"Untuk segalanya dan apapun itu, terimakasih, Tuhan." lirihku sedu ke Langit. Kutatap hamparan biru yang masih sombong, acuh, dan tak mau tahu keadaanku.
"Biarlah. Toh, Tuhan yang menciptakanmu masih perhatian padaku."
Sebal. Aktivitas ini mulai membuatku kesal. Tak terhitung waktu yang ia rebut dariku, waktu untuk memikirkanmu atau sekedar melirik masa depan kita. Seolah-olah semua waktu itu miliknya yang bisa ia simpan di balik meja kerja.
"Kau tahu?" tanyaku membuka obrolan dengan si Biru, "Bapak tua itu membuatku putus asa."
kini Langit menjadi pendengar setia.
"Kaki ini murka, wajah ini membara, tetesan keringat tak lagi berharga. beberapa receh koin logam mungkin hanya robekan kecil dolar baginya." Ucapku bersemangat.
Dan Langit masih setia.
"Hey," aku mulai berubah pikiran, "Lagi-lagi kau mulai mengacuhkanku."
Sebenarnya, tak ada yang salah dari sikapnya. Aku yang berfikir kecil dengan otak kecil ini hanya bisa bertanya siapa? Siapa yang membuatku lelah? siapa yang membuatku gila? siapa yang membuatku jatuh merana karena cinta?
Yup, Langit tak pernah salah. karena di bawah ujung kakinya sana ada takdir tuhan yang entah bagaimana harus segera kutemui.
Namun untuk hari-hari ini, bapak tua di balik meja kerja itulah takdirku.
***
"'Amu Sayyid, kok lama banget sih ngurusin berkasnya?" Protesku lesu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar