My Movements Trip.

Rabu, 27 Juli 2016

"Bridge of Spies" dan Prinsip

Udah nonton film dengan judul “Bridge of Spies?”

Baru tadi pagi saya tonton. Ceritanya tentang pengacara Amerika, Mr. Donovan yang diperankan oleh Tom Hanks, menjadi sukarelawan untuk melindungi hak warga asing. Berbicara tentang konstitusi Amerika-Rusia, politic of interest, dan Prinsip.

Cerita yang dikemas dalam bentuk penangkapan agen rahasia antar dua Negara ini, semakin berkesan tatkala mata-mata Rusia, Rudolf Abel, teguh mempertahankan rahasia negaranya; dan di sisi lain Amerika sebagai Negara Konstitusional, tanpa diskriminasi menjalankan undang-undang.

Keyakinan Pengacara Donovan dengan asas keadilan yang ada di dalam konstitusi, mengingatkan warga Amerika dan para pengambil kebijakan agar tidak menyimpang dari prinsip Negara.

“Tidak seharusnya kah kita,..” tanya Donovan di depan para hakim Amerika, “dengan memberinya keuntungan penuh dari hak yang ditetapkan oleh pemerintahan kita,..”

“Menunjukkan pada orang ini jati diri kita?”

“Jati diri kita?” ulangnya menekankan.

Bukankah itu senjata terbaik yang kita miliki di perang dingin ini?

Apa kita mau kalah dalam mempertahankan prinsip..

Dibanding dirinya?

***

Akhir cerita, (tanpa banyak membocorkan cerita), Mr. Donovan tertolong dengan prinsip yang ia perjuangkan. Bahkan lebih. Terkhusus untuk dirinya, karir, lembaga-lembaga terkait, dan Negara.

***

Aku teringat bagaimana Presiden Turki, Pak Erdogan, mengutuk dengan keras Kudeta Mesir serta sikap munafik Amerika terhadap Demokrasi di wilayah Arab. Orang awam sepertiku hanya bisa nyengir kuda dan  berkomentar,

“Jangan keras-keras Pak Erdogan, nanti bisa kayak Khadafi di Libya.”

Hampir Tiga tahun beliau terus melakukan kritikan keras itu, dan pada rentang waktu yang sama aku menjadi pengecut, bersembunyi di balik semua omong-kosong tak berdasar itu.

Ya, ini Prinsip. Dan Prinsip yang kuat tersebut mengalir ke jiwa dan sanubari Rakyatnya.

Terjbukti saat kudeta di Turki terjadi.

Dengan satu pangilan via SKYPE oleh Erdogan, seluruh rakyat tumpah ke jalan, bandara, stasiun televisi, dan fasilitas lain yang digunakan para militer dalam melancarkan aksi kudeta mereka. Ingat, satu panggilan lewat media murah-SKYPE. Lalu, kudeta gagal!

Tak berbeda dengan Mr. Erdogan dan Donovan, seorang rekanku juga teguh mempertahankan prinsip keadilan saat kami dihadapkan dengan sidang terkait dua kelompok yang berseteru. salah satunya saat ia menolak mentah-mentah penambahan jumlah panitia yang kuusulkan.

“Dia asalnya dari kelompok A, kan?"

“Mm, ia sih.” Jawabku.

“Ga boleh. Titik.” Balasnya enteng.

Saat sidang selesai, pihak yang kalah mengajukan gugatan dengan alasan bahwa kami tidak adil dan professional dalam memimpin persidangan. Bersyukur dengan sikap rekanku tersebut. Kami dengan percaya diri menolak tuduhan itu.

Ya, ini tentang prinsip. Dan prinsip yang kuat tersebut kelak akan membantu kita, karena itulah yang diajarkan oleh Islam.


“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(Q.S. Al-Maidah: ayat 8)


***

Oiya, Taqwa sendiri dalam maknanya memiliki arti, terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Terjaga.

Kalau yang menjagamu adalah Dzat yang menciptakan seluruh alam ini,
Maka apalagi yang perlu ditakuti?

Kairo,
Rabu 27 Juli 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar