My Movements Trip.

Rabu, 26 November 2014

Gara-gara 'Kicauanmu'

Pagi ini kulihat Abduh sedang sibuk melamun, lenggangnya waktu kosong menunggu kuliyah benar-benar digunakan untuk diam. Diam, mata tajam tertunduk ke meja, mulut terkatup rapat, rahang tertekan kuat, kedua tangan tegang saling mengikat.

Ah, selain pusing membaca diktat karena ujian semakin dekat, mungkin ia sibuk memikirkan proses pindah rumah yang tak bisa ditunda sampai akhir bulan. Oh poor Abduh.. belum lima bulan berseteru dengan lingkungan barunya, kini ia dipaksa pindah. Kudengar rumahnya sudah tidak aman, dan waw, ujian satu bulan lagi kawan!

Ehem, terlalu sering memerhatikan pemuda itu membuatku suntuk. Tak tahan dengan rasa bosan, akhirnya kukeluarkan hape yang dari tadi tersembunyi dalam bagian tas terdalam, tentu tanpa sepengetahuan Abduh. Karena jika ia tahu, barang kecil ini akan disita dan dengan sinisnya ia akan berkata, "Peraturan ke-Lima Puluh Satu; Tidak Membawa Handphone ke Kuliyah."

Kubuka Opera Mini, lalu kupilih situs socmed yang biasa kuikuti perkembangan 'mu' dan yeah, kau menulis kata-kata penyemangat, "Do not give up. Beginning is always the hardest."

Abduh!

Segera saja kudekati pemuda itu dan kutunjukkan kicauanmu kepadanya, berharap ia bisa kembali tersenyum seperti dulu kala.

Sedikit kaget, ia lalu memerhatikan layar hape Samsung S Duos milikku, setelah terdiam sebentar akhirnya Abduh menyunggingkan sebuah senyuman yang membuatku sadar dan menyesal.

"Peraturan ke-Lima Puluh Satu; Tidak Membawa Handphone ke Kuliyah." Ucap pemuda itu datar dan segera saja handphone baruku sudah berada di list barang sitaannya.

Walaupun dengan sinis, setidaknya itu adalah senyuman yang kutunggu. do you?



***
Istana Peradaban, 26 November 2014

Jumat, 21 November 2014

Aku Menyesal Setelah Itu

"Apa lagi yang ingin kau tangisi kawan?" Tanyaku

Beberapa hari ini Abduh terlihat sangat muram, matanya sering jatuh tertunduk meratapi tanah, senyumannya buram, desahan nafas tarik-menarik tak beraturan.

Ah, kawan apa yang terjadi padamu? Dihibur kau enggan tertawa,  kubertanya kau memilih untuk bungkam, dalam diammu aku tak tahu harus bertindak apa. Maka jawablah sedikit dari ribuan pertanyaan yang kukirimkan kepadamu melalui lisan, tulisan, dan isyarat antar belahan jiwamu.

"Aku benci dengan teman perjalananku.." ucap Abduh spontan, menunggu respon dariku sebentar lalu ia kembali menghilang dalam tumpukan selimut musim dingin.

Aku terhenyak, mulutku kaku tidak menyangka akan mendapat pengakuan seperti itu. Dari sekian banyak masalah yang menimpa para pejuang dalam ekspedisi panjang, ternyata pemuda itu disibukkan dengan pertarungan antar pasukan dalam barisannya sendiri.

Di dasari keingintahuan yang begitu tinggi, akhirnya saya beranikan diri membuka selimut tebalnya dan bertanya, "Apa yang mengganggumu?"

Meski terlihat risih, ia tetap berbaik hati memberikan jawaban atas pertanyaanku tadi, "Aku tidak diterima disini, aku tahu menjadi orang baru dan masuk dilingkungan baru butuh penyesuaian."

Seketika ia terdiam dan terlihat bingung mau melanjutkan ceritanya dari mana.

"Yah, memang sejatinya segala hal yang baru butuh waktu untuk bisa diterima." Aku mencoba mencairkan suasana.

Abduh sedikit sibuk membenarkan posisi duduknya, setelah terdiam beberapa saat ia kembali bercerita, "Ternyata ketidaksepahamanku dalam bergerak membuat risih dan friksi antar teman dibarisanku. Ia ingin aku maju kedepan disaat keputusanku untuk bertahan telah bulat. Bahkan aturan main kami berbeda, waktu yang kita miliki juga berbeda, saat aku istirahat ia bekerja dan saat aku bekerja ia istirahat.

dan yang membuat aku paling tidak tahan adalah; gaya bicaranya yang seolah-olah ingin aku layani ia dalam duel fisik. Hey, aku tidak ingin membuang-buang tenagaku untuk hal tidak berguna semacam itu. Anak kecil seperti dia mana tahu kalau aktivitas kita banyak. Bahkan untuk sekedar marah dan adu argumen sambil teriak-teriak akan membuat lelah otak dan fisik, padahal masih banyak tugas yang mesti diselesaikan."

"Dan akhirnya kau layani provokasi temanmu?"

"Ya, dan aku menyesal setelah itu."

"Lalu." aku kembali bertanya

"Aku ingin menangis."

Abduh pun mulai menangis, lalu kami duduk dalam diam.



****
Istana Peradaban, 21 November 2014.

Jumat, 17 Oktober 2014

Lam Akun Syai'an Madzkuron

Aku berhenti, 
dalam sunyi aku berhenti.
Kata-kataku mati,
tanganku mati.

Duduk diam tak ada kata,
duduk diam tangan seperti tak ada.

Di depan tuts keyboard hampir tak ada yang bisa kukatakan, mulai dari rasa sebal yang entah sejak kapan mulai menggerogoti kesabaran yang sempat dibangun di setiap petak hatiku, hingga rasa hampa karena tak bisa merespon segala bentuk pelecehan yang kuterima belakangan ini.

Kekesalan ini berulang, dan tumbuhlah benih angkara di kedua belah tanganku yang mulai jauh dari aksi-aksi kebaikan. Kaki yang mulai tenggelam di kubangan lumpur dendam, kini tak lagi bisa dilangkahkan ke rumah-rumah yang membutuhkan aksi kepahlawanan.

Di satu tempat aku meminta, "Hai kawan, buatlah karyamu."
"Maaf, tidak bisa untuk besok."

Di lain tempat kembali kupinta, "Bagaimana kawan? esok telah bergantung pada karyamu."
"Maaf, tidak bisa untuk besok."


Ah, tai lah?! dulu kita sama-sama berikrar untuk jatuh bangun membela kebenaran. Bukan, bukan karena aku merasa enek ditinggal sendirian. Tapi memang kesendirian itulah yang memperkosa segala harapan yang dulu sempat kita tanam bersama.

Aku cukup terhenyak dengan segala kesibukan kalian, tingginya jabatan kalian, dan kagumnya para akhwat dengan aktivitas kalian. Duh, apalah saya ini dihadapan kalian, setitik noktah yang bisa dicuci dengan ditergen seharga satu potong bakwan.

Angkatlah dagu kalian selama mungkin, selama jabatan kalian masih tinggi di hadapan para manusia, selama kesibukan kalian terus dikagumi oleh para akhwat se-jagad. Selama, selama Lam Akun Syai'an Madzkuron.


***
17 Oktober 2014

Kamis, 16 Oktober 2014

Menunggu dalam Dingin, Gelap dan Sunyi

Di pojok tersembunyi sebuah rumah kos-an, aku mendengar sayup-sayup seorang kawanku berbisik kepada handphone yang sibuk ia genggam setengah jam lamanya, "Mau bagaimana lagi, aku memang mencintaimu."

Deg, aku tak sengaja mendengar kata-kata itu, tak berniat menguping karena kebetulan ia berada di balkon rumah sedangkan aku berada di ruangan sebelahnya. Kata-kata kawanku barusan membuat aku merenung sebentar, sebuah renungan tentang arti menunggu, karena sejatinya kawanku yang sibuk dengan kekasihnya yang ada di handphone itu sedang menunggu dan ditunggu.

Menunggu dan ditunggu, mungkin aku juga sedang seperti itu.


***
"Tapi, benarkah aku sedang menunggu?" batinku bertanya-tanya,


Dalam lautan permasalahan yang sering menenggelamkan pikiranku, arus yang paling kuat menyeretku ke dasar jurang paling dalam adalah cinta. Jika kita berbicara tentang cinta yang yang tak terlihat ujungnya, maka ia memiliki sifat yang dingin, gelap, dan sunyi.

Dalam karakteristik kehidupan, cinta itu seperti bunga, namun karena bunga cinta ini tak akan bisa dicabut dalam waktu dekat, maka biarlah ia melayu untuk beberapa saat, tak perlu lagi aku siram ia dengan harapan dan kupupuki ia dengan janji-janji manis pasangan yang sok romantis.

Cinta, aku memang takut tidak bisa memilikimu, melihatmu di setiap pagi cerahku, mencium harum segar dari kelopak indah bungamu.


***
Ah, akhirnya aku sadar betapa egoisnya diriku, ternyata aku lebih mementingkan cita-citaku dari pada bersegera memperjuangkanmu dan menjaga keagunganmu.

Ternyata dan dari sekian banyak kenyataan buruk milikku, aku tak tau, aku tak tau apa mungkin kau akan tahan dengan sikapku ini. Mungkin kau akan muak dan ingin mencari kebun yang akan merawat keindahan dari setiap helai kelopak cintamu, tidak menungguku dalam rentang waktu yang tak juga menentu. Mungkin juga kau akan menunggu dengan rasa was-was dan ragu.

Penantian yang tak menentu itu seperti arus yang menyeretmu ke kedalaman lautan yang dingin, gelap, dan sunyi. Apakah pantas aku ditunggu di tempat seperti itu?




Selasa, 14 Oktober 2014

"Barangsiapa yang Tidak Merasakan.."

Dalam sebuah kaidah bahasa Arab, ada yang namanya "Adawatu as-Syartiyyah," yaitu mengawali sebuah susunan kalimat dengan kata bersyarat.
Dan ada juga "Jawabus Syart." yaitu mengakhiri sebuah kalimat bersyarat dengan susunan kalimat baru yang merupakan jawaban dari syarat tersebut.

Contohnya: 
(Syarat) Barangsiapa, (Jawab) Maka. 
BARANGSIAPA bersungguh-sungguh dalam belajar, MAKA ia akan Sukses.

Atau, (Syarat) Dimanapun, (Jawab) Akan
DIMANAPUN pengangguran meluas, AKAN meningkatlah kejahatan disana.



***

Entahlah mungkin ini sebuah keajiaban. Jadi begini, ada sebuah sya'ir yang menggunakan kaidah Adawatu as-Syartiah ini yang akhirnya memberikan motivasi kepada saya.

و من لم يذق مرّ التعلّم ساعة
Barangsiapa yang tidak merasakan pahitnya menuntut ilmu walau hanya sebentar

تجرّع ذلّ الجهل طول حياته
Ia akan meminum hinanya kebodohan sepanjang hidupnya


(من): Barangsiapa,  yang merupakan Adawat Syartiyah, membutuhkan jawaban yang akhirnya dijawab oleh sang penyair dengan:

تجرّع ذلّ الجهل طول حياته
Ia akan meminum hinanya kebodohan sepanjang hidupnya

Karena jika tidak diiringi jawaban kalimat bersyarat itu akan 'sia-sia', maka menjawab kalimat bersyarat hukumnya wajib.


****
Nah, saat dimana saya memahami kaidah ini, kata-kata sang penyair tiba-tiba meresap ke dalam jiwa, dengan terus terngiang; Ia akan meminum hinanya kebodohan sepanjang hidupnya

Well, ini baru sekedar kaidah Nahwu yang akhirnya berhasil saya pahami, bagaimana dengan Balaghoh?! Yup, hari ini saya berhasil memasuki kelas Ilmu Bayan, sebuah kelas yang akan kembali mengorek keindahan-keindahan sastra Arab, termasuk keindahan segi bahasa Al-Qur'an yang menjadi mukjizat Sang Nabi akhir zaman.



 *****
Istana Peradaban, 14 oktober 2014.

Imam Syafi'i berkata,
 إصبر على مرّ الجفاء من معلّم    فإنّ رسوب العلم في نفراته
و من لم يذق مرّ التعلّم ساعة    تجرّع ذلّ الجهل طول حياته
 


Minggu, 12 Oktober 2014

Merapat ke Kuliyah di Sanah Rob'ah

New season is coming. Yah, Meski kemarin (11|10) adalah hari pertama mulai kuliah dan sifat males keluar lagi, seenggaknya hari ini gw udah kembali merasakan berbagai macam kenikmatan awal tahun ajaran di Al-Azhar.


Pertama, Mengantri.

Hal positif yang gw dapet karena dateng ke kuliyah hari kedua adalah antrian yang tidak begitu panjang. Seenggaknya itu adalah ucapan temen ketika gw mulai ngantri beli diktat ataupun ngambil tasdiq* kuliyah. Satu, karena gw dateng sedikit siang sehingga antrian anak-anak baru yang rajin dateng lebih awal sudah berkurang. Kedua, tidak semua mahasiswa lama dateng ke kuliyah pada hari kedua ini. So, hal ini malah bikin gw besar kepala dan ngucapin, "Hahaha anak-anak baru, gw udah pengalaman mencari jadwal ngantri paling efesien di jurusan Sayri'ah ini.. Hahahha."

Kedua, Jam dimajukan.

Tapi jujur gw shock, mulai dari schedule, jadwal, rencana, persiapan, dan segala tetek bengek yang berkaitan dengan kuliyah hancur gara-gara jam masuk dimajukan satu jam. Sedih gw, hati gw bener-bener miris setelah beberapa hari yang lalu gw dengan bangganya berkata, "Habis Shubuh gw masih bisa tidur bentar baru berangkat ke kuliyah."

Hancur sehancur-hancurnya.

Ketiga, keempat dan seterusnya nyusuuul... bwahahahaha



*****
IstanaPeradaban, 12 Oktober 2014

"Aku dan Zona Nyaman, kini tinggal kenangan."

Sabtu, 11 Oktober 2014

Sukses Adalah Nafas Kehidupanku

Dalam rekam jejakku, ada sebuah cerita tentang kegagalan yang hanya bisa ku tatap dengan mata disipitkan, mulut terbungkam, dan napas yang kuhembuskan pelan-pelan. Mencoba memahami rumitnya persoalan hidup sering membuatku frustasi, hingga tak jarang kata-kata kasar termuntahkan dari mulutku, dan tak sedikit keputusan penting kupilih secara terburu-buru hingga berujung pada petaka yang membuatku terduduk lesu.

Sering kutampakkan pada orang disekitarku satu sosok diriku yang sering mengangkat dagu, berjalan petantang-petenteng sambil memegangi tas bahu tanpa mau melirik orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarku. Tatapanku sengaja kutajamkan lurus ke depan, menolak segala jenis sapaan, menolak segala jenis senyuman, menolak segala jenis kebaikan.

Aku & Kesendirian

Di balik sosok angkuh tersebut ternyata diri ini hanyalah hamparan sawah kering yang tak pernah dihujani bertahun-tahun, sosok ini telah kehilangan kegunaanya, sosok ini telah kehilangan keindahnnya, karena tiada lagi tanaman yang bisa dipanen, dan tiada lagi hamparan hijau untuk dikagumi keagungannya.


Kekasihku adalah air mata langit,
ia turun menghidupkan bumi yang telah lama mati,
ia turun menggerakkan roda kehidupan dari ketiadaan,
ia turun mewarnai jiwa-jiwa hampa yang ditinggal pergi.

Maka langit, menangislah...
karena aku (hanya bisa) hidup dari tiap detik penderitaanmu.

****
Istana Peradaban, 11 Oktober 2014.

"Jika air mata langit adalah kesuksesan yang kumaksud, maka tugasku adalah mencari siapa langit yang ingin kupinta darinya untuk menanggung segala macam derita."

"Langit itu adalah sosok diriku yang lain."

Rabu, 08 Oktober 2014

Menulis Rindu

ALhamdulillah, sore ini dauroh terjemah berita di Markas Sinai selesai, kaget juga udah sampai tanggal 8 Oktober, entah kapan saya terakhir nulis di sini. Mikirin malem yang begitu cepat berlalu dari samping tempat tidurku, ataupun siang yang tiba-tiba nyelonong kabur lewat jendela kamar, membuat ku terheran-heran sudah berapa lama aku melupakan kampung halamanku. Entah berapa lama lagi aku akan menghabiskan sisa-sisa umurku di negeri penuh pasir ini, sambil terus menyimpan rasa rindu yang mulai mengkristal seiring datangnya musim dingin, aku ingin menyumpal air mata ini yang mulai susah kering.

Ah, rinduku adalah rindu seorang anak, rindu seorang kakak, rindu seorang cucu, namun ini bukanlah rindu pungguk kepada bulan, dimana rindu yang tak berbalas karena perbedaan martabat. Namun rindu ini adalah rindu yang lebih agung dari penggalan pepatah itu, karena rindu ini tercipta berkat takdir yang maha kuasa, takdir yang memerintahkan kita untuk berpisah demi menegakkan sebuah kalimat "La Ilaha illallah."

Allahumma 'arinal haqqo haqqo, warzuqnattiba'a..



Alhamdulillah

 
Jayyid ^^


  Selfie bareng teman seperjuangan @Sinai saat Idul Fitri


 Bersama Murobbi saat idul fitri


 Makan bakso bersama kawan rumah dulu ketika masih jadi anak baru :D


 Bersama para relawan KNRP


 Dafik, Lc. mendahului kami.


 Bersama di tingkat akhir menyusul Dafik, Lc. 


 Melupakan momentum liburan pasca imtihan Al-Azhar!!


 Berdiri dengan orang yang berlibur di Markaz Nil


 Foto setelah imtihan akhir di Markaz.. :)



Thanks to Alfa 'Umar.^^

Senin, 11 Agustus 2014

Musim Semi Sepeninggal Malam

Hai, mungkin sebelum malam berlari kecil meninggalkanku, aku ingin bercerita sedikit padamu.

Ceritaku adalah cerita tentang musim semi yang terus diliputi putihnya salju, mentari datang masih malu-malu, bunga yang seharusnya bermekaran enggan menampakkan indahnya kelopak mereka kepadaku.

Ceritaku dibalik musim dingin (begitulah aku menyebutnya jika musim semi belum datang), adalah sebuah ceita yang panjang terbagi dalam beberapa jenjang, rasa sedih, sakit, kecewa, hingga bahagia membuat semuanya teraduk.

Sedih adalah ketika aku menemukan kebengisan tumbuh di sekitarku tanpa malu-malu, ia menjalar, menjilati wajah orang-orang di sekelilingku dengan lidah dari ujung-ujung dedaunan yang terus merambah dan menggeliyat layaknya hewan melata melilit mangsanya. api kebenciankua atasnya bahkan tak mampu membakar hingga ke akar-akarnya. salah satu kebengisan itu bisa kau rasakan pada wajah teman-temanku yang mengangap enteng permasalahan Rab'ah!

Sakit adalah ketika tubuh tidak bisa lagi menerima perintah dari otak, ia menolak untuk bekerjasama. Sakit yang pernah ku alami terkadang akibat cuaca yang tidak bisa lagi ditolerir oleh tubuhku, kadang dingin-kadang panas, Sakit juga ditimbulkan oleh error-nya sistem otakku dalam menghadapi situasi-situasi yang tidak enak secara naluri dan intuisi atau bahasa pasarannya 'Galau'.

Kecewa biasanya adalah buntut ketidak-samaan suatu hasil dengan keinginan awal yang telah kita angan-angankan. Meski syukur itu harus tetap ada, namun rasa kecewa bagi saya adalah bukti bahwa keinginan untuk lebih baik itu ada!

Bahagia adalah ketika kau masih memiliki harapan untuk terus hidup, bangkit, berjalan, mengepalkan tangan dan tinjumu kepada lawan. Meski sekedar harapan, setidaknya senyuman untuk menyambut kemenangan sudah kita persiapkan.

Dari sekian banyak kesedihan yang membuat wajahku hitam legam, rasa sakit yang membuat tubuhku sempoyongan, dan kecewa yang membuat dada ku remuk-redam, akhirnya aku memilih kebahagiaan untuk terus ku genggam.

Oh iya, kini malam sudah makin jauh meninggalkanku, ia terus berlari-lari kecil, meski kadang ia jatuh tersandung, namun hebatnya ia segera bangkit. Mengesankan namun sedikit membuat hatiku terluka.

Ah, malam sudah makin menjauh.. kini perkenankanlah aku untuk segera berlabuh,

Oh, kasur empuk tempatku membuang peluh
di pojok ruangan, tolong jangan kau mengeluh.

Tubuh kecil, tubuh besar
kau terima dengan tangan terbuka lebar

aku membawa lelah,
aku memikul resah

Lalu, kau biarkan malam berlalu,
dan panggilan shubuh menghampiriku.

Selamat datang, Fajar!
"Sapalah aku dengan panggilan rindu."

*****

Istana Peradaban, 12 Agustus 2014.

Minggu, 20 Juli 2014

Vektor.





21 Juli 2014.

Vektor, itulah pertama kali saya mengenali salah satu bentuk desain grafis satu ini, menyambungkan dari satu garis ke garis yang lain, hingga akhirnya disempurnakan dengan memberi warna yang sesuai dengan model foto. tidak susah, karena saat kita menyatukan garis dan memberikan warna, kita hanya mengikuti apa yang ada di foto, semacam menjiplak gambar gitu.

Terakhir kali saya membuat vektor sekitar tiga tahun yang lalu, waktu itu adalah pertama kalinya saya mengenal OS (Operational System) Corel Draw yang saat itu sudah X5, belajar otodidak dari youtube hingga akhirnya dasar-dasar OS ini bisa saya fahami.

Moto saya dulu hingga saat ini masih sama, "Tiru, Kembangkan, & Ciptakan." Namun hal buruknya adalah saya stagnan di kata "Tiru." tidak ada inovasi baru yang bisa saya kembangkan terlebih lagi untuk diciptakan. Sangat disayangkan memang, namun yang patut saya syukuri adalah kemampuan meniru saya sedikit berkembang. Saya pikir yang membedakan karya dulu dengan karya yang sekarang adalah garis-garis tajam saat membuat gambar sudah mulai berkurang. ya mungkin itu saja perkembangan yang saya alami, karena desain di atas adalah desain kedua saya setelah TIGA TAHUN LALU. jadi tolong ucapkan selamat kepada saya. Hhaha






13 Oktober 2011


****
Tapi setelah saya pikir kembali, ko' bagusan desain lama ya,, anda yang sependapat?
yah,, waktu itu saya mengerjakannya sambil belajar dengan tutorial youtube, dan sekarang langusng menggunakan feeling sendiri.

Memang beda hasilnya orang yang sedang giat belajar dengan yang sudah lama berhenti belajar ya.. Huh.. :p



Darrasah, 21 Juli 2014.
Mengisi Ramadhan dengan mengasah hobi!

Kamis, 10 Juli 2014

FINAL.. HERE WE GO!!

Akhirnya tim yang saya dukung di gelaran Piala Dunia kali ini berhasil mencapai Final, sering saya katakan bahwa kiper dan para pemain yang berada di jantung pertahanan Argentina kurang menjanjikan dan sering bikin was-was, namun akhirnya mereka membuktikan dengan serangkaian penampilan dan hasil postif di babak sistem gugur ini.

Sempat diragukan oleh semua orang termasuk saya sendiri, akhirnya tim ini berhasil memperlihatkan keinginan mereka untuk menapaki Final. bisa kau lihat sendiri keinginan itu mengalir kuat dalam  diri mereka saat melawan belanda, terbuka dan tampil menyerang, mereka tidak takut ancaman quick counter yang dipimpin langsung oleh si cepat Robben. Setiap lini memperlihatkan kerja kerasnya dalam menggempur sekaligus menahan gempuran lawan, begitu pula saat adu pinalti.

Jerman adalah lawan yang akan mereka hadapi di babak Final nanti. jujur, saat dimluainya pagelaran Piala Dunia ini, yang terbayang di fikiran saya adalah keunggulan 4-0 Jerman atas Argentina pada Piala Dunia 2010 lalu. Saya sangat berharap bisa bertemu jerman di babak sistem gugur, namun tidak menyangka harus bertemu di Final.

Bukan untuk balas dendam, namun hanya ingin menunjukkan bahwa tim ini telah bekerja keras untuk bisa bersaing dengan permainan brilian Jerman.

FINAL.. HERE WE GO!! 






Senin, 23 Juni 2014

(FOTO) LPJ ISLAH Mesir. Dokumentasi Ikhwan


Pamflet Acara


 Mempersiapkan Banner Acara Bersama Senior Hikmatyar Ayyubi


Test Kesesuaian Warna Font Dengan Background


Ternyata Perkiraan Warna Background Salah

 Menunggu Peserta Datang


Fase Awal: 
Membahas AD & ART ISLAH Daerah Mesir


Ditemani Oleh Bakwan Yang Dibuat Oleh Panitia Akhwat


Fase Kedua:
Laporan Pertanggung Jawaban Dewan Pengurus
ISLAH Daerah Mesir Periode 2013-2014.
Diterima Dengan Predikat Jayyid

Laporan Dari Ketua ISLAH Daerah Mesir Periode 2013-2014, 
Ramdhani Setiawan.

 Laporan Dari Bendahara ISLAH Daerah Mesir Periode 2013-2014,
Said Ramadhan an-Nadawi.


Break:
Makan Mie Ayam Hasil Kreativitas Panitia Akhwat.

Fase Ketiga:
Pemilihan Ketua Baru ISLAH Daerah Mesir Periode 2014-2015
 

Masuk Tiga Besar; Ucu Suhendar, Raidun Zaki, dan Yusuf Ibrahim.


Kata-kata terakhir dari Ketua Demisioner ISLAH Daerah Mesir.

Penyerahan Simbolis kKepengurusan dari Ketua Demisioner Kepada Ketua Baru, 
Raidun Zaki.



@Baruga_Sulawesi, 19 Juni 2014

(PUISI) Menikmati Kebebasan @Ainu_Sukhnah

Sebuah pantai kecil di tengah musim panas,
pasirnya berkerikil anginnya lembut tak beringas.

Berlari pun aku tak bisa,
mengira bahwa ku sudah ditengah surga.
Ainu Sukhna,
rinduku yang tercipta setelah kutinggal dua tahun lamanya

Aku menikmati panas mentari disana,
berharap ia membakar semua keluh-kesah lama.

Juga setumpuk memoriam yang terabaikan oleh hiruk-pikuk kehidupan kota,
terurai oleh deburan-deburan ombak kecil disana.

Airnya jernih, tak terkeruhkan oleh kebencianku,
bersyukurlah aku karena hal itu.

Sekian lama hitam di hatiku memekat,
mengaburkan indahnya kenyataan hidup yang memikat.
Sekali lagi sykurku karena hal itu,
hingga semua kembali jelas dihadapanku.

Sebuah pantai kecil di tengah musim panas,
pasirnya berkerikil anginnya lembut tak beringas.

Tusukan hangat mentari,
buaian mesra angin pantai,
tawa kecil deburan ombak,
dan wangi khas terumbu karang.

Kulitku memang menghitam,
namun hatiku kembali putih tercerahkan.

Kunikmati,
setiap tusukan panas mentari,
setiap deburan ombak yang datang kesana-kemari,
setiap desahan angin yang datang bertubi-tubi,
setiap momen ketika aku mengingat hari ini.

Hari dimana jiwa menemukan kebebasannya,
hari dimana jiwa menemukan kebebasannya,
hari dimana jiwa menemukan kebebasannya.



*****
"Kuhirup sedalam-dalamnya asinnya lautan
dan sejuknya angin pantai, lalu ku merasakan kebebasan."












Moment 21 Juni 2014 @Ainu_Sukhnah.

Rabu, 18 Juni 2014

Sabtu, 14 Juni 2014

Hari ini Terasa Aneh

Hari ini gw aneh banget, ngebahas sesuatu yang gw aja ngga' tau bakal join apa kaga'. seolah-olah penting banget gitu, dan jantung gw berdebar, berpacu dengan ketidak-jelasan manfaat apa nantinya yang bakal gw dapet.

Gw baru beli hape, salah satu kelebihan hape yang gw beli adalah kamera yang memiliki kemampuan menagmbil gambar sebesar 5 Mega Pixels. Jelas gw beli tuh hape buat mendokumentasikan aktivitas gw. kebetulan beberapa hari kedepan ada banyak tawaran rihlah, dari kekeluargaan, PIP, maupun angkatan almamater gw.

Meski pada dasarnya gw anti sama yang namanya alan-jalan, dan hanya akan melakukan jalan-jalan kalau ada permainan sepak bolanya saja, namun apa daya, saat ini kaki gw lagi ada sedikit masalah sehingga tawaran rihlah dalam bentuk apa aja kemungkinan besar gw terima, dan sudah saya sebutkan, buat uji coba kamera baru gw!

Uang, yang memang hal satu ini ngga' bisa ditawar-tawar, akhirnya gw memutuskan memilih paket rihlah yang biayanya sangat sedikit. dan bisa dibilang gw ini emang pelit.

Markaz Nil, antara hari Selasa (16), Rabu (17), atau Kamis (18) gw akan segera memulai proses belajar lagi. suntuk? engga',, akhirnya belajar udah bukan masalah lagi buat gw, bahkan udah jadi candu.

Dan entahlah, ketika mulut sudah berucap, & tangan sudah mengetik dengan mantap; serasa enggan untuk menghadap kebelakang.

Padahala sabda Baginda Rasul:

"استفت قلبك"



Darrasah, 14 Juni 2014

Rabu, 11 Juni 2014

Hidup Melebihi Perspektif Orang Lain

Dan diantara manusia, ada yang tenggelam dalam anggapan orang lain terhadap dirinya.
 

Mereka mengira bahwa dunia sudah sangat tidak adil, seluruh orang melemparkan tuduhan yang tidak benar atas reputasi baiknya, menyalahkan takdir yang tidak bisa ia hindari, takdir menjadi wanita, takdir terlahir sebagai orang miskin, atau sebagai anak yang tidak berayah.

Lalu mereka berandai-andai, andai aku tidak seperti itu, andai aku terlahir sebagai orang normal, andai aku terlahir sebagai orang kaya, andai sebagai ini, andai sebagai itu.

Lalu mereka lupa bahwa tuhan merekalah yang menciptakan takdir itu, apakah mereka hendak menyalahkan ketentuan tuhan atas yang demikian itu?

Tidak!, tentu tidak pantas sebuah ciptaan menyalahkan penciptanya, terlebih lagi ketika hakikat penciptaan itu adalah untuk penghambaan, untuk uji kelayakan, untuk uji kepantasan; apakah pantas hamba tersebut memasuki surga yang diisi begitu banyak macam kenikmatan.

Maka jika hakikat penciptaan ini adalah sebuah tantangan, maka wajar saja jika pencipta mereka berkata,



إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ 
 "Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.

إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ
 Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki."
(Al-Hajj, Surat 22: ayat 14)

Dan tatkala telah menjadi sunnatullah bahwasannya kebenaran akan selalu mempunyai lawan, aku katakan:

Ayo semangat kawan, hidup itu tidak sesempit pandangan orang. terlebih lagi jika jalan yang kita pilih ini memang mengundang banyak gunjingan, duri dan kebencian orang-orang yang tidak suka kepentingannya digoyang.

Maka berbahagialah kalian, karena jalan ini adalah jalan yang dilalui oleh para anbiya. Dan berbahagialah, karena dengan jalan inilah kalian juga akan dipertemukan oleh para pemikul risalah kebenaran.

Sekali lagi berbahagialah kalian, karena dengan kebahagiaan itu akan menutupi semua luka dan penderitaan.


******
Tulisan tentang hidup melebihi perspektif orang lain adalah bentuk ajakan untuk menjadikan "Suatu kebaikan yang dianggap salah oleh orang lain" ataupun sebaliknya; sebagai tantangan untuk segera diperbaiki.

فهل من مجيب؟؟
maka adakah yang mau menjawab ajakan ini?




Darrasah, 11 Juni 2014.

Selasa, 10 Juni 2014

(Ucapan Terima Kasih) Tahun Ajaran 2013-2014, @al-Azhar-Kairo

Hari ini Sepuluh Juni 2014, kami selaku mahasiswa tingkat Tiga fakultas Syari'ah Islamiyah Universitas al-Azhar-Kairo telah resmi menyelesaikan UJIAN & KEGIATAN BELAJAR-MENGAJAR TAHUN 2013-2014!!


  • Terima kasih atas dukungan dan do'a yang telah kawan-kawan berikan.
  • Terima kasih kepada rekan-rekan Syari'ah Jozz atas kerja-sama yang telah kita lakukan sepanjang tahun pembelajaran ini, kalian memang terbaik!
  • Terima kasih kepada abang-abang kami yang telah banyak menyisihkan waktunya untuk membimbing kami, semoga ilmu yang susah payah kalian salurkan kepada kami akan terus mengalir kepada generasi-generasi yang akan datang.
  • Terima kasih kepada keluarga besar ISLAH Mesir, terutama para Dewan Pengurus periode 2013-2014 yang  telah begitu banyak mengadakan event yang sangat membangun semangat menuntut ilmu di Bumi Kinanah ini.
  • Terima kasih kepada keluarga besar IKMAL Mesir.
  • Terima kasih kepada SEMA FSI.
  • Terima kasih kepada keluarga besar: KPMJB, KSW,  SEMA FSI, PCIM cab. Mesir,  MISYKATI, IKPM GONTOR, Rumah Imdad 'Azizy, Rumah Hilman Tandjung, Rumah Fakhry Emil Habib, Rumah Asep Arrival, Rumah Dede Suandi, atas pemberian izin untuk menggunakan tempat belajar bersama. jangan pernah kapok ya..
  • Terima kasih kepada keluarga besar PIP PKS Mesir dan SINAI Mesir, semoga benih-benih idealisme ini terus berkembang dalam merealisasikan wujudnya demi mengharumkan agama dan tanah air tercinta.
  • Terima kasih kepada para masyaikh al-Azhar, semoga ilmu yang kalian berikan bisa terus kami pegang dan sebarkan hingga ajal datang menjelang.
  • Terima Kasih kepada Umi, Abi, Zaid, Fatimah, Lutfia, Hafsah, dan seluruh keluarga besar Ahmad Sultan Nurdin yang ada di Lampung, Jakarta, dan yang tersebar hingga ke pelosok-pelosok Indonesai maupun di luar negeri sana.
Alhamdulillah, semoga kebaikan terus mengiringi langkah kita...

 (فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ * وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ)

Dan Kini Ramadhan ada di depan mata, Ahlan wa Sahlan ya Ramadhan.



Darrasah, 10 Juni 2014.


Rekan-rekan Syariah JoZz tk.3

Rekan-rekan SINAI Mesir
 

Minggu, 08 Juni 2014

Linkin Park - Final Masquerade

Akhirnya,, ini adalah lagu kelima yang dikeluarkan oleh Linkin Park dalam albumnya 'The Hunting Party' setelah;
  1. "Guilty All the Same"
    Released: March 7, 2014
  2. "Until It's Gone"
    Released: May 6, 2014
  3. "Wastelands"
    Released: June 2, 2014
  4. "Rebellion"
    Released: June 4, 2014
Nadanya yang lembut membuat saya tidak sabaran berbagi dengan kawan-kawan pecinta musik, selamat menikmati.






Tearing me apart with what you wanna say
Suddenly tomorrow's moment washed away
Cuz I don't have a reason and you don't have the time
But we both keep on waiting for something we won't find

The light on the horizon is brighter yesterday
Shadows floating over, skies begin to fade
You said it was forever but then it slipped away
Standing at the end of the final masquerade

All I've ever wanted, the secrets that you keep
All you've ever wanted, the truth I couldn't speak
Cuz I can't see forgiveness, and you can't see the crime
If we both keep on waiting for what we left behind

The light on the horizon is brighter yesterday
Shadow floating over, sky's begin to fade
You said it was forever but then it slipped away
Standing at the end of the final masquerade

the final masquerade
the final masquerade
Standing at the end of the final masquerade

The light on the horizon is brighter yesterday
Shadow floating over, sky's begin to fade
You said it was forever but then it slipped away
Standing at the end of the final masquerade