My Movements Trip.

Rabu, 19 Agustus 2015

Aku Benci Menjadi Dewasa

Aku tidak suka menjadi dewasa, terlalu banyak beban dan terlalu banyak hal yang harus dipikirkan. Dan entah mengapa semua beban dan pikiran itu hadir bersamaan saat hafalan muraja’ah mulai kulantunkan. Ia hadir dengan mesra, membawa seikat bunga dan rayuan masa muda. Terkadang ia datang dengan ancaman, menggenggam palu dan parang yang diarahkan tepat ke mukaku.

“Ah, aku rindu suatu masa ketika hal yang paling menakutkan hanyalah PR Matematika,” ejaku pada sebuah poster yang bertebaran di social media.

“Itu adalah dunia masa kecil,” batinku.

Selain PR Matematika, hal yang tidak kusukai adalah orang yang memiliki sifat dewasa. Yah, bukan sekedar sifatnya yang kubenci; orang yang bersifat dewasa pun aku tidak suka.

“Ah, aku benci menjadi dewasa,” aku terus mengeluh.

Kenapa aku harus mengorbankan waktu luang untuk belajar dan bekerja? Kenapa memendam cinta begitu menyakitkan?

Dulu ketika suka dengan sebuah mainan aku akan berkata kepada ibuku,

“Ibu, belikan aku satu.” Atau kepada ayahku “Yah, pagi ini abang akan bermain bola dengan kawan. Bersihin motornya lain waktu aja ya.”

Namun sekarang, banyak yang harus dipendam. Maka dari itu, aku benci menjadi dewasa dan aku benci diriku yang bersikap dewasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar