Akhirnya aku berada dalam titik jenuh ini, memikirkan segala
hal hampir bersamaan. Masa depan, kerinduan, serta kebutuhan ilmu dan wawasan. Peta
yang kumiliki sudah expired, habis masih berlaku. Beberapa jalan pintas sudah
tak bisa kulewati, sedang kaki ini mulai terasa berat. Pundak, dan bahkan
kepala yang tak bisa lagi kutegapkan membuat rasa pesimis makin menjalar di
dada. Sesak.
Kadang motivasi datang dari do’a kawan-kawan seperjuangan. Namun
satu persatu dari mereka pergi di tiap persimpangan yang kami lewati. Kami berpisah,
aku pun sendiri. Berjalan. Berjalan. Dengan lelehan air mata yang membasahi
pipi. Mulut bergetar, dada berdebar. Samping kanan-kiri jalan sepi. Sunyi.
Aku bahkan sudah lupa apa isi tas yang menggelayut manis di
pundakku. Sebelas-duabelas jika ada orang yang bertanya,
“Apa yang sedang kau fikirkan?”
Aku tak tau. Terlalu banyak yang kufikirkan dalam otak ini. Karena
bukan ahli astronomi, kukatakan saja bahwa isinya bak jutaan bintang yang
terhampar di langit malam. Ada cinta, masa depan, rindu, dan
keinginan-keinginan kecil yang belum kuraih hingga saat ini. Tapi untuk yang
sedang benar-benar kupikirkan.. aku tak tau.
Atau malu.
Ya, mungkin saja aku malu mengatakan bahwa ada seseorang
yang sedang kupikirkan, yang ia menjadi perhatian utama di siang dan malam. Atau
aku malu, malu menjadi seorang pengangguran padahal nilai akhir memuaskan. Malu
tidak bisa berkontribusi. Malu bahwa diri ini hanya sebutir debu ditengah gurun
pasir peradaban.
Sibuk dan lupa waktu.
Aku sibuk memikirkan hal yang tak pasti sampai satu minggu berlalu.
Dan hari ini pun aku sedang menunggu satu minggu kembali berlalu. Di mana pada
hari itu aku akan berkata,
“Ah, satu minggu sudah berlalu."
Hingga ia berbentuk, bulan, tahun, windu, dan satu proses
kehidupanku yang nanti para malaikat kubur akan berkata,
“itu masa lalumu.”
Dan ketika Tuhan memenuhi janjinya kepada seluruh orang
beriman atas tiap amalan dan usaha mereka tatkala di dunia, maka saat itulah
aku akan menangis bersedih atas apa yang sudah terlewat karena berbagai alasan tadi.
"و الحزن على شيء قد فات"
Dan kesedihan itu ada pada sesuatu yang sudah terlewat.
Dan kesedihan itu ada pada sesuatu yang sudah terlewat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar