Poster masjid yang tertempel di langit-langit kamar beberapa
hari lalu, ikut mengisi adukan rasa galau dalam dada. Betapa tidak, aktivitas bulan
ini membuat tanganku ingin memukul sesuatu. Ah, lupakan sedikit emosi, toh
permasalahan ini bersifat pribadi.
“Tenang bagai lautan.” Batinku, sembari mengingat pantai
sewaktu liburan dulu.
Namun payah, setiap terbayang denturan ombak, emosiku makin
meluap-luap. Ingin rasanya kumenerjang sesuatu. Menghempaskannya. Lalu merangkulnya.
Dan menghempaskannya lagi. Absurd, saya pun bertanya-tanya, dari mana
amarah ini berasal?
Al-Aqsha. Sebuah poster masjid seukuran meja belajar terpasang
tepat di atas ranjang tidur. Semakin diperhatikan, rasa keterasingan semakin
menumpuk di kedua bola mata. Entah bagaimana cara menghilangkan gumpalan rasa
kecewa, hina, dan malu yang kini berbentuk Kristal bening yang seketika
membasahi wajah.
Kehinaan itu mulai mengotori mukaku yang sembab dengan isak
tangis. Di atas kasur empuk dan hembusan kipas, tanpa hingar-bingar letusan
peluru maupun ledakan granat, tubuhku tergolek dengan perut terisi penuh biskuit
coklat.
Ah, Al-Aqsha. Lagi-lagi aku hany bisa menangisimu di malam
hari. Yang pada esok aku akan sibuk mencari makan, dan melacurkan mulut ini
bersama kawan-kawan. Kembali diingat, lalu dilupakan.
Kejam sekali diriku.
Dan nyatanya, sasaran kemarahan itu adalah aktivitas nonsense,
tanpa pernah mempedulikanmu.
Tolong,
maafkan aku yang hanya bisa menyalahkan ini dan itu, tanpa berusaha mencoba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar