My Movements Trip.

Rabu, 06 Februari 2013

Fiennha -pertemuan 2-

(ini cerpen keduaku, sedikit terburu; maaf kalau kurang memuaskanmu, ) :)

Keindahan malam kota kairo bisa kau temukan dalam hamparan lampu neon di setiap pinggir jalan. bangunan-bangunan persegi empat yang berdebu kusam seakan menyatu dengan sinar-sinar lampu yang menyelimutinya, ditambah lampu kerlap-kerlip yang memiliki berbagai macam warna, yang menambahkan sisi eksotis pada malam itu. 

Tak ketinggalan lampu-lampu utama yang menyorot kemegahan bangunan-bangunan tua yang sengaja di pamerkan di beberapa tempat di kota kairo, juga menara-menaranya, patung-patung bersejarahnya dan bentangan sungai nil yang dihiasi kapal-kapal kecil sejauh mata memandang, yang membuatmu seolah-olah sedang berada di salah satu kota tertua di dunia.

Malam kairo tak hanya menampilkan keindahan bangunan-bangunan tuanya saja, kau juga masih bisa menemukan keramaian di beberapa pasar  besar yang memang khusus dibuka pada malam hari. Begitu pula tempat-tempat hiburan semacam kapal-kapal kecil yang selalu tertambat 24 jam di sepanjang sungai nil, kau bisah memilihnya, ikut berlayar bersama pribumi atau menyewanya yang tentunya setiap kapal memiliki harganya masing-masing sesuai fasilitas yang mereka berikan.

Namun perjalanan pulangku bersama seorang teman dari Kedubes RI di Garden City membawaku kembali menikmati keindahan-keindahan malam itu, tentu bagiku yang sudah tidak asing melewati dunia malam di pusat-pusat keramaian menjadi hal yang sedikit menghibur dan membangkitkan euphoria yang sudah lama hilang ditelan kesibukan membaca litertaur-literatur arab gundul.

“tuh kan Ram, ngga’ salah kita milih jalan dari Kantor Dubes.”ucap Altaf, teman jalanku sambil menepuk tangannya.

“kenape?”

“tuh, lw liat ono kan?, yang putih-putih tuh.” Altaf nunjuk-nunjuk ke arah gedung hotel yang ada di seberang jalan yang kita lewati, kebetulan jalan yang kita lewati masih sedikit jauh dari keramain.

“asem!, apaan tuh tof? Ko’ dia bisang melayang-layang gitu!.” Komentar ku ketakutan.

“sialan banget emang tuh setan beraninya gangguin kite malem-malem begini.” Si Altaf kelihatan kesel dan tiba-tiba dia nyopot sepatunya.

“saatnya bales dendem ama tuh setan.” Ucap Altaf bersemangat sambil ngambil kuda-kuda buat ngelempar sepatunya yang udah di tangan kanannya.

Dalam hitungan ketiga sepatu itu sudah melayang ke arah kain putih yang kita teriakin itu, aku yang masih komat-kamit baca surat yasin berharap dalam hati agar itu setan langsung mampus sama sepatu yang dilempar Altaf.

Bukk!!, suaranya berdebuk keras, tepat di bagian atas si setan, anyar aja, si setan jatuh dan ngga’ bangun-bangun.

“mati juga tuh setan Taf, ngga’ bangun-bangun dia.” Komentar ku masih ngga’ percaya.

Altaf yang dari tadi melolotin tuh setan juga masih bengong, ngga’ percaya dia bisa jatuhin tuh setan sekali gebuk.

“langsung naik Dua Level  nih gw..” Altaf mulai ngebayangin Game Online yang tadi siang dia tinggalin untuk ikut acara Maulid Nabi di Garden City.

Masih dalam keadaan tidak percaya kami menghampiri sosok putih yang sudah terjatuh itu. Saat kami sudah dekat tiba-tiba muncul Sembilan, sepuluh,, engga’, setidaknya ada Dua belas sosok yang tiba-tiba muncul dari balik bayangan .

eh dah enta ya Andunisy??” seorang kakek-kakek berkebangsaan mesir berteriak dengan mikrofon yang ada di tangannya.

enta ‘aiz eih ya walad!!” teriak yang lainnya.

