My Movements Trip.

Rabu, 09 September 2015

Hanya Sepersekian Detik

Satu tahun berlalu sejak aku tinggal di perkampungan yang jauh dari lokasi kampus. Suka dan dukanya kulalui, kadang dengan kepalan tangan ataupun segumpal senyuman. Yah, beginilah hidup,  Kita tidak bisa menghindari masalah sehari-hari dengan bertukar kawan ataupun tempat tinggal. Meski beragam, akar masalah biasanya berasal dari diri kita masing-masing.

Sebagai mahasiswa yang jauh dari kampus, aku terbiasa berurusan dengan Bus Kota. Dua musim berbeda, panas dan dingin, membuat kebiasaan berangkat kuliyah juga berbeda.

Setengah tahun pertama, aku masih bisa melakukan sarapan di rumah sebelum mengejar bus. Namun ketika musim berganti pada bagian kedua, aku mulai membiasakan diri dengan sarapan pagi khas warga pribumi. Ah, lupakan soal cita-rasa, yang terpenting saat itu adalah perut terisi.

Sepersekian Detik

Entah mengapa kata-kata itu menjadi motivasi bagiku setiap kali mengejar bus. Ada tiga bus yang melewati kampus di antara jam enam hingga tujuh pagi. Pastinya aku mengejar bus yang datang lebih awal, karena 45 menit perjalanan menuju kampus bisa kugunakan untuk merehatkan tubuh di kursi penumpang. Berbeda jika terlambat dan mendapatkan bus-bus sisa yang sudah penuh, yang akhirnya harus ikhlas berdiri berdesak-desakan.

Jarak rumah yang sedikit jauh dari jalan raya membuatku sering lari tergopoh-gopoh selesai dari sarapan. Setiap kali sampai di jalan raya dan melihat bus lewat di depan mata tanpa bisa lagi dikejar, maka spontan aku akan bergumam kecil,

“Ah, hanya sepersekian detik.”

Esoknya aku berusaha datang lebih awal sekitar sepuluh atau lima menit. Namun inilah mesir, tak ada jadwal pasti untuk bus-bus kapan berangkat dan berhenti. Akhirnya di tengah kepungan cuaca dingin aku menunggu lima belas sampai dua puluh menit, entah untuk bus pertama atau kedua. Namun  yang pasti, jam tujuh adalah jadwal bus ketiga.

Bus pun datang. Tak tanggung-tanggung, dua bus yang kutunggu itu datang bersamaan. Untuk saat itu aku hanya bisa tersenyum kecut, betapa ketidakteraturan ini harus dialami oleh banyak mahasiswa yang akhirnya menjadi malas untuk berangkat ke kuliyah.

Meski sudah di tahun terakhir kuliyah, saat itu adalah tahun pertamaku tinggal jauh dari kampus dan semangat mengejar bus masih seperti mahasiswa baru. Walau  sedikitnya tiga kali seminggu aku berucap “Hanya sepersekian detik” kepada bus-bus itu, bukan berarti itu adalah sebuah penyesalan dari pikiran negatif.

Tidak, itu tidak lain adalah tantangan yang kuungkapkan untuk memotovasi diri. Memotivasi jiwa yang harus sabar dengan segala kekacauan yang ada. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas mahasiswa kota yang kuliyah di universitas (yang katanya) tertua sedunia.

Toh, akhirnya aku sekarang lulus dengan nilai yang “Hanya sepersekian detik” dari pilihan nilai yang bisa kuraih. Yang sampai akhirnya aku mulai berpikir, “Kegagalan dan kesuksesan kita di masa depan hanyalah sepersekian detik dari waktu yang kita luangkan.”

Dan bodohnya aku baru mulai berfikir, “Apa yang sudah kupersiapkan untuk bus jemputan menuju akhirat sana?”

Hanya sepersekian detik dari ikrar syahadat yang kita ucap di akhir hayat kita, karena “ajal” tidak bisa ditangguhkan maupun dimajukan.

Semoga kite semua dikaruniai Husnul Khotimah, kelak. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar