang mereka usung,
rekrutmen anggota, penyebaran intel, dan pembangungan jaringan dilakukan secara
rapi dan terorganisir.
Mereka bukanlah para pemimpin gadungan yang hanya
berorientasi seputar harta, tahta dan wanita. Mimpi mereka tinggi, amibisi
mereka besar, kemauan mereka sekeras sifat mereka dalam mengusung tujuan
mereka. Langkah mereka sangat terorganisir hingga media masa mereka kuasai,
mereka memberikan rakyat begitu banyak harapan, meski nantinya darah rakyat yang akan mereka
korbankan. Kesombongan mereka hanya muncul setelah usaha keras mereka atau para
cecenguk yang ada dibawah kendali mereka.
Jenghis Khan bisa kau masukkan dalam daftar tadi, Hitler,
Stalin, Musollini, dan juga dalam daftar tersebut bisa kau temukan dampak yang
mereka timbulkan bagi dunia, bagi pasukannya, rakyatnya, musuh-musuhnya. Mereka
tidak memulai langkah-langkah besar itu dari posisi seorang Jendral Besar,
Komandan dari Pasukan Khusus, apalagi terlahir sebagai seorang Raja.
Mereka semua sama, memulai dengan merangkak, langkah-langkah
kecil mereka yang berkesinambungan membuat kuat kaki mereka, mereka jauh
meninggalkan yang lain, disaat mata mereka terbuka lebar penuh bahagia melihat
garis Finish, yang lain hanya bisa melihat punggung-punggung para pemenang sambil
terus berlari di belakangnya, seolah tampak sedang mengikuti, muka-muka mereka tertunduk
lesu, pilu.
Di tribun penonton terjadi kerusuhan, ada yang tidak
menerima hasil pertandingan lalu mereka berkata kasar, ada yang bertengkar
dengan sahabatnya karena ia meimilih pelari yang berbeda dengannya, ada juga yang
bergembira, ada juga yang duduk diam tak percaya, semua berkomentar, semua
memberikan analisanya. Namun satu hal yang sama, tentang karcis masuk yang
mereka bayar untuk melihat hasil pertandingan; tetap tidak bisa dikembalikan.
Jalur Ikhtiyar
Dalam obrolan jum’at pagi bersama temanku, kami membahas
tentang kontrol hasil ujian di Al-Azhar, diluar pembahasan boleh atau tidak dan
kapan waktu dilakukannya kontrol hasil ujian, kami berbeda pendapat tentang “apakah
ia termasuk Ikhtiyar atau menafikkan Tawakkal kita kepada Tuhan.” Dalam hal ini
aku memilih hal yang pertama, kawanku yang memilih hal kedua lebih menekankan
bahwasannya jika Allah sudah berkehendak, maka jadilah dan Allah SWT tak akan
pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya.
Aku tak bisa memperdebatkan panjang lebar kekuatan Tawakkal
yang ia jelaskan kepadaku, akupun meyakini hal itu. Dalam ‘suatu’ kondisi, kau
akan menemukan segolongan orang yang begitu kuat Tawakkalnya kepada Allah SWT,
meskipun ia sedang dalam suatu keadaan yang begitu mencekam, banyaknya
konspirasi yang bermain di balik layar, dan hanya dengan melakukan hal-hal yang
ia ketahui secara dzohir, orang-orang tersebut benar-benar bisa melewati suasana
genting tersebut. Begitulah cara mereka bertawakkal terhadap segala ketentuan
Tuhan, meskipun keberhasilan ataupu kegagalan menimpa mereka, mereka sudah siap
menerimanya.
Dan untuk hal yang pertama, aku lebih memilih bahwasannya kontrol
hasil ujian masih termasuk dalam jalur ikhtiyar, bukanya aku ingin mengatakan
bahwa ada kecurangan dalam pemberian nilai ujian, bukan. Lebih sekedar
ingin meyakini bahwasannya tidak semua manusia terlepas dari kesalahan ataupun
lupa. Sehingga aku menganggap kontrol tersebut merupakan langkah terakhir untuk
memastikan bahwasannya nilai ujian benar-benar diberikan ‘pada tempatnya’.
Moursi menghadapi “Seruan 30 Juni”
Kepemimpinan Presiden Mesir saat ini, Dr Mohammad Moursi, kembali
dihadapi sebuah seruan untuk menjatuhkan
dirinya, memang bukan seruan baru yang disertai provokasi media-media agar
timbul chaos yang berkepanjangan di Mesir. Namun seruan kali ini mampu
membuat kerugian besar sekitar 50 Milyar Pound Mesir di pasar saham bagi Negara,
juga rasa was-was yang dialami warga asing jika saja pada tanggal tersebut
terjadi kekerasan yang meluas diseluruh negeri.
Mursi dalam pidatonya juga menyebutkan otak dibalik
kerusakan-kerusakan yang sering timbul di mesir adalah para Koruptor dari Rezim
yang telah tumbang, yaitu antek-antek Mubarak, Presiden Mesir sebelumnya yang
berhasil dijatuhkan oleh Rakyat pada momen ’25 Januari’.
Mengkontrol Kebijakan - Dalam sebuah pertarungan,
menghormati dan mengenali seluk-beluk seorang lawan adalah hal yang lazim dilakukan
seseorang untuk mengukur kesempatannya menguasai sebuah pertempuran. Kerja keras
sesuai rencana yang telah disepakati tidak meghentikannya untuk terus
menganalisa perkembangan yang terjadi di lapangan, jika pertempuran terjadi
antara beberapa kelompok, sering terjadi beberapa isu spontan yang bisa
digunakan lawan untuk menjatuhkan saingannya.
Pengambilan kebijakan di saat-saat seperti itu harus cepat
dilakukan, seperti halnya ancaman kepada para Distributor Bensin yang sengaja
memperlambat pelayanan kepada masyarakat, atas tindakan mereka; Negara akan
mencabut hak izin usaha yang mereka miliki.
Penutup
Langkah pemerintah untuk mengontrol seluruh program yang
mereka jalankan, menerima aspirasi masyarakat, membuka jalur musyawarah, dan
tanggap dalam menyelesaikan isu-isu yang tak terduga merupakan ikhtiyar terbaik
mereka dalam menghentikan kekerasan yang sangat kencang beredar dalam Demonstrasi
Besar ‘30 Juni’ esok.
Kerasnya sifat pemimpin mereka dahulu mencerminkan keambisiusan
para Oposisi saat ini untuk mengembalikan kejayaan yang sempat mereka anyam. Tentu
mereka terdidik, terorganisir rapih, memiliki titik-tikik komando dan dana
melimpah dari saku-saku mereka, yanga dalam pidato presiden disebut ‘Uang Hasil
Penderitaan Rakyat’.
Sudah sejak lama kita menyadari bahwasannya Kejahatan yang
terorganisir mampu membungkam kebenaran yang berserakan, namun sering kita
kebingungan bagaimana cara menyatukan kebenaran yang terlihat bertebaran di
mata kita toh masalah qunut saja masih diperdebatkan. Namun kini
kita telah melihat wajah Dunia Islam yang jauh lebih baik dibanding masa-masa
kediktatoran, langkah-langkah itu sudah terdengar seirama, hingga tak salah
jika Moursi mengatakan dalam pidatonya pada tangal 27 Juni bahwa langkah para
pendengki tersebut MUSTAHIL BERHASIL dan Mesir akan tetap aman.
Untuk hari esok saya ingin bertawakkal sepenuhnya kepada
Allah sebagaimana teman saya telah lakukan. Tiada ikhtiyar yang bisa kupersembahkan
melainkan lantunan do’a untuk kebaikan Mesir dan Dunia Islam seutuhnya, Indonesia,
Palestina, Suria, Turki, Sudan, Tunis, dan yang lain. Kebaikan, ya kebaikan
yang kita inginkan ketika di Dunia dan Akhirat, Allahumma Amin.


