Satu tahun berlalu sejak aku tinggal di perkampungan yang jauh
dari lokasi kampus. Suka dan dukanya kulalui, kadang dengan kepalan tangan ataupun
segumpal senyuman. Yah, beginilah hidup, Kita tidak bisa menghindari masalah
sehari-hari dengan bertukar kawan ataupun tempat tinggal. Meski beragam, akar
masalah biasanya berasal dari diri kita masing-masing.
Sebagai mahasiswa yang jauh dari kampus, aku terbiasa
berurusan dengan Bus Kota. Dua musim berbeda, panas dan dingin, membuat
kebiasaan berangkat kuliyah juga berbeda.
Setengah tahun pertama, aku masih bisa melakukan sarapan di
rumah sebelum mengejar bus. Namun ketika musim berganti pada bagian kedua, aku
mulai membiasakan diri dengan sarapan pagi khas warga pribumi. Ah, lupakan soal
cita-rasa, yang terpenting saat itu adalah perut terisi.
Sepersekian Detik
Entah mengapa kata-kata itu menjadi motivasi bagiku setiap
kali mengejar bus. Ada tiga bus yang melewati kampus di antara jam enam hingga
tujuh pagi. Pastinya aku mengejar bus yang datang lebih awal, karena 45 menit
perjalanan menuju kampus bisa kugunakan untuk merehatkan tubuh di kursi
penumpang. Berbeda jika terlambat dan mendapatkan bus-bus sisa yang sudah penuh,
yang akhirnya harus ikhlas berdiri berdesak-desakan.
Jarak rumah yang sedikit jauh dari jalan raya membuatku
sering lari tergopoh-gopoh selesai dari sarapan. Setiap kali sampai di jalan
raya dan melihat bus lewat di depan mata tanpa bisa lagi dikejar, maka spontan
aku akan bergumam kecil,
“Ah, hanya sepersekian detik.”
Esoknya aku berusaha datang lebih awal sekitar sepuluh atau
lima menit. Namun inilah mesir, tak ada jadwal pasti untuk bus-bus kapan
berangkat dan berhenti. Akhirnya di tengah kepungan cuaca dingin aku menunggu
lima belas sampai dua puluh menit, entah untuk bus pertama atau kedua. Namun yang pasti, jam tujuh adalah jadwal bus
ketiga.
Bus pun datang. Tak tanggung-tanggung, dua bus yang kutunggu
itu datang bersamaan. Untuk saat itu aku hanya bisa tersenyum kecut, betapa
ketidakteraturan ini harus dialami oleh banyak mahasiswa yang akhirnya menjadi
malas untuk berangkat ke kuliyah.
Meski sudah di tahun terakhir kuliyah, saat itu adalah tahun
pertamaku tinggal jauh dari kampus dan semangat mengejar bus masih seperti
mahasiswa baru. Walau sedikitnya tiga
kali seminggu aku berucap “Hanya sepersekian detik” kepada bus-bus itu, bukan
berarti itu adalah sebuah penyesalan dari pikiran negatif.
Tidak, itu tidak lain adalah tantangan yang kuungkapkan
untuk memotovasi diri. Memotivasi jiwa yang harus sabar dengan segala kekacauan
yang ada. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas mahasiswa kota yang kuliyah di
universitas (yang katanya) tertua sedunia.
Toh, akhirnya aku sekarang lulus dengan nilai yang “Hanya
sepersekian detik” dari pilihan nilai yang bisa kuraih. Yang sampai akhirnya
aku mulai berpikir, “Kegagalan dan kesuksesan kita di masa depan hanyalah
sepersekian detik dari waktu yang kita luangkan.”
Dan bodohnya aku baru mulai berfikir, “Apa yang sudah kupersiapkan
untuk bus jemputan menuju akhirat sana?”
Hanya sepersekian detik dari ikrar syahadat yang kita ucap
di akhir hayat kita, karena “ajal” tidak bisa ditangguhkan maupun dimajukan.
Semoga kite semua dikaruniai Husnul Khotimah, kelak. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar