My Movements Trip.

Selasa, 14 Januari 2014

Sampah di Negeri Gonjang-ganjing

Malam ini ingin kulepas penat setelah 3 jam lamanya aku menjawab soal-soal ujian yang ternyata diluar perkiraanku, rasa sesak di kepala setelah mencoba berputar-putar mencari jawaban tak lagi tertahankan.

Tugas masak kuselesaikan, salat Isya tak ketinggalan, maka segera kutarik selimut mencoba untuk tidur-tiduran sebelum tidur beneran. Pikiranku pun terbang, melayang, memikirkan apa saja yang telah kulakukan sejak pagi menjelang. Kudapati sebuah kata dari seorang temanku sebelum masuk ruang ujian, “Tadi di Madrasah ada demo, dan juga ada suara tembakan.” Begitulah yang kuingat dari potongan-potongan memori obrolan tadi siang. Aku pun penasaran, namun temanku yang lain berkata, “udah ngga’ perlu dibahas, bentar lagi ujian.” Aku pun diam membenarkan.



Walau waktu masih terlalu siang untuk dikatakan tidur malam, Kudapati diriku dibalik selimut ini masih mencoba memejamkan mata, berharap rasa kantuk itu benar-benar nyata, namun tidak, kebiasaanku mampir ke warung internet selepas ujian membawa pikiran ini melayang lebih jauh.

Demonstrasi-demonstarsi yang berlangsung selama 6 bulan ini membuatku mulai terbiasa dengan kata-kata itu, aku bukan orang munafik yang mengatakan bahwasannya aku tidak terganggu dengan kondisi ini, tentu sebagian besar aktivitasku benar-benar terganggu akibat peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan ini.

Empat bulan lamanya sejak akhir bulan juli aku terpaksa harus bulak-balik daerah Darrasah-Sabi’ untuk mengikuti kelas bahasa di Markaz Nil, dan lebih sering menggunakan tramco yang ongkosnya dua kali lipat dari bus-bus merah milik pemerintah, bahkan untuk pulang aku harus mengeluarkan ongkos empat kali lipat jika tidak ingin menunggu lebih lama.

Namun bukan pada masalah ongkos pikiranku pada malam ini tertuju, kawan.

Ternyata ada satu hal yang tidak aku ketahui setelah dua hari I Say No to Internet ini berlangsung, bahwasannya hari ini Sang Presiden Pemberani di Negeri penuh Gonjang-ganjing akan segera di adili. Sang Presiden Pemberani ini memiliki pengikut yang setia, siap mati dan siap diBully, terbukti saat penculikannya dari Istana sejak 3 Juli lalu jalan-jalan dipenuhi oleh para demonstran yang menuntut hak mereka untuk segera dikembalikan.



Kau tau kawan, hak itu adalah hak memiliki seorang presiden yang mereka pilih secara ‘Adil dan Bersih’.

Maka tak salah jika negeri ini dikatakan negeri yang dipenuhi sampah, selain kau dapat menemukan sampah di setiap pojok-pojok jalan atau rumah-rumah sewaan, kau juga akan menemukan bahwa suara dan hak pilih mereka termarginalkan di kotak-kotak sampah dan pembuangan. Jika hak-hak sudah terpinggirkan dan tak lagi diacuhkan, lalu apalagi gunanya pemilu-pemilu yang akan datang jika kaum islamis kembali menang??? Ditendang?

Ternyata, rasa takut membuatku mataku menolak untuk terpejam.
Ya, rasa takut itu timbul setelah aku menyadari bahwa teman-teman mahasiswaku mulai mirip seperti sampah di banding batangan emas yang masih bagus tersimpan.

Setelah kata kiyasan yang kusebutkan tadi, Jujur, sangat lama aku memikirkan untuk meneruskan kata-kata ini atau tidak, hati ini serasa tertusuk-tusuk, apakah masih pantas orang yang diam terhadap pembantaian di Mesir, Suriah, dan Palestina dikiyaskan seperti tadi?, ketika musim dingin ini berlangsung dan para pengungsi di perkemahan Yarmuk sana banyak yang mati. Oke, belum.
                                                                       
Tapi jika orang-orang yang diam itu mengatakan, “para demonstran (di Negeri Gonjang-ganjing) itu tembak mati aja siih.”* Aku kiyaskan dengan kata-kata tadi?. Ya, sebuah kata yang menggambarkan kekerdilan dan kehinaan yang menyandangnya. Aku rasa cukup untuk bisa dikatakan seperti itu.

Karena ketika kehormatan dan peran islam dicabik-cabik di Dustur Para Perampok Negeri Gonjang-ganjing ini, mereka diam dan mundur tak lagi mau memperhatikan, sama halnya ketika waktu-waktu pembantaian menjelang 17 Agustusan pada tahun silam (tepatnya 14 Agustus 2013, di Medan Rabi’ah Al-Adaweyah).

Lagi-lagi sebelum malam menjadi kelam, aku memutuskan untuk menyampaikan apa yang dari tadi aku risihkan. Karena dibalik selimutku yang hangat, mengalir sedu-sedan wanita-wanita yang kedinginan, dan anak-anak yang kelaparan di pojok kamp Yarmuk di negeri seberang.

Di samping rasa nyaman juga aku mendengar suara gemertak gigi para pejuang Gaza, siang maupun malam mereka berjaga-jaga, ditengah blockade dan tuduhan teroris se-dunia.

Akhirnya pada ketikan-ketikan tuts keyboard inilah kusampaikan kepada kalian keprihatinanku akan permasalahan yang sedang terjadi di dunia Islam, di dua negeri konflik Palestina & Suria yang sedang dilanda musim dingin dan susahnya pasokan pangan, hingga ada diantara pengungsi yang mati kelaparan, dan juga kejamnya pemerintahan Para Perampok Negeri Gonjang-ganjing terhadap para demonstran.

Karena Islam begitu menghargai sebuah nyawa, tolong jangan lagi mengatakan, “Bunuhi saja para demonstran.”

Meskipun anda tidak lagi peduli terhadap permasalahan umat ini, meskipun anda langsung pulang ke Indonesia setelah meraih Lc., meskipun anda tidak lagi mengimani bahwa ‘sesama muslim adalah saudara’ dan juga ‘sesungguhnya orang beriman itu sebagian mereka adalah penolong sebagian yang lain’.

Setidaknya jangan remehkan sebuah nyawa.

----
“jika penuntut ilmu sudah tidak lagi menyukai sebuah kebenaran, lalu buat apa ia susah-susah datang ke pengajian?.”
Husain, 8 Januari 201(Rob’ah)

Jangan bilang hanya agar dapet Lc., atau bergelar Azhari..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar