“emm,, rama kan?”
tiba-tiba saja suara merdu itu menyebut namaku, aku yang dari tadi melamun
menatap keluar lewat jendela mobil Autobus
dengan penasaran mencari sumber suara itu, ku dapati sesosok wanita yang wajahnya
sudah tidak asing bagiku, ia memiliki mata yang indah seperti gemerlapan
bintang di malam hari, wajahnya yang terlihat memerah di hadapanku
mengingatkanku tentang pesona merah mentari
tatkala tenggelam di ufuk barat, begitu pula senyumnya yang menyerupai potongan
rembulan yang menerangi malam membuatku merasa beruntung pernah bertemu
dengannya.
Wanita yang duduk
disampingku namanya Finha, tidak ada perubahan yang menonjol sejak aku bertemu
dengannya pertama kali, dari sikapnya yang selalu berusaha tampil tenang hingga
gaya berpakainnya yang tampil menawan.
*****
Ketika itu, aku
sedang melakukan kunjungan mingguan ke Perpustakaan Mahasiswa Indonesia di
daerah Rab’ah, aku yang waktu itu terlalu bersemangat mencari buku di setiap
rak yang ada tiba-tiba tak sengaja menyenggol dia, ya wanita yang memiliki
setengah potongan rembulan di wajahnya itu, sehingga tumpukan buku yang sedang
ia bawa di tangannya jatuh berhamburan.
Seketika aku menjadi
gugup, dan berusaha langsung memungut buku-buku yang jatuh dari tangannya
“maaf ya dik.” Ucapku
penuh sesal setelah menyerahkan buku-buku tersebut.
“emm, iya ngga’
apa-apa ko’ ka’, tadi aku lihat juga kaka’ lagi terburu-buru . aku aja yang
kurang waspada pas kaka’ membalikkan badan.”balasnya dengan lembut, tak ada
nada menyindir dalam kalimatnya.
Lalu aku lihat,
seorang wanita yang baru datang menghampiri kami, aku rasa ia melihat kejadian
ini dan ingin cepat menolong namun buku-buku sudah selesai kami susun kembali.
“oh iya mas,
kenalin namaku ririn, maafin kelakuan si finha ya mas, dia memang sering gugup
kalo ketemu cowok ganteng.” Celoteh wanita yang mengaku namanya ririn itu.
Si finha yang
baru aku ketahui namanya itu hanya bisa cemberut ke ririn, lalu sambil pamit meminta
izin dariku untuk kembali melakukan
pekerjaannya, mereka pergi meninggalkanku yang masih berdiri kaku di depan
rak-rak buku, aku hanya bisa bernapas lega setelah mereka menjauh.
“untung mereka
tidak terlalu memperhatikan reaksiku tadi, haduh dasar..siapa tadi namanya..
finha, bahkan cemberutmu bikin gugup jantungku saja” batinku sambil
senyum-senyum ke setiap buku yang sedang aku pilih untuk ku jadikan refrensi
tugas organisasi.
Akhirnya buku
yang kubutuhkan kutemukan, sambil mencari-cari loket penjaga perpustakaan aku
membolak-balik isi buku itu, memastikan bahwa data mahasiswa yang ada di buku
ini lengkap sehingga aku tak perlu kembali lagi untuk yang kedua kalinya hanya
untuk mencari buku refrensi yang sama.
Sesampai di loket
peminjaman buku, aku tak sengaja melihat data mahasiswi yang bernama lengkap “fina
fini amanda”, yang mengingatkaknu kembali pada peritiwa barusan.
“jangan-jangan
ini si Finha yang tadi..” ucapku lirih sambil terus memperhatikan data
mahasiswi yang ada ditanganku ini, tanpa foto, alamat, dan nomor telepon, Aku jadi
penasaran.
“ada yang bisa
dibantu mas?” tiba-tiba saja penjaga loket peminjaman buku di perpustakaan ini
bertanya kepadaku, mungkin karena melihat aku berdiri kebingungan di depannya
dan sudah ada dua orang yang berdiri di belakakngku menunggu antrian untuk
meminjam buku.
“mas, tadi akhwat
yang bernama Finha dimana ya?” tanyaku cepat takut membuat gerah antrian yang
sudah ada di belakangku ini.
“Akhwat yang
memakai jilbab hijau cerah ya?”
“emm, iya”
“oh tadi sudah
keluar mas, barusan aja.” Jawab si penjaga sambil menunjukkan jari telunjuknya kea
rah pintu keluar.
“oh gitu ya mas,
kalo gitu aku minjem buku ini aja deh.” Sambil menyodorkan buku dan catatan
kecil bukti peminjaman khusus dan dengan cepat aku keluar dari perpustakaan
mengejar Finha yang kurasa sudah jauh meninggalkanku.
*****
Aku sedikit
berlari sambil memanggul harapan bisa bertemu dengan Si Finha, entah rasa rindu
atau penasaran yang memaksaku agar lekas menghampirinya, namun aku dengan tegas
memastikan di hati ini bahwa aku mengejarnya hanya untuk bertanya tentang data
kemahasiswaan yang belum lengkap di catatan buku ini, dan membuang jauh-jauh
perasaan yang lainnya.
“itu dia.” Ucapku
bersemangat tatkala melihat siluet jilbab hijau yang ia kenakan di penghujung
jalan.
“Finha, lagi
nunggu bus untuk pulang ya?” sapaku sambil bertanya ketika aku sudah sampai
tepat di belakangnya.
Finha yang baru
menoleh, terlihat kaget tatkala ia melihat wajahku, tersirat sedikit rasa gugup
di mukanya, dan Ririn yang berdiri tepat disamping finha ikut menoleh ke
arahku.
“eh, kamu.. siapa
nama kamu tadi?” Tanya Ririn memecahkan kebisuan setelah melihat Finha yang aku
sapa dari tadi terlihat gugup diam seribu bahasa.
“rama.” Ucapku singkat
sambil menyembunyikan nafasku yang tersengal-sengal takut ketahuan jika aku
mengejar mereka.
“ada apa rama?” Tanya
Ririn langsung.
“emm, ini, ada yang
ingin saya tanyakan ke Finha.” Jawabku sedikit grogi.
“oh, tuh Finh,
ada yang mau ngasih bunga mawar ke kamu.” Goda Ririn pada kami berdua. Lalu ia
langsung mengalihkan pandangan ke jalan raya, sembari melihat-lihat kalau ada
bis yang mereka tunggu sudah datang.
Finha yang makin
grogi setelah di goda Ririn tiba-tiba langsung berbicara.
“iya nih, lagi
nunggu bus untuk pulang.”
Aku seketika terdiam
dan Ririn yang sudah menolehkan wajahnya terlihat menyembunyikan tawa di
samping Finha. Finha yang dari tadi sudah memerah wajahnya kini makin menunduk,
aku yang tidak ingin Finha makin tambah malu langsung menyodorkan buku
referensi yang barusan aku pinjam.
“Finha, kamu mahasiswa baru marhalah 2012 kan?
Di data mahasiswa baru ini informasimu belum lengkap jadi..” belum selesai aku
menjelaskan tiba-tiba Ririn menarik lengan Finha.
“ayo Finh,
bus-nya udah datang. Oh iya rama, sampai jumpa lagi ya.” Ucap Ririn kepada kami
berdua seirama dengan langkahnya yang menaiki tangga bus.
Finha yang dari
tadi di tarik-tarik oleh Ririn akhirnya ikut naik ke dalam bus, terlihat di
wajahnya kebingungan yang sangat dan keinginan untuk mengucapkan sesuatu
kepadaku.
Bus mulai jalan perlahan-lahan
dan mulai membuat jarak yang sangat lebar antara kami berdua, namun masih
terlihat Finha ingin menyampaikan sesuatu kepadaku dengan isyarat gelengan
kepalanya yang sampai saat itu tak kumnegerti apa maksudnya.
*****
Kini Finha duduk
tepat di sebelahku di atas bus bernomor 65 jurusan Sayyidah ‘Aisyah, aku tidak
bisa menyembunyikan keherananku tatkala ia menyapaku, sudah lebih dari dua
bulansejak peristiwa itu kita belum pernah bertemu .
“mm, aku bukan
fina yang waktu itu kamu maksud lho..” finha mulai menjelaskan kepadaku isyarat
gelengan kepalanya waktu perpisahan kami dulu.
Dan aku hanya
merespon dengan anggukan kepala, karena sehari setelah kejadian itu, aku
langsung meng’crosscheck informasi yang kurang dari buku mahasiswa yang
kupinjam tersebut, Dan kenyataan pahit yang kutemukan adalah foto dari nama
yang terlampir bukanlah Finha yang kini duduk di sebelahku.
“aku dulunya
sekolah di pondok gontor, jawa timur. Dan sekarang Alhamdulillah sudah tingkat
tiga, oh iya aku minta doa’nya ya semoga aku bisa cepat selesai.” Ungkap Finha
panjang lebar.
Aku mengamininya
dan dia juga berterima kasih atas do’aku, aku juga menjelaskan keselahanku tentang
siapa fina yang ada di buku waktu itu, dia hanya bisa tertawa kecil setelah
mendengar penjelasan dariku.
Seketika suasana sedikit
mencair saat aku mendengar tawa kecilnya, obrolanpun berlanjut seputar kita,
hingga ia bertanya tentang kuliahku, aku pun menjawab dengan malu-malu, sadar
bahwa aku masih adik kelasnya.
“wah, aku baru
tingkat dua finh, tadinya aku kira kamu yang jadi adik kelasku..”
“ahaha... aku juga
kira kamu kaka’ kelas aku lho.” Komentar Finha.
“eh, rupanya kita
ini saudara ya..” lanjut Finha “sama-sama dari nabi adam.”
“ahaha, iyalah
finh, satu saudara yang diikat dengan tali ukhuwah juga.” Balasku.
“wah, jawaban
anda tepat sekali, mau dikasih hadiah apa nih?” yang tadinya hanya bercanda
kini Finha mulai menawarkan hadiah.
Sebenarnya dari
tadi aku memperhatikan finha, tatkala ia menunduk, menoleh, bahkan saat tertawa
kecil sambil menutupi mulutnya dengan jilbab. Juga ketika wajahnya yang kian
memerah setiap kali mata kami saling bertatapan membuat hatiku terombang-ambing
tidak karuan.
Dan saat ia
menawarkan hadiahnya kepadaku sebenarnya aku ingin memintanya menyimak
sajak-sajak cinta yang tiba-tiba saja tercipta setiap kali aku memandangi
senyumnya.
“bener nih ada
hadiahnya?, kalo gitu aku minta senyum ananda aja deh.. “ pintaku
Tiba-tiba
terdengar suara dengkuran keras dari bangku depanku, ternyata ada seorang kakek
berkebangsaan mesir sedang tidur dengan nyenyaknya di tengah hari begini, aku
dan finha pun tergelak, geleng-geleng tidak habis pikir tentang kelakuan kakek
ini.
Mata kamipun
tiba-tiba saling bertatapan, lalu kami terdiam dan saling memalingkan wajah. Suasana
kembali hening, hanya bunyi klakson mobil di sekitar kami yang terdengar.
Finha mengeluarkan secarika kertas dan pulpen,
lalu menggambar emotikon senyuman sebanyak tiga kali lalu menyerahkannya
padaku.
“ini hadiahmu
yang tadi, aku tambah 3x lipat.” Ucap Finha sambil menyerahkan kertas yang
sudah ia gambar.
Ia masih
memalingkan wajahnya dariku, begitu pula aku ketika menerima hadiah darinya, namun
aku merasakan getaran-getaran halus di ujung kertas yang ia serahkan padaku.
Kami masih saling
memalingkan wajah,aku menatap keluar jendela sedangkan ia menunduk sibuk
memperhatikan catatan-catatannya yang sempat ia keluarkan untuk menggambar
emotikon senyum yang ia buat untukku.
Bus sudah
melewati kuliyah Al-Azhar yang terletak di daerah Hay Sadis, seketika aku
tersadar, bahwa pemberhentianku sebentar lagi dan aku juga sadar bahwa mungkin ini
akan menjadi perpisahanku dengan Finha yang entah kapan lagi aku bisa bertemu
dengannya.
Aku pun meminta
izin pada Finha untk keluar dari tempat dudukku, Finha terlihat kaget dengan
permintaanku namun ia tetap memberikan jalan untukku tanpa banyak bertanya dan setelah
aku bisa berdiri di tengah koridor bus, aku menoleh ke kanan dan ke kiri,
memastikan bahwa memang dari tadi tidak ada mahasiswa Indonesia di dalam bus
ini yang memperhatikan kami sehingga aku bisa leluasa mengucapkan sesuatu
kepada Finha.
“finh.. aku turun
duluan ya, aku ada janji dengan temanku di ma’rad. Oh iya, karena entah kapan
lagi kita bisa bertemu..” aku berhenti untuk mendramatisir suasana “ aku punya
kata-kata mutiara untukmu.”
“apa?”
“ Cinta itu rahasia
Allah, misteri bagi semua hamba-Nya..”
ucapku sambil nyengir menahan malu yang tak kepalang.
Finha yang
mendengar kata-kataku terlihat shock dan langsung berkomentar.
“kayaknya habis
dari ma’rad kamu harus periksa ke dokter cinta deh..”
“kenapa?”
tanyaku.
“soalnya kamu
kaya ada gejala kena virus merah jambu gitu, habisnya ngomong ke aku tentang
cinta-cintaan sih..hihi..” jawabnya sambil tertawa kecil.
Aku hanya bisa
geleng-geleng mendengar komentarnya.
“oke, silahkan
jalan, hati-hati ya, kapan-kapan disambung lagi” sambung Finha.
“InsyaAllah Finh,
apa sih yang engga’ untuk mendapatkan hadiah senyummu lagi..?” godaku.
Tiba-tiba Finha
kembali menggambar emotikon cinta di buku catatannya.
“nih, bonus untuk
kamu Rama, gratis..” ucap Finha sambil menyerahkan gambarnya kepadaku. Kembali kurasakan
getaran halus di ujung kertas yang ia berikan.
Di moment-moment
terakhir itu kami saling membalas senyum, dan tiba-tiba mobil berhenti di bawah
jembatan yang menandakan perpisahanku dengannya, tanpa nama lengkap, tanpa alamat
rumah, dan tanpa nomor telpon. Yang bagiku tak ada cara untuk mempertemukanku
dengan dirinya melainkan takdir tuhan. Aku pun turun dari bus yang memisahkan
aku dengannya.
Bahkan di tengah
kencangnya angin musim dingin di siang itu, aku tak takut untuk membuka mataku
selebar-lebarnya untuk memperhatikan kepergian bus yang membawa Finha pergi dari
sisiku tanpa takut kelilipan debu-debu yang ada di sekitar jembatan, karena aku
sadar, bahwa mata ini kini sudah buta oleh kilauan cinta yang menerpaku sejak aku
duduk berdua dengannya.
Tanpa sadar aku
sudah berdiri setengah jam di tempat itu, memperhatikan jalan yang dilewati bus
yang tadi aku naiki bersama Finha. Dan setelah memastikan bahwa gambar yang ia
serahkan kepadaku memang benar-benar nyata, kini aku kembali menunggu takdir
yang akan mempertemukanku dengannya lagi.
Malam di QosrEl-Chok,
EmpatFebruari2013.
Cerpen pertamaku sejak tantangan satu tahun yang lalu... :)) ahha. selamat menikmati.