Nggak tau udah berapa penolakan yang gw lempar. Sedikit banyaknya mempengaruhi mental yang udah mulai ngawur
memilih konsentrasi. Awalnya fokus gw jelas tahun ini: pendalaman materi
kuliyah yang dulu sempat gw hafal tanpa memahami isinya.
Tapi entah kenapa, target itu makin lama perlahan memudar. Mata
yang hanya lima watt di depan buku, seketika terbuka lebar saat ngobrolin film
holywood. Badan yang remuk-redam saat jadwal tela’ah kitab, tiba-tiba bersemangat
kalau ada rapat sama si doi. Ngetik obrolan di watsap nggak ada abisnya,
tapi langsung abis saat azan Subuh berkumandang.
Keran keilmuan benar-benar mampet. Setiap gw ngelirik
layar televisi di ruang belajar, siaran Al-Jazeera mengisi gendang telinga dengan
berita Suria, Palestina, Iraq, dan permasalahn dunia Islam lainnya. Tapi otak
kosong informasi, kenapa permasalahan ini belum juga ditemukan solusinya? Ah,
aku coba kembali ke buku yang belum juga kubuka sejak masuk ruangan itu.
Gw mulai menolak, karena harus fokus.
Sebagaiman cahaya Allah tak akan diberikan kepada pelaku
maksiat, begitu pula saya harus menerima sunnah Tuhan yang satu ini. Sangat wajar
ketika kita menyukai seseorang, bayangan wajahnya akan terus muncul
berulang-ulang. Alih-alih ingin melupakan dengan memejamkan mata, ia malah
terpampang jelas. Bahkan senyumnya membuat dada sakit. Kenapa aku tidak bisa
memilikinya? Dan itu menjadi pertanyaan yang harus kuhindari beberapa waktu
ini.
Sakit. Dan ini benar-benar sakit. Termasuk saat kawan yang
kita percaya, meninggalkan kita di depan mata. Meski benar-benar memukul, tapi
kebencian bukan pilihan untuk saat ini. Setidaknya jangan biarkan syaitan
tertawa puas dengan permusuhan yang coba ia tanam. Kecewa? Pasti. Tapi rasa
kepercayaan harus tetap dijaga, toh kita masih dalam satu wadah yang sama. Kepentingan
jama’ah lebih utama daripada perasaan pribadi.
Kedua perasaan yang berusaha kutolak ini, sedikit-banyaknya
menjadi buah bibir pikiran setiap mulai merebahkan tubuh, ataupun membuka buku.
Gw cuma tersenyum kecut jika si doi muncul di antara kalimat arab gundul,
yang lagi-lagi berakhir dengan penolakan.
“Hush.. hush.. pergilah kamu.”
Namun saya sadar, penolakan akan menghasilkan efek negatif bagi
mental. Akhirany, jika penolakan yang gw lakukan udah terlalu
berlebihan. Gw coba cuek. Kalau masih belum bisa.. akhirnya gw
terima pelan-pelan, sambil mengadu kepada Tuhan. Bukankah Ia sebaik-baik tempat
mengadu?
Lalu bagaimana penolakan terkait aktivitas jasmani lainnya?
Well, untuk yang satu ini, Alhamdulilah gw udah bikin agenda. Dan ternyata, kalau sekedar kumpul makan-makan masih banyak waktu luang.
Selamat hari raya Iedul Adha, kawan.
26092015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar