Memikirkannya makin membuat hati ini berdebar-debar, aku
terlalu cemburu dengan progres yang
mereka capai. Di antara mereka ada yang peduli dengan lingkungan sekitar, namun
tahfidz tetap berjalan seolah rasa malas bukanlah penghalang. Terlebih kebiasaan
qiyamullail yang membuatku sering bertanya-tanya, “bagaimana bisa ia tidur
tepat waktu, dan bangun di malam sesuntuk itu? Sedang aku disibukkan dengan
tuts-tuts gamepad-ku.”
Jangankan malam, pagi ketika matahari masih malu-malu
menampakkan sinarnya mereka sudah siap dengan ransel yang terpikul di atas
punggung; Mengejar kelas-kelas ilmu di pojok kota Kairo, tatkala aku asik terkapar
di bawah kipas langit kamar.
Hal-hal itu membuatku frustasi. Setiap detik berlalu, maka
kemajuan mereka perlahan jauh meninggalkanku. Alih-alih ingin menjadi nomor
satu, tak ketinggalan kereta saja mungkin sudah membuatku mabuk bahagia.
Karakter.
Aku bertanya di mana letak kesalahanku. Maka kujawab, “Karakter.”
Sudah satu tahun lamanya aku memikirkan jawaban ini, dan sungguh
malang nasibku baru menyadari di
penghujung umur yang ke Dua Puluh Dua. Namun setidaknya terjawablah
pertanyaan-pertanyaan lain setelah satu jawaban ini diterima oleh akalku..
“Bagaimana generasi setelahku mampu melampauiku, bahkan
generasi-generasi sebelumku?”
Disiplin, kerja keras, dan kerja efektif.
“Kok bisa mereka bisa begitu cepat dewasa (dan
menyebalkan)?”
Sabar, Ikhlas dan berjiwa besar.
“Mengapa mereka tidak peduli dengan game, film, dan segala
hiburan yang biasa anak seumuranku nikmati?”
Berani mengambil tantangan dan bertanggung jawab.
Lalu ada yang bertanya, “Siapa John Wick?”
“Pria yang focus, berkomitmen, dan berkemauan keras. Di mana
kamu hanya mengetahui sedikit hal dari sifat-sifat itu.” Jawab seorang pria
berambut perak yang tiba-tiba saja muncul dilayar laptopku.
Oke, dua paragraf terakhir murni dialog dari sebuah film
yang sedang kutonton saat menulis catatan ini.
******
Yah, karakter. Sudah dua puluh tahun lebih aku terbiasa
dengan segala bentuk kesenangan. Menolak tantangan dan menghindari tanggung
jawab. Menjadi pemberontak, egois, dan menuruti rasa penasaran yang tak
beralasan. Kini semua itu membentuk sebuah karakter yang tak aku mengerti
hingga saat ini? Lucu membicarakan masa depan secerah mentari pagi musim semi
dengan karakter serampangan yang kumiliki.
Aku tinggal di sekitar orang-orang yang bangun menggenggam
buku dan tidur memeluk buku. Namun aku hanya bisa cemberu(t), bercermin kepada
diriku yang masih saja tidur di tengah jalur pacuan kuda.
Ah, masih saja wajah ini cemberut melihat aktivitasmu yang
seolah-olah berkata, “Hai anak kecil, duduk yang tenang dan perhatikan
pertunjukan ini. Karena akulah tokoh utamanya.”
Entah kau yang begitu sombong atau aku yang terlalu cemburu,
sampai saat ini belum kuputuskan jawabannya.
Aku juga heran dengan kebiasaanku :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar