Pagi ini kulihat Abduh sedang sibuk melamun, lenggangnya waktu kosong menunggu kuliyah benar-benar digunakan untuk diam. Diam, mata tajam tertunduk ke meja, mulut terkatup rapat, rahang tertekan kuat, kedua tangan tegang saling mengikat.
Ah, selain pusing membaca diktat karena ujian semakin dekat, mungkin ia sibuk memikirkan proses pindah rumah yang tak bisa ditunda sampai akhir bulan. Oh poor Abduh.. belum lima bulan berseteru dengan lingkungan barunya, kini ia dipaksa pindah. Kudengar rumahnya sudah tidak aman, dan waw, ujian satu bulan lagi kawan!
Ehem, terlalu sering memerhatikan pemuda itu membuatku suntuk. Tak tahan dengan rasa bosan, akhirnya kukeluarkan hape yang dari tadi tersembunyi dalam bagian tas terdalam, tentu tanpa sepengetahuan Abduh. Karena jika ia tahu, barang kecil ini akan disita dan dengan sinisnya ia akan berkata, "Peraturan ke-Lima Puluh Satu; Tidak Membawa Handphone ke Kuliyah."
Kubuka Opera Mini, lalu kupilih situs socmed yang biasa kuikuti perkembangan 'mu' dan yeah, kau menulis kata-kata penyemangat, "Do not give up. Beginning is always the hardest."
Abduh!
Segera saja kudekati pemuda itu dan kutunjukkan kicauanmu kepadanya, berharap ia bisa kembali tersenyum seperti dulu kala.
Sedikit kaget, ia lalu memerhatikan layar hape Samsung S Duos milikku, setelah terdiam sebentar akhirnya Abduh menyunggingkan sebuah senyuman yang membuatku sadar dan menyesal.
"Peraturan ke-Lima Puluh Satu; Tidak Membawa Handphone ke Kuliyah." Ucap pemuda itu datar dan segera saja handphone baruku sudah berada di list barang sitaannya.
Walaupun dengan sinis, setidaknya itu adalah senyuman yang kutunggu. do you?
***
Istana Peradaban, 26 November 2014
Ah, selain pusing membaca diktat karena ujian semakin dekat, mungkin ia sibuk memikirkan proses pindah rumah yang tak bisa ditunda sampai akhir bulan. Oh poor Abduh.. belum lima bulan berseteru dengan lingkungan barunya, kini ia dipaksa pindah. Kudengar rumahnya sudah tidak aman, dan waw, ujian satu bulan lagi kawan!
Ehem, terlalu sering memerhatikan pemuda itu membuatku suntuk. Tak tahan dengan rasa bosan, akhirnya kukeluarkan hape yang dari tadi tersembunyi dalam bagian tas terdalam, tentu tanpa sepengetahuan Abduh. Karena jika ia tahu, barang kecil ini akan disita dan dengan sinisnya ia akan berkata, "Peraturan ke-Lima Puluh Satu; Tidak Membawa Handphone ke Kuliyah."
Kubuka Opera Mini, lalu kupilih situs socmed yang biasa kuikuti perkembangan 'mu' dan yeah, kau menulis kata-kata penyemangat, "Do not give up. Beginning is always the hardest."
Abduh!
Segera saja kudekati pemuda itu dan kutunjukkan kicauanmu kepadanya, berharap ia bisa kembali tersenyum seperti dulu kala.
Sedikit kaget, ia lalu memerhatikan layar hape Samsung S Duos milikku, setelah terdiam sebentar akhirnya Abduh menyunggingkan sebuah senyuman yang membuatku sadar dan menyesal.
"Peraturan ke-Lima Puluh Satu; Tidak Membawa Handphone ke Kuliyah." Ucap pemuda itu datar dan segera saja handphone baruku sudah berada di list barang sitaannya.
Walaupun dengan sinis, setidaknya itu adalah senyuman yang kutunggu. do you?
***
Istana Peradaban, 26 November 2014