My Movements Trip.

Senin, 04 Februari 2013

Fiennha

“emm,, rama kan?” tiba-tiba saja suara merdu itu menyebut namaku, aku yang dari tadi melamun menatap keluar lewat jendela  mobil Autobus dengan penasaran mencari sumber suara itu, ku dapati sesosok wanita yang wajahnya sudah tidak asing bagiku, ia memiliki mata yang indah seperti gemerlapan bintang di malam hari, wajahnya yang terlihat memerah di hadapanku mengingatkanku tentang pesona merah  mentari tatkala tenggelam di ufuk barat, begitu pula senyumnya yang menyerupai potongan rembulan yang menerangi malam membuatku merasa beruntung pernah bertemu dengannya.

Wanita yang duduk disampingku namanya Finha, tidak ada perubahan yang menonjol sejak aku bertemu dengannya pertama kali, dari sikapnya yang selalu berusaha tampil tenang hingga gaya berpakainnya yang tampil menawan. 

*****

Ketika itu, aku sedang melakukan kunjungan mingguan ke Perpustakaan Mahasiswa Indonesia di daerah Rab’ah, aku yang waktu itu terlalu bersemangat mencari buku di setiap rak yang ada tiba-tiba tak sengaja menyenggol dia, ya wanita yang memiliki setengah potongan rembulan di wajahnya itu, sehingga tumpukan buku yang sedang ia bawa di tangannya jatuh berhamburan.

Seketika aku menjadi gugup, dan berusaha langsung memungut buku-buku yang jatuh dari tangannya
“maaf ya dik.” Ucapku penuh sesal setelah menyerahkan buku-buku tersebut.

“emm, iya ngga’ apa-apa ko’ ka’, tadi aku lihat juga kaka’ lagi terburu-buru . aku aja yang kurang waspada pas kaka’ membalikkan badan.”balasnya dengan lembut, tak ada nada menyindir dalam kalimatnya.

Lalu aku lihat, seorang wanita yang baru datang menghampiri kami, aku rasa ia melihat kejadian ini dan ingin cepat menolong namun buku-buku sudah selesai kami susun kembali.

“oh iya mas, kenalin namaku ririn, maafin kelakuan si finha ya mas, dia memang sering gugup kalo ketemu cowok ganteng.” Celoteh wanita yang mengaku namanya ririn itu.

Si finha yang baru aku ketahui namanya itu hanya bisa cemberut ke ririn, lalu sambil pamit meminta izin dariku  untuk kembali melakukan pekerjaannya, mereka pergi meninggalkanku yang masih berdiri kaku di depan rak-rak buku, aku hanya bisa bernapas lega setelah mereka menjauh.

“untung mereka tidak terlalu memperhatikan reaksiku tadi, haduh dasar..siapa tadi namanya.. finha, bahkan cemberutmu bikin gugup jantungku saja” batinku sambil senyum-senyum ke setiap buku yang sedang aku pilih untuk ku jadikan refrensi tugas organisasi.

Akhirnya buku yang kubutuhkan kutemukan, sambil mencari-cari loket penjaga perpustakaan aku membolak-balik isi buku itu, memastikan bahwa data mahasiswa yang ada di buku ini lengkap sehingga aku tak perlu kembali lagi untuk yang kedua kalinya hanya untuk mencari buku refrensi yang sama.

Sesampai di loket peminjaman buku, aku tak sengaja melihat data mahasiswi yang bernama lengkap “fina fini amanda”, yang mengingatkaknu kembali pada peritiwa barusan.

“jangan-jangan ini si Finha yang tadi..” ucapku lirih sambil terus memperhatikan data mahasiswi yang ada ditanganku ini, tanpa foto, alamat, dan nomor telepon, Aku jadi penasaran.

“ada yang bisa dibantu mas?” tiba-tiba saja penjaga loket peminjaman buku di perpustakaan ini bertanya kepadaku, mungkin karena melihat aku berdiri kebingungan di depannya dan sudah ada dua orang yang berdiri di belakakngku menunggu antrian untuk meminjam buku.

“mas, tadi akhwat yang bernama Finha dimana ya?” tanyaku cepat takut membuat gerah antrian yang sudah ada di belakangku ini.

“Akhwat yang memakai jilbab hijau cerah ya?”

“emm, iya”

“oh tadi sudah keluar mas, barusan aja.” Jawab si penjaga sambil menunjukkan jari telunjuknya kea rah pintu keluar.

“oh gitu ya mas, kalo gitu aku minjem buku ini aja deh.” Sambil menyodorkan buku dan catatan kecil bukti peminjaman khusus dan dengan cepat aku keluar dari perpustakaan mengejar Finha yang kurasa sudah jauh meninggalkanku.

*****

Aku sedikit berlari sambil memanggul harapan bisa bertemu dengan Si Finha, entah rasa rindu atau penasaran yang memaksaku agar lekas menghampirinya, namun aku dengan tegas memastikan di hati ini bahwa aku mengejarnya hanya untuk bertanya tentang data kemahasiswaan yang belum lengkap di catatan buku ini, dan membuang jauh-jauh perasaan yang lainnya.

“itu dia.” Ucapku bersemangat tatkala melihat siluet jilbab hijau yang ia kenakan di penghujung jalan.
“Finha, lagi nunggu bus untuk pulang ya?” sapaku sambil bertanya ketika aku sudah sampai tepat di belakangnya.

Finha yang baru menoleh, terlihat kaget tatkala ia melihat wajahku, tersirat sedikit rasa gugup di mukanya, dan Ririn yang berdiri tepat disamping finha ikut menoleh ke arahku.

“eh, kamu.. siapa nama kamu tadi?” Tanya Ririn memecahkan kebisuan setelah melihat Finha yang aku sapa dari tadi terlihat gugup diam seribu bahasa.

“rama.” Ucapku singkat sambil menyembunyikan nafasku yang tersengal-sengal takut ketahuan jika aku mengejar mereka.

“ada apa rama?” Tanya Ririn langsung.

“emm, ini, ada yang ingin saya tanyakan ke Finha.” Jawabku sedikit grogi.

“oh, tuh Finh, ada yang mau ngasih bunga mawar ke kamu.” Goda Ririn pada kami berdua. Lalu ia langsung mengalihkan pandangan ke jalan raya, sembari melihat-lihat kalau ada bis yang mereka tunggu  sudah datang.
Finha yang makin grogi setelah di goda Ririn tiba-tiba langsung berbicara.

“iya nih, lagi nunggu bus untuk pulang.”

Aku seketika terdiam dan Ririn yang sudah menolehkan wajahnya terlihat menyembunyikan tawa di samping Finha. Finha yang dari tadi sudah memerah wajahnya kini makin menunduk, aku yang tidak ingin Finha makin tambah malu langsung menyodorkan buku referensi yang barusan aku pinjam.

 “Finha, kamu mahasiswa baru marhalah 2012 kan? Di data mahasiswa baru ini informasimu belum lengkap jadi..” belum selesai aku menjelaskan tiba-tiba Ririn menarik lengan Finha.

“ayo Finh, bus-nya udah datang. Oh iya rama, sampai jumpa lagi ya.” Ucap Ririn kepada kami berdua seirama dengan langkahnya yang menaiki tangga bus.

Finha yang dari tadi di tarik-tarik oleh Ririn akhirnya ikut naik ke dalam bus, terlihat di wajahnya kebingungan yang sangat dan keinginan untuk mengucapkan sesuatu kepadaku.

Bus mulai jalan perlahan-lahan dan mulai membuat jarak yang sangat lebar antara kami berdua, namun masih terlihat Finha ingin menyampaikan sesuatu kepadaku dengan isyarat gelengan kepalanya yang sampai saat itu tak kumnegerti apa maksudnya.

*****

Kini Finha duduk tepat di sebelahku di atas bus bernomor 65 jurusan Sayyidah ‘Aisyah, aku tidak bisa menyembunyikan keherananku tatkala ia menyapaku, sudah lebih dari dua bulansejak peristiwa itu kita belum pernah bertemu .

“mm, aku bukan fina yang waktu itu kamu maksud lho..” finha mulai menjelaskan kepadaku isyarat gelengan kepalanya waktu perpisahan kami dulu.

Dan aku hanya merespon dengan anggukan kepala, karena sehari setelah kejadian itu, aku langsung meng’crosscheck informasi yang kurang dari buku mahasiswa yang kupinjam tersebut, Dan kenyataan pahit yang kutemukan adalah foto dari nama yang terlampir bukanlah Finha yang kini duduk di sebelahku. 

“aku dulunya sekolah di pondok gontor, jawa timur. Dan sekarang Alhamdulillah sudah tingkat tiga, oh iya aku minta doa’nya ya semoga aku bisa cepat selesai.” Ungkap Finha panjang lebar.

Aku mengamininya dan dia juga berterima kasih atas do’aku, aku juga menjelaskan keselahanku tentang siapa fina yang ada di buku waktu itu, dia hanya bisa tertawa kecil setelah mendengar penjelasan dariku.
Seketika suasana sedikit mencair saat aku mendengar tawa kecilnya, obrolanpun berlanjut seputar kita, hingga ia bertanya tentang kuliahku, aku pun menjawab dengan malu-malu, sadar bahwa aku masih adik kelasnya.

“wah, aku baru tingkat dua finh, tadinya aku kira kamu yang jadi adik kelasku..”

“ahaha... aku juga kira kamu kaka’ kelas aku lho.” Komentar Finha.

“eh, rupanya kita ini saudara ya..” lanjut Finha “sama-sama dari nabi adam.”

“ahaha, iyalah finh, satu saudara yang diikat dengan tali ukhuwah juga.” Balasku.

“wah, jawaban anda tepat sekali, mau dikasih hadiah apa nih?” yang tadinya hanya bercanda kini Finha mulai menawarkan hadiah.

Sebenarnya dari tadi aku memperhatikan finha, tatkala ia menunduk, menoleh, bahkan saat tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan jilbab. Juga ketika wajahnya yang kian memerah setiap kali mata kami saling bertatapan membuat hatiku terombang-ambing tidak karuan.

Dan saat ia menawarkan hadiahnya kepadaku sebenarnya aku ingin memintanya menyimak sajak-sajak cinta yang tiba-tiba saja tercipta setiap kali aku memandangi senyumnya.

“bener nih ada hadiahnya?, kalo gitu aku minta senyum ananda aja deh.. “ pintaku

Tiba-tiba terdengar suara dengkuran keras dari bangku depanku, ternyata ada seorang kakek berkebangsaan mesir sedang tidur dengan nyenyaknya di tengah hari begini, aku dan finha pun tergelak, geleng-geleng tidak habis pikir tentang kelakuan kakek ini.

Mata kamipun tiba-tiba saling bertatapan, lalu kami terdiam dan saling memalingkan wajah. Suasana kembali hening, hanya bunyi klakson mobil di sekitar kami yang terdengar.

 Finha mengeluarkan secarika kertas dan pulpen, lalu menggambar emotikon senyuman sebanyak tiga kali lalu menyerahkannya padaku.

“ini hadiahmu yang tadi, aku tambah 3x lipat.” Ucap Finha sambil menyerahkan kertas yang sudah ia gambar.
Ia masih memalingkan wajahnya dariku, begitu pula aku ketika menerima hadiah darinya, namun aku merasakan getaran-getaran halus di ujung kertas yang ia serahkan padaku.

Kami masih saling memalingkan wajah,aku menatap keluar jendela sedangkan ia menunduk sibuk memperhatikan catatan-catatannya yang sempat ia keluarkan untuk menggambar emotikon senyum yang ia buat untukku.

Bus sudah melewati kuliyah Al-Azhar yang terletak di daerah Hay Sadis, seketika aku tersadar, bahwa pemberhentianku sebentar lagi dan aku juga sadar bahwa mungkin ini akan menjadi perpisahanku dengan Finha yang entah kapan lagi aku bisa bertemu dengannya.

Aku pun meminta izin pada Finha untk keluar dari tempat dudukku, Finha terlihat kaget dengan permintaanku namun ia tetap memberikan jalan untukku tanpa banyak bertanya dan setelah aku bisa berdiri di tengah koridor bus, aku menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa memang dari tadi tidak ada mahasiswa Indonesia di dalam bus ini yang memperhatikan kami sehingga aku bisa leluasa mengucapkan sesuatu kepada Finha.

“finh.. aku turun duluan ya, aku ada janji dengan temanku di ma’rad. Oh iya, karena entah kapan lagi kita bisa bertemu..” aku berhenti untuk mendramatisir suasana “ aku punya kata-kata mutiara untukmu.”

“apa?”

“ Cinta itu rahasia Allah, misteri bagi semua hamba-Nya..”  ucapku sambil nyengir menahan malu yang tak kepalang.

Finha yang mendengar kata-kataku terlihat shock dan langsung berkomentar.

“kayaknya habis dari ma’rad kamu harus periksa ke dokter cinta deh..”

“kenapa?” tanyaku.

“soalnya kamu kaya ada gejala kena virus merah jambu gitu, habisnya ngomong ke aku tentang cinta-cintaan sih..hihi..” jawabnya sambil tertawa kecil.

Aku hanya bisa geleng-geleng mendengar komentarnya.

“oke, silahkan jalan, hati-hati ya, kapan-kapan disambung lagi” sambung Finha.

“InsyaAllah Finh, apa sih yang engga’ untuk mendapatkan hadiah senyummu lagi..?” godaku.

Tiba-tiba Finha kembali menggambar emotikon cinta di buku catatannya.

“nih, bonus untuk kamu Rama, gratis..” ucap Finha sambil menyerahkan gambarnya kepadaku. Kembali kurasakan getaran halus di ujung kertas yang ia berikan.

Di moment-moment terakhir itu kami saling membalas senyum, dan tiba-tiba mobil berhenti di bawah jembatan yang menandakan perpisahanku dengannya, tanpa nama lengkap, tanpa alamat rumah, dan tanpa nomor telpon. Yang bagiku tak ada cara untuk mempertemukanku dengan dirinya melainkan takdir tuhan. Aku pun turun dari bus yang memisahkan aku dengannya.

Bahkan di tengah kencangnya angin musim dingin di siang itu, aku tak takut untuk membuka mataku selebar-lebarnya untuk memperhatikan kepergian bus yang membawa Finha pergi dari sisiku tanpa takut kelilipan debu-debu yang ada di sekitar jembatan, karena aku sadar, bahwa mata ini kini sudah buta oleh kilauan cinta yang menerpaku sejak aku duduk berdua dengannya.

Tanpa sadar aku sudah berdiri setengah jam di tempat itu, memperhatikan jalan yang dilewati bus yang tadi aku naiki bersama Finha. Dan setelah memastikan bahwa gambar yang ia serahkan kepadaku memang benar-benar nyata, kini aku kembali menunggu takdir yang akan mempertemukanku dengannya lagi.


Malam di QosrEl-Chok, EmpatFebruari2013.
Cerpen pertamaku sejak tantangan satu tahun yang lalu... :)) ahha. selamat menikmati.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar