Aku tidak suka menjadi dewasa, terlalu banyak beban dan
terlalu banyak hal yang harus dipikirkan. Dan entah mengapa semua beban dan
pikiran itu hadir bersamaan saat hafalan muraja’ah mulai kulantunkan. Ia hadir
dengan mesra, membawa seikat bunga dan rayuan masa muda. Terkadang ia datang
dengan ancaman, menggenggam palu dan parang yang diarahkan tepat ke mukaku.
“Ah, aku rindu suatu masa ketika hal yang paling menakutkan
hanyalah PR Matematika,” ejaku pada sebuah poster yang bertebaran di social
media.
“Itu adalah dunia masa kecil,” batinku.
Selain PR Matematika, hal yang tidak kusukai adalah orang
yang memiliki sifat dewasa. Yah, bukan sekedar sifatnya yang kubenci; orang
yang bersifat dewasa pun aku tidak suka.
“Ah, aku benci menjadi dewasa,” aku terus mengeluh.
Kenapa aku harus mengorbankan waktu luang untuk belajar
dan bekerja? Kenapa memendam cinta begitu menyakitkan?
Dulu ketika suka dengan sebuah mainan aku akan berkata
kepada ibuku,
“Ibu, belikan aku satu.” Atau kepada ayahku “Yah, pagi ini
abang akan bermain bola dengan kawan. Bersihin motornya lain waktu aja ya.”
Namun sekarang, banyak yang harus dipendam. Maka dari itu,
aku benci menjadi dewasa dan aku benci diriku yang bersikap dewasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar