Aku memikirkannya hampir setiap waktu; bangun tidur, pagi,
siang, malam, dan sebelum mata terpejam. Belum selesai masalah umat ini,
tiba-tiba ia hadir tepat di depanku. Membawa parang lalu memukuli setiap inci
ego yang tumbuh subur di kepala. Sakit. Mengingat namanya begitu sakit.
Mungkin agenda bulananku akan terus terisi namanya. Daftar belanja,
menu minggu ini, ataupun judul-judul makalah yang entah kenapa ada saja kata
yang mewakili kehadiran si dia. Ah, mungkin aku terlalu berlebihan dalam
merasa.
Setidaknya kata bunda Asma Nadia, “Jangan habiskan waktu
memikirkan orang-orang, yang tidak menaruh namamu di hatinya.”
Sepintas, kita akan mengamini kata-kata manis itu. Begitu pula
saya. Tapi yang namanya rasa, siapa yang bisa mengendalikan? Kita memang
memiliki tuhan yang bisa membolak-balik hati, namun di lain sisi, Allah Swt
juga memerintahkan kita menjaganya sebaik mungkin.
Menjaga lebih keurusan fisik, ia bercengkrama dengan
tindakan-tindakan nyata; Menundukkan pandangan, tegas dalam ucapan, dan
menghindari komunikasi yang tak lagi diperlukan.
Bukankah menjaga lebih baik daripada mengobati?
Atau hatiku telah mati? Sekedar menjalankan perintah tuhan
saja sudah tak kuhiraukan. Berdo’a siang-malam meminta tentang jodoh dan
keturunan, tapi sekedar untuk menjaga belum juga dikerjakan.
Sedikit mengubah kata-kata pak Taufiq Ismail, “Malu (Aku)
Jadi Pelajar Azhar,” akan menggambarkan mentalku yang labil dan
kekanak-kanakan. Jika dalam puisi aslinya sang penulis malu disebabkan oleh
orang lain, berbeda denganku yang malu karena mencoreng lembaga tempatku
belajar dulu.
I can’t survive yet, now I’m suffer.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar