My Movements Trip.

Selasa, 25 Juni 2013

Opini dan Isu Publik


Membedakan Opini dan Berita.

Study Informasi Alam Islami yang biasa disingkat SINAI adalah  sebuah lembaga kajian yang membahas permasalahan-permasalahan yang terjadi di Dunia Islam secara khusus, mulai dari sejarah berdirinya suatu Negara, percaturan perpolitikan, hingga isu-isu agama yang sering dimunculkan oleh beberapa media basis kiri entah itu bertaraf internasional ataupun nasional.

Sebagai kader muda yang baru menginjak tahun pertama; pembahasan utama kami adalah Permasalahan Palestina, mengingat Palestina merupakan pokok permasalahan umat islam yang masih belum terselesaikan sejak datangnya faham zionisme. Sempat kami rasakan begitu susahnya mencari sumber-sumber original selain dari diktat resmi yang telah kami pegang.

Disamping membahas latar belakang dan sejarah berdirinya sebuah Negara, isu yang kami mainkan dan sering menjadi topic hangat oleh para senior dalam lembaga kaijan ini adalah perubahan iklim-iklim pergerakan dan kemajuan yang telah dicapai umat islam belakangan ini.

Saya dan teman-teman sebagai kader muda sering “ditegaskan” untuk mengambil berita se-original mungkin, berita A1 atau yang bisa disebut berita yang diambil langsung  dari sumbernya adalah barang yang sangat mahal. Sehingga pembahasan obrolan kami benar-benar harus dibatasi dari berita-berita yang sudah terkontaminasi opini-opini Media Informasi yang lain.

Kami juga diharuskan untuk bisa membedakan antara Opini dan Berita, karena kedua hal tersebut benar-benar suatu hal yang berbeda namun memiliki karakteristik yang hampir sama, jika opini adalah salah satu angle atau sudut pandang dari sekian banyak sudut pandang yang seseorang simpulkan dari sebuah kejadian, Maka berita adalah bentuk kejadian tersebut yang dijelaskan secara gamblang dimana pembaca mau tidak mau harus menarik kesimpulan dari satu atau beberapa sudut pandang tertentu sesuai kadar wawasannya.

Pada dasar yang sangat fundamental, perbedaan kecerdasan setiap orang sangat berbeda-beda, dan hal itu akan berefek pada pengambilan sudut pandang dalam sebuah kejadian perkara, kita tak bisa menyalahkan begitu saja jika seseorang memilih wanita berhidung mancung dan memiliki kulit yang begitu putih dan berpakaian sangat minim disebut “pelacur” saat dia sedang duduk sendirian di tengah Kafe remang-remang, karena itu hanyalah sebuah Opini atau pemilihan sudut pandang pada sebuah kejadian.

Tapi yang bisa kita permasalahkan jika Opini tersebut sudah menjadi Berita dan Acuan dalam tuntutan sebuah perkara. Dan yang paling disayangkan bahwasannya “kerancuan” seperti ini sudah hampir mendarah daging dalam budaya penerimaan Informasi di kalangan masyarakat kita.


Peran Opini dalam Pembentukan Isu-isu Publik.

Tak bisa dipungkiri bahwa Opini kini telah menjadi alat yang begitu sentral dalam pembentukan isu public, ia bergerak melalui teriakan-teriakan, tulisan-tulisan, bahkan dalam diam. Isu-isu public itu diarahkan kepada tujuan tertentu, tidak ada dasar yang pasti dalam penggunaan opini-opini tersebut, kemanapun opini itu berjalan maka isu public akan bermain disekitarnya.

opini yang menggiring isu-isu public bisa jadi dilakukan secara spontan, ataupun terorganisir, contoh untuk hal yang kedua bisa kita lihat dalam penggiringan isu saat kemerdekaan NKRI pada tanggal 17 Agustus 1945; pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan yang belum ada persetujuan dari Belanda maupun Jepang telah menggiring Opini Publik Nasional bahwa Indonesia sudah merdeka.

Teriakan-teriakan merdeka yang terus berkumandang sesaentro Indonesia, juga pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan yang terus-menerus disiarkan di radio lokal maupun internasional akhirnya menarik simpati Dunia luar. Isu Publik telah dimainkan, dunia internasional mulai memberikan dukungan untuk kemerdekaan Indonesia, hingga terbentuklah Konfrensi Asia-Afrika, lalu Perjanjian Meja Bundar, dan sepakatlah Indonesia merdeka. Itulah Opini.

Jika Opini bisa menggerakkan mesin-mesin tua untuk mencapai kesepakatan “Kemerdekaan sebuah Bangsa”, tentu Opini yang terus-terusan disampaikan oleh begitu banyak Media Informasi di Headline-nya mampu menutup mata kita untuk menikmati hasil pertandingan Spanyol lawan Brazil di Kota Sepak Bola dari pentingnya “Mengirim sebotol Minyak Zaitun ke Palestina.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar