Dear, Umi.
Sudah lama kita tidak saling bertemu, dan sepertinya memang
harus begitu. Kau menaruh sebuah cita besar dipundakku, yang harus dibayar
dengan tumpukan rindu.
Dan kini, akhirnya kata romantis tentang cinta bisa sama-sama
kita aksarakan dengan satu perbuatan; “Diam.”
Kau tau aku begitu cengeng, anak ingusan yang selalu
menangis jika ditinggal olehmu. Maka sejak kecil bocah yang suka usil dan
membuat abi tak pernah istirahat ini dititipkan di rumah Paman, dididik
agar tau aturan.
Seingatku kau dilarang datang menjenguk, katanya sih agar bocah
cengeng ini tak terus-terusan menangis di pelukan sang ibu. Aku yang biasa
dimanjakan olehmu pun tak pernah lepas dari tangan besi paman, tak segan-segan
ia menjewer telinga jika aku menunjukkan gejala nakal.
Tak tau, didikan itu berlangsung berapa lama, tapi
setidaknya usahamu untuk merubah anak ingusan ini tak pernah berhenti di situ.
beberapa kali kau coba masukkan aku ke pondok tahfidz, ide iseng Abi dan dua kawannya
yang ingin anak-anaknya menjadi para penghafal al-Qur’an. Dua kawanku berhasil,
aku tidak. Well, katanya sih karena aku terus-terusan menangis dan tak pernah
berhenti melafalkan namamu.
“Umii.. umi..” lalu ada isakan kecil dan kembali kuucap, “Umi..
umi..”
Dan hal itu terus berulang sepanjang malam.
Hingga kini banyak yang tak berubah, namun waktu tetaplah berlalu. Meski aku sering bercerita kepada abi, tapi hanya nasihatmu
yang kupatuhi. “jangan lupa minum air, beli buah. konsumsi susu.”
Hanya itu saja. Ya, bagimu aku tetaplah bocah yang selalu
menangis dalam pelukan ibunya. Kita tak pernah berbicara tentang hal-hal dewasa;
kapan menikah? calonnya siapa? Bagaimana persiapannya? Betul, hal-hal
itu biar lah menjadi pembicaranku dengan laki-lakimu.
Aku tahu kau tak siap membicarakan hal itu bersamaku, sebagaimana
aku juga tak siap melihat kemungkinanan perpisahan yang lebih lama denganmu.
Tahun lalu, kau berkenan memperpanjang masa penantian. Dan dalam
Diam aku berjanji untuk pulang pada akhir tahun ini; dengan Kabar Baik
ataupun Kabar Buruk hasil ujian S2 Azhar nanti. Lalu kembali aku akan menangis
di pelukanmu. Tangis bahagia? atau tangis sedih? Hal itu bergantung
dengan hasil target tahun ini.
Apa yang terjadi nanti masih Rahasia, tapi ia adalah masa
depan yang akan menyambut kita.. mau ataupun tak mau. Dalam diam, sunyi,
dan sepi kita beraksara tentang cinta. Juga cita sejak dulu kala. Dan aku
bahagia, kau begitu percaya kepada bocah cengeng ini.
***
Yup, percayakan padaku untuk mempersiapkan beberapa
kemungkinan nanti.
“Successful people realize they cannot control
everything, and anticipate mistake. Plan for mistake, and you will deal with
them rationally and efeciently as they arise.”
Madinat Zahra, 7 Januari 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar