Saya masih belum bisa mendefiniskan apa itu bahagia. Hari
ini diajak untuk meramaikan acara komunitas tim bola favorit, saya merasa
bahagia. Kemarin mendapat hadiah dari kawan, saya pun bahagia. Ah, tiga hari
makan-makan, hanya senyuman kawan yang membuat hati ini senang, bukan gulai
daging ataupun rendang.
Bahagia itu terkait perasaan. Saya pernah mencatat sebuah
nasihat,
“Tak seorang pun
dapat menyakiti anda, tanpa persetujuan anda.”
Nasihat tersebut jika menggunakan kaidah Mafhum Muwafaqoh
akan berbunyi, “Kebahagiaan dan rasa sedih bisa anda ciptakan sebagaimana
yang anda inginkan.” Hal ini terlalu Negeri Dongeng sekali
menurutku, walau sebagian dari kita bisa melakukannya.
Dan seandainya berada di negeri dongeng, di mana perasaan
bisa kuatur dengan sendirinya, maka aku akan memilih melupakanmu. Namun nyatanya
hal itu tidak mungkin terjadi, hingga ada istilah “Menerima taqdir Tuhan.”
Mari kita perinci sedikit. Rasa suka itu di bagi dua, yang
datang dengan sendirinya dan satu lagi datang karena usaha yang kita lakukan.
Maka tak salah jika sebuah majas mengatakan, “Cinta tulus
itu, adalah cinta seorang ibu kepada buah hatinya.” Karena datang tanpa alasan.
Bahkan setelah melalui proses yang menyakitkan, bukan benci kepada si bayi,
tapi rasa suka dan keinginan untuk merawatlah yang muncul dari sang ibu. Hingga
aku bertanya-tanya, Apa rasa suka yang kurasakan kepadamu seperti contoh yang
pertama?
Atau yang kedua, seperti seorang pekerja yang membiasakan suatu
aktivitas hingga menjadi nafas kehidupan. Tak bisa lagi ia berpisah, lalu
menjadi sebuah karakter yang ia bahagia dengannya.
…
Bagaimanapun juga, definisi “Menerima Taqdir Tuhan” yang
kubuat, hanyalah sebuah manifestasi dari rasa gugupku menerima kebahagiaan ini.
Kebahagiaan? Ya, bukankah semua orang mengatakan bahwa rasa suka itu anugrah?
Lalu bagaimana dengan rasa sedih, terpuruk, dan berbagai
perasaan negative lainnya. Lagi-lagi aku ingin kembali menukil nasihat yang
kutulis di awal curhatan ini,
“Tak seorang pun
dapat menyakiti anda, tanpa persetujuan anda.”
Kali ini aku setuju, karena teringat sebuah hadits Nabi..
لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا
“Janganlah
kalian saling dengki, saling menipu, dan saling marah…”
U know what I mean? Yup, perasaan
itu masih bisa diatur, meski ia muncul tiba-tiba tanpa sepengetahuan kita. Namun
dalam tulisan ini, aku hanya ingin mengeluh tentang sebuah rasa, yang mana
tidur tak bisa dan lapar pun tak pernah tiba. Hingga aku mengira, apa ini
termasuk rasa bahagia?
*Maksudnya nggak bisa makan dan
nggak bisa tidur gara-gara banyak mikirin kamu.







