di tulis, Malam-3Februari2013
Lamunan
Aku kembali mulai
berfikir dan berangan, seandainya aku menjadi seorang pemain bola, atau kini
sedang menekuni dunia artistic, atau sedang menjadi seorang atlit tae kwon do
yang sedang berlatih di penghujung malam, mempersiapkan fisik dan mental demi
merengkuh medali tingkat provinsi ataupun nasional.
Kembali,
angan-angan itu kembali menghampiriku, mengalihkan semua jadwal harian yang
sudah kusiapkan untuk segera kuselesaikan.
Big Match
Akhirnya, malam
ini aku memutuskan untuk menonton pertandingan Barcelona lawan Valencia; salah
satu big match di liga BBVA-nya Spanyol, walau tidak semenarik El-Clasico
yang baru berlangsung empat hari yang lalu, namun pertandingan ini sedikit
menarik perhatianku yang sedang berangan dan berandai tentang masa lalu.
sedikit mengganti
kebiasaan, aku memilih sebuah Kafe yang lain dari biasanya, sedikit masuk ke
daerah Babul Futuh dan meninggalkan Kafe favorit di daerah Kawakib. Setelah
memesan pesanan teh hangat, aku kembali
mulai berangan; menghayal tentang kemungkinan-kemungkinan masa depan yang bisa
saja ku pilih ketika aku masih duduk di bangku ‘aliyah.
Sesekali
lamunanku buyar lalu terfokus ke arah layar televisi, “Messi sudah di depan
gawang!” batinku sambil menunggu sontekan keras yang akan mengoyak jala lawan,
posisiku sudah siap berdiri demi merayakan goal Messi dari kafe itu, namun
sayang, bola yang ditendang menghantam barisan pertahanan lawan lalu terpental
ke tengah lapangan dan bola kembali dipermainkan, aku kembali tenang, dan
fikiranku kembali terbang.
Kakiku yang mulai
merasakan kedinginan terus ku gerak-gerakkan. Sebenarnya malam ini masih bagian dari musim dingin
yang menyelimuti Kota Kairo dan sekitarnya, dan kini sudah
terhitung tiga bulan aku merasakan dingin yang menusuk hingga ke tulang-tulang
jika tubuh ini terkena cipratan air, atau hembusan angin di daerah terbuka. dan
sungguh tak normal jika malam-malam begini kau berjalan keluar rumah hanya
dengan beralaskan sandal tanpa dilapisi kaos kaki tebal, namun aku melakukan
hal gila itu dengan terpaksa, ya terpaksa, karena kaos kakiku hilang tatkala
mempersiapkan dekor tempat acara untuk pernikahan Faqih dan Salsabila, seniorku
di jami’ah Al-Azhar Al-Qahiroh.
Teh hangat
Terlepas dari
kemalanganku dan tingginya tensi pertandingan yang sedang aku tonton, aku
memilih menikmati seruputan teh hangat yang sudah kupesan sejak awal tadi sambil
kembali menemukan kenyataan bahwa; sekarang aku adalah seorang Mahasiswa
Al-Azhar, tingkat dua Fakultas Syari’ah Islamiyah, dengan taroqum kenajahan
yang sangat pas-pasan -yang entah orang-orang di Indonesia sering menyebut apa,
namun kami disini hanya menyebutnya dalam kalimat; Mumtaz, Jayyid atau Jayyid
Jiddan.
Yah, kembali aku menemukan
kenyataan bahwasannya kelak saat tua nanti aku tidak akan disebut sebagai
pensiunan Pesepakbola, atau Atlit Tae Kwon Do, dan entah bagaimana aku
membayangkan kehidupanku di usia yang tidak berenergi itu lagi. Jika tanpa ilmu
yang ada di dalam kepala ini ataupun keyakinan yang ada di dalam dada ini, akan
jadi apa lagi ku nanti?
Teh yang dari
tadi sengaja kusisakan setengah di atas meja mulai terasa dingin saat kusentuh
kembali. Begitu pula pertandingan yang
sudah memasuki menit-menit akhir kini berjalan sedikit monoton dan mulai terasa
kurang menarik, skor yang masih bertahan imbang hingga detik ini mulai
menyertai jalan fikiranku yang juga ingin menyederhanakan sebuah lamunan yang
tidak kutemui ujungnya itu.
Akhirnya
kupastikan teh yang sudah dingin itu habis dalam tegukan ketigaku, bersamaan
dengan peluit tanda selesainya pertandingan yang sedang ku tonton, aku mulai
melangkahkan kakiku, namun aku masih bimbang dengan akhir lamunanku, aku masih
terombang-ambing.
Hingga akhir
hurufku ini, aku masih bingung untuk menyelesaikannya dengan kalimat apa?,
semoga saja pertanyaan ini bisa mengakhiri malam dan obrolan kita. Semoga.
Shubuh,
EmpatFebruari 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar