Warna hitam-putih kanvas kehidupanku mulai diukir seiring
hilangnya ratusan warna yang pernah tergores di atasnya. Seperti debu yang
mengotori bebatuan licin di pinggir jalan, tak berbekas ketika rinai hujan jatuh
perlahan. Begitulah aku menggambarkan ratusan warna yang kini mulai pudar dan
sedang kugantikan itu.
Jarum jam di atas meja belajarku terus bergerak, berdetak. Sesekali
deringan telpon kawanku memecah kesunyian yang beberapa hari ini kukondisikan
untuk ujian. Tak ada catatan di tangan, hanya ayat-ayat suci Al-Qur’an yang
kadang kulantunkan dan kadang kugumamkan perlahan. Meski ruangan berganti,
namun semua harus jauh dari keramaian.
lima hari proses pengasingan ini hampir berjalan. Jauh dari
dunia luar, tanpa film, game, and still single. Berharap datangnya
keajaiban, yang hadir adalah angan-angan.
“Menghafal tidak ada jalan pintas, Bro!” begitu aku
memotovasi diri dalam pengasingan ini.
Belakangan aku merasa buruk. Ingin rasanya menyalahkan
seseorang atas kelalaian ini, namun yang kudapati tidak lain adalah diriku
sendiri. Terlalu banyak main, dan bersenda-gurau. Malu rasanya menyadari bahwa
tahun ini adalah tahun kelulusanku. Memakai jubah dan imamah Azhar saat
wisuda nanti mungkin akan menjadi bahan lelucon bagi anak-cucuku.
Hafalan tersendat dan teori keilmuan masih tertumpuk di lembaran
tebal diktat kuliyah. Aku semakin bertanya-tanya, “Mahasiswa macam apa aku ini?”
Segala hal tampak makin mengherankan tatkala aku
memberanikan diri ikut berbaris di deretan mahasiswa program pasca sarjana Al-Azhar.
Sebagian dari diriku tertawa atas lelucon ini, ia menganggap aku tak layak.
Aku yang (memang) terbiasa dengan berbagai macam warna
kehidupan masa muda, kini harus (memaksakan diri) terbiasa dengan hitam-putih
catatan kuliyah, diktat, dan lembar makalah serta soal ujian yang harus
kuserahkan kepada para guru-guru besar di universitas seribu tahun ini.
“Tuhan.. berkahilah pilihan kami.” Gumamku ditengah lantunan
ayat yang kuulang untuk ujian masuk nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar