My Movements Trip.

Jumat, 20 September 2013

'Mimpi Langit' pada Hitam-Kuning R4BIA.



Sebuah tangan dengan empat jari, yang melambangkan perjuangan Rakyat  Mesir di Medan Rab’ah itu memiliki dua warna dasar; Kuning dan hitam. Setiap warna itu memiliki makna tersendiri, sebagaimana telah dijelaskan oleh kedua Perancang lambang R4BIA, Shalihah Irene dan Cihad Dulles.

“Warna kuning menunjuk kepada kota Al-Quds di Palestina, sedangkan warna hitam menunjuk kepada Ka’bah di Mekah-Saudi Arabia.”  Tutur mereka berdua. Cihad menjelaskan lebih dalam bahwa warna hitam menyatukan antara Ka’bah dengan kesedihan. Dan tentang warna kuning, Irene mengatakan bahwa warna itu sudah dilihatnya selama bertahun-tahun. Saat itu matahari sangat terik berada di atas masjid Kubah Shahrah di Al-Quds. Setiap kali umat Islam melakukan perlawanan terhadap kekejaman, aku selalu teringat dengan kuatnya warna kuning di masjid Kubah itu.AnnidaOnline

--------------------------------

“Mengagumkan” batinku, ditengah penindasan yang dilakukan junta militer, dan persengkongkolan Raja-raja Saudi terhadap mereka, namun pandangan mereka masih tegak ke arahMasjid Al-Aqsha, juga ke Baitullah. Mimpi mereka masih tinggi, menjulang melewati tembok-tembok pembatas Yahudi yang ada di Rafah, lebih kuat dari tank-tank yang haus darah, juga tak kalah tajam dari peluru yang mengincar orang-orang yang tak bersalah.

Siapakah ‘mereka-mereka’ itu?, mereka adalah orang-orang yang bertahan di Medan Rab’ah dan Bundaran Nahdah, bahkan sebelum Kudeta itu dilakukan, dilanjutkan dalam rentang waktu dua bulan setelah Mursi dijatuhkan. Mereka melakukan Shalat disana, tidur, Qiyamullail, bahkan Shoum di Bulan Ramadhan. “Kami adalah orang-orang yang siap mati mempertahankan Legimitasi Pemilu yang sah.” Begitulah Mimpi-mimpi itu terucap dari mulut-mulut mereka. Kebenaran yang mereka pertahankan, adalah kebebasan yang mereka yakini sejak tumbangnya Rezim Diktator 25 Januari Silam.

 
Image; Google.


‘Mimpi Langit’, jika boleh kunamakan demikian, mimpi yang melampaui kenyataan yang sedang terlentang didepan mata. sebagaimana mimpi yang dirasakan para Sahabat Nabi terkait terbukanya Bumi Syam, Persia dan Yaman dalam lingkup da’wah umat islam, padahal ketika itu mereka dihadapi dengan Pertempuran Khandak, sebuah pertempuran yang menentukan, karena jika mereka gagal, otomatis Kota Madinah-basis dan pusat perjuangan mereka akan dibumi ratakan.

Juga karena mimpi-mimpi ini datangnya dari langit, maka ‘tidak akan pernah’, ya tidak akan pernah orang yang meyakini hal ini disebut bodoh dan tak berakal, kecuali mereka-mereka sendirilah yang terlalu dungu dan sombong untuk tidak mengakui bahwa janji Allah itu adalah benar!.

Bukan, bukan karena aku merasa pintar, jenius dan sebagainya, namun ini hanyalah pelajaran yang bisa kita ambil tentang ‘Mimpi-mimpi Langit’ yang telah lalu. Sebagaimana Allah Swt telah memberikan kita nikmat berupa akal, maka menggunakannya dengan sebaik mungkin adalah bentuk syukur atasnya.

Diakui atau tidak, wawasan serta kadar ilmu seseorang mempengaruhi pandangan orang tersebut dalam menilai sesuatu.

Saya, anda, teman-teman terdekat kita bahkan seorang professor sekalipun seringkali melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan itu adalah yang bertaubat. Maka untuk mengakhiri kalimat ini, saya memohon maaf jika ada kesalahan kata, data, serta kelancangan dalam berucap. (berusaha jadi orang baik itu; ‘baik’)

Dan untuk kalian para pemimpi dimanapun kalian berada, saya memiliki kalimat nasihat yang disampaikan oleh guru saya beberapa hari lalu;

“Hendaknya antum selalu berorientasi pada akhirat, karena akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”


Dan karena mimpi adalah sebuah ‘Orientasi’. sebuah pandangan, peninjauan, perhatian dan dasar pemikiran untuk menentukan langkah-langkah kedepan. Maka mari kita berharap bahwa nasihat itu bisa bernas dalam diri kita. Allahumma Amin.


Dipenghujung belaian udara shubuh.
Musallas, 21 September 2013.

Jumat, 13 September 2013

Gerah.

aku sedang gerah. ya gerah,, ketika guru-guruku terciprat kalimat-kalimat yang tak pantas mengenai diri mereka.

apapun kondisinya, aku adalah seorang murid. maka guruku berhak mendapat tutur kata dan prilaku yang baik pula dariku, sejauh apapun perbedaan pendapat yang kami pegang, karena posisi diantara kami adalah antara guru dan murid, antara sesama muslim, dan antara manusia yang sama-sama memiliki hati.

aku tak ingin para musuh-musuh itu tertawa melihat olokan-olokan kami terhadap ulama-ulama kami. jika ada yang salah, cukup katakan itu salah.

ya Allah tunujukkanlah yang benar itu benar dan bantulah kami untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah yang salah itu salah dan bantulah kami untuk menjauhinya. amin.

Brontosaurus Menulis



Menulis

Musim panas, dan sekelumit waktu-waktu yang terbuang dengan percuma. ya percuma, jika tolak ukurnya adalah kerja, kerja dan kerja. Atau belajar, belajar, dan belajar. Tapi entah kenapa kebiasaan lama menjalar begitu saja, menjadi nonton, nonton, dan nonton Sehingga tidak ada tempat untuk kata 'kerja' dan 'belajar' disana.

Dalam tulisan ini penulis sangat menyesalkan atas kemandekan yang terjadi terhadap blog ini, tentu banyak teori dan alasan yang bisa penulis paparkan kepada pembaca terkait hal tersebut, namun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membela diri.

Bagaimana kalau kita langsung meloncat ke ucapan Lebaran yang sangat kadaluarsa untuk disampaikan, atau rasa prihatin terhadap rentetan tragedy berdarah yang terjadi di negeri para nabi. Memang,  kerinduan akan kampung halaman yang bertumpuk tiga tahun disertai kebencian atas segala kedzoliman membuat lidah ini kelu, betapa tidak, karena untuk menghapus kedua perasaan itu kita membutuhkan satu rasa yang lain, rasa sabar. Dan saya lihat orang-orang sabar itu sering membisu, mukanya kaku dan matanya, oh matanya, indah bagi mereka yang memiliki mata yang indah, kalau jelek sih jelek aja, ngga ada yang berubah.. :P

Lalu bagaimana aku bisa kembali menulis? Simpel, aku hanya perlu menaruh jari-jariku yang kasar diatas tuts keyboard sambil membuka program MS Word. hal yang tak pernah kembali kulakukan sejak kebisuan melanda mulut, jiwa, dan pikiran-ku. Jadi, untuk beberapa hari kedepan kita bisa mencoba mengganti salah satu kata dari kebiasaan lama itu dengan menulis, mungkin bisa diucapkan seperti ini; nonton, nonton, dan menulis!

Oke, Mohon maaf lahir dan batin, semoga amalan ibadah puasa kita diterima Oleh-Nya dan juga untuk kebaikan Mesir; semoga Allah Swt memberikan kemenangan kepada orang-orang yang berjihad untuk kebaikan agamnya serta melaknat orang-orang dzolim.

Lionel Messi

Oh ayolah, mungkin bukan dalam tulisan ini saya akan bercerita. Kagum? Tentu, sama hal-nya ketika aku memandang foto Presiden Moursi yang dipegang para demonstran, hanya saja kekaguman ini dalam aspek berbeda dan memberikan pelajaran dari sudut yang berbeda pula. Yah, mungkin lain kali. Karena diperlukan beberapa kejutan lagi dari atas lapangan hijau untuk terus mengagumi keteguhan dan keseriusan dari laki-laki mungil tersebut, dimana kata ‘sihir’ sering di komparasikan dengan tindak-tanduknya ketika menggiring si kulit bundar.

Cinta Brontosaurus
  
Tentu bagi yang mengenal Raditya Dika, kata tersebut tidak asing, selain telah diterbitkan dalam bentuk buku, kini judul tersebut sudah tayang dalam dunia perfilman Indonesia. Selain masih muda, ia punya sentuhan yang berbeda dibanding penulis-penulis muda yang lain. Bahkan sentuhan tersebut mampu ia tampilkan dalam film yang ia garap. Muda dan berbakat, begitulah orang-orang seperti dia dipuji.

Dan jika seseorang menonton film dari pagi sampai pagi lagi bisa disebut gila, maka sebutlah kebiasaan saya ini dengan sebuah ‘kegilaan’. memang bukan terus-terusan tanpa diselingi dengan hal yang lainnya, namun setelah seharian menonton film, lalu dilanjutkan dengan penantian livestream sepak bola hingga shubuh, maka hal itu sudah saya sebut dengan menonton ‘dari pagi sampai pagi’.

Katakanlah ‘Tidak Produktif’ kalau memang perlu, toh akhirnya film ‘Cinta Brontosaurus’-lah yang kembali menyadarkanku. Dan hal-hal seperti inilah yang terkadang membuatku tersenyum-bingung, bagaimana tidak, untuk kembali menulis saja harus ‘menonton’ film seperti ini. Maka dimana ‘Lionel Messi’ dan ‘Pak Moursi’?

Diakui atau tidak, gairah perjuangan yang dilakukan Kelompok Islamis di Mesir mampu menimbulkan begitu banyak ide inspiratif untuk ditulis, begitu pula kesenanganku dalam melihat aksi-aksi para olahragawan di atas rumput hijau. Namun munculnya ide dengan menyegerakan untuk menulis itu adalah suatu hal yang berbeda. Dan setiap saya memikirkan tentang perbedaan ini, saya selalu ingat dengan nasihat Ka’ Rois; “segera Tulis!.” Perintah dia, namun sekali lagi; itu tetaplah hal yang berbeda, dan bagaimanapun hal itu, aku tidak bisa menjelaskannya disini.

Thanks Radit, entah kenapa gw lebih suka ngeliat karya lo dibanding muka lo, ups.



 Qosr El-Suq, 13 September 2013.

Senin, 08 Juli 2013

Jadilah Orang yang Menyadari Bentuk Sebuah Pengorbanan

Banyak orang yang meyadari bahwa, "kesuksesan itu butuh sebuah pengorbanan."

Tapi sayangnya, hanya sedikit orang yang bisa menyadari bentuk pengorbanan itu, dan mereka yang belum menyadari terus bertanya; "ngapain sih lo cape-cape demo, berlelah-lelah lari kesana-kemari, panas-panasan dijalan? sampe pasrah banget tubuhmu jadi sarang muntahan peluru-peluru yang bisu itu, dari kepalamu mengalir cairan kental, mulutmu mengering, tatapanmu merabun, wajahmu.. oh iya wajahmu.. sudah tak bisa kukenali lagi, menghitam karena asap-asap yang terus kau lawan ditengah pembakaran mayat-mayat para demonstran."

Padahal saat kesuksesan itu datang, dengan wajah penuh ceria ia menggandeng istri dan buah hatinya, menikmati suasana damai ditengah alun-alun kota sambil berkata "oh, ini toh yang namanya perjuangan."

Ya, sering kali kita hidup diatas pengorbanan orang lain, sedangkan orang-orang yang berkorban itu hidup diatas cita-cita mereka. sungguh mulia.. ya sungguh mulia, dan itulah kenapa pahlawan itu akan selalu ada, selalu eksis mengisi lorong-lorong kehidupan yang terus membentang hingga masa tua anak-cucu kita, hingga kubur kita tertutup oleh tumpukan mayat mereka, hingga mayat-mayat itu menuntut balas atas jasa-jasa mereka.

Dan sedikit fakta yang menarik, "kesuksesan yang menentramkan jiwa" adalah hasil dari perjuangan kita melawan antek-antek kebathilan, dimana kebathilan-kebathilan itu bisa berbentuk; kemalasan saat belajar, ketakutan dikala mengatakan kebenaran, kemunafikan ditengah-tengah dua pertarungan, kedengkian ketika teman lebih baik dari dirinya saat berjuang, dan kediktatoran (tirani) dimana semua orang ingin menghirup udara kebebasan.






Man Haraki
Mutsalats, 8 Juali 2013.

Sabtu, 29 Juni 2013

Esok; 'Seruan 30 Juni'.


Kharisma Seorang Pemimpin

Fakta pemerintahan Mubarak yang berlangsung selama Tiga Puluh tahun, Soeharto Tiga Puluh Dua tahun dan Kadafi Empat Puluh tahun tidak bisa kita pungkiri. Ketangguhan mereka dalam mengelola sebuah system kekuasaan mampu menundukkan sebuah Negara, terlepas dari cara mereka yang terkesan memuakkan untuk diingat mereka tetaplah kepala dari sebuah misi yang mereka usung, rekrutmen anggota, penyebaran intel, dan pembangungan jaringan dilakukan secara rapi dan terorganisir.

Mereka bukanlah para pemimpin gadungan yang hanya berorientasi seputar harta, tahta dan wanita. Mimpi mereka tinggi, amibisi mereka besar, kemauan mereka sekeras sifat mereka dalam mengusung tujuan mereka. Langkah mereka sangat terorganisir hingga media masa mereka kuasai, mereka memberikan rakyat begitu banyak harapan, meski  nantinya darah rakyat yang akan mereka korbankan. Kesombongan mereka hanya muncul setelah usaha keras mereka atau para cecenguk yang ada dibawah kendali mereka.


Jenghis Khan bisa kau masukkan dalam daftar tadi, Hitler, Stalin, Musollini, dan juga dalam daftar tersebut bisa kau temukan dampak yang mereka timbulkan bagi dunia, bagi pasukannya, rakyatnya, musuh-musuhnya. Mereka tidak memulai langkah-langkah besar itu dari posisi seorang Jendral Besar, Komandan dari Pasukan Khusus, apalagi terlahir sebagai seorang Raja.

Mereka semua sama, memulai dengan merangkak, langkah-langkah kecil mereka yang berkesinambungan membuat kuat kaki mereka, mereka jauh meninggalkan yang lain, disaat mata mereka terbuka lebar penuh bahagia melihat garis Finish, yang lain hanya bisa melihat punggung-punggung para pemenang sambil terus berlari di belakangnya, seolah tampak sedang mengikuti, muka-muka mereka tertunduk lesu, pilu.

Di tribun penonton terjadi kerusuhan, ada yang tidak menerima hasil pertandingan lalu mereka berkata kasar, ada yang bertengkar dengan sahabatnya karena ia meimilih pelari yang berbeda dengannya, ada juga yang bergembira, ada juga yang duduk diam tak percaya, semua berkomentar, semua memberikan analisanya. Namun satu hal yang sama, tentang karcis masuk yang mereka bayar untuk melihat hasil pertandingan; tetap tidak bisa dikembalikan.

Jalur Ikhtiyar

Dalam obrolan jum’at pagi bersama temanku, kami membahas tentang kontrol hasil ujian di Al-Azhar, diluar pembahasan boleh atau tidak dan kapan waktu dilakukannya kontrol hasil ujian, kami berbeda pendapat tentang “apakah ia termasuk Ikhtiyar atau menafikkan Tawakkal kita kepada Tuhan.” Dalam hal ini aku memilih hal yang pertama, kawanku yang memilih hal kedua lebih menekankan bahwasannya jika Allah sudah berkehendak, maka jadilah dan Allah SWT tak akan pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya.

Aku tak bisa memperdebatkan panjang lebar kekuatan Tawakkal yang ia jelaskan kepadaku, akupun meyakini hal itu. Dalam ‘suatu’ kondisi, kau akan menemukan segolongan orang yang begitu kuat Tawakkalnya kepada Allah SWT, meskipun ia sedang dalam suatu keadaan yang begitu mencekam, banyaknya konspirasi yang bermain di balik layar, dan hanya dengan melakukan hal-hal yang ia ketahui secara dzohir, orang-orang tersebut benar-benar bisa melewati suasana genting tersebut. Begitulah cara mereka bertawakkal terhadap segala ketentuan Tuhan, meskipun keberhasilan ataupu kegagalan menimpa mereka, mereka sudah siap menerimanya.

Dan untuk hal yang pertama, aku lebih memilih bahwasannya kontrol hasil ujian masih termasuk dalam jalur ikhtiyar, bukanya aku ingin mengatakan bahwa ada kecurangan dalam pemberian nilai ujian, bukan. Lebih sekedar ingin meyakini bahwasannya tidak semua manusia terlepas dari kesalahan ataupun lupa. Sehingga aku menganggap kontrol tersebut merupakan langkah terakhir untuk memastikan bahwasannya nilai ujian benar-benar diberikan ‘pada tempatnya’.

Moursi menghadapi “Seruan 30 Juni”

Kepemimpinan Presiden Mesir saat ini, Dr Mohammad Moursi, kembali  dihadapi sebuah seruan untuk menjatuhkan dirinya, memang bukan seruan baru yang disertai provokasi media-media agar timbul chaos yang berkepanjangan di Mesir. Namun seruan kali ini mampu membuat kerugian besar sekitar 50 Milyar Pound Mesir di pasar saham bagi Negara, juga rasa was-was yang dialami warga asing jika saja pada tanggal tersebut terjadi kekerasan yang meluas diseluruh negeri.


Mursi dalam pidatonya juga menyebutkan otak dibalik kerusakan-kerusakan yang sering timbul di mesir adalah para Koruptor dari Rezim yang telah tumbang, yaitu antek-antek Mubarak, Presiden Mesir sebelumnya yang berhasil dijatuhkan oleh Rakyat pada momen ’25 Januari’.

Mengkontrol Kebijakan - Dalam sebuah pertarungan, menghormati dan mengenali seluk-beluk seorang lawan adalah hal yang lazim dilakukan seseorang untuk mengukur kesempatannya menguasai sebuah pertempuran. Kerja keras sesuai rencana yang telah disepakati tidak meghentikannya untuk terus menganalisa perkembangan yang terjadi di lapangan, jika pertempuran terjadi antara beberapa kelompok, sering terjadi beberapa isu spontan yang bisa digunakan lawan untuk menjatuhkan saingannya.

Pengambilan kebijakan di saat-saat seperti itu harus cepat dilakukan, seperti halnya ancaman kepada para Distributor Bensin yang sengaja memperlambat pelayanan kepada masyarakat, atas tindakan mereka; Negara akan mencabut hak izin usaha yang mereka miliki.

Penutup

Langkah pemerintah untuk mengontrol seluruh program yang mereka jalankan, menerima aspirasi masyarakat, membuka jalur musyawarah, dan tanggap dalam menyelesaikan isu-isu yang tak terduga merupakan ikhtiyar terbaik mereka dalam menghentikan kekerasan yang sangat kencang beredar dalam Demonstrasi Besar ‘30 Juni’ esok.

Kerasnya sifat pemimpin mereka dahulu mencerminkan keambisiusan para Oposisi saat ini untuk mengembalikan kejayaan yang sempat mereka anyam. Tentu mereka terdidik, terorganisir rapih, memiliki titik-tikik komando dan dana melimpah dari saku-saku mereka, yanga dalam pidato presiden disebut ‘Uang Hasil Penderitaan Rakyat’.

Sudah sejak lama kita menyadari bahwasannya Kejahatan yang terorganisir mampu membungkam kebenaran yang berserakan, namun sering kita kebingungan bagaimana cara menyatukan kebenaran yang terlihat bertebaran di mata kita toh masalah qunut saja masih diperdebatkan. Namun kini kita telah melihat wajah Dunia Islam yang jauh lebih baik dibanding masa-masa kediktatoran, langkah-langkah itu sudah terdengar seirama, hingga tak salah jika Moursi mengatakan dalam pidatonya pada tangal 27 Juni bahwa langkah para pendengki tersebut MUSTAHIL BERHASIL dan Mesir akan tetap aman.

Untuk hari esok saya ingin bertawakkal sepenuhnya kepada Allah sebagaimana teman saya telah lakukan. Tiada ikhtiyar yang bisa kupersembahkan melainkan lantunan do’a untuk kebaikan Mesir dan Dunia Islam seutuhnya, Indonesia, Palestina, Suria, Turki, Sudan, Tunis, dan yang lain. Kebaikan, ya kebaikan yang kita inginkan ketika di Dunia dan Akhirat, Allahumma Amin.


Selasa, 25 Juni 2013

Opini dan Isu Publik


Membedakan Opini dan Berita.

Study Informasi Alam Islami yang biasa disingkat SINAI adalah  sebuah lembaga kajian yang membahas permasalahan-permasalahan yang terjadi di Dunia Islam secara khusus, mulai dari sejarah berdirinya suatu Negara, percaturan perpolitikan, hingga isu-isu agama yang sering dimunculkan oleh beberapa media basis kiri entah itu bertaraf internasional ataupun nasional.

Sebagai kader muda yang baru menginjak tahun pertama; pembahasan utama kami adalah Permasalahan Palestina, mengingat Palestina merupakan pokok permasalahan umat islam yang masih belum terselesaikan sejak datangnya faham zionisme. Sempat kami rasakan begitu susahnya mencari sumber-sumber original selain dari diktat resmi yang telah kami pegang.

Disamping membahas latar belakang dan sejarah berdirinya sebuah Negara, isu yang kami mainkan dan sering menjadi topic hangat oleh para senior dalam lembaga kaijan ini adalah perubahan iklim-iklim pergerakan dan kemajuan yang telah dicapai umat islam belakangan ini.

Saya dan teman-teman sebagai kader muda sering “ditegaskan” untuk mengambil berita se-original mungkin, berita A1 atau yang bisa disebut berita yang diambil langsung  dari sumbernya adalah barang yang sangat mahal. Sehingga pembahasan obrolan kami benar-benar harus dibatasi dari berita-berita yang sudah terkontaminasi opini-opini Media Informasi yang lain.

Kami juga diharuskan untuk bisa membedakan antara Opini dan Berita, karena kedua hal tersebut benar-benar suatu hal yang berbeda namun memiliki karakteristik yang hampir sama, jika opini adalah salah satu angle atau sudut pandang dari sekian banyak sudut pandang yang seseorang simpulkan dari sebuah kejadian, Maka berita adalah bentuk kejadian tersebut yang dijelaskan secara gamblang dimana pembaca mau tidak mau harus menarik kesimpulan dari satu atau beberapa sudut pandang tertentu sesuai kadar wawasannya.

Pada dasar yang sangat fundamental, perbedaan kecerdasan setiap orang sangat berbeda-beda, dan hal itu akan berefek pada pengambilan sudut pandang dalam sebuah kejadian perkara, kita tak bisa menyalahkan begitu saja jika seseorang memilih wanita berhidung mancung dan memiliki kulit yang begitu putih dan berpakaian sangat minim disebut “pelacur” saat dia sedang duduk sendirian di tengah Kafe remang-remang, karena itu hanyalah sebuah Opini atau pemilihan sudut pandang pada sebuah kejadian.

Tapi yang bisa kita permasalahkan jika Opini tersebut sudah menjadi Berita dan Acuan dalam tuntutan sebuah perkara. Dan yang paling disayangkan bahwasannya “kerancuan” seperti ini sudah hampir mendarah daging dalam budaya penerimaan Informasi di kalangan masyarakat kita.


Peran Opini dalam Pembentukan Isu-isu Publik.

Tak bisa dipungkiri bahwa Opini kini telah menjadi alat yang begitu sentral dalam pembentukan isu public, ia bergerak melalui teriakan-teriakan, tulisan-tulisan, bahkan dalam diam. Isu-isu public itu diarahkan kepada tujuan tertentu, tidak ada dasar yang pasti dalam penggunaan opini-opini tersebut, kemanapun opini itu berjalan maka isu public akan bermain disekitarnya.

opini yang menggiring isu-isu public bisa jadi dilakukan secara spontan, ataupun terorganisir, contoh untuk hal yang kedua bisa kita lihat dalam penggiringan isu saat kemerdekaan NKRI pada tanggal 17 Agustus 1945; pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan yang belum ada persetujuan dari Belanda maupun Jepang telah menggiring Opini Publik Nasional bahwa Indonesia sudah merdeka.

Teriakan-teriakan merdeka yang terus berkumandang sesaentro Indonesia, juga pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan yang terus-menerus disiarkan di radio lokal maupun internasional akhirnya menarik simpati Dunia luar. Isu Publik telah dimainkan, dunia internasional mulai memberikan dukungan untuk kemerdekaan Indonesia, hingga terbentuklah Konfrensi Asia-Afrika, lalu Perjanjian Meja Bundar, dan sepakatlah Indonesia merdeka. Itulah Opini.

Jika Opini bisa menggerakkan mesin-mesin tua untuk mencapai kesepakatan “Kemerdekaan sebuah Bangsa”, tentu Opini yang terus-terusan disampaikan oleh begitu banyak Media Informasi di Headline-nya mampu menutup mata kita untuk menikmati hasil pertandingan Spanyol lawan Brazil di Kota Sepak Bola dari pentingnya “Mengirim sebotol Minyak Zaitun ke Palestina.”


Senin, 24 Juni 2013

Sketsa Musim Panasku.



Ses.. sess... SuuMmmeeErR!!!

akhirnya keinginan saya untuk mengucapkan kata-kata itu di blog ini tersampaikan juga. maaf kawan, tak banyak cerita dan ide yang bisa kusampaikan empat bulan belakangan ini, mungkin mulai dari "tidak ada sambungan Internet" hingga "sibuk dengan persiapan imtihan" menjadi alasan yang paling kuat kenapa aku ngga' bisa berbagi denganmu.

lebihh.. lebih dari sekedar ingin menyampaikan bahwasannya aku memiliki begitu banyak ujian dan keberuntungan saat memulai persiapan imtihan semester 4 hingga dimulainya musim panas tahun 2013-an ini. ide-ide begitu banyak bermunculan, wacana untuk mengembangkan diri "from zero to hero" sudah membara,  keterbatasanku dalam memulai sebuah cita-cita kini menjadi warna tersendiri di penghujung jadwal imtihan yang super padat dan begitu setelahnya; yaitu saat liburan ini sudah dimulai.

rasa rinduku kepada orang-orang yang kucintai di ujung dunia ini selalu membuat aliran air mata tak bisa dibendung, memanfaatkan momen-momen seperti itulah aku mengompori setiap inci bara yang ada di dalam hati ini, do'a selalu kuucap, impian selalu terbayang, hingga kaki tak sekedar menjadi alat penendang si kulit bundar, walau ia sudah mulai lelah berjalan, bayangan Zaid, Fatimah, Lulu, Hafsah, Umi dan Abi menjadi penyemangat, bahkan dalan titik terjenuh sekalipun... kalian adalah sumber Motivasiku!!

kawan, saking lelahnya kuberjalan, pernah kuberpikir untuk berhenti sebentar, ya berhenti. pikiran itu pernah mampir dibenakku setelah Ushul Fiqh terselesaikan. aku ucap KATA itu kepada teman seperjuangan, dan dia hanya menjawab dengan gelengan. namun bayangan kalian kembali menyentuh ujung qolbuku yang terdalam, Ust. Sahuri, Bang Iqbal, Ust Andi, Dafik, Ibad, Jaiz, Ucu, Ramdhani, Didy, Ogi.. rupanya kalian sudah mejadi bagian dari keluargaku,, kita sudah disini bersama selama Tiga Tahun kawan.. mungkin tidak, ya, saya ucapkan "tidak" untuk KATA itu, karena perjuangan masih panjang kawan...

kelemahanku dalam menggunakan Bahasa Arab kini mulai menarik ujung-ujung jemari kakiku, ia tak sekedar menjadi penghambat (jika aku harus menyebutnya demikian), bahkan tulang belulangku sering bergetar tak karuan jika harus berhadapan dengan jumlah halaman Muqoror (Diktat Kuliah) yang sampai tujuh ratus halaman, ditambah mufrodat-mufrodat baru yang sangat gharib bagiku.

akhirnya sejumlah uang yang sudah kukumpulkan dari beasiswa Baituz Zakat harus rela kukeluarkan, bukan untuk sepaket liburan yang tidak karuan. namun aku memilih untuk menyumbangkan sebagian besar jatah beasiswa tersebut ke Markaz Nil, dengan imbalan mereka akan memberikan saya kursus bahasa arab dari level beginner hingga Amateur.. dan itupun butuh waktu sekitar sepuluh bulan. gaaaaahhhhh.......

haaah,, namun saya merasa semua ini sangat berbahaya, ya saya katakan belajar terus-menerus bagi saya sangat berbahaya. lah?. ya jelaslah,, saya sadar kemampuan dan hobi saya bukan sebatas duduk di atas kursi kayu dan meja yang sama-sama diam membisu.

karena ini LIBURAN MUSIM PANAS, saya akan menghabiskan liburan ini dengan bermain bola,, ya bermain bola bersama orang yang memang punya niat main bola, dan jika ada kompetisi mereka benar-benar mempersiapkannya, dan jika mereka ingin menang mereka tidak sekedar umbar janji tanpa esensi. 

bermain bola beserta kompetisi yang ada tidak ada bedanya dengan menjawab selembar kertas yang duktur berikan saat musim ujian sedang berlangsung. untuk meraih kemenangan butuh proses, namun pecundang selalu memotong proses itu dengan mimpi di siang bolong.

ah... aku terlalu banyak omong.. bagaimana kalau kita memulai proses itu?



Sabtu, 09 Februari 2013

When The Big Match Is Coomingsoon..


Kau ingin tahu awal mula kesukaanku tentang dunia sepak bola.?

“Messi mencetak Quatrick ke gawang Arsenal.”
Mungkin inilah Ilham pertama yang datang kepadaku,
Tentang arti dari Kompetisi Kehidupan.
Sepakbola selalu memberikan kompetisi yang sama di tiap tahunnya,
Namun dengan kondisi yang berbeda di setiap pertemuannya.

Ada seorang Ulama yang berkata:

"الحكمة ضالة المؤمن"
(Hikmah itu barang hilangnya Orang Mu’min)


Maka menurut saya, setiap hikmah dan pelajaran dari setiap pertandingan yang ada di sana (أى- Sepakbola), bisa kita renungi dan resapi. Karena di setiap perjuangan yang mereka lakukan selalu menimbulkan euforia-euforia yang sama tentang perjuangan para pendahulu kita.


Hhe, tentu kita tak sabar dengan salah satu Big Mtach di pertengahan pekan ini bukan?

“Manchester United Vs. Real Madrid”





Selamat ber-Euforia kawan.. :D

Rabu, 06 Februari 2013

Fiennha -pertemuan 2-

(ini cerpen keduaku, sedikit terburu; maaf kalau kurang memuaskanmu, ) :)

Keindahan malam kota kairo bisa kau temukan dalam hamparan lampu neon di setiap pinggir jalan. bangunan-bangunan persegi empat yang berdebu kusam seakan menyatu dengan sinar-sinar lampu yang menyelimutinya, ditambah lampu kerlap-kerlip yang memiliki berbagai macam warna, yang menambahkan sisi eksotis pada malam itu. 

Tak ketinggalan lampu-lampu utama yang menyorot kemegahan bangunan-bangunan tua yang sengaja di pamerkan di beberapa tempat di kota kairo, juga menara-menaranya, patung-patung bersejarahnya dan bentangan sungai nil yang dihiasi kapal-kapal kecil sejauh mata memandang, yang membuatmu seolah-olah sedang berada di salah satu kota tertua di dunia.

Malam kairo tak hanya menampilkan keindahan bangunan-bangunan tuanya saja, kau juga masih bisa menemukan keramaian di beberapa pasar  besar yang memang khusus dibuka pada malam hari. Begitu pula tempat-tempat hiburan semacam kapal-kapal kecil yang selalu tertambat 24 jam di sepanjang sungai nil, kau bisah memilihnya, ikut berlayar bersama pribumi atau menyewanya yang tentunya setiap kapal memiliki harganya masing-masing sesuai fasilitas yang mereka berikan.

Namun perjalanan pulangku bersama seorang teman dari Kedubes RI di Garden City membawaku kembali menikmati keindahan-keindahan malam itu, tentu bagiku yang sudah tidak asing melewati dunia malam di pusat-pusat keramaian menjadi hal yang sedikit menghibur dan membangkitkan euphoria yang sudah lama hilang ditelan kesibukan membaca litertaur-literatur arab gundul.

“tuh kan Ram, ngga’ salah kita milih jalan dari Kantor Dubes.”ucap Altaf, teman jalanku sambil menepuk tangannya.

“kenape?”

“tuh, lw liat ono kan?, yang putih-putih tuh.” Altaf nunjuk-nunjuk ke arah gedung hotel yang ada di seberang jalan yang kita lewati, kebetulan jalan yang kita lewati masih sedikit jauh dari keramain.

“asem!, apaan tuh tof? Ko’ dia bisang melayang-layang gitu!.” Komentar ku ketakutan.

“sialan banget emang tuh setan beraninya gangguin kite malem-malem begini.” Si Altaf kelihatan kesel dan tiba-tiba dia nyopot sepatunya.

“saatnya bales dendem ama tuh setan.” Ucap Altaf bersemangat sambil ngambil kuda-kuda buat ngelempar sepatunya yang udah di tangan kanannya.

Dalam hitungan ketiga sepatu itu sudah melayang ke arah kain putih yang kita teriakin itu, aku yang masih komat-kamit baca surat yasin berharap dalam hati agar itu setan langsung mampus sama sepatu yang dilempar Altaf.

Bukk!!, suaranya berdebuk keras, tepat di bagian atas si setan, anyar aja, si setan jatuh dan ngga’ bangun-bangun.

“mati juga tuh setan Taf, ngga’ bangun-bangun dia.” Komentar ku masih ngga’ percaya.

Altaf yang dari tadi melolotin tuh setan juga masih bengong, ngga’ percaya dia bisa jatuhin tuh setan sekali gebuk.

“langsung naik Dua Level  nih gw..” Altaf mulai ngebayangin Game Online yang tadi siang dia tinggalin untuk ikut acara Maulid Nabi di Garden City.

Masih dalam keadaan tidak percaya kami menghampiri sosok putih yang sudah terjatuh itu. Saat kami sudah dekat tiba-tiba muncul Sembilan, sepuluh,, engga’, setidaknya ada Dua belas sosok yang tiba-tiba muncul dari balik bayangan .

eh dah enta ya Andunisy??” seorang kakek-kakek berkebangsaan mesir berteriak dengan mikrofon yang ada di tangannya.

enta ‘aiz eih ya walad!!” teriak yang lainnya.

Tiba-tiba kami terpojokkan, lalu tampak samar-samar di setiap baju yang mereka pakai tertulis ‘Helwa Productions Films’. Kami kaget.

“waduh Taf,, rupanya tuh setan lagi main film.” Bisik ku ke Altaf.

“iya, gw juga baru sadar pas mereka datang sambil bawa kamera film.”

“matilah kita Taf.” Aku mulai pasrah.

“jiah, ogah gw mati di sini Cuma buat ng’gantiin peran tuh setan” ucap Altaf berani sambil nunjuk ke setan yang tadi dia lempar.

“setuju, oke hitungan ketiga kita lari.” Aku ngasih usul, Altaf mengangguk setuju.

“satu..”

 orang-orang mesir itu makin mendekat sambil membentak-bentak dengan bahasa ‘amiyah.

“dua..” 

Kita sudah siap berlari.

“ti..”

“bentar-bentar.” Altaf menahan ku.

“apaan lagi taf?”

“sepatu gw.”ucap Altaf sambil nyengir.

“bodo, gw duluan.” Ucap ku ke Altaf sambil lari meninggalkannya sendiri.

“eh, sialan lw Ram..” caci Altaf, sambil buru-buru ngambil sepatunya.

*****

“Hah..hah.. gimana Taf? Kaga’ ada yang ngikutin lw kan?” Tanya ku ke Altaf sambil ngos-ngosan saat Altaf berhasil mengejarku.

“kurang asem lw Ram, ogah gw jalan sama lw lagi.” ucap Altaf kepadaku sambil mencari posisi yang enak untuk duduk di tangga pintu masuk Metro ‘Anwar Sadat’ yang ada di tengah-tengah tahrir.

Di mesir, ada yang namanya Metro; kereta bawah tanah yang menjadi alat transportasi untuk masyarakat umum, rute-nya yang hampir mencangkup sebagian besar daerah mesir biasanya selalu ramai di jam-jam berangkat dan pulang dari kantor atau sekolah-sekolah. Sangat efesien bagi mereka yang sekolah atau tempat kerjanya jauh dari rumah dan tidak ingin kehabisan uang di ongkos.

“lah, lagian siapa yang minta jalan dari garden city ke terminal?” saya membela diri.

“Ram, gw laper lagi nih, cari makan yo’.” Seolah-lah tidak menggubris perkataan ku barusan, Altaf langsung ngajak makan.

“buset, kaga’ kenyang apa lw makan tadi makan dua nasi kotak?” Tanya ku kaget sambil memperhatikan badannya yang kurus, tidak pernah gemuk-gemuk.

“kaga’, kan gw Cuma ngambil dagingnya doang.” Jawab Altaf sambil nyengir kuda. 

Pantes.

“ngga’ ah gw udah kenyang.” Tolak ku.

“bener nih?, gw traktir ayam KFC dah.” Altaf masih menawari ku sambil nunjukin kedai KFC yang udah di depan mata, kebetulan terowongan tempet kita duduk emang deket samai KFC.

“ngga’ ah, syukron Taf, gw masih takut kalo-kalo Produser Film yang tadi masih ngejer-ngejer kita” tolak ku halus.

Walau sudah bukan lagi jam pulang kerja, Terminal di tahrir dan di Metro pun masih ramai di lewati oleh orang-orang, sempat beberapa kali pemudi-pemudi Mesir yang jalan dalam rombongan melewati kami, wajah mereka yang merupakan paduan akan ke Eksotisan wanita Arab dan kejernihan wanita Eropa dengan hidung-hidung yang mancung dan mata yang jernih bak gemerlapan bintang yang menghiasi malam ini, namun hal itu kembali mengingatkanku kepada si dia, wanita cantik tanpa identitas beberapa waktu silam, Finha.

Altaf yang dari tadi memaksaku untuk menemaninya kini sudah tak bisa ditolak lagi, aku pun setuju, dan mengikuti langkahnya dari belakang, namun selangkah lagi aku memasuki KFC, tiba-tiba kulihat sesosok wanita yang hampir setiap malam mengganjal dalam mimpi panjangku. Sesosok wanita yang menyerupai keindahan bulan ketika kau menyingkirkan butiran gemintang yang ada di sisinya, sesosok wanita yang akan selalu terlihat manis dan sempurna bagi mereka yang sedang tertancap oleh panah-panah Sang Dewi Asmara.

Aku menghentikan langkahku, ku lirik Altaf yang sedang memesan makanan, ia sama sekali tak merasakan kehilangan aku. Di pintu masuk KFC, Satu menit aku memikirkan untuk meninggalkan altaf, lalu aku melirik ke arah Finha.dunia terasa hening, rupanya ia sedang berbicara kepada ibu-ibu yang ada disampingnya. Tiba-tiba Finha melirik ke arah ku, aku terpaku, lalu ia melambaikan tangan kepadaku dan tertawa kecil.
Sadar ada sesuatu yang salah kepadaku, aku melihat ke sekelilingku, rupanya lamunanku di pintu masuk sudah membuat antrian dan protes yang cukup panjang, tak menunggu untuk di gelandang oleh pihak yang berwenang, aku langsung berlari ke arah Finha pergi.

*****

“hai Finh, gimana kabarmu?.” sapaku kepada Finha setelah aku berhasil mengejarnya di loket karcis Metro, kebetulan antrian lagi panjang.

“hai Ram, Alhamdulillah baik, kalo kamu?.”

“baik, lagi ngapain Finh?.” tanyaku basa-basi.

“lagi beliin obat untuk teman yang lagi sakit.”

“lah, jauh banget emang rumahnya dimana?.”tanyaku penasaran.

“dimana ya? Hhi.. oh iya, kamu udah ke dokter belum?”

Dokter?. Ah, mungkin ia ingin menggodaku, saat di bus dulu, ia pernah menyarankanku pergi ke Dokter Cinta, katanya sih aku lagi bermasalah dalam menangani Virus Merah Jambu ini.

“belum, bu dokternya katanya lagi pergi, ngejenguk temannya yang lagi sakit sih” balasku menggoda. Pipi Finha sekilas kulihat merona.

Ibu-ibu yang tadi berjalan bersamanya adalah madam di kostan dia tinggal, katanya beliau sendirilah yang menawarkan Finha untuk mengantarkan beli Obat, soalnya suami-nya ada keperluan mendadak bersama para pejabat Istana di Mesir.

“anak manja” bisikku menggoda. Finha langsung cemberut.

Duh manisnya.

Obrolan kami berlanjut seputar akdemi, cita-cita, dan masa lalunya beberapa kali senyumnya keluar dari wajah rembulannya di setiap aku memujinya. Namun mama yang dari tadi sedang menerima telpon sesekali memanggil Finha dan aku terpaksa menunggu.

KRINGG!!..Tiba-tiba hape-ku berbunyi. Nama ALTAF terpampang di layar.
“Ram, lw kemana aj?, buru lw kesini selmetin gw, Produser Film itu masih nyari-nyari nih.” Ucap suara yang ada di sebrang sana.

Tanpa sempat pamit kepada Finha yang lagi sibuk dengan telponnya, aku langsung berlari ke KFC menyelamatkan Altaf dari kejaran para Produser Film itu.

Perlu sekitar dua puluh menit untuk mengecoh para Produser Film yang masih jengkel dengan kelakuan kami, sampai akhirnya kami lihat beberapa diantara mereka menyerah.

Akupun kembali berlari ke dalam metro, namun terlambat, kulihat finha dan Mama-nya sudah naik kereta yang akan kembali memisahkan kita. Kulihat ia tersenyum lalu mengucapkan sesuatu.

“assalamu’alaikum”

Wa’alaikumsalam, senang bisa bertemu kamu Finh.

Akupun pulang dengan bibir yang masih menyunggingkan senyuman, Altaf yang baru datang dan melihatku senyum-senyum sendirian heran.

“kenapa lw, senyum-senyum? kesambet setan.?” Tanyanya penasaran.

Aku pun terus berjalan, bersama bayang-bayang Finha yang berhasil kurekam. kira-kira kapan ya aku bisa merekam nama dan nomor telpon-nya.