(ini cerpen keduaku, sedikit terburu; maaf kalau kurang memuaskanmu, ) :)
Keindahan malam
kota kairo bisa kau temukan dalam hamparan lampu neon di setiap pinggir jalan.
bangunan-bangunan persegi empat yang berdebu kusam seakan menyatu dengan
sinar-sinar lampu yang menyelimutinya, ditambah lampu kerlap-kerlip yang memiliki
berbagai macam warna, yang menambahkan sisi eksotis pada malam itu.
Tak ketinggalan
lampu-lampu utama yang menyorot kemegahan bangunan-bangunan tua yang sengaja di
pamerkan di beberapa tempat di kota kairo, juga menara-menaranya, patung-patung
bersejarahnya dan bentangan sungai nil yang dihiasi kapal-kapal kecil sejauh
mata memandang, yang membuatmu seolah-olah sedang berada di salah satu kota
tertua di dunia.
Malam kairo tak
hanya menampilkan keindahan bangunan-bangunan tuanya saja, kau juga masih bisa
menemukan keramaian di beberapa pasar besar yang memang khusus dibuka pada malam
hari. Begitu pula tempat-tempat hiburan semacam kapal-kapal kecil yang selalu
tertambat 24 jam di sepanjang sungai nil, kau bisah memilihnya, ikut berlayar
bersama pribumi atau menyewanya yang tentunya setiap kapal memiliki harganya
masing-masing sesuai fasilitas yang mereka berikan.
Namun perjalanan
pulangku bersama seorang teman dari Kedubes RI di Garden City membawaku kembali
menikmati keindahan-keindahan malam itu, tentu bagiku yang sudah tidak asing
melewati dunia malam di pusat-pusat keramaian menjadi hal yang sedikit
menghibur dan membangkitkan euphoria yang sudah lama hilang ditelan kesibukan
membaca litertaur-literatur arab gundul.
“tuh kan Ram,
ngga’ salah kita milih jalan dari Kantor Dubes.”ucap Altaf, teman jalanku sambil
menepuk tangannya.
“kenape?”
“tuh, lw liat ono
kan?, yang putih-putih tuh.” Altaf nunjuk-nunjuk ke arah gedung hotel yang ada
di seberang jalan yang kita lewati, kebetulan jalan yang kita lewati masih sedikit
jauh dari keramain.
“asem!, apaan tuh
tof? Ko’ dia bisang melayang-layang gitu!.” Komentar ku ketakutan.
“sialan banget
emang tuh setan beraninya gangguin kite malem-malem begini.” Si Altaf kelihatan
kesel dan tiba-tiba dia nyopot sepatunya.
“saatnya bales
dendem ama tuh setan.” Ucap Altaf bersemangat sambil ngambil kuda-kuda buat
ngelempar sepatunya yang udah di tangan kanannya.
Dalam hitungan
ketiga sepatu itu sudah melayang ke arah kain putih yang kita teriakin itu, aku
yang masih komat-kamit baca surat yasin berharap dalam hati agar itu setan langsung
mampus sama sepatu yang dilempar Altaf.
Bukk!!, suaranya
berdebuk keras, tepat di bagian atas si setan, anyar aja, si setan jatuh dan
ngga’ bangun-bangun.
“mati juga tuh
setan Taf, ngga’ bangun-bangun dia.” Komentar ku masih ngga’ percaya.
Altaf yang dari
tadi melolotin tuh setan juga masih bengong, ngga’ percaya dia bisa jatuhin tuh
setan sekali gebuk.
“langsung naik
Dua Level nih gw..” Altaf mulai
ngebayangin Game Online yang tadi siang dia tinggalin untuk ikut acara Maulid
Nabi di Garden City.
Masih dalam
keadaan tidak percaya kami menghampiri sosok putih yang sudah terjatuh itu. Saat
kami sudah dekat tiba-tiba muncul Sembilan, sepuluh,, engga’, setidaknya ada
Dua belas sosok yang tiba-tiba muncul dari balik bayangan .
“eh dah enta
ya Andunisy??” seorang kakek-kakek berkebangsaan mesir berteriak dengan
mikrofon yang ada di tangannya.
“enta ‘aiz eih
ya walad!!” teriak yang lainnya.
Tiba-tiba kami
terpojokkan, lalu tampak samar-samar di setiap baju yang mereka pakai tertulis ‘Helwa
Productions Films’. Kami kaget.
“waduh Taf,,
rupanya tuh setan lagi main film.” Bisik ku ke Altaf.
“iya, gw juga
baru sadar pas mereka datang sambil bawa kamera film.”
“matilah kita
Taf.” Aku mulai pasrah.
“jiah, ogah gw
mati di sini Cuma buat ng’gantiin peran tuh setan” ucap Altaf berani sambil
nunjuk ke setan yang tadi dia lempar.
“setuju, oke
hitungan ketiga kita lari.” Aku ngasih usul, Altaf mengangguk setuju.
“satu..”
orang-orang mesir itu makin mendekat sambil
membentak-bentak dengan bahasa ‘amiyah.
“dua..”
Kita sudah siap
berlari.
“ti..”
“bentar-bentar.”
Altaf menahan ku.
“apaan lagi taf?”
“sepatu gw.”ucap
Altaf sambil nyengir.
“bodo, gw duluan.”
Ucap ku ke Altaf sambil lari meninggalkannya sendiri.
“eh, sialan lw
Ram..” caci Altaf, sambil buru-buru ngambil sepatunya.
*****
“Hah..hah..
gimana Taf? Kaga’ ada yang ngikutin lw kan?” Tanya ku ke Altaf sambil
ngos-ngosan saat Altaf berhasil mengejarku.
“kurang asem lw
Ram, ogah gw jalan sama lw lagi.” ucap Altaf kepadaku sambil mencari posisi
yang enak untuk duduk di tangga pintu masuk Metro ‘Anwar Sadat’ yang ada di
tengah-tengah tahrir.
Di mesir, ada yang
namanya Metro; kereta bawah tanah yang menjadi alat transportasi untuk
masyarakat umum, rute-nya yang hampir mencangkup sebagian besar daerah mesir biasanya
selalu ramai di jam-jam berangkat dan pulang dari kantor atau sekolah-sekolah. Sangat
efesien bagi mereka yang sekolah atau tempat kerjanya jauh dari rumah dan tidak
ingin kehabisan uang di ongkos.
“lah, lagian
siapa yang minta jalan dari garden city ke terminal?” saya membela diri.
“Ram, gw laper
lagi nih, cari makan yo’.” Seolah-lah tidak menggubris perkataan ku barusan,
Altaf langsung ngajak makan.
“buset, kaga’
kenyang apa lw makan tadi makan dua nasi kotak?” Tanya ku kaget sambil
memperhatikan badannya yang kurus, tidak pernah gemuk-gemuk.
“kaga’, kan gw Cuma
ngambil dagingnya doang.” Jawab Altaf sambil nyengir kuda.
Pantes.
“ngga’ ah gw udah
kenyang.” Tolak ku.
“bener nih?, gw
traktir ayam KFC dah.” Altaf masih menawari ku sambil nunjukin kedai KFC yang
udah di depan mata, kebetulan terowongan tempet kita duduk emang deket samai
KFC.
“ngga’ ah,
syukron Taf, gw masih takut kalo-kalo Produser Film yang tadi masih
ngejer-ngejer kita” tolak ku halus.
Walau sudah bukan
lagi jam pulang kerja, Terminal di tahrir dan di Metro pun masih ramai di
lewati oleh orang-orang, sempat beberapa kali pemudi-pemudi Mesir yang jalan
dalam rombongan melewati kami, wajah mereka yang merupakan paduan akan ke
Eksotisan wanita Arab dan kejernihan wanita Eropa dengan hidung-hidung yang
mancung dan mata yang jernih bak gemerlapan bintang yang menghiasi malam ini,
namun hal itu kembali mengingatkanku kepada si dia, wanita cantik tanpa identitas
beberapa waktu silam, Finha.
Altaf yang dari
tadi memaksaku untuk menemaninya kini sudah tak bisa ditolak lagi, aku pun
setuju, dan mengikuti langkahnya dari belakang, namun selangkah lagi aku
memasuki KFC, tiba-tiba kulihat sesosok wanita yang hampir setiap malam
mengganjal dalam mimpi panjangku. Sesosok wanita yang menyerupai keindahan
bulan ketika kau menyingkirkan butiran gemintang yang ada di sisinya, sesosok
wanita yang akan selalu terlihat manis dan sempurna bagi mereka yang sedang
tertancap oleh panah-panah Sang Dewi Asmara.
Aku menghentikan
langkahku, ku lirik Altaf yang sedang memesan makanan, ia sama sekali tak
merasakan kehilangan aku. Di pintu masuk KFC, Satu menit aku memikirkan untuk
meninggalkan altaf, lalu aku melirik ke arah Finha.dunia terasa hening, rupanya
ia sedang berbicara kepada ibu-ibu yang ada disampingnya. Tiba-tiba Finha
melirik ke arah ku, aku terpaku, lalu ia melambaikan tangan kepadaku dan
tertawa kecil.
Sadar ada sesuatu
yang salah kepadaku, aku melihat ke sekelilingku, rupanya lamunanku di pintu
masuk sudah membuat antrian dan protes yang cukup panjang, tak menunggu untuk
di gelandang oleh pihak yang berwenang, aku langsung berlari ke arah Finha
pergi.
*****
“hai Finh, gimana
kabarmu?.” sapaku kepada Finha setelah aku berhasil mengejarnya di loket karcis
Metro, kebetulan antrian lagi panjang.
“hai Ram, Alhamdulillah
baik, kalo kamu?.”
“baik, lagi
ngapain Finh?.” tanyaku basa-basi.
“lagi beliin obat
untuk teman yang lagi sakit.”
“lah, jauh banget
emang rumahnya dimana?.”tanyaku penasaran.
“dimana ya? Hhi..
oh iya, kamu udah ke dokter belum?”
Dokter?. Ah,
mungkin ia ingin menggodaku, saat di bus dulu, ia pernah menyarankanku pergi ke
Dokter Cinta, katanya sih aku lagi bermasalah dalam menangani Virus Merah Jambu
ini.
“belum, bu
dokternya katanya lagi pergi, ngejenguk temannya yang lagi sakit sih” balasku
menggoda. Pipi Finha sekilas kulihat merona.
Ibu-ibu yang tadi
berjalan bersamanya adalah madam di kostan dia tinggal, katanya beliau
sendirilah yang menawarkan Finha untuk mengantarkan beli Obat, soalnya
suami-nya ada keperluan mendadak bersama para pejabat Istana di Mesir.
“anak manja”
bisikku menggoda. Finha langsung cemberut.
Duh manisnya.
Obrolan kami
berlanjut seputar akdemi, cita-cita, dan masa lalunya beberapa kali senyumnya
keluar dari wajah rembulannya di setiap aku memujinya. Namun mama yang dari
tadi sedang menerima telpon sesekali memanggil Finha dan aku terpaksa menunggu.
KRINGG!!..Tiba-tiba
hape-ku berbunyi. Nama ALTAF terpampang di layar.
“Ram, lw kemana
aj?, buru lw kesini selmetin gw, Produser Film itu masih nyari-nyari nih.” Ucap
suara yang ada di sebrang sana.
Tanpa sempat
pamit kepada Finha yang lagi sibuk dengan telponnya, aku langsung berlari ke
KFC menyelamatkan Altaf dari kejaran para Produser Film itu.
Perlu sekitar dua
puluh menit untuk mengecoh para Produser Film yang masih jengkel dengan
kelakuan kami, sampai akhirnya kami lihat beberapa diantara mereka menyerah.
Akupun kembali berlari
ke dalam metro, namun terlambat, kulihat finha dan Mama-nya sudah naik kereta
yang akan kembali memisahkan kita. Kulihat ia tersenyum lalu mengucapkan
sesuatu.
“assalamu’alaikum”
Wa’alaikumsalam,
senang bisa bertemu kamu Finh.
Akupun pulang
dengan bibir yang masih menyunggingkan senyuman, Altaf yang baru datang dan
melihatku senyum-senyum sendirian heran.
“kenapa lw,
senyum-senyum? kesambet setan.?” Tanyanya penasaran.
Aku pun terus
berjalan, bersama bayang-bayang Finha yang berhasil kurekam. kira-kira kapan ya aku bisa merekam nama dan nomor telpon-nya.