Pagi ini aku masih memegang bara api itu, sumber
kehidupanku, harapanku. Perih. Panasnya membakar kulit jemari. Ingin rasanya
kusisihkan sebentar, tapi lagi-lagi rasa takut membuang jauh pikiran itu.
Ya, Takut adalah salah satu anugrah Tuhan.
“Ampunan-Mu Ya Allah.. ampunan-Mu Ya Allah.”
***
Sebagai pemuda pada umumnya, aku juga memiliki banyak keinginan.
Terkadang ingin segera merealisasikan semua itu pada satu waktu, namun beberapa
target sering berdesak-desakan.
Do’a. kini aku menggantungkan harapan itu pada do’a.
Harusnya, sebagai seorang muslim yang beriman, aku percaya Tuhan tak akan
pernah menelantarkan hamba-hambanya. Sehingga tidak perlu ada rasa gundah, resah,
dan gelisah yang mengganggu kita untuk segera mengejar target-target dunia
maupun akhirat.
Ah, cinta… akupun mencintaimu karena kurasa; kaulah yang
mampu membantuku untuk terus bersabar dengan Bara Api ini. Tapi begitulah,
manusia hanya bisa merasa.
Namun jangan lupa, ia (Manusia) juga punya do’a.
Jika Bara Api ini terlepas sebentar saja lalu ia hilang dan aku tersesat ditengah rimba dunia ini, sungguh
itu adalah sebuah kerugian yang akan sangat kusesali. Meski perih dan panasnya
membakar kulit jemari, biarlah…
Wahai orang-orang yang kucintai, Umi, abi, adik2, rekan,
kawan, sahabat, dan kamu yang namanya ada di masa depanku,
“Terimakasih atas motivasinya, dan jangan pernah bosan mendo’akan
saya yang cengeng ini, huhuehue.”
#BIGHUG #BeginToSmartMove
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang
berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”
30 Januari 2016