My Movements Trip.

Sabtu, 26 September 2015

Penolakan

Nggak tau udah berapa penolakan yang gw lempar. Sedikit banyaknya mempengaruhi mental yang udah mulai ngawur memilih konsentrasi. Awalnya fokus gw jelas tahun ini: pendalaman materi kuliyah yang dulu sempat gw hafal tanpa memahami isinya.

Tapi entah kenapa, target itu makin lama perlahan memudar. Mata yang hanya lima watt di depan buku, seketika terbuka lebar saat ngobrolin film holywood. Badan yang remuk-redam saat jadwal tela’ah kitab, tiba-tiba bersemangat kalau ada rapat sama si doi. Ngetik obrolan di watsap nggak ada abisnya, tapi langsung abis saat azan Subuh berkumandang.

Keran keilmuan benar-benar mampet. Setiap gw ngelirik layar televisi di ruang belajar, siaran Al-Jazeera mengisi gendang telinga dengan berita Suria, Palestina, Iraq, dan permasalahn dunia Islam lainnya. Tapi otak kosong informasi, kenapa permasalahan ini belum juga ditemukan solusinya? Ah, aku coba kembali ke buku yang belum juga kubuka sejak masuk ruangan itu.

Gw mulai menolak, karena harus fokus.

Sebagaiman cahaya Allah tak akan diberikan kepada pelaku maksiat, begitu pula saya harus menerima sunnah Tuhan yang satu ini. Sangat wajar ketika kita menyukai seseorang, bayangan wajahnya akan terus muncul berulang-ulang. Alih-alih ingin melupakan dengan memejamkan mata, ia malah terpampang jelas. Bahkan senyumnya membuat dada sakit. Kenapa aku tidak bisa memilikinya? Dan itu menjadi pertanyaan yang harus kuhindari beberapa waktu ini.

Sakit. Dan ini benar-benar sakit. Termasuk saat kawan yang kita percaya, meninggalkan kita di depan mata. Meski benar-benar memukul, tapi kebencian bukan pilihan untuk saat ini. Setidaknya jangan biarkan syaitan tertawa puas dengan permusuhan yang coba ia tanam. Kecewa? Pasti. Tapi rasa kepercayaan harus tetap dijaga, toh kita masih dalam satu wadah yang sama. Kepentingan jama’ah lebih utama daripada perasaan pribadi.

Kedua perasaan yang berusaha kutolak ini, sedikit-banyaknya menjadi buah bibir pikiran setiap mulai merebahkan tubuh, ataupun membuka buku. Gw cuma tersenyum kecut jika si doi muncul di antara kalimat arab gundul, yang lagi-lagi berakhir dengan penolakan.

“Hush.. hush.. pergilah kamu.”

Namun saya sadar, penolakan akan menghasilkan efek negatif bagi mental. Akhirany, jika penolakan yang gw lakukan udah terlalu berlebihan. Gw coba cuek. Kalau masih belum bisa.. akhirnya gw terima pelan-pelan, sambil mengadu kepada Tuhan. Bukankah Ia sebaik-baik tempat mengadu?

Lalu bagaimana penolakan terkait aktivitas jasmani lainnya? Well, untuk yang satu ini, Alhamdulilah gw udah bikin agenda. Dan ternyata, kalau sekedar kumpul makan-makan masih banyak waktu luang.

Selamat hari raya Iedul Adha, kawan.
26092015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar