[Not Recommended to Read this Posts]
Pada siang hari Musim panas tahun lalu, aku
berkesempatan mengikuti sebuah kelas bahasa arab. Kebetulan guru yang mengajar
di kelasku adalah seorang warga Mesir yang mendukung pemakzulan Presiden yang
terpilih secara adil dan bersih kala itu, dan kami sebagai warga pendatang
hanya bisa melihat dari jauh, bertanya, dan berkomentar hingga rasa usil teman
sekelasku membuahkan sebuah pertanyaan,
“Kenapa ustadz tidak ikut berdemo di tahrir
pada tanggal 30 Juni?” begitulah kira-kira teman sekelasku memulai
pertanyaannya kepada sang guru.
Sambil melirik kulit tangannya yang
kecoklatan dan mengelusnya, sang guru menjawab, “Di sana panas, lagi
pula sudah ada orang-orang yang mewakilkan suaraku.”
----
Kini sudah lewat hampir 7 bulan setelah
jawaban itu mengalir di telingaku, rasa kecewa itu memang ada, namun rasa
hormatku padanya tak sirna. Bagiku ia tetaplah seorang guru yang telah
memberikan sebuah ilmu yang kini sangat terasa bagiku, sehingga do’a dariku
untuk kebaikannya akan selalu ada.
Dulu, diskusi antara diriku dengan sang guru
memang sering terputus oleh jalan buntu, salah satunya adalah karena media yang
kami jadikan sebagai rujukan berbeda dalam penyampaian. Kami (seharusnya) sama-sama
tahu bahwa setiap kantor berita memiliki kecondongan dalam kelompok-kelompok tertentu.
Namun setiap dari kami sama-sama menyadari
perbedaan itu pasti ada, sehingga hanya senyum yang merekah, tanpa
sumpah-serapah apalagi mengucapkan kata-kata sampah. Aku mencoba bersikap adil
antara dirinya dan diriku. Tanpa mengkerdilkan pendapatnya dan pendapatku
sendiri.
Hingga kini, diantara begitu banyak badai
fitnah yang mencoba meluluh-lantakkan setiap bangunan keilmiahan, dan
mengaburkan setiap penglihatan dan penelitian. Hanya kesabaran dalam kebenaranlah
yang akan mengakhiri semua ini.
Ketika guruku percaya apa yang dilakukan
militer ini adalah sebuah kebenaran, dan diriku percaya apa yang diteriakkan
oleh para demonstran merupakan kebenaran. Maka kedua hal ini akan terus
bertentangan hingga tuhan memutuskan sebuah ketetapan.
Namun, do’a yang sama-sama kami ucapkan, yaitu
agar kebenaran muncul sebagai pemenang, membuat hal ini tidak perlu diributkan,
karena kami sama-sama tidak berkeringat di medan laga dan bentrokan.
Maka silahkan berteriak tentang fakta-fakta
yang terjadi dilapangan, dengan syarat tidak menyepelekan fakta yang
berseberangan, karena bagi kita kebenaran adalah sesuatu yang mampu diuji
berdasarkan sebuah kelayakan.
Dan nanti pun tiidak perlu ada bangga-banggaan
ketika kebenaran itu datang, tidak. Yang ada hanyalah pembelajaran untuk terus
melangkah kedepan, tidak mandek di tengah jalan apalagi mengalami kemunduran.
Yang kuinginkan ditengah-tengah kepasifan ini
adalah melakukan suatu hal, sesuatu yang bisa membuat diri ini berguna di waktu
yang akan datang, di waktu kebenaran itu menyabet gelar juara kehormatan. Dan di
tengah-tengah seremoni yang mengharu-biru itu aku bisa berkata,
“Diri ini telah siap menjadi arang hitam yang
legam, demi berlangsungnya laju kereta api ‘ini’ menuju stasiun-stasiun
kemenangan selanjutnya.”
---
Layak untuk
diketahui, bahwa diri ini memiliki kepercayaan bahwa kemenangan itu tidak akan
diraih kecuali dengan kesabaran dan keikhlasan dalam menghadapi segala cobaan.
Dan semakin besar ladang yang akan kita
kelola, semakin banyak pula pekerja yang harus berpartisipasi di dalamnya.
Juga, di setiap bidang ada orang-orang khusus
yang ahli di dalamnya, dan di setiap medan ada kuda-kuda tertentu yang ahli di lingkungannya.
Husain, 24 to 25 Januari 201(4).
“Semoga Allah Swt memberikan kemenagan bagi
orang-orang yang teguh dalam kebenaran, dan semoga Allah Swt teguhkan hati para
pemegang kebenaran. Amin.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar