"Setiap orang selalu menciptakan zona bagi kehidupan mereka masing-masing, termasuk diriku. sempat terdampar di kos-kosan samping masjid Al-Azhar, aku dipaksa menjauh dari pusat peradaban ilmu ke tempat sekertariat komunitas literasi bergengsi yang hendak mati, SINAI!."
Beberapa tahun sebelum kedatanganku, SINAI adalah eksistensi terhormat di kalangan mahasiswa Indonesia Al-Azhar; dengan majalah yang berisi berita dan analisa isu-isu dunia islam. meski datang pada zaman di mana koran cetak tergantikan dengan kuota internet, SINAI tetap dinobatan sebagai sumber berita online terbaik di kalangan mahasiswa indonesia kala itu. ah, aku sebagai anggota yang baru bergabung sangat bangga.
Berada dekat dengan kampus, adalah zona nyaman terbaikku. ada tidak ada uang, aku masih bisa belajar dengan riang. namun itu tidak berjalan begitu lama sampai ada kabar kurang enak menyapaku..
Organisasi-organisasi kemahasiswaan hampir mati!
ada Dinamika baru seiring bergesernya generasi,
Mereka (mahasiswa) lebih condong di bangku kuliah dan akademi..
komunitas literasi, event organizer, dan reportase mulai sepi.
Saya yang kala itu begitu lugu, tidak paham tentang perubahan zaman; hanya tahu dongeng dan hikayat yang diceritakan kakak senior yang hebat pada masanya.
"Siap, Bang"
"insya allah, kak"
Begitu jawabku tatkala diminta untuk menyelamatkan organisasi yang hampir mati. tidak ada analisa, juga tanpa membaca prospek kedepan.
"Sami'na wa atho'na" tekadku dalam hati.
dan itulah awal-mula sepotong kisah lompatan hidup hingga harus sesekali makan nasi putih pakai minyak dan garam. ah, begitu lugunya aku.. apakah hidup ini akan selalu indah jika hanya menjadi si kecil lugu?!
apakah ini sebab aku sering menjadi si kepala batu bagi ibunya Aca.
***
mungkin kamu bertanya, kenapa nasi putih tidak dengan kecap saja? kecap di mesir adalah pengalaman terburukku dalam hal kuliner!
...
Abduh, malam di Rejomulyo 29/7/2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar