My Movements Trip.

Jumat, 13 September 2013

Brontosaurus Menulis



Menulis

Musim panas, dan sekelumit waktu-waktu yang terbuang dengan percuma. ya percuma, jika tolak ukurnya adalah kerja, kerja dan kerja. Atau belajar, belajar, dan belajar. Tapi entah kenapa kebiasaan lama menjalar begitu saja, menjadi nonton, nonton, dan nonton Sehingga tidak ada tempat untuk kata 'kerja' dan 'belajar' disana.

Dalam tulisan ini penulis sangat menyesalkan atas kemandekan yang terjadi terhadap blog ini, tentu banyak teori dan alasan yang bisa penulis paparkan kepada pembaca terkait hal tersebut, namun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membela diri.

Bagaimana kalau kita langsung meloncat ke ucapan Lebaran yang sangat kadaluarsa untuk disampaikan, atau rasa prihatin terhadap rentetan tragedy berdarah yang terjadi di negeri para nabi. Memang,  kerinduan akan kampung halaman yang bertumpuk tiga tahun disertai kebencian atas segala kedzoliman membuat lidah ini kelu, betapa tidak, karena untuk menghapus kedua perasaan itu kita membutuhkan satu rasa yang lain, rasa sabar. Dan saya lihat orang-orang sabar itu sering membisu, mukanya kaku dan matanya, oh matanya, indah bagi mereka yang memiliki mata yang indah, kalau jelek sih jelek aja, ngga ada yang berubah.. :P

Lalu bagaimana aku bisa kembali menulis? Simpel, aku hanya perlu menaruh jari-jariku yang kasar diatas tuts keyboard sambil membuka program MS Word. hal yang tak pernah kembali kulakukan sejak kebisuan melanda mulut, jiwa, dan pikiran-ku. Jadi, untuk beberapa hari kedepan kita bisa mencoba mengganti salah satu kata dari kebiasaan lama itu dengan menulis, mungkin bisa diucapkan seperti ini; nonton, nonton, dan menulis!

Oke, Mohon maaf lahir dan batin, semoga amalan ibadah puasa kita diterima Oleh-Nya dan juga untuk kebaikan Mesir; semoga Allah Swt memberikan kemenangan kepada orang-orang yang berjihad untuk kebaikan agamnya serta melaknat orang-orang dzolim.

Lionel Messi

Oh ayolah, mungkin bukan dalam tulisan ini saya akan bercerita. Kagum? Tentu, sama hal-nya ketika aku memandang foto Presiden Moursi yang dipegang para demonstran, hanya saja kekaguman ini dalam aspek berbeda dan memberikan pelajaran dari sudut yang berbeda pula. Yah, mungkin lain kali. Karena diperlukan beberapa kejutan lagi dari atas lapangan hijau untuk terus mengagumi keteguhan dan keseriusan dari laki-laki mungil tersebut, dimana kata ‘sihir’ sering di komparasikan dengan tindak-tanduknya ketika menggiring si kulit bundar.

Cinta Brontosaurus
  
Tentu bagi yang mengenal Raditya Dika, kata tersebut tidak asing, selain telah diterbitkan dalam bentuk buku, kini judul tersebut sudah tayang dalam dunia perfilman Indonesia. Selain masih muda, ia punya sentuhan yang berbeda dibanding penulis-penulis muda yang lain. Bahkan sentuhan tersebut mampu ia tampilkan dalam film yang ia garap. Muda dan berbakat, begitulah orang-orang seperti dia dipuji.

Dan jika seseorang menonton film dari pagi sampai pagi lagi bisa disebut gila, maka sebutlah kebiasaan saya ini dengan sebuah ‘kegilaan’. memang bukan terus-terusan tanpa diselingi dengan hal yang lainnya, namun setelah seharian menonton film, lalu dilanjutkan dengan penantian livestream sepak bola hingga shubuh, maka hal itu sudah saya sebut dengan menonton ‘dari pagi sampai pagi’.

Katakanlah ‘Tidak Produktif’ kalau memang perlu, toh akhirnya film ‘Cinta Brontosaurus’-lah yang kembali menyadarkanku. Dan hal-hal seperti inilah yang terkadang membuatku tersenyum-bingung, bagaimana tidak, untuk kembali menulis saja harus ‘menonton’ film seperti ini. Maka dimana ‘Lionel Messi’ dan ‘Pak Moursi’?

Diakui atau tidak, gairah perjuangan yang dilakukan Kelompok Islamis di Mesir mampu menimbulkan begitu banyak ide inspiratif untuk ditulis, begitu pula kesenanganku dalam melihat aksi-aksi para olahragawan di atas rumput hijau. Namun munculnya ide dengan menyegerakan untuk menulis itu adalah suatu hal yang berbeda. Dan setiap saya memikirkan tentang perbedaan ini, saya selalu ingat dengan nasihat Ka’ Rois; “segera Tulis!.” Perintah dia, namun sekali lagi; itu tetaplah hal yang berbeda, dan bagaimanapun hal itu, aku tidak bisa menjelaskannya disini.

Thanks Radit, entah kenapa gw lebih suka ngeliat karya lo dibanding muka lo, ups.



 Qosr El-Suq, 13 September 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar