Malam kawan, hari
ini saya sudah mulai merasakan detak-detak kehidupan dalam aktivitas harianku,
setelah sekian minggu terlena dengan suasana liburan yang entah bagaimana saya
bisa menggambarkannya; begadang sampai shubuh, jadwal makan berantakan dan
terkadang saya hanya makan beberapa kotak ruz bil laban saja, sering melamun,
dan masih banyak hal ngga’ jelas yang saya lakukan selama melewati masa-masa
liburan ini.
Mungkin bisa
disebut dengan ‘terlalu kaget’, yah, setelah sekitar dua bulan saya bergrilya
membaca buku diktat kuliah, menerjemahkanya, dan ikut bimbingan belajar lalu
merangkum, menghafal juga mengejar setoran al-qur’an lima kali dalam seminggu;
yang dimana saya lakukan semua itu dengan benar-benar memaksa batas kemampuan
dan keinginan saya. Dan Alhamdulillah, saya masih bisa menjalaninya walau
sering bolong-bolong.. ahahaha
dan ketika ujian
telah usai, saya mendapati suasana dimana badan saya bisa rehat seharian penuh,
karena hitungan waktu masih menyisakan lima bulan lagi untuk memulai ujian
termin dua di kuliah Al-Azhar ini.
setelah
menghadapi gempuran-gempuran soal ujian ketika itu, niat awal memang hanya
ingin mengambil rehat dua sampai tiga hari untuk kembali ke kondisi prima;
kembali memulai setoran al-qur’an dan menyibukkan diri dengan buku bacaan.
Namun apa daya, rupanya akal sehat saya dua minggu belakang ini jeblok, otak
saya terlalu alergi dengan aktivitas-aktivitas yang berorientasi berfikir jauh
kedepan, tubuh saya hanya ingin ingin tidur, duduk, keluyuran, main ps dan
begadang.
Dan yang paling
saya syukuri adalah saya memiliki teman-teman yang bisa menerima saya dalam
kondisi saya kala itu.
Februari dan tahun dua ribu tiga belas.
Saya ingin
menyebut awal februari ini dengan tahun baru dua ribu tiga belasku, karena di
awal februari ini saya baru kembali menemukan semangat yang sempat menghilang
dalam kabut-kabut kemalasan pasca liburan datang.
Secara teori
memang saat ujian termin satu berlangsung (selesai tanggal 14 januari 2013),
tahun dua ribu tiga belas ini sudah masuk hitungan kalender yang baru, tapi
kala itu suasana imtihan masih mengatakan bahwa “hari ini masih dalam tahun
2012.”,
dan begitulah
saya mengatakan pada diri saya sendiri, bahwa tahun baru yang saya miliki
adalah ketika saya kembali menemukan semangat baru untuk terus berkembang ke
arah yang lebih mengharu biru.
Ujian termin
satu, semester tiga di Al-Azhar bagiku hanyalah salah satu fase tahunan yang
sudah kumulai sejak bulan oktober yang lalu, dan tidak lain adalah satu dari
sekian banyak fase yang telah kulewati. Termasuk fase yang telah kumulai ini,
telah menjadi tahapan yang nyata yang harus aku jalani, mungkin aku akan
menatap fase-fase yang telah kulewati namun itu sudah bukan pikiranku lagi,
begitu pula fase yang akan kuhadapi nanti.
Dan fase februari
di tahun 2013 ini adalah sebuah tahapan yang nyata, tahapan yang akan kujalani
hingga akhir bulan juli mendatang, entah tulisan apa yang akan ku tulis dalam
kertas putih di tahapan ini; namun yang pastinya, harapan-harapan akan sebuah
tinta kebiakanlah yang ingin ku ulas, ku coret, dan ku gambar di dalamnya
hingga Allah ridho aku menjadi hambaNya dan memasuki janah-Nya.
Cinta dan perjuangan
Rasanya tak
afdhol bagi saya jika tidak menulis tentang sajak-sajak romantika yang ‘katanya’
tiada ujungnya ini, berbicara tentang hidup selalu terasa hampa jika cinta
tidak menghiasi di setiap dimensi langkahnya.
Anggap saja malam
tanpa bulan, atau pagi tanpa sapaan sang mentari, begitu hambar dan terasa
hampa jika cinta tak mengiringi kehidupan kita, kata-kata menjadi kaku, dan
mulut menjadi kelu, dan selalu begitu.
Mozaik cinta yang
selama ini mendampingi wajah yang selalu menyimpan duka dan nestapa, kini
kembali mencari; letak kotak Pandora yang menyimpan jawaban tentang tragedy
cinta sang pujangga.
Ia berkelana dari
satu negri ke negri yang lainya berharap tentang kabar kedatangan kekasihnya di
negeri yang ia tapaki, namun nihil, tiupan-tiupan angin hanya mengantarkan
debu-debu yang kian lama kian menumpuk di dahi dan saku sang pujangga,
menahannya untuk kembali pergi alih-alih hanya berdiri atau berjalan mencari
informasi untuk kembali.
Ia tertahan dan
tak bisa kembali, dipaksa menikmati dunianya yang baru, dibalik tumpukan
permata dan permadani yang menggunung dan hujan berlian yang tiada
henti-hentinya bisa ia simpan dalam saku celana dan bajunya. Namun tidak di
dalam hatinya, yang konon katanya,
Tuhan telah sengaja memberikan ruang untuk sang kekasih yang selama ini ia
nantikan kehadirannya.
Dan kini yang bisa ia lakukan hanya berjuang, berjuang
dan berjuang menimbun harta dan permata-permata itu sembari menunggu waktu yang
tepat untuk bertemu dengan sang kekasih yang selama ini Tuhan janjikan padanya.
DuaFebruari2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar