Ini
adalah tulisan galauku, entah kenapa aku sudah sangat jarang lagi bercerita
dalam blog ini. Ada kisah dimana hari-hariku dipenuhi dengan semangat bergerak,
ada hari dimana kaki-kaki yang mulai kelelahan ini masih terus dipaksa berlari,
dan ada hari dimana aku harus duduk termenung dipojok ruang kamarku, sambil
menahan pilu, dan duka dari negeri yang terus diberondong peluru.
Namun
kali ini, ini adalah cerita rasa galauku, rasa galau yang memuncak tatkala
kenyataan telah menampar wajahku, rasa nyamanku, dan seluruh ketenangan yang
sudah kutanam sejak 3 tahun aku menghuni ‘rumah tua’ ku. Ya, ini tentang
perpindahan, sebuah rutinitas lama tatkala di pondok ku dulu. Pindah kelas,
ruang tidur, hingga bertukar teman ranjang di bawah tempat tidur bertingkatku.
Aku
ingin mengenang sebuah rumah yang menyimpan atsar-atsar perjuanganku
saat di tingkat satu dulu, sebuah masa yang menjadi pertaruhan oke atau
tidaknya aku kan terus melangkahkan kaki di Universitas tertua ini. Tak ada
yang mudah di tahun pertama bagi mereka yang tidak bisa berbahasa dan
menciptakan kata-kata seperti diriku, namun berkat karunia yang maha kuasa,
akhirnya aku mampu melewati masa-masa itu melalui motivasi teman satu kamar
waktu itu.
Rasa
nyaman dan kenangan selalu terbayang dalam lamunan dan tidur siang, tak
terkecuali harga sewa yang sesuai dengan dompet mahasiswa; membuat diri ini
enggan untuk meninggalkan si ‘rumah tua’.
Namun
kata perpisahan akan terus melekat bagi mereka yang telah mengalami pertemuan,
maka biarkanlah perpisahan ini menjadi perpisahan yang kelak akan memotivasi
daya juangku, semangat produktivitasku, dan menghembuskan angin-angin
kemenangan di relung hatiku yang terdalam.
Selamat
tinggal ‘Rumah Tua’
Hussain,
24 Maret 2014.