Tiba-tiba kami terpojokkan, lalu tampak samar-samar di setiap baju yang mereka pakai tertulis ‘Helwa Productions Films’. Kami kaget.

“waduh Taf,, rupanya tuh setan lagi main film.” Bisik ku ke Altaf.

“iya, gw juga baru sadar pas mereka datang sambil bawa kamera film.”

“matilah kita Taf.” Aku mulai pasrah.

“jiah, ogah gw mati di sini Cuma buat ng’gantiin peran tuh setan” ucap Altaf berani sambil nunjuk ke setan yang tadi dia lempar.

“setuju, oke hitungan ketiga kita lari.” Aku ngasih usul, Altaf mengangguk setuju.

“satu..”

 orang-orang mesir itu makin mendekat sambil membentak-bentak dengan bahasa ‘amiyah.

“dua..” 

Kita sudah siap berlari.

“ti..”

“bentar-bentar.” Altaf menahan ku.

“apaan lagi taf?”

“sepatu gw.”ucap Altaf sambil nyengir.

“bodo, gw duluan.” Ucap ku ke Altaf sambil lari meninggalkannya sendiri.

“eh, sialan lw Ram..” caci Altaf, sambil buru-buru ngambil sepatunya.

*****

“Hah..hah.. gimana Taf? Kaga’ ada yang ngikutin lw kan?” Tanya ku ke Altaf sambil ngos-ngosan saat Altaf berhasil mengejarku.

“kurang asem lw Ram, ogah gw jalan sama lw lagi.” ucap Altaf kepadaku sambil mencari posisi yang enak untuk duduk di tangga pintu masuk Metro ‘Anwar Sadat’ yang ada di tengah-tengah tahrir.

Di mesir, ada yang namanya Metro; kereta bawah tanah yang menjadi alat transportasi untuk masyarakat umum, rute-nya yang hampir mencangkup sebagian besar daerah mesir biasanya selalu ramai di jam-jam berangkat dan pulang dari kantor atau sekolah-sekolah. Sangat efesien bagi mereka yang sekolah atau tempat kerjanya jauh dari rumah dan tidak ingin kehabisan uang di ongkos.

“lah, lagian siapa yang minta jalan dari garden city ke terminal?” saya membela diri.

“Ram, gw laper lagi nih, cari makan yo’.” Seolah-lah tidak menggubris perkataan ku barusan, Altaf langsung ngajak makan.

“buset, kaga’ kenyang apa lw makan tadi makan dua nasi kotak?” Tanya ku kaget sambil memperhatikan badannya yang kurus, tidak pernah gemuk-gemuk.

“kaga’, kan gw Cuma ngambil dagingnya doang.” Jawab Altaf sambil nyengir kuda. 

Pantes.

“ngga’ ah gw udah kenyang.” Tolak ku.

“bener nih?, gw traktir ayam KFC dah.” Altaf masih menawari ku sambil nunjukin kedai KFC yang udah di depan mata, kebetulan terowongan tempet kita duduk emang deket samai KFC.

“ngga’ ah, syukron Taf, gw masih takut kalo-kalo Produser Film yang tadi masih ngejer-ngejer kita” tolak ku halus.

Walau sudah bukan lagi jam pulang kerja, Terminal di tahrir dan di Metro pun masih ramai di lewati oleh orang-orang, sempat beberapa kali pemudi-pemudi Mesir yang jalan dalam rombongan melewati kami, wajah mereka yang merupakan paduan akan ke Eksotisan wanita Arab dan kejernihan wanita Eropa dengan hidung-hidung yang mancung dan mata yang jernih bak gemerlapan bintang yang menghiasi malam ini, namun hal itu kembali mengingatkanku kepada si dia, wanita cantik tanpa identitas beberapa waktu silam, Finha.

Altaf yang dari tadi memaksaku untuk menemaninya kini sudah tak bisa ditolak lagi, aku pun setuju, dan mengikuti langkahnya dari belakang, namun selangkah lagi aku memasuki KFC, tiba-tiba kulihat sesosok wanita yang hampir setiap malam mengganjal dalam mimpi panjangku. Sesosok wanita yang menyerupai keindahan bulan ketika kau menyingkirkan butiran gemintang yang ada di sisinya, sesosok wanita yang akan selalu terlihat manis dan sempurna bagi mereka yang sedang tertancap oleh panah-panah Sang Dewi Asmara.

Aku menghentikan langkahku, ku lirik Altaf yang sedang memesan makanan, ia sama sekali tak merasakan kehilangan aku. Di pintu masuk KFC, Satu menit aku memikirkan untuk meninggalkan altaf, lalu aku melirik ke arah Finha.dunia terasa hening, rupanya ia sedang berbicara kepada ibu-ibu yang ada disampingnya. Tiba-tiba Finha melirik ke arah ku, aku terpaku, lalu ia melambaikan tangan kepadaku dan tertawa kecil.
Sadar ada sesuatu yang salah kepadaku, aku melihat ke sekelilingku, rupanya lamunanku di pintu masuk sudah membuat antrian dan protes yang cukup panjang, tak menunggu untuk di gelandang oleh pihak yang berwenang, aku langsung berlari ke arah Finha pergi.

*****

“hai Finh, gimana kabarmu?.” sapaku kepada Finha setelah aku berhasil mengejarnya di loket karcis Metro, kebetulan antrian lagi panjang.

“hai Ram, Alhamdulillah baik, kalo kamu?.”

“baik, lagi ngapain Finh?.” tanyaku basa-basi.

“lagi beliin obat untuk teman yang lagi sakit.”

“lah, jauh banget emang rumahnya dimana?.”tanyaku penasaran.

“dimana ya? Hhi.. oh iya, kamu udah ke dokter belum?”

Dokter?. Ah, mungkin ia ingin menggodaku, saat di bus dulu, ia pernah menyarankanku pergi ke Dokter Cinta, katanya sih aku lagi bermasalah dalam menangani Virus Merah Jambu ini.

“belum, bu dokternya katanya lagi pergi, ngejenguk temannya yang lagi sakit sih” balasku menggoda. Pipi Finha sekilas kulihat merona.

Ibu-ibu yang tadi berjalan bersamanya adalah madam di kostan dia tinggal, katanya beliau sendirilah yang menawarkan Finha untuk mengantarkan beli Obat, soalnya suami-nya ada keperluan mendadak bersama para pejabat Istana di Mesir.

“anak manja” bisikku menggoda. Finha langsung cemberut.

Duh manisnya.

Obrolan kami berlanjut seputar akdemi, cita-cita, dan masa lalunya beberapa kali senyumnya keluar dari wajah rembulannya di setiap aku memujinya. Namun mama yang dari tadi sedang menerima telpon sesekali memanggil Finha dan aku terpaksa menunggu.

KRINGG!!..Tiba-tiba hape-ku berbunyi. Nama ALTAF terpampang di layar.
“Ram, lw kemana aj?, buru lw kesini selmetin gw, Produser Film itu masih nyari-nyari nih.” Ucap suara yang ada di sebrang sana.

Tanpa sempat pamit kepada Finha yang lagi sibuk dengan telponnya, aku langsung berlari ke KFC menyelamatkan Altaf dari kejaran para Produser Film itu.

Perlu sekitar dua puluh menit untuk mengecoh para Produser Film yang masih jengkel dengan kelakuan kami, sampai akhirnya kami lihat beberapa diantara mereka menyerah.

Akupun kembali berlari ke dalam metro, namun terlambat, kulihat finha dan Mama-nya sudah naik kereta yang akan kembali memisahkan kita. Kulihat ia tersenyum lalu mengucapkan sesuatu.

“assalamu’alaikum”

Wa’alaikumsalam, senang bisa bertemu kamu Finh.

Akupun pulang dengan bibir yang masih menyunggingkan senyuman, Altaf yang baru datang dan melihatku senyum-senyum sendirian heran.

“kenapa lw, senyum-senyum? kesambet setan.?” Tanyanya penasaran.

Aku pun terus berjalan, bersama bayang-bayang Finha yang berhasil kurekam. kira-kira kapan ya aku bisa merekam nama dan nomor telpon-nya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar