Menulis
Musim panas, dan sekelumit waktu-waktu yang terbuang dengan
percuma. ya percuma, jika tolak ukurnya adalah kerja, kerja dan kerja. Atau belajar,
belajar, dan belajar. Tapi entah kenapa kebiasaan lama menjalar begitu saja, menjadi
nonton, nonton, dan nonton Sehingga tidak ada tempat untuk kata 'kerja' dan
'belajar' disana.
Dalam tulisan ini penulis sangat menyesalkan atas kemandekan
yang terjadi terhadap blog ini, tentu banyak teori dan alasan yang bisa penulis
paparkan kepada pembaca terkait hal tersebut, namun saat ini bukanlah waktu
yang tepat untuk membela diri.
Bagaimana kalau kita langsung meloncat ke ucapan Lebaran yang
sangat kadaluarsa untuk disampaikan, atau rasa prihatin terhadap rentetan tragedy
berdarah yang terjadi di negeri para nabi. Memang, kerinduan akan kampung halaman yang bertumpuk tiga
tahun disertai kebencian atas segala kedzoliman membuat lidah ini kelu, betapa
tidak, karena untuk menghapus kedua perasaan itu kita membutuhkan satu rasa
yang lain, rasa sabar. Dan saya lihat orang-orang sabar itu sering membisu,
mukanya kaku dan matanya, oh matanya, indah bagi mereka yang memiliki
mata yang indah, kalau jelek sih jelek aja, ngga ada yang berubah.. :P
Lalu bagaimana aku bisa kembali menulis? Simpel, aku hanya
perlu menaruh jari-jariku yang kasar diatas tuts keyboard sambil membuka
program MS Word. hal yang tak pernah kembali kulakukan sejak kebisuan melanda
mulut, jiwa, dan pikiran-ku. Jadi, untuk beberapa hari kedepan kita bisa
mencoba mengganti salah satu kata dari kebiasaan lama itu dengan menulis,
mungkin bisa diucapkan seperti ini; nonton, nonton, dan menulis!
Oke, Mohon maaf lahir dan batin, semoga amalan ibadah puasa
kita diterima Oleh-Nya dan juga untuk kebaikan Mesir; semoga Allah Swt
memberikan kemenangan kepada orang-orang yang berjihad untuk kebaikan agamnya
serta melaknat orang-orang dzolim.
Lionel Messi
Oh ayolah, mungkin bukan dalam tulisan ini saya akan
bercerita. Kagum? Tentu, sama hal-nya ketika aku memandang foto Presiden Moursi
yang dipegang para demonstran, hanya saja kekaguman ini dalam aspek berbeda dan
memberikan pelajaran dari sudut yang berbeda pula. Yah, mungkin lain
kali. Karena diperlukan beberapa kejutan lagi dari atas lapangan hijau untuk
terus mengagumi keteguhan dan keseriusan dari laki-laki mungil tersebut, dimana
kata ‘sihir’ sering di komparasikan dengan tindak-tanduknya ketika menggiring
si kulit bundar.
Cinta Brontosaurus
Tentu bagi yang mengenal Raditya Dika, kata tersebut tidak
asing, selain telah diterbitkan dalam bentuk buku, kini judul tersebut sudah
tayang dalam dunia perfilman Indonesia. Selain masih muda, ia punya sentuhan
yang berbeda dibanding penulis-penulis muda yang lain. Bahkan sentuhan tersebut
mampu ia tampilkan dalam film yang ia garap. Muda dan berbakat, begitulah
orang-orang seperti dia dipuji.
Dan jika seseorang menonton film dari pagi sampai pagi lagi
bisa disebut gila, maka sebutlah kebiasaan saya ini dengan sebuah ‘kegilaan’.
memang bukan terus-terusan tanpa diselingi dengan hal yang lainnya, namun
setelah seharian menonton film, lalu dilanjutkan dengan penantian livestream
sepak bola hingga shubuh, maka hal itu sudah saya sebut dengan menonton ‘dari
pagi sampai pagi’.
Katakanlah ‘Tidak Produktif’ kalau memang perlu, toh
akhirnya film ‘Cinta Brontosaurus’-lah yang kembali menyadarkanku. Dan hal-hal
seperti inilah yang terkadang membuatku tersenyum-bingung, bagaimana tidak,
untuk kembali menulis saja harus ‘menonton’ film seperti ini. Maka dimana ‘Lionel
Messi’ dan ‘Pak Moursi’?
Diakui atau tidak, gairah perjuangan yang dilakukan Kelompok
Islamis di Mesir mampu menimbulkan begitu banyak ide inspiratif untuk ditulis,
begitu pula kesenanganku dalam melihat aksi-aksi para olahragawan di atas
rumput hijau. Namun munculnya ide dengan menyegerakan untuk menulis itu adalah
suatu hal yang berbeda. Dan setiap saya memikirkan tentang perbedaan ini, saya
selalu ingat dengan nasihat Ka’ Rois; “segera Tulis!.” Perintah dia, namun
sekali lagi; itu tetaplah hal yang berbeda, dan bagaimanapun hal itu, aku tidak
bisa menjelaskannya disini.
Thanks Radit, entah kenapa gw lebih suka ngeliat
karya lo dibanding muka lo, ups.
Qosr El-Suq, 13 September 2013.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar