Setahun lebih sudah aktivitas mingguan baca Manga Naruto
berhenti. It’s been a long time without to not to see you, Naruto-Kun. Kadang
ketika mengingat masa remaja dulu, Cuma bisa senyum-senyum. Kadang senyumnya
manis, kadang kecut.
Okey. Yang manis adalah ketika inget waktu kongkow bareng
sama anak-anak seni, pecinta manga, dan gamer waktu di pondok pesantren dulu. Dunia
gw waktu itu gak jauh dari ketiga hal tadi. Suram? Nanti dulu, sekarang kita
pingin cerita yang manis-manis aja.
Setiap hari jum’at, waktu lari pagi biasanya sempet nyelinep
ke warnet, baca manga terupdate. Kadang kalau saya yang paling pertama
baca, bakal langsung pamer ke kawan-kawan yang belum. Ngeliat muka mereka
berubah penasaran menjadi kebanggan tersendiri ketika itu.
Ah, cerita di atas adalah ketika SMA dan sudah kenal dengan
dunia internet. Kalau SMP, paling cepet sebulan sekali, bahkan satpam penjaga
gerbang pun nggak pernah tau kalau saya pulang dari toko buku membawa setumpuk
komik. Sesampai di kamar, hal paling menyenangkan nggak pernah berubah, pamer
ke anak-anak.
Bisa dibilang, manga-manga Jepang semacam Naruto, One Piece,
dan Rave adalah inspirasi gw waktu remaja dulu. Hampir tiap waktu dihabiskan buat ng’gambar, bikin komik, ngayal alur cerita dan berbagai macam hal yang
berkaitan dengan kertas, pena, dan pensil warna.
Dalam beberapa kesempatan, hobi tersebut memberi kebanggan. Puncaknya
adalah tawaran masuk salah satu fakultas di IPB tanpa test. Well, meski
saya juga lupa sebab jasad ini akhirnya terdampar di salah satu fakultas Islam
tertua di Kairo.
Kembali ke senyum-senyum saat inget masa remaja. Kecutnya adalah…
Setiap waktu sore main basket dan futsal di lapangan,
sesekali saya melihat beberapa kawan menghabiskan waktu kosong mereka dengan
menghafal qur’an di pojok-pojok masjid.
Beberapa kali latihan TaeKwonDo dilaksanakan di masjid
Pondok. Latihan yang tak jarang berakhir ketika azan berkumandang membuatku
sering melirik para santri yang sudah sibuk dengan buku dan dzikir petang
mereka.
Waktu bidang kesenian ngerjain background acara, waktu cabut
dari pondok buat ng’game sehari-semalam, waktu di mana malam-malam yang
seharusnya digunakan untuk qiyam dan bermunajat selalu terlewat dengan hal yang
tak bermanfaat.
Dan ketika pagi hari terlambat masuk kelas, dari pada
ketawan guru pembina, kamipun sering berputar-putar mencari tempat
persembunyian. Masjid paling favorit, namun di sana tempat anak-anak tahfidz. dari sanalah rasa penyesalan yang ada saat ini hadir.
Penyesalan selalu datang belakangan, dan kali ini berbuah
senyum kecut.
Kecut? yah, tetap berusaha positif, bahagia dan terus evualuasi. Apalagi setelah ketemu orang-orang keren dengan situasi yang nggak kalah keren. jadi termotivasi euy.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar