Banyak, akan banyak
hal menjadi percuma saat perang berkecamuk.
Kini militer Rusia
pun sedang melakukan invasi di Republik Krimea, salah satu daerah otonom dari
negara Ukraina. Padahal masalah pembantaian umat muslim di Afrika Tengah belum
juga terselesaikan, Mesir masih penuh goncangan, Palestina kini di ujung perjanjian
yang tak berimbang, Suriah terus berkecamuk, Turki terus ditekan dari berbagai
medan.
Jika kita sempat
membaca tulisan Anis Matta tentang gelombang ketiga, kita akan menyadari bahwa
generasi muda kita, terutama di Indonesia, adalah generasi yang merasakan bahwa
demokrasi adalah sebuah pemberian, tanpa merasakan bahwa pemberian ini mesti
dilalui dengan sangat susah payah oleh generasi-generasi sebelumnya.
Sedikit kita bergeser
tentang konsep gelombang ketiga ini, kita sebagai generasi muda terpaksa mengakui
akan kepasifan kita dalam dunia pertempuran-bersenjata, antar negara yang satu
dengan yang lainnya, kita terbiasa hidup dalam kedamaian, tanpa merasakan
ancaman dari pihak luar.
Lalu datanglah
media-media dengan idenya tentang musuh-musuh baru kita, mereka menanamkan
pemikiran bahwa tetangga kita adalah ancaman kehidupan dan kesejahteraan kita,
antara kelompok yang satu dengan yang lainnya membawa misi dan propoganda yang
berbeda, sehingga satu dengan yang lainnya harus saling angkat senjata.
Dan hal-hal tersebut
membuat kita tidak sadar, bahwa musuh sedang mengintai dengan senyum yang
lebar. persatuan yang dulu kita elu-elukan dan dipertahankan sekuat tenaga,
kini mulai rapuh dengan sendirinya, sehingga musuh tak perlu lagi mengangkat
palu dan baja untuk kembali menjajah negeri kita.
Sejatinya, hal ini
sudah banyak tertulis di buku-buku sejarah, termasuk sebuah pepatah yang
mengatakan:
"Those who do
not know history's mistakes are doomed to repeat them."
Mereka yang tidak
tahu kesalahan dalam sejarah, ditakdirkan untuk mengulanginya.
Maka,
ketidak-pedulian kita akan kejadian-kejadian diluar sana dan perselisihan yang
terjadi di antara kita, kelak akan membimbing diri kita sendiri memasuki dunia
yang penuh dengan kekacauan tersebut. Kenapa harus kepedulian?
Ya, karena orang tua
kita pada zaman dahulu berhasil menghentikan perang berlandaskan kepedulian
mereka dalam menghormati sebuah nyawa, mereka sadar bahwa peperangan hanya
membawa kepada kesengsaraan, entah itu di pihak yang kalah ataupun yang menang.
Dan rasa sadar itu
timbul setelah mereka merasakan, merasakan pahitnya ditinggal oleh orang-orang
yang mereka sayangi dan cintai. Tak ada pesta bagi negara yang tertindas
ataupun yang menindas, yang ada hanyalah upacara duka mengiringi kepergian saudara-saudara
yang telah pergi ke alam baka.
Namun, cukuplah kepedulian
dan kesadaran itu muncul tanpa harus merasakan segala kepahitan itu secara
langsung, melainkan dengan mempelajari sejarahnya, lalu menjauhi segala
kesalahan-kesalahan yang menjerumuskan kita kepada lubang yang sama.
Maka marilah kita
jaga terus persatuan kita, dan kita jaga orang lain yang ingin hidup dalam
kedamaian bersama kita.
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar