Setiap kali meninggalkan acara Ppmi, hati saya selalu resah.
Mengingat, itu kan amanah. Sampai-sampai, dua kali saya meninggalkan
undangan untuk mengerjakan hal lain, ketika itu pula saya tidak mendapatkan
apa-apa dari hal lain tersebut. Miris.
Mengeluh. Saya terlalu banyak mengeluh belakangan
ini. Bukan. Ternyata seluruh hidup saya terisi dengan keluh-kesah. Padahal sering
saya jumpai orang-orang sukses yang tak banyak mengeluh dalam hidup mereka.
namun sayangnya, perjumpaan itu hanyalah pertemuan singkat tak berbekas.
Lalu aku tertinggal.
Baru-baru ini saya dipertemukan oleh seorang wanita. Rekan. Jodoh?
Itu terlalu jauh kawan, sejauh perjalanan Sun Gho Kong mencari Kitab Suci ke
Barat.
Intinya aku ingin bercerita tentang wanita yang seolah-olah
Allah Swt menegurku dengan kehadirannya. Sesosok yang disipilin, menyerupai
seribu laki-laki. Begitu para penyair arab menggambarkan wanita yang
berjuang di garis depan tanpa rasa takut. Dan sangat jelas, syair tersebut
untuk menghinakan laki-laki pengecut macam aku. Ah.
Udah, segitu aja ceritanya. Intinya, wanita tersebut hampir
tak kudengar keluh-kesah darinya.
Lalu pindah ke pertanyaan, “Bagaimana rasa keluh-kesah bisa
mereka atasi?”
Ditengah kesibukan padat dan benturan emosional yang
melibatkan orang lain dalam aktivitas mereka?
Ternyata, sifat keluh kesah itu adalah ciptaan Allah swt dan
manusia hidup dengan karakter dasar yang suka mengeluh!
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi
kikir.”
(Q.S. AL Ma’arij, 70:19)
Ketika mengetahui ayat ini, terjadilah euphoria bahagia dan
peluk-pelukan di antara para pengecut.
“Selamat kawan, ternyata kamu ditakdirkan menjadi pengecut.”
“iya, kamu juga. Selamat!” tangis haru pecah dan tiap orang
merangkul kawan yang ada di dekatnya satu persatu.
Namun tiba-tiba hening, pertanyaan di awal kembali mencuat di kepala mereka.
“Bagaimana rasa keluh-kesah bisa mereka (orang sukses)
atasi?”
Ternyata penjelasan tentang keluh kesah tak berhenti pada ayat nomer
Sembilan Belas, masih ada ayat berikutnya yang berisi ‘pengecualian’. Dan para
pengecut pun bermanyun panjang.
“kecuali orang-orang yang mengerjakan
shalat,”
(Q.S. AL Ma’arij, 70:22)
Hingga ayat,
“Dan orang-orang yang memelihara
amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.”
(Q.S. AL Ma’arij, 70:32)
seketika, dada yang sudah remuk oleh senyumanmu, kini hancur berkeping-keping. Malu.
****
Seperti Cut Pat Kai yang dihukum karena cinta, ia terus
mengeluh selama perjalanan ke Barat. Mempermasalahkan penatnya perjalanan, tak
bersemangat seperti yang lain, dan sering baper oleh wanita-wanita cantik yang
tak menyukai wajah buruknya. Ya, dia sedang dihukum karena cinta.
Namun beruntungnya dia. Meski jauh, perjalanan ke Barat tetap
berhasil ia selesaikan. Dan aku pun teringat pesan seorang rekan di awal
perjuangan kami,
“If you want to go
fast, go alone. If you want to go far, go together.”
Namun sangat disayangkan, waktu itu aku memilih cepat dibanding
jauh. Dan akhirnya tersesat.
*Ngeluh lagi ah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar