My Movements Trip.

Kamis, 03 September 2015

Karakterku yang Pencemberu(t)

Memikirkannya makin membuat hati ini berdebar-debar, aku terlalu cemburu  dengan progres yang mereka capai. Di antara mereka ada yang peduli dengan lingkungan sekitar, namun tahfidz tetap berjalan seolah rasa malas bukanlah penghalang. Terlebih kebiasaan qiyamullail yang membuatku sering bertanya-tanya, “bagaimana bisa ia tidur tepat waktu, dan bangun di malam sesuntuk itu? Sedang aku disibukkan dengan tuts-tuts gamepad-ku.”

Jangankan malam, pagi ketika matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya mereka sudah siap dengan ransel yang terpikul di atas punggung; Mengejar kelas-kelas ilmu di pojok kota Kairo, tatkala aku asik terkapar di bawah kipas langit kamar.

Hal-hal itu membuatku frustasi. Setiap detik berlalu, maka kemajuan mereka perlahan jauh meninggalkanku. Alih-alih ingin menjadi nomor satu, tak ketinggalan kereta saja mungkin sudah membuatku mabuk bahagia.

Karakter.
Aku bertanya di mana letak kesalahanku. Maka kujawab, “Karakter.”

Sudah satu tahun lamanya aku memikirkan jawaban ini, dan sungguh malang nasibku baru menyadari di penghujung umur yang ke Dua Puluh Dua. Namun setidaknya terjawablah pertanyaan-pertanyaan lain setelah satu jawaban ini diterima oleh akalku..

“Bagaimana generasi setelahku mampu melampauiku, bahkan generasi-generasi sebelumku?”

Disiplin, kerja keras, dan kerja efektif.

Kok bisa mereka bisa begitu cepat dewasa (dan menyebalkan)?”

Sabar, Ikhlas dan berjiwa besar.

“Mengapa mereka tidak peduli dengan game, film, dan segala hiburan yang biasa anak seumuranku nikmati?”

Berani mengambil tantangan dan bertanggung jawab.

Lalu ada yang bertanya, “Siapa John Wick?”

“Pria yang focus, berkomitmen, dan berkemauan keras. Di mana kamu hanya mengetahui sedikit hal dari sifat-sifat itu.” Jawab seorang pria berambut perak yang tiba-tiba saja muncul dilayar laptopku.

Oke, dua paragraf terakhir murni dialog dari sebuah film yang sedang kutonton saat menulis catatan ini.

******

Yah, karakter. Sudah dua puluh tahun lebih aku terbiasa dengan segala bentuk kesenangan. Menolak tantangan dan menghindari tanggung jawab. Menjadi pemberontak, egois, dan menuruti rasa penasaran yang tak beralasan. Kini semua itu membentuk sebuah karakter yang tak aku mengerti hingga saat ini? Lucu membicarakan masa depan secerah mentari pagi musim semi dengan karakter serampangan yang kumiliki.

Aku tinggal di sekitar orang-orang yang bangun menggenggam buku dan tidur memeluk buku. Namun aku hanya bisa cemberu(t), bercermin kepada diriku yang masih saja tidur di tengah jalur pacuan kuda.

Ah, masih saja wajah ini cemberut melihat aktivitasmu yang seolah-olah berkata, “Hai anak kecil, duduk yang tenang dan perhatikan pertunjukan ini. Karena akulah tokoh utamanya.”

Entah kau yang begitu sombong atau aku yang terlalu cemburu, sampai saat ini belum kuputuskan jawabannya.



Aku juga heran dengan kebiasaanku :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar