"Lembaga ini bubar?" Tanyaku bernada mengejek.
Sedikit geram, aku berkata di depan muka bang Aril, "Saya janji bakal lanjut S2 di sini. Dan saya yang bertanggungjawab agar Lembaga ini tetap aktif."
Pak Direktur, bersama Muhajir ketika itu kau menyaksikan kata-kataku bukan? Yap, di tengah tensi diskusi yang tak menemukan jalan temu, janji itu pun terucap.
Dipikirkan? Sepertinya.
Pembahasan itu sudah berlarut, dan mengerucut pada satu titik, "Siapa yang siap melanjutkan estafet nanti?"
Saat itu akhir bulan November, tahun 2014.
kita semua sedang mempersiapkan ujian.
Informasi yang kita terima valid.
tapi entah kenapa, menjadi Dua konklusi yang berbeda.
menetap, atau pergi.
Perintah saat itu pergi.Penilaianku sama, sekarang atau nanti, kita pasti akan pergi. Maka aku memilih bersegera, langsung setelah perintah itu datang. Terutama waktu itu kita sudah mendekati fase ujian. Tidak mungkin kita harus merugi dalam dua hal sekaligus bukan?
Menetap adalah pilihan idealis. Pemberani.
Tapi berani dalam posisi yang salah, aku artikan sebagai kebodohan.
Maaf, kata-kataku terlalu kasar.
Setelah janji itu, tak ada diskusi lagi.
Kita artikan sebagai peraetujuan.
dan momen paling romantis di mulai sejak itu.
Tiga hari kita menyusun buku yang ada di ruang tamu sekertariat. Awalnya aku tidak peduli buku-buku itu dimasukkan kardus sembarangan. Tapi akhirnya aku setuju dengan usulmu. toh, kamu satu-satunya kawan yang ikut. Lalu semua buku dikategorikan menurut pemilik, arsip dan file lembaga, pembahasan Palestina, serta judul umum lainnya.
Berdebu! Yup, ini adalah buku warisan, bahkan sebelum kang Habiburrohman el-Shirazy ikut nyempil di markaz kita. Hhe
Tiga hari kita mengkategorikan, menyusun, membersihkan, dan memasukkan satu-persatu buku itu ke dalam kardus. Lalu kita beri nama; punya ustadz ini, punya abang ini, Palestina, Kajian, dsb. sehabis pulang kuliah sampai malam. Namun sekali saya bolos karena udah deadline ketika itu.
Hanya berdua.
Dua Puluh Lima kardus. Kita saling pandang dan senyum. Bagaimana caranya kita menyelamatkan buku-buku ini? Mengangkat dari lantai 6? Ditaruh rumah siapa?
Lalu Satu tahun lebih berlalu.
Kau dengan terpaksa menjadi Direktur, berkorban untuk kebaikanku.
Saya yang berjanji, saya pula yang mengingkari.
Dengan alasan yang sama kuusampaikan kepada adikku, Yusuf.
"Kakak akan lanjut S2, kamu aja yang jadi ketua. InsyaAllah bakal saya support antum dari belakang. "
Lalu ingkar lagi.
Saya benar-benar pasif kontribusi pada kalian.
Kawan, kini aku makin merasa bersalah karena tidak bisa belajar dengan baik. Pesimis, tak ada semangat untuk sukses. Apa mungkin aku akan berkata hal yang sama tahun depan? Kembali ingkar janji?
Di Bpa Ppmi aku juga merasakan hal yang sama. Bahkan lebih buruk.
Saya sungguh meminta maaf.
Semoga pada kesempatan lain, pada kesempatan aku bekerja bersama kalian lagi, aku bisa lebih banyak membantu. Semoga.
Wallahu musta'an. Semoga Allah Swt selalu membantu usaha kita.
***
Hhe. Senyum dulu ah,
*nyengir kuda
Senin, 4 Juli 2016.
Kairo.
Sedikit geram, aku berkata di depan muka bang Aril, "Saya janji bakal lanjut S2 di sini. Dan saya yang bertanggungjawab agar Lembaga ini tetap aktif."
Pak Direktur, bersama Muhajir ketika itu kau menyaksikan kata-kataku bukan? Yap, di tengah tensi diskusi yang tak menemukan jalan temu, janji itu pun terucap.
Dipikirkan? Sepertinya.
Pembahasan itu sudah berlarut, dan mengerucut pada satu titik, "Siapa yang siap melanjutkan estafet nanti?"
Saat itu akhir bulan November, tahun 2014.
kita semua sedang mempersiapkan ujian.
Informasi yang kita terima valid.
tapi entah kenapa, menjadi Dua konklusi yang berbeda.
menetap, atau pergi.
Perintah saat itu pergi.Penilaianku sama, sekarang atau nanti, kita pasti akan pergi. Maka aku memilih bersegera, langsung setelah perintah itu datang. Terutama waktu itu kita sudah mendekati fase ujian. Tidak mungkin kita harus merugi dalam dua hal sekaligus bukan?
Menetap adalah pilihan idealis. Pemberani.
Tapi berani dalam posisi yang salah, aku artikan sebagai kebodohan.
Maaf, kata-kataku terlalu kasar.
Setelah janji itu, tak ada diskusi lagi.
Kita artikan sebagai peraetujuan.
dan momen paling romantis di mulai sejak itu.
Tiga hari kita menyusun buku yang ada di ruang tamu sekertariat. Awalnya aku tidak peduli buku-buku itu dimasukkan kardus sembarangan. Tapi akhirnya aku setuju dengan usulmu. toh, kamu satu-satunya kawan yang ikut. Lalu semua buku dikategorikan menurut pemilik, arsip dan file lembaga, pembahasan Palestina, serta judul umum lainnya.
Berdebu! Yup, ini adalah buku warisan, bahkan sebelum kang Habiburrohman el-Shirazy ikut nyempil di markaz kita. Hhe
Tiga hari kita mengkategorikan, menyusun, membersihkan, dan memasukkan satu-persatu buku itu ke dalam kardus. Lalu kita beri nama; punya ustadz ini, punya abang ini, Palestina, Kajian, dsb. sehabis pulang kuliah sampai malam. Namun sekali saya bolos karena udah deadline ketika itu.
Hanya berdua.
Dua Puluh Lima kardus. Kita saling pandang dan senyum. Bagaimana caranya kita menyelamatkan buku-buku ini? Mengangkat dari lantai 6? Ditaruh rumah siapa?
Lalu Satu tahun lebih berlalu.
Kau dengan terpaksa menjadi Direktur, berkorban untuk kebaikanku.
Saya yang berjanji, saya pula yang mengingkari.
Dengan alasan yang sama kuusampaikan kepada adikku, Yusuf.
"Kakak akan lanjut S2, kamu aja yang jadi ketua. InsyaAllah bakal saya support antum dari belakang. "
Lalu ingkar lagi.
Saya benar-benar pasif kontribusi pada kalian.
Kawan, kini aku makin merasa bersalah karena tidak bisa belajar dengan baik. Pesimis, tak ada semangat untuk sukses. Apa mungkin aku akan berkata hal yang sama tahun depan? Kembali ingkar janji?
Di Bpa Ppmi aku juga merasakan hal yang sama. Bahkan lebih buruk.
Saya sungguh meminta maaf.
Semoga pada kesempatan lain, pada kesempatan aku bekerja bersama kalian lagi, aku bisa lebih banyak membantu. Semoga.
Wallahu musta'an. Semoga Allah Swt selalu membantu usaha kita.
***
Hhe. Senyum dulu ah,
*nyengir kuda
Senin, 4 Juli 2016.
Kairo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar