My Movements Trip.

Selasa, 29 September 2015

Mengobral Rasa

Saya masih belum bisa mendefiniskan apa itu bahagia. Hari ini diajak untuk meramaikan acara komunitas tim bola favorit, saya merasa bahagia. Kemarin mendapat hadiah dari kawan, saya pun bahagia. Ah, tiga hari makan-makan, hanya senyuman kawan yang membuat hati ini senang, bukan gulai daging ataupun rendang.

Bahagia itu terkait perasaan. Saya pernah mencatat sebuah nasihat,


Tak seorang pun dapat menyakiti anda, tanpa persetujuan anda.

Nasihat tersebut jika menggunakan kaidah Mafhum Muwafaqoh akan berbunyi, “Kebahagiaan dan rasa sedih bisa anda ciptakan sebagaimana yang anda inginkan.” Hal ini terlalu Negeri Dongeng sekali menurutku, walau sebagian dari kita bisa melakukannya.

Dan seandainya berada di negeri dongeng, di mana perasaan bisa kuatur dengan sendirinya, maka aku akan memilih melupakanmu. Namun nyatanya hal itu tidak mungkin terjadi, hingga ada istilah “Menerima taqdir Tuhan.”

Mari kita perinci sedikit. Rasa suka itu di bagi dua, yang datang dengan sendirinya dan satu lagi datang karena usaha yang kita lakukan.

Maka tak salah jika sebuah majas mengatakan, “Cinta tulus itu, adalah cinta seorang ibu kepada buah hatinya.” Karena datang tanpa alasan. Bahkan setelah melalui proses yang menyakitkan, bukan benci kepada si bayi, tapi rasa suka dan keinginan untuk merawatlah yang muncul dari sang ibu. Hingga aku bertanya-tanya, Apa rasa suka yang kurasakan kepadamu seperti contoh yang pertama?

Atau yang kedua, seperti seorang pekerja yang membiasakan suatu aktivitas hingga menjadi nafas kehidupan. Tak bisa lagi ia berpisah, lalu menjadi sebuah karakter yang ia bahagia dengannya.


Bagaimanapun juga, definisi “Menerima Taqdir Tuhan” yang kubuat, hanyalah sebuah manifestasi dari rasa gugupku menerima kebahagiaan ini. Kebahagiaan? Ya, bukankah semua orang mengatakan bahwa rasa suka itu anugrah?

Lalu bagaimana dengan rasa sedih, terpuruk, dan berbagai perasaan negative lainnya. Lagi-lagi aku ingin kembali menukil nasihat yang kutulis di awal curhatan ini,

Tak seorang pun dapat menyakiti anda, tanpa persetujuan anda.

Kali ini aku setuju, karena teringat sebuah hadits Nabi..

لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا
“Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, dan saling marah…”

U know what I mean? Yup, perasaan itu masih bisa diatur, meski ia muncul tiba-tiba tanpa sepengetahuan kita. Namun dalam tulisan ini, aku hanya ingin mengeluh tentang sebuah rasa, yang mana tidur tak bisa dan lapar pun tak pernah tiba. Hingga aku mengira, apa ini termasuk rasa bahagia?

*Maksudnya nggak bisa makan dan nggak bisa tidur gara-gara banyak mikirin kamu.

#Curhat_pun_selesai



Tidak ada komentar:

Posting Komentar