My Movements Trip.

Jumat, 24 Januari 2014

Catatan Tentang para Pemikul Kebenaran

[Not Recommended to Read this Posts]

Pada siang hari Musim panas tahun lalu, aku berkesempatan mengikuti sebuah kelas bahasa arab. Kebetulan guru yang mengajar di kelasku adalah seorang warga Mesir yang mendukung pemakzulan Presiden yang terpilih secara adil dan bersih kala itu, dan kami sebagai warga pendatang hanya bisa melihat dari jauh, bertanya, dan berkomentar hingga rasa usil teman sekelasku membuahkan sebuah pertanyaan,

“Kenapa ustadz tidak ikut berdemo di tahrir pada tanggal 30 Juni?” begitulah kira-kira teman sekelasku memulai pertanyaannya kepada sang guru.

Sambil melirik kulit tangannya yang kecoklatan dan mengelusnya, sang guru menjawab, “Di sana panas, lagi pula sudah ada orang-orang yang mewakilkan suaraku.”

----

Kini sudah lewat hampir 7 bulan setelah jawaban itu mengalir di telingaku, rasa kecewa itu memang ada, namun rasa hormatku padanya tak sirna. Bagiku ia tetaplah seorang guru yang telah memberikan sebuah ilmu yang kini sangat terasa bagiku, sehingga do’a dariku untuk kebaikannya akan selalu ada.

Dulu, diskusi antara diriku dengan sang guru memang sering terputus oleh jalan buntu, salah satunya adalah karena media yang kami jadikan sebagai rujukan berbeda dalam penyampaian. Kami (seharusnya) sama-sama tahu bahwa setiap kantor berita memiliki kecondongan dalam  kelompok-kelompok tertentu.

Namun setiap dari kami sama-sama menyadari perbedaan itu pasti ada, sehingga hanya senyum yang merekah, tanpa sumpah-serapah apalagi mengucapkan kata-kata sampah. Aku mencoba bersikap adil antara dirinya dan diriku. Tanpa mengkerdilkan pendapatnya dan pendapatku sendiri.

Hingga kini, diantara begitu banyak badai fitnah yang mencoba meluluh-lantakkan setiap bangunan keilmiahan, dan mengaburkan setiap penglihatan dan penelitian. Hanya kesabaran dalam kebenaranlah yang akan mengakhiri semua ini.

Ketika guruku percaya apa yang dilakukan militer ini adalah sebuah kebenaran, dan diriku percaya apa yang diteriakkan oleh para demonstran merupakan kebenaran. Maka kedua hal ini akan terus bertentangan hingga tuhan memutuskan sebuah ketetapan.

Namun, do’a yang sama-sama kami ucapkan, yaitu agar kebenaran muncul sebagai pemenang, membuat hal ini tidak perlu diributkan, karena kami sama-sama tidak berkeringat di medan laga dan bentrokan.

Maka silahkan berteriak tentang fakta-fakta yang terjadi dilapangan, dengan syarat tidak menyepelekan fakta yang berseberangan, karena bagi kita kebenaran adalah sesuatu yang mampu diuji berdasarkan sebuah kelayakan.

Dan nanti pun tiidak perlu ada bangga-banggaan ketika kebenaran itu datang, tidak. Yang ada hanyalah pembelajaran untuk terus melangkah kedepan, tidak mandek di tengah jalan apalagi mengalami kemunduran.

Yang kuinginkan ditengah-tengah kepasifan ini adalah melakukan suatu hal, sesuatu yang bisa membuat diri ini berguna di waktu yang akan datang, di waktu kebenaran itu menyabet gelar juara kehormatan. Dan di tengah-tengah seremoni yang mengharu-biru itu aku bisa berkata,

“Diri ini telah siap menjadi arang hitam yang legam, demi berlangsungnya laju kereta api ‘ini’ menuju stasiun-stasiun kemenangan selanjutnya.”

---

Layak untuk diketahui, bahwa diri ini memiliki kepercayaan bahwa kemenangan itu tidak akan diraih kecuali dengan kesabaran dan keikhlasan dalam menghadapi segala cobaan.

Dan semakin besar ladang yang akan kita kelola, semakin banyak pula pekerja yang harus berpartisipasi di dalamnya.

Juga, di setiap bidang ada orang-orang khusus yang ahli di dalamnya, dan di setiap medan ada kuda-kuda tertentu yang ahli di lingkungannya.


Husain, 24 to 25 Januari 201(4).
“Semoga Allah Swt memberikan kemenagan bagi orang-orang yang teguh dalam kebenaran, dan semoga Allah Swt teguhkan hati para pemegang kebenaran. Amin.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar