“Umi, abang pingin makan sayur.” Pintaku penuh manja
kepadanya di setiap liburan musim panas saat SMA dulu.
Pagi, siang, malam. Setiap aku teringat kalimat sayur
hijau, Aku akan memintanya segera. Biasanya wanita yang kusayangi itu hanya menjawab dengan senyuman, lalu aku akan
pergi bermain meninggalkannya yang sibuk mengerjakan beberapa urusan.
Sepulang dari main, biasanya aku akan menemukan semangkuk
sayur hijau terhidang di atas meja makan, lengkap dengan sambal dan lauk-pauk. Meski
badan kotor dan bau keringat, aku langsung menyosor meja makan. Meski tak jarang
ibu mengingatkanku untuk cuci tangan.
Namun terkadang, saat pulang tak kudapati sayur di atas meja,
Namun terkadang, saat pulang tak kudapati sayur di atas meja,
“Umi.. kok sayurnya belum jadi?” tanyaku sedih.
“Nanti umi buatin.”
“buatin ya, Mi??”
“Iya, nanti dibuatin.”
“hehe, makasih umi.”
Sambil nyengir kuda, aku langsung lari ke kamar mandi untuk
bersih-bersih. Atau kalau malas, langsung tidur-tiduran di atas kasur. Dan wanita
yang selalu kusapa dengan panggilan Umi akan mengingatkanku dari ruang tempatnya
bekerja,
“Abang kalau naik kasur, cuci kaki dulu.”
******
Umi, aku tak pernah lupa kata-katamu bahwa sayur tidak bagus
kalau sudah lewat sehari. Mungkin karena itu aku selalu memintamu memasakkannya
untukku setiap waktu.
Artinya, pada hari itu engkau ada di sisiku dan aku memakan
sayur buatanmu. Tak ada jarak yang memisahkan kita yang perlu ditempuh berhari-hari.
Di samping itu, aku juga bisa menikmati makan sepiring berdua dengan Abi. Biasanya
ia akan mencampur kuah sayur dengan sambal buatanmu. Sayur bayam, sayur
kangkung. Dan yang paling favorit adalah sayur kuah kuning dengan ikan teri.
Umi, hari ini adalah hari ibu.. dan abang kangen masakanmu.
:’)
Selasa, 22 Desember 2015, di Kairo yang terlalu jauh untuk
bisa kau kirim sayur hangat itu.
