My Movements Trip.

Rabu, 26 November 2014

Gara-gara 'Kicauanmu'

Pagi ini kulihat Abduh sedang sibuk melamun, lenggangnya waktu kosong menunggu kuliyah benar-benar digunakan untuk diam. Diam, mata tajam tertunduk ke meja, mulut terkatup rapat, rahang tertekan kuat, kedua tangan tegang saling mengikat.

Ah, selain pusing membaca diktat karena ujian semakin dekat, mungkin ia sibuk memikirkan proses pindah rumah yang tak bisa ditunda sampai akhir bulan. Oh poor Abduh.. belum lima bulan berseteru dengan lingkungan barunya, kini ia dipaksa pindah. Kudengar rumahnya sudah tidak aman, dan waw, ujian satu bulan lagi kawan!

Ehem, terlalu sering memerhatikan pemuda itu membuatku suntuk. Tak tahan dengan rasa bosan, akhirnya kukeluarkan hape yang dari tadi tersembunyi dalam bagian tas terdalam, tentu tanpa sepengetahuan Abduh. Karena jika ia tahu, barang kecil ini akan disita dan dengan sinisnya ia akan berkata, "Peraturan ke-Lima Puluh Satu; Tidak Membawa Handphone ke Kuliyah."

Kubuka Opera Mini, lalu kupilih situs socmed yang biasa kuikuti perkembangan 'mu' dan yeah, kau menulis kata-kata penyemangat, "Do not give up. Beginning is always the hardest."

Abduh!

Segera saja kudekati pemuda itu dan kutunjukkan kicauanmu kepadanya, berharap ia bisa kembali tersenyum seperti dulu kala.

Sedikit kaget, ia lalu memerhatikan layar hape Samsung S Duos milikku, setelah terdiam sebentar akhirnya Abduh menyunggingkan sebuah senyuman yang membuatku sadar dan menyesal.

"Peraturan ke-Lima Puluh Satu; Tidak Membawa Handphone ke Kuliyah." Ucap pemuda itu datar dan segera saja handphone baruku sudah berada di list barang sitaannya.

Walaupun dengan sinis, setidaknya itu adalah senyuman yang kutunggu. do you?



***
Istana Peradaban, 26 November 2014

Jumat, 21 November 2014

Aku Menyesal Setelah Itu

"Apa lagi yang ingin kau tangisi kawan?" Tanyaku

Beberapa hari ini Abduh terlihat sangat muram, matanya sering jatuh tertunduk meratapi tanah, senyumannya buram, desahan nafas tarik-menarik tak beraturan.

Ah, kawan apa yang terjadi padamu? Dihibur kau enggan tertawa,  kubertanya kau memilih untuk bungkam, dalam diammu aku tak tahu harus bertindak apa. Maka jawablah sedikit dari ribuan pertanyaan yang kukirimkan kepadamu melalui lisan, tulisan, dan isyarat antar belahan jiwamu.

"Aku benci dengan teman perjalananku.." ucap Abduh spontan, menunggu respon dariku sebentar lalu ia kembali menghilang dalam tumpukan selimut musim dingin.

Aku terhenyak, mulutku kaku tidak menyangka akan mendapat pengakuan seperti itu. Dari sekian banyak masalah yang menimpa para pejuang dalam ekspedisi panjang, ternyata pemuda itu disibukkan dengan pertarungan antar pasukan dalam barisannya sendiri.

Di dasari keingintahuan yang begitu tinggi, akhirnya saya beranikan diri membuka selimut tebalnya dan bertanya, "Apa yang mengganggumu?"

Meski terlihat risih, ia tetap berbaik hati memberikan jawaban atas pertanyaanku tadi, "Aku tidak diterima disini, aku tahu menjadi orang baru dan masuk dilingkungan baru butuh penyesuaian."

Seketika ia terdiam dan terlihat bingung mau melanjutkan ceritanya dari mana.

"Yah, memang sejatinya segala hal yang baru butuh waktu untuk bisa diterima." Aku mencoba mencairkan suasana.

Abduh sedikit sibuk membenarkan posisi duduknya, setelah terdiam beberapa saat ia kembali bercerita, "Ternyata ketidaksepahamanku dalam bergerak membuat risih dan friksi antar teman dibarisanku. Ia ingin aku maju kedepan disaat keputusanku untuk bertahan telah bulat. Bahkan aturan main kami berbeda, waktu yang kita miliki juga berbeda, saat aku istirahat ia bekerja dan saat aku bekerja ia istirahat.

dan yang membuat aku paling tidak tahan adalah; gaya bicaranya yang seolah-olah ingin aku layani ia dalam duel fisik. Hey, aku tidak ingin membuang-buang tenagaku untuk hal tidak berguna semacam itu. Anak kecil seperti dia mana tahu kalau aktivitas kita banyak. Bahkan untuk sekedar marah dan adu argumen sambil teriak-teriak akan membuat lelah otak dan fisik, padahal masih banyak tugas yang mesti diselesaikan."

"Dan akhirnya kau layani provokasi temanmu?"

"Ya, dan aku menyesal setelah itu."

"Lalu." aku kembali bertanya

"Aku ingin menangis."

Abduh pun mulai menangis, lalu kami duduk dalam diam.



****
Istana Peradaban, 21 November 2014.