My Movements Trip.

Sabtu, 09 Februari 2013

When The Big Match Is Coomingsoon..


Kau ingin tahu awal mula kesukaanku tentang dunia sepak bola.?

“Messi mencetak Quatrick ke gawang Arsenal.”
Mungkin inilah Ilham pertama yang datang kepadaku,
Tentang arti dari Kompetisi Kehidupan.
Sepakbola selalu memberikan kompetisi yang sama di tiap tahunnya,
Namun dengan kondisi yang berbeda di setiap pertemuannya.

Ada seorang Ulama yang berkata:

"الحكمة ضالة المؤمن"
(Hikmah itu barang hilangnya Orang Mu’min)


Maka menurut saya, setiap hikmah dan pelajaran dari setiap pertandingan yang ada di sana (أى- Sepakbola), bisa kita renungi dan resapi. Karena di setiap perjuangan yang mereka lakukan selalu menimbulkan euforia-euforia yang sama tentang perjuangan para pendahulu kita.


Hhe, tentu kita tak sabar dengan salah satu Big Mtach di pertengahan pekan ini bukan?

“Manchester United Vs. Real Madrid”





Selamat ber-Euforia kawan.. :D

Rabu, 06 Februari 2013

Fiennha -pertemuan 2-

(ini cerpen keduaku, sedikit terburu; maaf kalau kurang memuaskanmu, ) :)

Keindahan malam kota kairo bisa kau temukan dalam hamparan lampu neon di setiap pinggir jalan. bangunan-bangunan persegi empat yang berdebu kusam seakan menyatu dengan sinar-sinar lampu yang menyelimutinya, ditambah lampu kerlap-kerlip yang memiliki berbagai macam warna, yang menambahkan sisi eksotis pada malam itu. 

Tak ketinggalan lampu-lampu utama yang menyorot kemegahan bangunan-bangunan tua yang sengaja di pamerkan di beberapa tempat di kota kairo, juga menara-menaranya, patung-patung bersejarahnya dan bentangan sungai nil yang dihiasi kapal-kapal kecil sejauh mata memandang, yang membuatmu seolah-olah sedang berada di salah satu kota tertua di dunia.

Malam kairo tak hanya menampilkan keindahan bangunan-bangunan tuanya saja, kau juga masih bisa menemukan keramaian di beberapa pasar  besar yang memang khusus dibuka pada malam hari. Begitu pula tempat-tempat hiburan semacam kapal-kapal kecil yang selalu tertambat 24 jam di sepanjang sungai nil, kau bisah memilihnya, ikut berlayar bersama pribumi atau menyewanya yang tentunya setiap kapal memiliki harganya masing-masing sesuai fasilitas yang mereka berikan.

Namun perjalanan pulangku bersama seorang teman dari Kedubes RI di Garden City membawaku kembali menikmati keindahan-keindahan malam itu, tentu bagiku yang sudah tidak asing melewati dunia malam di pusat-pusat keramaian menjadi hal yang sedikit menghibur dan membangkitkan euphoria yang sudah lama hilang ditelan kesibukan membaca litertaur-literatur arab gundul.

“tuh kan Ram, ngga’ salah kita milih jalan dari Kantor Dubes.”ucap Altaf, teman jalanku sambil menepuk tangannya.

“kenape?”

“tuh, lw liat ono kan?, yang putih-putih tuh.” Altaf nunjuk-nunjuk ke arah gedung hotel yang ada di seberang jalan yang kita lewati, kebetulan jalan yang kita lewati masih sedikit jauh dari keramain.

“asem!, apaan tuh tof? Ko’ dia bisang melayang-layang gitu!.” Komentar ku ketakutan.

“sialan banget emang tuh setan beraninya gangguin kite malem-malem begini.” Si Altaf kelihatan kesel dan tiba-tiba dia nyopot sepatunya.

“saatnya bales dendem ama tuh setan.” Ucap Altaf bersemangat sambil ngambil kuda-kuda buat ngelempar sepatunya yang udah di tangan kanannya.

Dalam hitungan ketiga sepatu itu sudah melayang ke arah kain putih yang kita teriakin itu, aku yang masih komat-kamit baca surat yasin berharap dalam hati agar itu setan langsung mampus sama sepatu yang dilempar Altaf.

Bukk!!, suaranya berdebuk keras, tepat di bagian atas si setan, anyar aja, si setan jatuh dan ngga’ bangun-bangun.

“mati juga tuh setan Taf, ngga’ bangun-bangun dia.” Komentar ku masih ngga’ percaya.

Altaf yang dari tadi melolotin tuh setan juga masih bengong, ngga’ percaya dia bisa jatuhin tuh setan sekali gebuk.

“langsung naik Dua Level  nih gw..” Altaf mulai ngebayangin Game Online yang tadi siang dia tinggalin untuk ikut acara Maulid Nabi di Garden City.

Masih dalam keadaan tidak percaya kami menghampiri sosok putih yang sudah terjatuh itu. Saat kami sudah dekat tiba-tiba muncul Sembilan, sepuluh,, engga’, setidaknya ada Dua belas sosok yang tiba-tiba muncul dari balik bayangan .

eh dah enta ya Andunisy??” seorang kakek-kakek berkebangsaan mesir berteriak dengan mikrofon yang ada di tangannya.

enta ‘aiz eih ya walad!!” teriak yang lainnya.

Tiba-tiba kami terpojokkan, lalu tampak samar-samar di setiap baju yang mereka pakai tertulis ‘Helwa Productions Films’. Kami kaget.

“waduh Taf,, rupanya tuh setan lagi main film.” Bisik ku ke Altaf.

“iya, gw juga baru sadar pas mereka datang sambil bawa kamera film.”

“matilah kita Taf.” Aku mulai pasrah.

“jiah, ogah gw mati di sini Cuma buat ng’gantiin peran tuh setan” ucap Altaf berani sambil nunjuk ke setan yang tadi dia lempar.

“setuju, oke hitungan ketiga kita lari.” Aku ngasih usul, Altaf mengangguk setuju.

“satu..”

 orang-orang mesir itu makin mendekat sambil membentak-bentak dengan bahasa ‘amiyah.

“dua..” 

Kita sudah siap berlari.

“ti..”

“bentar-bentar.” Altaf menahan ku.

“apaan lagi taf?”

“sepatu gw.”ucap Altaf sambil nyengir.

“bodo, gw duluan.” Ucap ku ke Altaf sambil lari meninggalkannya sendiri.

“eh, sialan lw Ram..” caci Altaf, sambil buru-buru ngambil sepatunya.

*****

“Hah..hah.. gimana Taf? Kaga’ ada yang ngikutin lw kan?” Tanya ku ke Altaf sambil ngos-ngosan saat Altaf berhasil mengejarku.

“kurang asem lw Ram, ogah gw jalan sama lw lagi.” ucap Altaf kepadaku sambil mencari posisi yang enak untuk duduk di tangga pintu masuk Metro ‘Anwar Sadat’ yang ada di tengah-tengah tahrir.

Di mesir, ada yang namanya Metro; kereta bawah tanah yang menjadi alat transportasi untuk masyarakat umum, rute-nya yang hampir mencangkup sebagian besar daerah mesir biasanya selalu ramai di jam-jam berangkat dan pulang dari kantor atau sekolah-sekolah. Sangat efesien bagi mereka yang sekolah atau tempat kerjanya jauh dari rumah dan tidak ingin kehabisan uang di ongkos.

“lah, lagian siapa yang minta jalan dari garden city ke terminal?” saya membela diri.

“Ram, gw laper lagi nih, cari makan yo’.” Seolah-lah tidak menggubris perkataan ku barusan, Altaf langsung ngajak makan.

“buset, kaga’ kenyang apa lw makan tadi makan dua nasi kotak?” Tanya ku kaget sambil memperhatikan badannya yang kurus, tidak pernah gemuk-gemuk.

“kaga’, kan gw Cuma ngambil dagingnya doang.” Jawab Altaf sambil nyengir kuda. 

Pantes.

“ngga’ ah gw udah kenyang.” Tolak ku.

“bener nih?, gw traktir ayam KFC dah.” Altaf masih menawari ku sambil nunjukin kedai KFC yang udah di depan mata, kebetulan terowongan tempet kita duduk emang deket samai KFC.

“ngga’ ah, syukron Taf, gw masih takut kalo-kalo Produser Film yang tadi masih ngejer-ngejer kita” tolak ku halus.

Walau sudah bukan lagi jam pulang kerja, Terminal di tahrir dan di Metro pun masih ramai di lewati oleh orang-orang, sempat beberapa kali pemudi-pemudi Mesir yang jalan dalam rombongan melewati kami, wajah mereka yang merupakan paduan akan ke Eksotisan wanita Arab dan kejernihan wanita Eropa dengan hidung-hidung yang mancung dan mata yang jernih bak gemerlapan bintang yang menghiasi malam ini, namun hal itu kembali mengingatkanku kepada si dia, wanita cantik tanpa identitas beberapa waktu silam, Finha.

Altaf yang dari tadi memaksaku untuk menemaninya kini sudah tak bisa ditolak lagi, aku pun setuju, dan mengikuti langkahnya dari belakang, namun selangkah lagi aku memasuki KFC, tiba-tiba kulihat sesosok wanita yang hampir setiap malam mengganjal dalam mimpi panjangku. Sesosok wanita yang menyerupai keindahan bulan ketika kau menyingkirkan butiran gemintang yang ada di sisinya, sesosok wanita yang akan selalu terlihat manis dan sempurna bagi mereka yang sedang tertancap oleh panah-panah Sang Dewi Asmara.

Aku menghentikan langkahku, ku lirik Altaf yang sedang memesan makanan, ia sama sekali tak merasakan kehilangan aku. Di pintu masuk KFC, Satu menit aku memikirkan untuk meninggalkan altaf, lalu aku melirik ke arah Finha.dunia terasa hening, rupanya ia sedang berbicara kepada ibu-ibu yang ada disampingnya. Tiba-tiba Finha melirik ke arah ku, aku terpaku, lalu ia melambaikan tangan kepadaku dan tertawa kecil.
Sadar ada sesuatu yang salah kepadaku, aku melihat ke sekelilingku, rupanya lamunanku di pintu masuk sudah membuat antrian dan protes yang cukup panjang, tak menunggu untuk di gelandang oleh pihak yang berwenang, aku langsung berlari ke arah Finha pergi.

*****

“hai Finh, gimana kabarmu?.” sapaku kepada Finha setelah aku berhasil mengejarnya di loket karcis Metro, kebetulan antrian lagi panjang.

“hai Ram, Alhamdulillah baik, kalo kamu?.”

“baik, lagi ngapain Finh?.” tanyaku basa-basi.

“lagi beliin obat untuk teman yang lagi sakit.”

“lah, jauh banget emang rumahnya dimana?.”tanyaku penasaran.

“dimana ya? Hhi.. oh iya, kamu udah ke dokter belum?”

Dokter?. Ah, mungkin ia ingin menggodaku, saat di bus dulu, ia pernah menyarankanku pergi ke Dokter Cinta, katanya sih aku lagi bermasalah dalam menangani Virus Merah Jambu ini.

“belum, bu dokternya katanya lagi pergi, ngejenguk temannya yang lagi sakit sih” balasku menggoda. Pipi Finha sekilas kulihat merona.

Ibu-ibu yang tadi berjalan bersamanya adalah madam di kostan dia tinggal, katanya beliau sendirilah yang menawarkan Finha untuk mengantarkan beli Obat, soalnya suami-nya ada keperluan mendadak bersama para pejabat Istana di Mesir.

“anak manja” bisikku menggoda. Finha langsung cemberut.

Duh manisnya.

Obrolan kami berlanjut seputar akdemi, cita-cita, dan masa lalunya beberapa kali senyumnya keluar dari wajah rembulannya di setiap aku memujinya. Namun mama yang dari tadi sedang menerima telpon sesekali memanggil Finha dan aku terpaksa menunggu.

KRINGG!!..Tiba-tiba hape-ku berbunyi. Nama ALTAF terpampang di layar.
“Ram, lw kemana aj?, buru lw kesini selmetin gw, Produser Film itu masih nyari-nyari nih.” Ucap suara yang ada di sebrang sana.

Tanpa sempat pamit kepada Finha yang lagi sibuk dengan telponnya, aku langsung berlari ke KFC menyelamatkan Altaf dari kejaran para Produser Film itu.

Perlu sekitar dua puluh menit untuk mengecoh para Produser Film yang masih jengkel dengan kelakuan kami, sampai akhirnya kami lihat beberapa diantara mereka menyerah.

Akupun kembali berlari ke dalam metro, namun terlambat, kulihat finha dan Mama-nya sudah naik kereta yang akan kembali memisahkan kita. Kulihat ia tersenyum lalu mengucapkan sesuatu.

“assalamu’alaikum”

Wa’alaikumsalam, senang bisa bertemu kamu Finh.

Akupun pulang dengan bibir yang masih menyunggingkan senyuman, Altaf yang baru datang dan melihatku senyum-senyum sendirian heran.

“kenapa lw, senyum-senyum? kesambet setan.?” Tanyanya penasaran.

Aku pun terus berjalan, bersama bayang-bayang Finha yang berhasil kurekam. kira-kira kapan ya aku bisa merekam nama dan nomor telpon-nya.





Selasa, 05 Februari 2013

Lamunan, Big Match & Teh Hangat.


di tulis, Malam-3Februari2013

Lamunan

Aku kembali mulai berfikir dan berangan, seandainya aku menjadi seorang pemain bola, atau kini sedang menekuni dunia artistic, atau sedang menjadi seorang atlit tae kwon do yang sedang berlatih di penghujung malam, mempersiapkan fisik dan mental demi merengkuh medali tingkat provinsi ataupun nasional.

Kembali, angan-angan itu kembali menghampiriku, mengalihkan semua jadwal harian yang sudah kusiapkan untuk segera kuselesaikan. 

Big Match

Akhirnya, malam ini aku memutuskan untuk menonton pertandingan Barcelona lawan Valencia; salah satu big match di liga BBVA-nya Spanyol, walau tidak semenarik El-Clasico yang baru berlangsung empat hari yang lalu, namun pertandingan ini sedikit menarik perhatianku yang sedang berangan dan berandai tentang masa lalu. 

sedikit mengganti kebiasaan, aku memilih sebuah Kafe yang lain dari biasanya, sedikit masuk ke daerah Babul Futuh dan meninggalkan Kafe favorit di daerah Kawakib. Setelah memesan  pesanan teh hangat, aku kembali mulai berangan; menghayal tentang kemungkinan-kemungkinan masa depan yang bisa saja ku pilih ketika aku masih duduk di bangku ‘aliyah.

Sesekali lamunanku buyar lalu terfokus ke arah layar televisi, “Messi sudah di depan gawang!” batinku sambil menunggu sontekan keras yang akan mengoyak jala lawan, posisiku sudah siap berdiri demi merayakan goal Messi dari kafe itu, namun sayang, bola yang ditendang menghantam barisan pertahanan lawan lalu terpental ke tengah lapangan dan bola kembali dipermainkan, aku kembali tenang, dan fikiranku kembali terbang.

Kakiku yang mulai merasakan kedinginan terus ku gerak-gerakkan. Sebenarnya malam ini masih bagian dari musim dingin yang menyelimuti Kota Kairo dan sekitarnya, dan kini sudah terhitung tiga bulan aku merasakan dingin yang menusuk hingga ke tulang-tulang jika tubuh ini terkena cipratan air, atau hembusan angin di daerah terbuka. dan sungguh tak normal jika malam-malam begini kau berjalan keluar rumah hanya dengan beralaskan sandal tanpa dilapisi kaos kaki tebal, namun aku melakukan hal gila itu dengan terpaksa, ya terpaksa, karena kaos kakiku hilang tatkala mempersiapkan dekor tempat acara untuk pernikahan Faqih dan Salsabila, seniorku di jami’ah Al-Azhar Al-Qahiroh.

Teh hangat

Terlepas dari kemalanganku dan tingginya tensi pertandingan yang sedang aku tonton, aku memilih menikmati seruputan teh hangat yang sudah kupesan sejak awal tadi sambil kembali menemukan kenyataan bahwa; sekarang aku adalah seorang Mahasiswa Al-Azhar, tingkat dua Fakultas Syari’ah Islamiyah, dengan taroqum kenajahan yang sangat pas-pasan -yang entah orang-orang di Indonesia sering menyebut apa, namun kami disini hanya menyebutnya dalam kalimat; Mumtaz, Jayyid atau Jayyid Jiddan.

Yah, kembali aku menemukan kenyataan bahwasannya kelak saat tua nanti aku tidak akan disebut sebagai pensiunan Pesepakbola, atau Atlit Tae Kwon Do, dan entah bagaimana aku membayangkan kehidupanku di usia yang tidak berenergi itu lagi. Jika tanpa ilmu yang ada di dalam kepala ini ataupun keyakinan yang ada di dalam dada ini, akan jadi apa lagi ku nanti?

Teh yang dari tadi sengaja kusisakan setengah di atas meja mulai terasa dingin saat kusentuh kembali.  Begitu pula pertandingan yang sudah memasuki menit-menit akhir kini berjalan sedikit monoton dan mulai terasa kurang menarik, skor yang masih bertahan imbang hingga detik ini mulai menyertai jalan fikiranku yang juga ingin menyederhanakan sebuah lamunan yang tidak kutemui ujungnya itu.

Akhirnya kupastikan teh yang sudah dingin itu habis dalam tegukan ketigaku, bersamaan dengan peluit tanda selesainya pertandingan yang sedang ku tonton, aku mulai melangkahkan kakiku, namun aku masih bimbang dengan akhir lamunanku, aku masih terombang-ambing.

Hingga akhir hurufku ini, aku masih bingung untuk menyelesaikannya dengan kalimat apa?, semoga saja pertanyaan ini bisa mengakhiri malam dan obrolan kita. Semoga.


Shubuh, EmpatFebruari 2013

Senin, 04 Februari 2013

Fiennha

“emm,, rama kan?” tiba-tiba saja suara merdu itu menyebut namaku, aku yang dari tadi melamun menatap keluar lewat jendela  mobil Autobus dengan penasaran mencari sumber suara itu, ku dapati sesosok wanita yang wajahnya sudah tidak asing bagiku, ia memiliki mata yang indah seperti gemerlapan bintang di malam hari, wajahnya yang terlihat memerah di hadapanku mengingatkanku tentang pesona merah  mentari tatkala tenggelam di ufuk barat, begitu pula senyumnya yang menyerupai potongan rembulan yang menerangi malam membuatku merasa beruntung pernah bertemu dengannya.

Wanita yang duduk disampingku namanya Finha, tidak ada perubahan yang menonjol sejak aku bertemu dengannya pertama kali, dari sikapnya yang selalu berusaha tampil tenang hingga gaya berpakainnya yang tampil menawan. 

*****

Ketika itu, aku sedang melakukan kunjungan mingguan ke Perpustakaan Mahasiswa Indonesia di daerah Rab’ah, aku yang waktu itu terlalu bersemangat mencari buku di setiap rak yang ada tiba-tiba tak sengaja menyenggol dia, ya wanita yang memiliki setengah potongan rembulan di wajahnya itu, sehingga tumpukan buku yang sedang ia bawa di tangannya jatuh berhamburan.

Seketika aku menjadi gugup, dan berusaha langsung memungut buku-buku yang jatuh dari tangannya
“maaf ya dik.” Ucapku penuh sesal setelah menyerahkan buku-buku tersebut.

“emm, iya ngga’ apa-apa ko’ ka’, tadi aku lihat juga kaka’ lagi terburu-buru . aku aja yang kurang waspada pas kaka’ membalikkan badan.”balasnya dengan lembut, tak ada nada menyindir dalam kalimatnya.

Lalu aku lihat, seorang wanita yang baru datang menghampiri kami, aku rasa ia melihat kejadian ini dan ingin cepat menolong namun buku-buku sudah selesai kami susun kembali.

“oh iya mas, kenalin namaku ririn, maafin kelakuan si finha ya mas, dia memang sering gugup kalo ketemu cowok ganteng.” Celoteh wanita yang mengaku namanya ririn itu.

Si finha yang baru aku ketahui namanya itu hanya bisa cemberut ke ririn, lalu sambil pamit meminta izin dariku  untuk kembali melakukan pekerjaannya, mereka pergi meninggalkanku yang masih berdiri kaku di depan rak-rak buku, aku hanya bisa bernapas lega setelah mereka menjauh.

“untung mereka tidak terlalu memperhatikan reaksiku tadi, haduh dasar..siapa tadi namanya.. finha, bahkan cemberutmu bikin gugup jantungku saja” batinku sambil senyum-senyum ke setiap buku yang sedang aku pilih untuk ku jadikan refrensi tugas organisasi.

Akhirnya buku yang kubutuhkan kutemukan, sambil mencari-cari loket penjaga perpustakaan aku membolak-balik isi buku itu, memastikan bahwa data mahasiswa yang ada di buku ini lengkap sehingga aku tak perlu kembali lagi untuk yang kedua kalinya hanya untuk mencari buku refrensi yang sama.

Sesampai di loket peminjaman buku, aku tak sengaja melihat data mahasiswi yang bernama lengkap “fina fini amanda”, yang mengingatkaknu kembali pada peritiwa barusan.

“jangan-jangan ini si Finha yang tadi..” ucapku lirih sambil terus memperhatikan data mahasiswi yang ada ditanganku ini, tanpa foto, alamat, dan nomor telepon, Aku jadi penasaran.

“ada yang bisa dibantu mas?” tiba-tiba saja penjaga loket peminjaman buku di perpustakaan ini bertanya kepadaku, mungkin karena melihat aku berdiri kebingungan di depannya dan sudah ada dua orang yang berdiri di belakakngku menunggu antrian untuk meminjam buku.

“mas, tadi akhwat yang bernama Finha dimana ya?” tanyaku cepat takut membuat gerah antrian yang sudah ada di belakangku ini.

“Akhwat yang memakai jilbab hijau cerah ya?”

“emm, iya”

“oh tadi sudah keluar mas, barusan aja.” Jawab si penjaga sambil menunjukkan jari telunjuknya kea rah pintu keluar.

“oh gitu ya mas, kalo gitu aku minjem buku ini aja deh.” Sambil menyodorkan buku dan catatan kecil bukti peminjaman khusus dan dengan cepat aku keluar dari perpustakaan mengejar Finha yang kurasa sudah jauh meninggalkanku.

*****

Aku sedikit berlari sambil memanggul harapan bisa bertemu dengan Si Finha, entah rasa rindu atau penasaran yang memaksaku agar lekas menghampirinya, namun aku dengan tegas memastikan di hati ini bahwa aku mengejarnya hanya untuk bertanya tentang data kemahasiswaan yang belum lengkap di catatan buku ini, dan membuang jauh-jauh perasaan yang lainnya.

“itu dia.” Ucapku bersemangat tatkala melihat siluet jilbab hijau yang ia kenakan di penghujung jalan.
“Finha, lagi nunggu bus untuk pulang ya?” sapaku sambil bertanya ketika aku sudah sampai tepat di belakangnya.

Finha yang baru menoleh, terlihat kaget tatkala ia melihat wajahku, tersirat sedikit rasa gugup di mukanya, dan Ririn yang berdiri tepat disamping finha ikut menoleh ke arahku.

“eh, kamu.. siapa nama kamu tadi?” Tanya Ririn memecahkan kebisuan setelah melihat Finha yang aku sapa dari tadi terlihat gugup diam seribu bahasa.

“rama.” Ucapku singkat sambil menyembunyikan nafasku yang tersengal-sengal takut ketahuan jika aku mengejar mereka.

“ada apa rama?” Tanya Ririn langsung.

“emm, ini, ada yang ingin saya tanyakan ke Finha.” Jawabku sedikit grogi.

“oh, tuh Finh, ada yang mau ngasih bunga mawar ke kamu.” Goda Ririn pada kami berdua. Lalu ia langsung mengalihkan pandangan ke jalan raya, sembari melihat-lihat kalau ada bis yang mereka tunggu  sudah datang.
Finha yang makin grogi setelah di goda Ririn tiba-tiba langsung berbicara.

“iya nih, lagi nunggu bus untuk pulang.”

Aku seketika terdiam dan Ririn yang sudah menolehkan wajahnya terlihat menyembunyikan tawa di samping Finha. Finha yang dari tadi sudah memerah wajahnya kini makin menunduk, aku yang tidak ingin Finha makin tambah malu langsung menyodorkan buku referensi yang barusan aku pinjam.

 “Finha, kamu mahasiswa baru marhalah 2012 kan? Di data mahasiswa baru ini informasimu belum lengkap jadi..” belum selesai aku menjelaskan tiba-tiba Ririn menarik lengan Finha.

“ayo Finh, bus-nya udah datang. Oh iya rama, sampai jumpa lagi ya.” Ucap Ririn kepada kami berdua seirama dengan langkahnya yang menaiki tangga bus.

Finha yang dari tadi di tarik-tarik oleh Ririn akhirnya ikut naik ke dalam bus, terlihat di wajahnya kebingungan yang sangat dan keinginan untuk mengucapkan sesuatu kepadaku.

Bus mulai jalan perlahan-lahan dan mulai membuat jarak yang sangat lebar antara kami berdua, namun masih terlihat Finha ingin menyampaikan sesuatu kepadaku dengan isyarat gelengan kepalanya yang sampai saat itu tak kumnegerti apa maksudnya.

*****

Kini Finha duduk tepat di sebelahku di atas bus bernomor 65 jurusan Sayyidah ‘Aisyah, aku tidak bisa menyembunyikan keherananku tatkala ia menyapaku, sudah lebih dari dua bulansejak peristiwa itu kita belum pernah bertemu .

“mm, aku bukan fina yang waktu itu kamu maksud lho..” finha mulai menjelaskan kepadaku isyarat gelengan kepalanya waktu perpisahan kami dulu.

Dan aku hanya merespon dengan anggukan kepala, karena sehari setelah kejadian itu, aku langsung meng’crosscheck informasi yang kurang dari buku mahasiswa yang kupinjam tersebut, Dan kenyataan pahit yang kutemukan adalah foto dari nama yang terlampir bukanlah Finha yang kini duduk di sebelahku. 

“aku dulunya sekolah di pondok gontor, jawa timur. Dan sekarang Alhamdulillah sudah tingkat tiga, oh iya aku minta doa’nya ya semoga aku bisa cepat selesai.” Ungkap Finha panjang lebar.

Aku mengamininya dan dia juga berterima kasih atas do’aku, aku juga menjelaskan keselahanku tentang siapa fina yang ada di buku waktu itu, dia hanya bisa tertawa kecil setelah mendengar penjelasan dariku.
Seketika suasana sedikit mencair saat aku mendengar tawa kecilnya, obrolanpun berlanjut seputar kita, hingga ia bertanya tentang kuliahku, aku pun menjawab dengan malu-malu, sadar bahwa aku masih adik kelasnya.

“wah, aku baru tingkat dua finh, tadinya aku kira kamu yang jadi adik kelasku..”

“ahaha... aku juga kira kamu kaka’ kelas aku lho.” Komentar Finha.

“eh, rupanya kita ini saudara ya..” lanjut Finha “sama-sama dari nabi adam.”

“ahaha, iyalah finh, satu saudara yang diikat dengan tali ukhuwah juga.” Balasku.

“wah, jawaban anda tepat sekali, mau dikasih hadiah apa nih?” yang tadinya hanya bercanda kini Finha mulai menawarkan hadiah.

Sebenarnya dari tadi aku memperhatikan finha, tatkala ia menunduk, menoleh, bahkan saat tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan jilbab. Juga ketika wajahnya yang kian memerah setiap kali mata kami saling bertatapan membuat hatiku terombang-ambing tidak karuan.

Dan saat ia menawarkan hadiahnya kepadaku sebenarnya aku ingin memintanya menyimak sajak-sajak cinta yang tiba-tiba saja tercipta setiap kali aku memandangi senyumnya.

“bener nih ada hadiahnya?, kalo gitu aku minta senyum ananda aja deh.. “ pintaku

Tiba-tiba terdengar suara dengkuran keras dari bangku depanku, ternyata ada seorang kakek berkebangsaan mesir sedang tidur dengan nyenyaknya di tengah hari begini, aku dan finha pun tergelak, geleng-geleng tidak habis pikir tentang kelakuan kakek ini.

Mata kamipun tiba-tiba saling bertatapan, lalu kami terdiam dan saling memalingkan wajah. Suasana kembali hening, hanya bunyi klakson mobil di sekitar kami yang terdengar.

 Finha mengeluarkan secarika kertas dan pulpen, lalu menggambar emotikon senyuman sebanyak tiga kali lalu menyerahkannya padaku.

“ini hadiahmu yang tadi, aku tambah 3x lipat.” Ucap Finha sambil menyerahkan kertas yang sudah ia gambar.
Ia masih memalingkan wajahnya dariku, begitu pula aku ketika menerima hadiah darinya, namun aku merasakan getaran-getaran halus di ujung kertas yang ia serahkan padaku.

Kami masih saling memalingkan wajah,aku menatap keluar jendela sedangkan ia menunduk sibuk memperhatikan catatan-catatannya yang sempat ia keluarkan untuk menggambar emotikon senyum yang ia buat untukku.

Bus sudah melewati kuliyah Al-Azhar yang terletak di daerah Hay Sadis, seketika aku tersadar, bahwa pemberhentianku sebentar lagi dan aku juga sadar bahwa mungkin ini akan menjadi perpisahanku dengan Finha yang entah kapan lagi aku bisa bertemu dengannya.

Aku pun meminta izin pada Finha untk keluar dari tempat dudukku, Finha terlihat kaget dengan permintaanku namun ia tetap memberikan jalan untukku tanpa banyak bertanya dan setelah aku bisa berdiri di tengah koridor bus, aku menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa memang dari tadi tidak ada mahasiswa Indonesia di dalam bus ini yang memperhatikan kami sehingga aku bisa leluasa mengucapkan sesuatu kepada Finha.

“finh.. aku turun duluan ya, aku ada janji dengan temanku di ma’rad. Oh iya, karena entah kapan lagi kita bisa bertemu..” aku berhenti untuk mendramatisir suasana “ aku punya kata-kata mutiara untukmu.”

“apa?”

“ Cinta itu rahasia Allah, misteri bagi semua hamba-Nya..”  ucapku sambil nyengir menahan malu yang tak kepalang.

Finha yang mendengar kata-kataku terlihat shock dan langsung berkomentar.

“kayaknya habis dari ma’rad kamu harus periksa ke dokter cinta deh..”

“kenapa?” tanyaku.

“soalnya kamu kaya ada gejala kena virus merah jambu gitu, habisnya ngomong ke aku tentang cinta-cintaan sih..hihi..” jawabnya sambil tertawa kecil.

Aku hanya bisa geleng-geleng mendengar komentarnya.

“oke, silahkan jalan, hati-hati ya, kapan-kapan disambung lagi” sambung Finha.

“InsyaAllah Finh, apa sih yang engga’ untuk mendapatkan hadiah senyummu lagi..?” godaku.

Tiba-tiba Finha kembali menggambar emotikon cinta di buku catatannya.

“nih, bonus untuk kamu Rama, gratis..” ucap Finha sambil menyerahkan gambarnya kepadaku. Kembali kurasakan getaran halus di ujung kertas yang ia berikan.

Di moment-moment terakhir itu kami saling membalas senyum, dan tiba-tiba mobil berhenti di bawah jembatan yang menandakan perpisahanku dengannya, tanpa nama lengkap, tanpa alamat rumah, dan tanpa nomor telpon. Yang bagiku tak ada cara untuk mempertemukanku dengan dirinya melainkan takdir tuhan. Aku pun turun dari bus yang memisahkan aku dengannya.

Bahkan di tengah kencangnya angin musim dingin di siang itu, aku tak takut untuk membuka mataku selebar-lebarnya untuk memperhatikan kepergian bus yang membawa Finha pergi dari sisiku tanpa takut kelilipan debu-debu yang ada di sekitar jembatan, karena aku sadar, bahwa mata ini kini sudah buta oleh kilauan cinta yang menerpaku sejak aku duduk berdua dengannya.

Tanpa sadar aku sudah berdiri setengah jam di tempat itu, memperhatikan jalan yang dilewati bus yang tadi aku naiki bersama Finha. Dan setelah memastikan bahwa gambar yang ia serahkan kepadaku memang benar-benar nyata, kini aku kembali menunggu takdir yang akan mempertemukanku dengannya lagi.


Malam di QosrEl-Chok, EmpatFebruari2013.
Cerpen pertamaku sejak tantangan satu tahun yang lalu... :)) ahha. selamat menikmati.