My Movements Trip.

Selasa, 22 Desember 2015

Sayur Kuah Kuning

“Umi, abang pingin makan sayur.” Pintaku penuh manja kepadanya di setiap liburan musim panas saat SMA dulu.

Pagi, siang, malam. Setiap aku teringat kalimat sayur hijau, Aku akan memintanya segera. Biasanya wanita yang kusayangi  itu hanya menjawab dengan senyuman, lalu aku akan pergi bermain meninggalkannya yang sibuk mengerjakan beberapa urusan.

Sepulang dari main, biasanya aku akan menemukan semangkuk sayur hijau terhidang di atas meja makan, lengkap dengan sambal dan lauk-pauk. Meski badan kotor dan bau keringat, aku langsung menyosor meja makan. Meski tak jarang ibu mengingatkanku untuk cuci tangan.

Namun terkadang, saat pulang tak kudapati sayur di atas meja,

“Umi.. kok sayurnya belum jadi?” tanyaku sedih.

“Nanti umi buatin.”

“buatin ya, Mi??”

“Iya, nanti dibuatin.”

“hehe, makasih umi.”

Sambil nyengir kuda, aku langsung lari ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Atau kalau malas, langsung tidur-tiduran di atas kasur. Dan wanita yang selalu kusapa dengan panggilan Umi akan mengingatkanku dari ruang tempatnya bekerja,

“Abang kalau naik kasur, cuci kaki dulu.”


******

Umi, aku tak pernah lupa kata-katamu bahwa sayur tidak bagus kalau sudah lewat sehari. Mungkin karena itu aku selalu memintamu memasakkannya untukku setiap waktu.

Artinya, pada hari itu engkau ada di sisiku dan aku memakan sayur buatanmu. Tak ada jarak yang memisahkan kita yang perlu ditempuh berhari-hari. Di samping itu, aku juga bisa menikmati makan sepiring berdua dengan Abi. Biasanya ia akan mencampur kuah sayur dengan sambal buatanmu. Sayur bayam, sayur kangkung. Dan yang paling favorit adalah sayur kuah kuning dengan ikan teri.

Umi, hari ini adalah hari ibu.. dan abang kangen masakanmu. :’)


Selasa, 22 Desember 2015, di Kairo yang terlalu jauh untuk bisa kau kirim sayur hangat itu.

Jumat, 11 Desember 2015

Long time no see


Setahun lebih sudah aktivitas mingguan baca Manga Naruto berhenti. It’s been a long time without to not to see you, Naruto-Kun. Kadang ketika mengingat masa remaja dulu, Cuma bisa senyum-senyum. Kadang senyumnya manis, kadang kecut.

Okey. Yang manis adalah ketika inget waktu kongkow bareng sama anak-anak seni, pecinta manga, dan gamer waktu di pondok pesantren dulu. Dunia gw waktu itu gak jauh dari ketiga hal tadi. Suram? Nanti dulu, sekarang kita pingin cerita yang manis-manis aja.

Setiap hari jum’at, waktu lari pagi biasanya sempet nyelinep ke warnet, baca manga terupdate. Kadang kalau saya yang paling pertama baca, bakal langsung pamer ke kawan-kawan yang belum. Ngeliat muka mereka berubah penasaran menjadi kebanggan tersendiri ketika itu.

Ah, cerita di atas adalah ketika SMA dan sudah kenal dengan dunia internet. Kalau SMP, paling cepet sebulan sekali, bahkan satpam penjaga gerbang pun nggak pernah tau kalau saya pulang dari toko buku membawa setumpuk komik. Sesampai di kamar, hal paling menyenangkan nggak pernah berubah, pamer ke anak-anak.

Bisa dibilang, manga-manga Jepang semacam Naruto, One Piece, dan Rave adalah inspirasi gw waktu remaja dulu. Hampir tiap waktu dihabiskan buat ng’gambar, bikin komik, ngayal alur cerita dan berbagai macam hal yang berkaitan dengan kertas, pena, dan pensil warna.

Dalam beberapa kesempatan, hobi tersebut memberi kebanggan. Puncaknya adalah tawaran masuk salah satu fakultas di IPB tanpa test. Well, meski saya juga lupa sebab jasad ini akhirnya terdampar di salah satu fakultas Islam tertua di Kairo.

Kembali ke senyum-senyum saat inget masa remaja. Kecutnya adalah…

Setiap waktu sore main basket dan futsal di lapangan, sesekali saya melihat beberapa kawan menghabiskan waktu kosong mereka dengan menghafal qur’an di pojok-pojok masjid.

Beberapa kali latihan TaeKwonDo dilaksanakan di masjid Pondok. Latihan yang tak jarang berakhir ketika azan berkumandang membuatku sering melirik para santri yang sudah sibuk dengan buku dan dzikir petang mereka.

Waktu bidang kesenian ngerjain background acara, waktu cabut dari pondok buat ng’game sehari-semalam, waktu di mana malam-malam yang seharusnya digunakan untuk qiyam dan bermunajat selalu terlewat dengan hal yang tak bermanfaat.

Dan ketika pagi hari terlambat masuk kelas, dari pada ketawan guru pembina, kamipun sering berputar-putar mencari tempat persembunyian. Masjid paling favorit, namun di sana tempat anak-anak tahfidz. dari sanalah rasa penyesalan yang ada saat ini hadir.

Penyesalan selalu datang belakangan, dan kali ini berbuah senyum kecut.
Kecut? yah, tetap berusaha positif, bahagia dan terus evualuasi. Apalagi setelah ketemu orang-orang keren dengan situasi yang nggak kalah keren. jadi termotivasi euy.


Senin, 30 November 2015

The Good Day Never be Tomorrow, but Today

Entah kenapa setiap saya mendengar kalimat motivasi "Hari esok akan lebih baik," belakangan ini menjadi racun bagi saya. Yup, di tengah aktivitas yang serba dadakan, hari esok menjadi suatu hal yang tak pasti. rencana yang sudah tersusun, sering kali tertunda.

Seharusnya saya lebih berani berkata 'tidak', namun beberapa pertimbangan membuat mulut ini seringkali membisu. kadang pertimbangan itu lebih bersifat rasional, walau tak jarang yang irasional.

Kawan, kadang saya sudah terlalu lelah untuk memikirkanmu, memikirkan semua hal yang belum tentu terjadi. Hingga suatu hari, bang Fakhri berkata kepadaku,

"Jangan pikirkan!" tak cukup sekali ia meyakinkanku.

"Jangan pikirkan." begitu ia mengulang, menekankan hal itu padaku.

Tak terbayang olehku bagaimana menjalani hari tanpa memikirkanmu, memikirkan target-target yang tak terlihat ujungnya, dan tak lagi mengulang mimpi beberapa bulan ini yang terus menggelayut dalam tidur lelapku.

"Jangan pikirkan."

Akan kucoba, bang. Mungkin memang sudah waktunya bagiku menerima kenyataan atas keterlambatanku. Kenyataan bahwa langkah kura-kura ini tak bisa begitu saja menjadi langkah kelinci.

Setidaknya aku akan terus berusaha bergerak maju. Menikmati daratan terjal menuju lautan luas.Yup, lautan. karena ada kemungkinan aku bisa bergerak lebih cepat dibanding daratan.

Tapi siapa yang tau jika aku bisa sampai sana? so, langkah kura-kura di darat, masih lebih baik dari langkahku saat di lautan nanti. Because The Good Day Never be Tomorrow, but Today!

Setidaknya hari ini aku masih bisa melakukan kemajuan!

Alhamdulillah.

Minggu, 29 November 2015

Bulan Depan Kuliah. (Besok donk?)

Bahkan akupun tak menyangka beberapa hal berubah begitu cepat. Ketidakteraturan sistem membuat berbagai planning berantakan. Jika masalah tiap harinya bertambah, maka pertanyaannya adalah; kenapa aku terus malas-malasan?

setiap orang memiliki hal yang ia takuti, dan hal yang paling kutakuti adalah ketidakpastian. Dari sana saya mulai mempersiapkan diri. Berangkat kuliyah pagi-pagi dan tak lupa sarapan sebelum pergi. Tapi sampai saat ini, saya hanyalah seorang anak laki-laki normal. Berpikir pendek dan hanya mementingkan diri sendiri.

Berbeda jika seseorang hidup untuk dirinya sendiri namun berpikiran panjang, tentu pandangannya akan jauh lebih ke depan. Tapi seandainya kegoisan itu terikat hanya untuk berpikir tentang hari ini, belum tentu dia mampu menyendok sesuap nasi pada esok hari yang tak pasti.

Kenapa di tengah ketidakpastian tentang masa depan, aku terus malas-malasan? Mungkin ini jawabannya.

Aku hanyalah anak laki-laki pada umumnya yang mengira bahwa dunia akan berbuat baik kepadaku. Padahal Tuhan sudah sering mengingatkan dengan berbagai macam cara di dalam Al Qur’an,


"لتبلونّ في أموالكم و أنفسكم"
(Ali Imron: 186)

****
Maha benar Allah Swt atas segala ketidakpastian ini.



"Bahkan untuk membebaskanmu, wahai Al Aqsha, belum tentu kehormatan itu diberikan pada generasiku. Hanya saja ingin kupastikan, jarak futuhat itu semakin dekat, sedekat liang kubur yang telah tergali di sekelilingmu untuk jasad-jasad kami.. yang berjuang membebaskanmu."

Kamis, 26 November 2015

Curhat ke Jaiz

“Let’s give me more reason.” Ucapku kepada seorang kawan.

Kuperhatikan wajahnya yang sudah menemaniku lebih dari delapan tahun. Rileks dan penuh senyuman. Ah, mungkin itu yang kubutuhkan setelah bertemu dengan wajah-wajah kasar dan penuh kerutan beberapa hari ini.

Kadang tawa renyahnya mengingatkan masa-masa mondok dulu. Menghabiskan waktu bersama di lapangan futsal, makan, nongkrong, atau sekedar mendengar ocehan tentang harga makanan pokok dan biaya hidup di Mesir yang ternyata jauh lebih murah dari Indonesia.

Dia kadang dengan sabar dan tersenyum penuh arti menghayati curhatan ngalor-ngidul yang keluar dari mulut lebarku.

“Gw pingin pulang nih!” dan dia hanya senyam-senyum. Sial.

Seenggaknya segala keluh-kesah udah tumpah. dan baeknya, dia cuma senyam-senyum sambil ketawa ngedenger segala penderitaan gw belakangan ini.

Siang tadi jadwal kuliyah untuk bulan Desember udah turun, dan kata maafku kepadanya hanya ditimpali dengan senyuman. Lagi-lagi senyuman. Ketawa renyahnya bikin hati gw adem.

Saat ini gw masih janji buat belajar bareng dia ngabisin muqoror. Oke bro, semangat dah. insyaAllah agenda-agenda ini kudu selesai. Selanjutnya focus muqoror! Hha

Rabu, 11 November 2015

Karakter

Minggu ini saya benar-benar dibuat menunggu. Sesuatu yang belum pasti, sama seperti waktu remaja dulu.

Menunggu.

Mungkin yang sangat kusesali adalah karakter yang belum juga terbentuk. Masih suka melamun dan mengerjakan hal gak penting. Penting? Bahkan aku tak tau apa itu standar penting atau tidaknya sesuatu.

Ada yang bilang, bermain bisa membantu kita menemukan ide. Bersih-bersih rumah menghilangkan stress. Makan dapat mengenyangkan perut yang kelaparan. Hello?? Gw mulai ngerasa abnormal dengan aktivitas belakangan ini.

1. Hampir satu bulan lebih nggak menyentuh bola futsal.

2. Masak? Mungkin menahan lapar lebih mudah dari pada mengaduk wajan di dapur. Yah, boleh dibilang gw lagi males dengan aktivias satu itu.

3. anggep aja gw emang lagi males.

Akhirnya berkat sifat yang seharusnya dijauhi oleh para pelajar itulah, gw sukses meninggalkan SEMUA target bulan ini. Bahkan di beberapa acara, saya lebih banyak menyiapkan materi tiga atau dua jam sebelum di mulai. Itu kalau masih inget.

Kalau masih inget.
Dan yang paling nggak asik, gw ngerasa waktu tinggal di Kairo udah mau berakhir.

Okey, Gw rasa ini masalah karakter. Karakter yang belum juga berubah sejak remaja dulu. Dan seandainya gw bisa lebih santai ngadepin kondisi-kondisi macam ini, itu akan lebih baik.


Sedikit santai. Well, kita coba. Senang bisa bertemu orang hebat seperti kalian. Saya harus banyak belajar.

Kamis, 05 November 2015

و الحزن على شيء قد فات

Akhirnya aku berada dalam titik jenuh ini, memikirkan segala hal hampir bersamaan. Masa depan, kerinduan, serta kebutuhan ilmu dan wawasan. Peta yang kumiliki sudah expired, habis masih berlaku. Beberapa jalan pintas sudah tak bisa kulewati, sedang kaki ini mulai terasa berat. Pundak, dan bahkan kepala yang tak bisa lagi kutegapkan membuat rasa pesimis makin menjalar di dada. Sesak.

Kadang motivasi datang dari do’a kawan-kawan seperjuangan. Namun satu persatu dari mereka pergi di tiap persimpangan yang kami lewati. Kami berpisah, aku pun sendiri. Berjalan. Berjalan. Dengan lelehan air mata yang membasahi pipi. Mulut bergetar, dada berdebar. Samping kanan-kiri jalan sepi. Sunyi.

Aku bahkan sudah lupa apa isi tas yang menggelayut manis di pundakku. Sebelas-duabelas jika ada orang yang bertanya,

“Apa yang sedang kau fikirkan?”

Aku tak tau. Terlalu banyak yang kufikirkan dalam otak ini. Karena bukan ahli astronomi, kukatakan saja bahwa isinya bak jutaan bintang yang terhampar di langit malam. Ada cinta, masa depan, rindu, dan keinginan-keinginan kecil yang belum kuraih hingga saat ini. Tapi untuk yang sedang benar-benar kupikirkan.. aku tak tau.

Atau malu.

Ya, mungkin saja aku malu mengatakan bahwa ada seseorang yang sedang kupikirkan, yang ia menjadi perhatian utama di siang dan malam. Atau aku malu, malu menjadi seorang pengangguran padahal nilai akhir memuaskan. Malu tidak bisa berkontribusi. Malu bahwa diri ini hanya sebutir debu ditengah gurun pasir peradaban.

Sibuk dan lupa waktu.

Aku sibuk memikirkan hal yang tak pasti sampai satu minggu berlalu. Dan hari ini pun aku sedang menunggu satu minggu kembali berlalu. Di mana pada hari itu aku akan berkata,
“Ah, satu minggu sudah berlalu."

Hingga ia berbentuk, bulan, tahun, windu, dan satu proses kehidupanku yang nanti para malaikat kubur akan berkata,

“itu masa lalumu.”

Dan ketika Tuhan memenuhi janjinya kepada seluruh orang beriman atas tiap amalan dan usaha mereka tatkala di dunia, maka saat itulah aku akan menangis bersedih atas apa yang sudah terlewat karena berbagai alasan tadi.


"و الحزن على شيء قد فات"
Dan kesedihan itu ada pada sesuatu yang sudah terlewat.