Bahkan akupun tak menyangka beberapa hal berubah begitu
cepat. Ketidakteraturan sistem membuat berbagai planning berantakan. Jika
masalah tiap harinya bertambah, maka pertanyaannya adalah; kenapa aku terus
malas-malasan?
setiap orang memiliki hal yang ia takuti, dan hal yang
paling kutakuti adalah ketidakpastian. Dari sana saya mulai mempersiapkan diri.
Berangkat kuliyah pagi-pagi dan tak lupa sarapan sebelum pergi. Tapi sampai
saat ini, saya hanyalah seorang anak laki-laki normal. Berpikir pendek dan
hanya mementingkan diri sendiri.
Berbeda jika seseorang hidup untuk dirinya sendiri namun
berpikiran panjang, tentu pandangannya akan jauh lebih ke depan. Tapi seandainya
kegoisan itu terikat hanya untuk berpikir tentang hari ini, belum tentu dia mampu
menyendok sesuap nasi pada esok hari yang tak pasti.
Kenapa di tengah ketidakpastian tentang masa depan, aku
terus malas-malasan? Mungkin ini jawabannya.
Aku hanyalah anak laki-laki pada umumnya yang mengira bahwa
dunia akan berbuat baik kepadaku. Padahal Tuhan sudah sering mengingatkan
dengan berbagai macam cara di dalam Al Qur’an,
"لتبلونّ في أموالكم و أنفسكم"
(Ali Imron: 186)
****
Maha benar Allah Swt
atas segala ketidakpastian ini.
"Bahkan untuk membebaskanmu, wahai Al Aqsha, belum tentu kehormatan itu diberikan pada generasiku. Hanya saja ingin kupastikan, jarak futuhat itu semakin dekat, sedekat liang kubur yang telah tergali di sekelilingmu untuk jasad-jasad kami.. yang berjuang membebaskanmu."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar