Di pojok tersembunyi sebuah rumah kos-an, aku mendengar sayup-sayup seorang kawanku berbisik kepada handphone yang sibuk ia genggam setengah jam lamanya, "Mau bagaimana lagi, aku memang mencintaimu."
Deg, aku tak sengaja mendengar kata-kata itu, tak berniat menguping karena kebetulan ia berada di balkon rumah sedangkan aku berada di ruangan sebelahnya. Kata-kata kawanku barusan membuat aku merenung sebentar, sebuah renungan tentang arti menunggu, karena sejatinya kawanku yang sibuk dengan kekasihnya yang ada di handphone itu sedang menunggu dan ditunggu.
Menunggu dan ditunggu, mungkin aku juga sedang seperti itu.
***
"Tapi, benarkah aku sedang menunggu?" batinku bertanya-tanya,
Dalam lautan permasalahan yang sering menenggelamkan pikiranku, arus yang paling kuat menyeretku ke dasar jurang paling dalam adalah cinta. Jika kita berbicara tentang cinta yang yang tak terlihat ujungnya, maka ia memiliki sifat yang dingin, gelap, dan sunyi.
Dalam karakteristik kehidupan, cinta itu seperti bunga, namun karena bunga cinta ini tak akan bisa dicabut dalam waktu dekat, maka biarlah ia melayu untuk beberapa saat, tak perlu lagi aku siram ia dengan harapan dan kupupuki ia dengan janji-janji manis pasangan yang sok romantis.
Cinta, aku memang takut tidak bisa memilikimu, melihatmu di setiap pagi cerahku, mencium harum segar dari kelopak indah bungamu.
***
Ah, akhirnya aku sadar betapa egoisnya diriku, ternyata aku lebih mementingkan cita-citaku dari pada bersegera memperjuangkanmu dan menjaga keagunganmu.
Ternyata dan dari sekian banyak kenyataan buruk milikku, aku tak tau, aku tak tau apa mungkin kau akan tahan dengan sikapku ini. Mungkin kau akan muak dan ingin mencari kebun yang akan merawat keindahan dari setiap helai kelopak cintamu, tidak menungguku dalam rentang waktu yang tak juga menentu. Mungkin juga kau akan menunggu dengan rasa was-was dan ragu.
Penantian yang tak menentu itu seperti arus yang menyeretmu ke kedalaman lautan yang dingin, gelap, dan sunyi. Apakah pantas aku ditunggu di tempat seperti itu?
Deg, aku tak sengaja mendengar kata-kata itu, tak berniat menguping karena kebetulan ia berada di balkon rumah sedangkan aku berada di ruangan sebelahnya. Kata-kata kawanku barusan membuat aku merenung sebentar, sebuah renungan tentang arti menunggu, karena sejatinya kawanku yang sibuk dengan kekasihnya yang ada di handphone itu sedang menunggu dan ditunggu.
Menunggu dan ditunggu, mungkin aku juga sedang seperti itu.
***
"Tapi, benarkah aku sedang menunggu?" batinku bertanya-tanya,
Dalam lautan permasalahan yang sering menenggelamkan pikiranku, arus yang paling kuat menyeretku ke dasar jurang paling dalam adalah cinta. Jika kita berbicara tentang cinta yang yang tak terlihat ujungnya, maka ia memiliki sifat yang dingin, gelap, dan sunyi.
Dalam karakteristik kehidupan, cinta itu seperti bunga, namun karena bunga cinta ini tak akan bisa dicabut dalam waktu dekat, maka biarlah ia melayu untuk beberapa saat, tak perlu lagi aku siram ia dengan harapan dan kupupuki ia dengan janji-janji manis pasangan yang sok romantis.
Cinta, aku memang takut tidak bisa memilikimu, melihatmu di setiap pagi cerahku, mencium harum segar dari kelopak indah bungamu.
***
Ah, akhirnya aku sadar betapa egoisnya diriku, ternyata aku lebih mementingkan cita-citaku dari pada bersegera memperjuangkanmu dan menjaga keagunganmu.
Ternyata dan dari sekian banyak kenyataan buruk milikku, aku tak tau, aku tak tau apa mungkin kau akan tahan dengan sikapku ini. Mungkin kau akan muak dan ingin mencari kebun yang akan merawat keindahan dari setiap helai kelopak cintamu, tidak menungguku dalam rentang waktu yang tak juga menentu. Mungkin juga kau akan menunggu dengan rasa was-was dan ragu.
Penantian yang tak menentu itu seperti arus yang menyeretmu ke kedalaman lautan yang dingin, gelap, dan sunyi. Apakah pantas aku ditunggu di tempat seperti itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar